
Faya sudah berada di belakang Kevin, memegang erat kaos lelaki itu dengan sangat kuat. Sepertinya ia mulai menangis kembali di belakang punggung pemuda tersebut.
"Lo kenapa nangis lagi?" tanya Kevin saat merasakan kaosnya mulai terasa basah.
"Enggak. Siapa yang nangis," elak Faya dengan mulut tertutup rapat, walaupun sedikit bergetar.
"Yang gue denger barusan apa dong? Masak iya anak kucing yang nangis?"
Plak... Plak....
Pukulan mendarat tepat di helm full face-nya. "Kenapa lo pukul gue?" tanya Kevin yang kembali fokus dengan jalannya. Walaupun sedikit kaget, lelaki itu mampu mengontrol laju motornya.
"Lo ngatain gue kaya anak kucing. Ngeselin banget!" Isak tangisnya mulai terdengar kembali.
"Lah... katanya bukan elo yang nangis, ya gue pikir anak kucing tadi yang nangis."
Faya semakin mengencangkan suaranya, padahal mereka masih berada di tengah-tegah jalan. Jika terlihat orang, mereka akan berpikir jika Kevin telah melakukan sesuatu terhadap gadis yang sekarang masih duduk di belakangnya itu.
"Diem dong Fay, orang lain bakalan mikir jelek tentang gue!" seru Kevin sedikit menoleh.
"Emang lo ngapa-ngapain gue! Lo ngatain gue kaya anak kucing," ucapnya diiringi cegukan.
Kevin hanya bisa geleng-geleng kepala, lelaki itu langsung menambah kecepatan pada motor sportnya.
Di rumah sakit.
Faya segera di tangani oleh dokter, karena lukanya cukup serius di pergelangan tangannya, lelaki itu tak menunggu Faya, ia pergi keluar untuk membeli sesuatu. Setengah jam kemudian Faya keluar dari ruangannya, satu jahitan sudah menutup luka Faya yang sekarang terperban tersebut, gadis itu tak melihat adanya Kevin di luar. Faya menarik napasnya dalam-dalam sebelum mengeluarkannya kembali. Ia melihat ke arah kaca yang tepat berada di depannya, alangkah terkejutnya gadis itu sewaktu melihat tampilannya yang begitu berantakan. Untung saja make up-nya tak luntur, jika luntur mungkin ia akan terlihat seperti badut atau suster ngesot. Masih untung hanya pakaian dan rambutnya yang terlihat acak-acakan.
__ADS_1
"Astaga. Pantas aja, Kevin ketawa muluk waktu ngeliat gue," gumamnya pelan saat. Faya langsung melangkahkan kakinya menuju toilet. Gadis itu sedikit kesulitan karena kakinya terdapat banyak memar karena kejadian tadi, namun ia tetap harus pergi ke toilet untuk merapikan rambut serta membasuh wajahnya.
Faya menatap wajahnya pada pantulan kaca. "Lo kuat Fay, jangan kebanyakan baper. Semangat buat hadapin esok hari." Gadis itu memberi semangat pada dirinya sendiri.
Kevin menenteng tas berukuran sedang di tangannya, lelaki itu sibuk mencari keberadaan Faya. Merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya dengan cepat.
📞 "Lo dimana Fay?"
📞 "Gue di toilet, ngapain lo telpon gue?" tanyanya balik.
📞 "Buruan keluar, atau gue langsung masuk."
📞 " idih...mau lo itu mah!" seru Faya yang langsung mematikan ponselnya.
Tanpa menunggu lama, Faya keluar dan mendapati Kevin sudah berdiri di sana.
"Lo mau ngapain di sini?" tanya Faya keheranan.
"Ck.... perhitungan banget sih!" seru Faya yang langsung mengambil tas itu dari tangan Kevin.
Lima belas menit Kevin masih setia menunggu Faya di luar toilet, lelaki yang sekarang mengenakan sendal jepit itu menyandarkan tubuhnya ke tembok.
