
Sudah satu hari penuh, Arska dan kedua sahabatnya menjadi kakak pembimbing, mata genit yang siap mengincar ke tiga cowok itu membuat Fella dan Faya semakin tak tenang. Mereka tak mendapat waktu untuk saling berduaan, selalu saja di persulit oleh Handry yang terus mengawasi gerak-gerik ketiga cowok itu.
"Kenapa gue kesal banget sih, ngeliat Arska di krubungin cewek-cewek kaya gitu," ucap Fella mulai tak bersemangat mengikuti kegiatan camping, ia sudah melambai-lambaikan tangannya tak kuat meneruskan kegiatan berikutnya.
"Sama fel, outbond di perpanjang muluk kapan kelarnya coba. Terus kapan dong mereka ada waktu buat kita, gara-gara kepsek baru itu waktu gue sama kak Andy terbuang percuma. Gue jadi jauh banget sama kak Aldy," ucap Faya yang kini merangkul lengan Fella, meraka duduk berjongkok sambil terus mengamati kekasihnya masing-masing.
Senyum Bella menyungging di kala melihat ke dua sahabatnya seperti sedang tertepa angin tornado. Wajah kusut dengan penampilan yang sungguh memprihatinkan, karena terus-terusan mendapat hukuman dari guru pembina dan termasuk kekasih mereka sendiri yang justru menghukumnya, rasa kesal berkecambuk menerpa Fella saat ini.
Faya menoleh ke arah Bella di kala sahabatnya yang satu itu tak kunjung membuka suara. "Ck...sini baru kesusahan elo senyam-senyum terus! sengaja ngeledek apa gimana?" tanya Faya dengan muka datarnya.
Fella juga ikut menoleh. "Bella mah enak... dia biasa semuanya, nggak kaya kita yang payah dan nggak berguna ini. Punya tunangan aja juga harus berbagi sama yang lainnya." ucap Fella dengan senyum yang di paksakan.
"Gue bukannya ngeledek apa gimana fay, gue tuh cuma heran aja, kenapa kalian tuh ngeluh terus. Semakin banyak kalian ngeluh, semakin besar pula beban yang kalian tanggung. So.... buat camping kalian sebisa mungkin menyenangkan, biar nggak terlalu capek ngehadapinya," kata Bella mencoba menasehati ke dua sahabatnya yang sudah tak berdaya lagi.
"Caranya gimana bel?" tanya Faya sedikit kebingungan.
"Ya ampun telmi ! pacaran aja di nomor satu-in, giliran gue ngomong panjang lebar kali tinggi elo nggak maksud sama sekali," ucap Bella seraya melempar ranting kecil yang ada di hadapannya.
"Ya kan otak gue mulai lemot bel, elo tolong maklumin dong," elaknya.
"Bukannya mulai.... tapi emang udah lemot dari orok," canda Fella.
"Yah... mulut lo jujur banget sih fel, gue jadi tersanjung, makin sayang gue sama elo," kata Faya menyenggol lengan Fella pelan tapi tatapannya begitu ingin menelan Fella hidup-hidup.
"Ck.....tau ah.. capek ngomong sama elo mah fay!" seru Bella. "Kalau Faya nggak maksud sama omongan gue seenggaknya, elo bisa ngerti kan fel," mata Bella kini berganti menatap Fella.
"Gue ngerti maksud elo barusan kok bel, gue harus tetap semangat buat jalanin camping ini. Ya... meskipun agak menyiksa dan mata aku tetep kesel ngeliat Arska dikelilingi sama cewek-cewek kaya gitu."
"Gue lega... seenggaknya ada sahabat gue yang masih nyahut sama ucapan gue, nggak kaya si dodol ini," sindir Bella sedikit melirik ke arah Faya.
__ADS_1
"Ya biarpun gue dodol seenggaknya elo masih mau jadi sahabat gue," jelas Faya.
"Ya... karena terpaksa..." ucap Bella.
"Jahat banget sih bel, mulut kamu itu bikin aku sakit hati tau..."
"Ya kalau sakit tinggal di kompres."
"Yang sakit itu hatinya bel!" seru Faya sedikit membentak.
"Tinggal tambal aja apa susahnya," canda Bella.
"Mana ada?"
"Ya kan belom di coba, mana gue tau."
"Rese lo bel."
"Ya karena gue sahabatnya orang rese, jadi gue ikutan rese," balas Faya seraya mendorong lengan Bella pelan.
