Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Mata-Mata Untuk Arska


__ADS_3

teng....teng...teng....


Bunyi bel di sekolah pagi ini dan seluruh siswa-siswi di SMA Gabriel Senjaya bergegas memasuki kelas masing-masing.


Tak seperti murid lain yang menyambut paginya dengan perasaan senang dan ceria, Fella justru terlihat sangat suram. Aura baik yang selalu mengelilinginya seakan mulai pudar dan lenyap.


Memasuki ruang kelas dengan langkah kaki yang terseok-seok, terlihat seperti tidak ada niatan untuk ke sekolah sama sekali. Dengan tatapan mata yang kosong dan sendu, ia berjalan ke arah tempatnya duduk. Sungguh tidak ada aroma bahagia yang tercium.


Di sudut lain, Bella dan Faya tengah memperhatikan perubahan sikap Fella sejak memasuk pintu masuk ruang kelas.


"Ck.... elo kenapa lagi sih fel? pagi-pagi muka elo udah kusut gitu? ada masalah?" ucap Bella memastikan.


Fella tidak juga merespon, ia menyandarkan kepalanya ke tembok, tak ada semangat di wajahnya.


"Elo kenapa sih fel?" tanya Bella sekali lagi.


"Tau... ni bukanya kemarin abis jalan-jalan sama Arska? bukannya seneng malah muka kusut gini yang di tunjukkin sama kita," kata Faya nyerocos.


Fella menghela nafasnya cukup panjang. "Gimana bisa bahagia kalau gue aja hampir mati gara-gara ketakutan," jelasnya.


Bella dan Faya serempak menyelidik menatap ke arah Fella yang sudah lunglai tak berdaya. "Maksud elo? kalian baik-baik aja kan?" tanya Faya dengan nada memelan.


"Gue lihat badan lo masih utuh semuanya nggak ada yang kurang," celoteh Bella ngasal.


"Panjang ceritanya... gue males buat cerita," balas Fella yang langsung membenamkan wajahnya ke dalam ransel tasnya.


"Huw.... Fella nggak asyik ni, males deh nanggepinnya," kata Faya yang kini membuang mukanya.


"Gue lebih males sama adiknya Arska yang terus ngikutin gue. Hidup gue semakin nggak tentram semenjak adik sepupunya pindah kesini !"


"Mungkin aja si Salsa jadi mata-matanya Arska buat ngeliat kelakuan elo kalau di sekolah," kata Bella mengira-ira.


"Iya mungkin aja itu fel, soalnya itu anak nemplok terus sama elo," sahut Faya.


"Tau... ah gue makin pusing."


"Ya.... kalau pusing minum obat lah fel, ngapain ngadu ke kita," ledek Faya.

__ADS_1


"Btw... gue masih penasaran sama tingkah elo deh fel, nggak mungkin kan cuma gara-gara si Salsa sekolah di sini terus wajah elo udah kaya trenggiling kaya gini pasti ada hal lain," ucap Bella dengan tatapan yang masih setia melihat ke arah Fella.


"Gue nggak mau cerita, yang ada nanti cuma dapat bullyan dari kalian!" seru Fella yang langsung meletakan kepalannya di atas meja.


"Hahaha.... kayaknya menarik ni, kalau soal bully mem-bully," celoteh Faya.


Fella memutar bola mata, ia malas meladeni ucapan Faya. "Dasar ratu bully, mulutnya kaya mercon," ketus Fella.


"Hahaha... julukan baru buat elo fay," cecer Bella.


"Tukang nyinyir," cetus Faya.


"Elo mulut ember nggak bisa di rem," jelas Fella.


Saat Fella dan Faya saling mencibir datang lah guru matematika yang akan mengajar pagi ini, hingga semua murid menjadi tenang dan mengunci mulut masing-masing.


...•°•©inta Untuk Fella°•°...


teng.... teng...teng....


Bel sekolah telah berbunyi tanda pelajaran telah usai.


