
Bella dan Kevin menyusul Faya sampai kerumahnya. Faya mengunci kamarnya, ia merasa kecewa dengan sikap tak jujur Bella. Ia menghabiskan waktu hanya untuk menangis. Bella dan Kevin mengetuk pintu kamar Faya dengan pelan. "Fay.... lo keluar dong.... jangan marah-marah terus entar lo cepat tua kalau kelamaan di dalamnya" bujuk Bella.
"Gue nggak mau keluar... lo ngeselin" teriak Faya dengan suara yang terdengar sangat paruh.
"Ya ampun fay... jangan gitu dong, gue jadi sedih ni, kalau lo marah sama gue. Gue kan cuma pengen jaga hati lo fay, gue nggak pengen lo tersakiti karena tuh cowok" lanjutnya.
"Kenapa lo nggak jujur aja sih bel, gue jadi malu terus berharap sama Brayu" teriaknya kencang.
"Oke.... oke.. gue minta maaf, gue janji bakalan nirutin semua kemauan lo!!, apa aja yang penting lo bisa maafin gue" teriak Bella yang masih di depan pintu.
Suasana kini menjadi sunyi tak ada respon dari Faya, itu membuat Bella dan Kevin menjadi panik. "Fay.... lo denger gue kan, lo nggak mati pingsan gara-gara nangis kan?" ucap Bella yang masih mengedor-ngedor pintu kamar Faya.
"Fay... lo jangan nakut-nakutin kita dong" ucap Kevin yang juga ikut-ikutan panik. "Kalau lo nggak keluar-keluar, gue dobrak pintu lo biar rusak!!" ancam Kevin.
Lima menit kemudian, pintu terbuka dengan sendirinya. Faya keluar dengan wajah yang berantakan hingga membuat Bella dan Kevin tertawa terbahak. "Muka lo kenapa fay?. Udah kaya ondel-ondel nggak dapet job aja" celetuk Kevin sambil tertawa.
"Jelek banget muka lo fay, make-up lo luntur semua tuh" lanjut Bella yang juga ikut menertawakan Faya.
Faya kembali mewek, ia kesal mendengar ejekan yang di tunjukan kepadanya. "Kalian berdua jahat, ngapain lo pada ngebujuk gue kalau akhirnya ngetawain gue. Makin sakit ni hati gue!!".
"Yah... yah... jangan nangis dong fay. Elo sih vin, pakai ngetawain Faya, kan gue jadi ikut-ikutan" ucap Bella melirik ke arah Kevin sambil menenangkan Faya.
"Ya... elah gue lagi, gue lagi... dasar Faya nya aja yang cengeng" ucap Kevin memalingkan wajahnya.
"Lo... tuh.. masih aja ngeselin" ucap Faya yang melayangkan pukulan ke lengan Kevin.
"Elo juga nggak berubah-berubah masih aja kaya gini, masih sering mewek-mewek nggak jelas" balas Kevin.
Bella serasa melihat adegan telenovela yang mengisahkan sepasang kekasih yang sedang bertengkar. "Aduh....aduh... pusing gue ngeliat kalian adu mulut kaya gini. Mending lo mandi sana gih fay, biar nggak di ketawain Kevin terus" perintah Bella.
Faya menoleh ke arah Bella ia melas-melaskan wajahnya. "Gue belom sebutin permintaan gue".
"Ya udah sebutin permintaan lo, biar lo bisa maafin gue, abis itu lo mandi, biar gue nggak nahan tawa terus gara-gara ngeliat muka lo. Entar kalau gue ketawa lo ngangis lagi" cecer Bella yang masih menahan tawanya.
"Gue mau mandi dulu, nanti aja gue ngasih taunya, capek jadi bahan tawan kalian" ketus Faya yang masuk kembali kekamarnya.
Bella dan Kevin segera menuju ruang tamu, mereka ingin beristirahat sejenak.
__ADS_1
...•°©inta Untuk Fella°•...
Sampai lah di tempat yang di tunjuk Faya, Bella dan Kevin hanya bisa menghela nafas, kegilaan belanja Faya kambuh lagi. Kevin yang merupakan mantan pacar Faya hanya bisa geleng-geleng kepala. "Lo... masih aja hobi ngabisin duit buat beli barang yang nggak penting fay".
Faya melirik ke arah Kevin dengan tatapan malasnya. "Diem lo... lagian mana ngerti sih lo sama perasaan cewek".
"Gue udah ngerti banget malahan fay, dengan belanja lo bisa ngelupain kejadian yang udah lewat, hati lo bisa bahagia lagi kan" jelas Kevin.
Bella mengeriput kan keningnya. "Hafal banget lo sama kebiasaan Faya".
Kevin menoleh ke arah Bella. "Gimana nggak hafal, setiap Faya ngambek dia selalu ngajakin belanja, selalu bilang kata-kata itu, gimana nggak hafal".
"Terus kalian ngapain pakai putus segala, padahal udah tau kebiasaan masih-masing, kalau cari yang baru kan otomatis harus saling mengenal lagi" ucap Bella bersedekap dada.
"Gara-gara mie ayam kita putusnya bel" ucap mereka kompak.
Sejenak Bella melongo karena jawaban yang keluar dari mulut mereka berdua. "Mie Ayam?, apa hubungannya?".
