
Minggu pagi yang sangat menyebalkan bagi Fella. Karena Bella dan Faya tidak bisa menemaninya untuk joging di taman kota bahkan dirinya baru sembuh dari sakit seminggu yang lalu, dan kekasihnya pun tiba-tiba juga membatalkan rencanannya yang sudah di rancang selama empat hari yang lalu.
"Kemarin sakit pada lomba-lomba mau nemenin, giliran udah sembuh satu pun nggak ada yang nongol," gerutu Fella yang langsung mengusap keringatnya secara perlahan. "Arska juga kenapa ngeselin banget katanya janji mau nemenin ternyata cuma zonk. Cowok macem apa yang nggak bisa tepati janjinya."
Kini Fella meminum air mineral yang baru saja ia beli dari pedagang kaki lima yang ada di sekitar taman kota, sambil terus mengamati sekelilingnya nampak beberapa pasangan yang berlari di temani oleh kekasih mereka. Hanya Fella di sini sendiri mahan kekesalan sejak tadi.
"Agrhh.....ngeselin," ucapnya seraya menendang udara, sebelum akhirnya Fella memutuskan untuk melanjutkan acara joging nya.
"Kenapa hari ini, semuanya begitu sangat menjengkelkan," Fella mengedumel tak henti-hentinya, kakinya terasa sangat pegal-pegal saat ia menuruni anak tangga yang lumayan panjang hingga ia memutuskan untuk duduk sejenak di sana, sambil menikmati hembusan angin yang silih berganti. Fella melihat banyaknya orang yang berlalu lalang di sana, hingga matanya terfokus oleh seorang cowok yang berjalan berdampingan dengan salah seorang cewek.
"Arska..." ucapnya lirih. "Dia nggak mau nemenin aku joging dan sekarang aku ngelihat dia jalan sama cewek lain? hebat sekali !!"
"Apa aku samperin aja?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Enggak...enggak... jangan... nanti kalau beneran iya, aku harus gimana?" Fella mulai mengatur nafasnya. "Tahan Fella... elo harus sabar, elo harus berpikir jernih. Oke... telfon Arska dan tanya dia baru apa? sama siapa?" ucapnya dengan pelan sambil terus mengatur nafasnya agar tak terdengar sedang menahan emosi.
Fella masih memandang ke arah Arska, kini tangan kanannya beralih meraih benda pipih yang ada di saku celananya, ketika akan melakukan panggilan telfon, mata Fella membulat dengan sempurna, di lihatnya Arska sedang mengikatkan tali sepatu yang terlepas dari sepatu cewek tersebut, itu tindakan Arska yang sering sekali dilakukan untuk dirinya, mengikatkan tali sepatu untuk orang yang spesial. Rahang Fella seakan mengeras melihat tindakan kekasihnya saat ini, matanya mulai memanas, ia tak mau basa-basi segera Fella melakukan panggilan agar memperjelas hal yang di lihatnya tidak nyata dan hanya gurauan semata.
Dreetttt.....Dreettttt.....Dreettt...
Telfon Arska berdering tapi si pemilik tak juga mengangkatnya, Arska hanya mengambilnya seraya melihat sekilas ke layar ponselnya sebelum akhirnya Arska meletakkannya kembali ke saku celananya dan berlalu lalang begitu saja sambil mengandeng tangan cewek yang ada di sampingnya tadi, tidak ada niatan untuk mengangkat panggilannya sama sekali, Fella benar-benar terabaikan.
Fella menuruni anak tangga dengan perasaan sedih, tega sekali Arska bermain api di belakangnya bahkan saat Fella sudah benar-benar mencintainya, menjadi dewasa itu memang sangat sulit, banyak sekali masalah yang timbul karena perasaannya yang selalu bertolak belakang dengan ke inginkan nya. "Tega.. kamu ka, aku udah berharap lebih sama kamu, ternyata kamu sama aja dengan yang lainnya udah bikin nyaman setelah itu.... mencampakkannya," ucapnya lirih. Fella menoleh ke belakang kembali ingin memastikan yang di lihatnya tidak benar-benar nyata, tapi dugaannya lagi-lagi salah Arska terlalu sibuk bercanda dengan gadis tadi, benar-benar seperti pasangan kekasih.
"Arska memang sudah merubah perasaannya saat memasuki masa kuliahnya," pikirnya kemudian berlalu lalang meninggalkan tempatnya Fella tak mau semakin sakit hati, anggap saja saat ini ia tak melihat apa-apa.
Di bangku taman Fella menitihkan air matanya sesekali ia mengusapnya agar tak menjadi pusat perhatian bagi orang-orang yang melintas. Lagi dam lagi ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, menetralkan nafasnya agar ia terlihat baik-baik saja.
Hingga sebuah suara mengalihkan perhatiannya. "Tumben cuma sendiri? yang lainnya pada kemana?" suara cowok itu terdengar tidak asing di telinganya.
Fella mengangkat kepalanya pelan. "Andy.." ucapnya pelan.
"Iya ini gue," balasnya yang kini langsung duduk di samping Fella dan meyorkan sebotol minuman.
"Makasih..." ucapnya mengambil alih minuman tersebut dari tangan Andy.
"Elo kok cuma sendirian yang lain pada kemana?" ulangnya kembali.
"Yang lain pada sibuk.." jawabnya singkat.