Terlihat Fella dan kedua sahabatnya keluar dari ruang kelas. Mereka berjalan berdampingan seperti biasa, dengan suasana yang mungkin bisa di bilang berbeda. Hingga suatu tarikan mengagetkan Fella dan kedua sahabatnya.


"Kak Fella dari tadi aku nungguin kakak tau, lama banget !" seru gadis itu yang tak lain adalah Salsa.


Fella menghela nafas cukup panjang. "Kenapa nungguin gue! kenapa nggak langsung pulang!" balas Fella tak bersemangat.


"Di suruh kak Arska bareng kak Fella katanya kak Arska kangen, kakak suruh mampir," jelasnya.


"Cie.... yang di kangenin pujaan hatinya," kata Bella seraya menepuk pundak Fella pelan. "Ya udah....kita duluan ya fel."


"Hem...."


"Duluan ya sal," sambung Faya.


"Iya kak hati-hati," sahut Salsa.

__ADS_1


Mereka berdua jalan berdamping hingga sapaan Aldy membuat Fella harus menghentikan langkahnya.


"Hay... fel, semoga elo suka sama kado yang gue kasih," ucap Aldy dengan sedikit memiringkan kepalanya.


Salsa hanya mengerutkan keningnya, sambil terus mengingat siapa cowok yang ada di depannya saat ini.


"Hem.... ya makasih ya dy, gue suka sama kado elo," balasnya tanpa ekspresi. "Ya udah.. ya gue duluan," lanjutnya.


Tapi tangan kanan Aldy mencekal nya agar tak beranjak pergi dari hadapannya. "Tunggu fel, gue kan belom selesai ngomong."


"Ya udah... ngomong aja, waktunya cuma 5detik, gue buru-buru soalnya," ujar Fella.


Salsa yang geram melihat tangan Fella di pegegang oleh cowok tersebut segera menarik paksa tangan Fella. "Udah dong kak kitanya mau pulang, nggak usah pakai acara ngobrol segala nanti telat."


Aldy menatap ke arah Salsa dengan wajah masam. "Dia siapa sih fel?" tanyanya mencoba menyelidik.


Fella melirik kesamping tak langsung menjawab pertanyaan Aldy begitu saja. "Salsa.. adik sepupu tunangan gue," jelas Fella.


"Oh... kirain siapa? pantesan nggak pernah liat."


"Ck.... aku tuh anak baru kak, ya jelas lah kakak nggak pernah liat aku!" balas Salsa. "Ya udah... kakak boleh minggir aku sama kak Fella mau pulang."


"Gue pengen ngobrol bentar sama Fella, nggak ada hubungannya sama elo!" nada bicara Andy sedikit nyolot.


"Ya ampun... kak please deh... kak Falla mau ketemu sama tunangannya jadi harus buru-buru!"


"Elo itu anak baru! nggak usah ngatur-ngatur!" seru Andy.


"Kalau anak baru emangnya kenapa? lagian kakak nggak punya kaca apa di rumah? ganggu tunangan orang aja kaya nggak laku!" cetus Salsa sedikit sewot.


"Eh... mulut mercon elo tolong di jaga! jangan ngatain orang sembarangan," tunjuk Andy.


"Hehe... lucu kenyataannya gitu, di katain malah sewot, dasar muka tembok," cetus Salsa.


Fella yang melihat sekaligus mendengar perdebatan di hadapannya saat ini segera membuka suaranya. "STOP!!! kalian bisa diem nggak? kepala gue sakit ngeliat kalian ribut-ribut." ucap Fella segera berlalu lalang.


"Yah... tapi fel, gue belom sempet ngomong," kata Andy sedikit berteriak.

__ADS_1


Salsa menjulurkan lidahnya seraya bergoyang itik meledek Andy yang tak punya kesempatan untuk mengajak Fella mengobrol. Sukses dengan hal yang di lakukan Salsa segera berlari mengikuti Fella.


"Sial.... kenapa gue selalu nggak ada kesempatan buat lebih deket sama Fella," gerutu Andy dengan mengepalkan tangannya. Ia menatap punggung Fella dan gadis menyebalkan itu kian menjauh dari pandagannya.


__ADS_2