"Gue pengen makan mie ayam, Kevin nya aja pelit yang nggak mau beliin" cecer Faya dengan bibir manyun.
"Waktu itu duit gue udah abis bel, Faya ngabisin duit gue buat beli baju hampir seisi toko di beli. Lo tau sendiri kan gue masih sekolah, belom kerja, duit kalau nggak minta bokap nyokap mana ada duit gue bel" jelasnya.
Bella langsung mengalihkan pandangannya. "Ya ampun fay, lo keterlaluan banget sih, daripada lo buang-buang duit, mending duitnya di kasih ke orang yang nggak mampu, itung-itung kan nambah amal lo, lagian lo beli baju juga nggak pernah di pakai" ucap Bella menasehati.
Faya membuang nafas sembarang, ia tak mau mendengarkan nasehat sahabatnya itu, dengan tatapan tak menyenangkan ia membuka suaranya. "Mau nasehatin gue, apa mau gue maafin" ancamnya.
"Ya ampun gitu aja ngancem. Ya udah terserah lo aja, sana pulih sendiri, daripada ngambek lagi, gue juga yang repot" ucap Bella yang langsung memberikan black card-nya.
Faya hanya mencebirkan bibirnya segera ia pergi meninggalkan Bella dan Kevin. "Lo nggak ikut Faya sekalian vin?".
"Enggak bel, capek kalau nurutin dia belanja tuh, bisa-bisa seisi mall ini di beli saking gila belanjanya tuh anak" curhatnya.
"Sebenernya... lo masih suka kan sama Faya" selidik Bella.
"Sebenernya gue masih suka sama Faya, tapi gue belom bisa nerima sifat Faya yang kaya gini".
Bella menghembuskan nafasnya sejenak. "Gue juga pusing sebenernya vin, bingung harus gimana, gara-gara cowok yang dia taksir suka sama gue, dia jadi ngambek kaya gini, kan bikin kesel".
__ADS_1
"Huft.... sabar bel, dia ngambek sama lo juga baru kali ini, pas pacaran sama gue, hampir tiap hari ngambeknya. Kan jadi kangker gue bel" curhat Kevin.
Bella memutar bola matanya, ia sedikit mengerutkan keningnya. "Lo jadi punya penyakit kangker vin?" ucapnya dengan serius.
"Haha... kenapa muka lo serius gitu sih bel?, maksud gue tuh... kantong gue kering" cecer Kevin tertawa kecil.
"Sialan lo... muka gue udah serius gini lo malah becanda" ucap Bella yang langsung ngeloyor kepala Kevin pelan.
"Gue cuma nyingkat aja, lo yang terlalu tanggap" tukas Kevin yang masih tertawa.
Disisi lain Faya sebenarnya belom sepenuhnya bisa menerima keadaan yang saat ini ia alami, dia hanya bingung harus berbuat apa, jadi dia memutuskan untuk pergi belanja agar bisa melupakan perasaannya terhadap Brayu. Ia hanya asal memilih pakaian dan tas tanpa mencobanya terlebih dahulu. Tak sengaja ia malah bertemu dengan Aldy. "Eh.... Faya kebetulan banget ketemu di sini" ucap Aldy yang mulai menyapa Faya terlebih dahulu.
Wajah datarnya terlihat sangat jelas di hadapan Aldy. "Lo.. kenapa sih fay?".
Faya menghembuskan nafasnya dengan kasarnya. "Lagi patah hati" jawabnya singkat.
"Hahaha... lo patah hati karena Brayu" celotehnya tanpa bosa basi.
Faya memutar bola matanya ke arah Aldy. "kok lo tau?".
"Ya kita semua udah tau, kalau Brayu suka sama Bella" jelasnya.
"Kenapa kalian jahat banget sih sama gue, cuma gue di sini orang yang nggak tau hal itu" ucap Faya dengan mata berkaca.
Aldy segera menaruh kantung belanjaannya. "Sorry fay, gue nggak maksud buat ngeledek lo".
"Nggak papa kok dy, udah biasa di kecewain sama orang terdekat gue" jelasnya dengan menundukkan wajahnya.
"Fay....lo nggak papa kan?" ucap Aldy yang langsung memegang kedua pundak Faya.
Faya sudah tak sanggup membendung air matanya. Aldy yang melihat hal tersebut segera mengangkat dagu Faya dengan perlahan, ia mengusap air mata yang menetes di pipi Faya. "Jangan nangis... lo jelek kalau nangis fay"..
Faya justru tak menghentikan tangisnya, ia malah mengeraskan suara tangisnya. "Lo mau ngeledek apa ngehibur gue sih dy" suara Faya terdengar serak.
Aldy hanya menggeleng pelan sebelum akhirnya memeluk Faya. "Nangis aja sepuas lo fay, biar hati lo lega, jangan lo tahan".
Faya kini menangis didalam pelukan Aldy, rasa sesak di dadanya semakin terasa. Aldy tak melepaskan pelukannya justru ia mengelus pelan pucuk kepala Faya dengan lembut. Ya meskipun ia tak handal di dalam percintaan seenggaknya ia mampu menenangkan hati seorang cewek yang tersakiti.
__ADS_1