Andy menyelidik saat mendapati mata Fella ya memerah. "Elo abis nangis?" tanya Andy masih dengan posisi menatap ke arah Fella.
Fella tersentak mendengar pertanyaan Andy. "Hahaha... enggak siapa juga yang nangis, ini tadi abis lari kena debu terus aku kucek jadi merah kaya gini," elak Fella.
__ADS_1
"Udah... elo nggak usah bohong, gue kenal elo nggak cuma sehari dua hari. Elo baru ada masalah?"
"Enggak ada dy, gue baik-baik aja."
"Syukur kalau elo baik-baik aja," Andy membuang mukanya, ia takut jika kehadirannya membuat Fella tak nyaman seperti hari-hari biasanya.
"Btw... elo ngapain di sini? tumben nggak sama jessy?"
Andy menoleh kembali menatap Fella. "Em... itu...gue lagi nggak baik-baik aja sama Jessy, akhir-akhir ini dia sering ngambeknya," jelas Andy.
"Boleh kasih solusi nggak," tiba-tiba Fella tersenyum meski hanya sekilas, ia melupakan sejenak ingatannya tentang kejadian Arska beberapa menit yang lalu.
"Kasih solusi apa fel? jangan yang ribet-ribet ya."
"Elo aja belum dengerin udah bilang ribet," Fella mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha.... elo lucu fel kalau kaya gitu."
Fella mengigit bibir bawahnya. "Sialan emangnya gue badut," ucapnya dengan tangan mendorong lengan Andy pelan.
"Hahaha... enggak gue cuma becanda."
"Becanda elo nggak lucu," ucap Fella membuang muka.
Fella kembali menatap Andy. "Sebenernya bukan solusi sih dy, lebih tepatnya ngasih saran."
Andy mengerutkan keningnya, tak tau maksud dari ucapan Fella.
"Elo ngapain ngeliatin gue kaya gitu?" Fella menampakan raut menyebalkan nya. "Elo baru sadar ya kalau mantan pacar elo yang satu ini cantiknya luar biasa," candaannya dengan bersedekap dada.
Andy tersenyum sinis. "Elo emang cantik fel, gue aja yang bego udah mutusin elo. Sorry ya buat kejadian yang udah lalu itu," kata Andy menundukkan kepalannya.
"Udah... yang lalu biarin aja berlalu, kenapa masih di ungkit."
"Ow... iya elo mau ngasih solusi apa ke gue?"
Fella menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Elo sama Jessy kan udah lama pacarannya, sebaiknya elo jaga dia baik-baik, jangan elo lepas kaya elo ngelepas gue dulu, ujung-ujung entar lo nyesel sendiri."
"Maksud elo gimana fel? gue makin nggak ngerti."
"Elo emang paling telmi kalau berurusan sama perasaan," ledek Fella.
"Ya ampun fel bukannya gitu."
__ADS_1
"Bukannya gitu gimana? kenyataannya kan abis elo putusin gue, elo ngejar-ngejar gue minta balikan," jelas Fella.
Andy terdiam saat ia mulai mencerna ucapan Fella barusan.
"Daripada memulai hubungan yang baru, mending di perbaiki, jangan karena masalah sepele elo, yang nggak seberapa itu elo milih udahan sama Jessy, kan sayang."
"Kaya gue yang udah bego ngelepas elo fel," ucapnya lirih.
Fella mengerutkan keningnya. "Andy telmi jangan bahas yang udah lampau, gue baru ngasih saran ke elo tau!"
"Hahaha... iya fel sorry."
"Elo jadi dengerin nasehat gue apa enggak sih dy?"
"Sorry fel... gue jadi bernostalgia. Gue jadi dengerin nasehat elo."
"Jessy itu cewek yang baik sebenernya, dia cuma di buta kan oleh kecemburuan karena tingkah elo yang nggak menetap."
"Nggak menetap?"
"Ya iya lah... elo plin-plan."
"Gue nggak plin-plan fel."
"Nyatanya elo itu emang plin-plan, akui aja kenapa sih dy. Abis elo jadian sama Jessy kenapa lo minta balikan sama gue!!"
Andy menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya juga sih fel."
"Nah... elo ngakuin kesalahan elo kan sekarang," Fella semakin bersemangat memojokkan Andy, hingga ia lupa akan masalahnya sendiri. "Elo harus pertahanin Jessy, biar dia nggak salah paham terus sama gue."
"Ya... gue ngerti sama ucapan elo barusan fel, btw elo kesini bawa motor sendiri apa naik taksi?"
"Gue kesini naik taksi dy, kenapa emangnya?"
"Gue anterin balik ya," tawarnya.
"Nggak mau... gue bisa pulang sendiri. Gue nggak mau Jessy makin salah paham sama gue karena ke dodol-an elo yang hakiki ini."
"Habis gue seneng aja... bisa ngobrol lagi sama elo kaya gini, udah lama banget kita nggak ngobrol sedekat ini. Sering-sering aja ya fel elo sendirian kaya gini biar gue bisa leluasa ngobrol sama elo," pinta Andy.
"Ye... itu mah... maunya elo dy," kata Fella seraya memukul pelan lengan Andy.
Mereka mengobrol cukup asyik hingga pandangan mereka tak beralih, di sisi lain ada yang mulai mengepalkan tangannya ia menjadi panas hati melihat pemandangan pertemuan mantan.
__ADS_1