Fella tak mempedulikan perdebatan antara kedua sahabatnya itu, matanya masih disibukan dengan terus melihat ke arah Arska. Begitu pula sebaliknya Arska juga sibuk memandang ke arahnya, tanpa mempedulikan para cewek yang sibuk menanyakan nomor ponsel dan sebagainnya.
Sebagai kakak pembimbing ia harus bersikap profesional dan yang pasti harus bisa menjaga perasaan kekasihnya itu sendiri. Fella yang merasa sedikit bosan dengan posisi duduknya, mencoba berdiri karena kakinya terasa kram.
Faya yang tak bisa diam dan masih saja berdebat dengan Bella, melayang-layangkan ranting yang di pegangannya dari tadi ke udara tanpa melihat ke arah Fella dengan benar, kesal karena Bella tak juga mau mengalah ia justru mengibaskan ranting tersebut semakin cepat hingga mengenai betis sebelah kanan milik Fella, Fella meringis kesakitan akibat ulah sahabatnya itu.
"Aw... sakit fay, elo punya dendam apa sama gue! sampai elo tega mukul betis gue kenceng kaya gini!" seru Fella seraya memegangi betisnya, tapi karena rumput jepang yang di injaknya cukup licin membuatnya harus kehilangan keseimbangan berdirinya.
Mata Fella membulat sempurna, jantungnya berdetak sangat kencang, hampir saja ia terjungkal karena terpleset, untung saja ada tangan yang siap menangkapnya. Tapi Fella masih tak sadar dengan tangan siapa yang begitu sigap menangkap lengannya, hingga ia memberanikan diri untuk menoleh dan mengetahui siapa penolongnya.
__ADS_1
"Fel, elo nggak pa-pa kan?" tanya Bella dengan posisi masih setengah duduk.
"Sorry fel," wajah bersalah yang di tunjukan Faya sungguh terlihat sangat jelas.
Fella tak juga merespon ucapan Bella dan Faya mata dan jiwanya masih tertuju ke belakang. "Andy..." ucapan itu lolos dari mulutnya.
"Iya ini gue... lain kali hati-hati jangan sampai jatuh, untung ada gue, coba kalau enggak," Andy mencoba mengingatkan Fella tapi tangannya masih setia berada di lengan Fella, manik matanya begitu lekat menatap lurus ke arah gadis di hadapannya saat ini.
Bella dan Faya sibuk menjadi penonton, sedangkan Arska merasa panas hati melihat kekasihnya mengalihkan pandangan dari dirinya, mata indah Fella yang semula menatap kearahnya harus beralih menatap sang mantan.
Arska sudah tak fokus dengan aktifitasnya lagi, yang ada di kepalanya saat ini hanya berlari dan menjauhkan kekasihnya dari mantannya itu.
"Berani banget... di depan gue!" gumang Arska pelan, ia berlari kecil sambil mengepalkan tangannya, tak peduli dengan tatapan semua orang yang terus melihat ke arahnya termasuk Brayu dan Aldy.
"Gue harap tangan lo jauh-jauh dari tunangan gue!" seru Arska seraya melepaskan paksa tangan Aldy yang masih setia memegang lengan Fella.
Andy sedikit memundurkan tubuhnya, senyum sombong terlukis di sudut bibirnya. "Santai.... kaya di pantai... nggak usah ngegas!"
"Elo bilang santai?" tanya Arska dengan suara sedikit meninggi.
"Iya gue bilang elo santai aja! karena gue nggak bakal gigit mantan tersayang gue ini kok!" seru Andy sedikit memajukan tubuhnya seakan menantang Arska.
"Ayang udah... jangan berantem aku nggak mau kamu punya masalah." cegah Fella dengan menarik lengan Arska pelan.
Andy tersenyum sinis, merasa dirinya mendapat pembelaan dari mantan kekasihnya itu.
"Kamu belain dia!" ucap Arska menyipitkan matanya seraya menunjuk ke arah Andy.
"Sayang... aku tuh nggak maksud belain Andy. Coba kamu pikir deh kalau Andy nggak nolongin aku. Aku pasti udah jatuh tadi," jelas Fella menampakkan ekspresi wajah melasnya.
__ADS_1
Arska menoleh sekilas, tak terucap sepatah kata pun dari mulut bibirnya. Ia meraih tangan Fella dan menggenggamnya cukup erat sebelum akhirnya Arska membawa kekasihnya itu untuk pergi, wajahnya terlihat sangat cemburu.