"Fay, lo tidur di dalam? Lama banget sih," keluh Kevin dengan tangan masih mengetuk-ngetuk pintu.
Faya tak menjawab, gadis itu segera keluar, setelah Kevin menurunkan tangannya kembali dan memasukkannya ke saku celana jinsnya.
"Lo masih nungguin gue? Kenapa nggak langsung nungguin tante?" tanya Faya sambil merapikan pakaiannya kembali.
__ADS_1
"Yang di cariin Mama dari tadi itu elo! Gue sebagai anak sendiri, serasa kaya anak tiri tau nggak," katanya dengan muka memelas.
"Hahaha.... salah sendiri dulu lo nggak minta di bikinin adek," celoteh Faya ngasal.
Lelaki itu hanya bersedekap dada, sambil terus mengamati keceriaan yang muncul dari wajah Faya. "Daripada gue minta adek ke Nyokap,Bokap gue. Mending gue bikin sendiri. Kalau udah nikah sama elo," ucap Kevin sengaja menggoda.
Faya mengernyitkan keningnya, merasa ucapan konyol Kevin tak perlu ia tanggapi. "Idih... ngomong apaan sih, nggak nyambung banget," balasnya yang langsung membuang muka.
Kevin sangat bahagia, sewaktu melihat sikap salah tingkah Faya, yang terlihat jelas di matanya. Wajahnya merah padam karena malu. Melihat tindakan Kevin yang terus menggodanya Faya mencari topik pembicaraan lain. "Btw makasih banget buat baju sama sepatunya, pas banget di badan gue."
Lelaki itu menggaruk kepalanya, merasa Faya mencari topik lain untuk di jadikan bahan obrolan dan tak ingin membahas ucapannya tadi. "Iya, sama-sama. Untung aja badan lo nggak tambah gendut. Jadi gue masih ingat ukuran baju sama sepatunya."
Faya hanya tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Emeli yang letaknya masih sangat jauh. Gadis itu bersyukur, karena masih ada yang peduli dengannya.
"Luka lo gimana?" tanya Kevin dengan tangan masih berada di kepalannya.
"Udah di jahit dokter tadi."
"Maaf ya, gara-gara gue ke kencangan ikatnya lo jadi nangis."
Menelan saliva-nya sambil menghentikan langkah kakinya. Gadis itu menoleh kearah Kevin, dan menampilkan senyum terpaksa-nya. "Gue bukan nangis gara-gara itu kok, gue ngerasa sedih aja. Ngeliat diri gue yang menyedihkan ini." Faya menundukkan kepalannya.
"Elo kenapa Fay, cerita sama gue?" Kevin memegangi pundak Faya dengan rasa iba.
"Dia udah ngelupain gue Vin, ternyata selama ini cuma gue yang terlalu berharap. Sedangkan gue terlalu berharap lebih sama dia," suara Faya terdengar serak, gadis itu kembali menangis mengingat kejadian tadi. Rasa sakit yang tadinya menyurut, kini kembali hadir.
"Maafin gue Fay, gue nggak ada maksud buat ingetin elo. Gue nggak tau. Karena elo nggak cerita apa-apa sama gue sewaktu gue jemput elo tadi." Kevin menarik tubuh Faya dan memeluknya, mengelus pucuk rambutnya beberapa kali agar gadis yang ada di pelukannya itu sedikit lebih tenang.
__ADS_1
"Nangis yang kenceng Fay, nangis sepuas yang elo mau. Gue siap jadi sandaran elo, buat lepasin semua kekecewaan yang lo alami saat ini. Gue siap dengerin keluh kesah elo yang belum sempat elo ceritain ke gue."
Faya semakin erat memeluk tubuh Kevin, bahkan ia tak terlalu menghiraukan tangannya yang masih sakit. Faya meluapkan segala kekesalannya di sana, bahkan kaos Kevin pun menjadi bulan-bulanannya untuk mengelap ingusnya. Lelaki itu hanya geleng-geleng kepala, melihat tindakan Faya yang terlalu jorok itu.