Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Mikirin Kamu


__ADS_3

Apa yang tidak akan dilakukan seorang kekasih jika tunangannya sendiri yang meminta. Jangankan yang bisa di jangkau, hatinya pun akan rela di berikan nya jika Fella yang meminta.


Seperti yang Arska lakukan saat ini. Karena Fella ia rela melakukan apa saja yang di ucapkan gadis itu. Arska rela tidak masuk ke kampus karena Fella merengek ingin di temani sepanjang hari terakhir ini, demam yang tak kunjung menurun membuat Fella semakin egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.


"Aya....Bunda kan bisa temenin kamu... nggak harus Arska juga kan? dia juga perlu pergi kuliah, baru beberapa bulan Arska masuk kuliah masak udah di suruh nungguin kamu yang sakit ini, udah tiga hari terakhir ini loh.. dia nemenin kamu!" ucap Merry menasehati.


"Apa salahnya sih bun, kalau Aya minta perhatian Arska sedikit aja, lagian Aya kepikiran terus kalau Arska sering ke kampusnya," suara Fella terdengar serak.


"Kamu jangan terlalu egois, kasih Arska kebebasan meskipun cuma sedikit."


"Aya pengen Arska selalu ada di dekat Aya bun... apa permintaan Aya itu keterlaluan?"


"Itu namanya kamu cuma mentingin diri kamu sendiri ay, tanpa mikirin perasaan Arska."


"Seminggu terakhir ini Aya ngerasa Arska sedikit menjauh, apa mungkin Aya ngebosenin ya bun," Fella menundukkan wajahnya.


"Pikiran kamu terlalu jauh ay, Arska nggak mungkin kaya gitu."


"Semoga aja bun," kini Fella kembali menatap ke arah Merry.


"Makan yang banyak biar kamu cepat sembuh...biar tipus kamu nggak kambuh lagi kaya gini," Merry mengelus pucuk kepala anak semata wayangnya itu. "Harusnya kamu udah sembuh ay, kalau kemarin-marin kamu mau di bawa ke dokter."


"Aya nggak mau... kalau harus nginep bun."


"Iya Bunda ngerti, tapi kalau kamu nggak juga sembuh, Bunda terpaksa bawa kamu ke dokter."


Fella mengangguk pelan, ia mengerti maksud dari ucapan Merry. "Ya udah...kamu istirahat dulu, Bunda mau ke dapur dulu," ucap Merry seraya melangkahkan kakinya keluar kamar.


Fella hanya menatap langit-langit kamarnya setelah Merry meninggalkan kamarnya. Apa mungkin tindakannya saat ini sungguh keterlaluan hingga Merry sampai menasehatinya.


Saat akan memejamkan matanya Fella mendengar suara pintu terbuka, ia sedikit menarik selimutnya agar menutupi tubuh yang saat ini masih panas.


"Ay... udah tidur..." kata Arska yang masih berada di ambang pintu.


"Hem..."


Kini Arska melangkahkan kakinya mendekati tepi ranjang. Ia meletakan sekantung plastik berisikan buah dan coklat ke suka-an Fella.


"Apa aku keterlaluan yang?" tiba-tiba Fella membuka suaranya.

__ADS_1


Arska menoleh menatap kekasihnya dengan lekat sebelum akhirnya menarik kursi belajar yang tak jauh darinya. "Kamu ngomong apa sih ay?"


"Kalau permintaan ku keterlaluan kamu boleh nolak kok," kini Fella tak mau menatap ke arah Arska lagi, ia menarik selimut hingga menitupi bagian wajahnya.


"Kamu ngomong apaan sih ay? permintaan yang kaya gimana yang kamu maksud?" Arska kembali mengulang pertanyaan Fella, tangannya mulai aktif mengelus bagian pucuk kepala Fella seperti yang ia lakukan setiap harinya.


"Kalau kamu keberatan buat jagain aku, kamu nggak perlu maksain diri," ucapnya seraya membuka selimut yang menutupi wajahnya.


"Kok kamu tiba-tiba ngomong kaya gitu sih ay?"


"Aku nggak mau kalau nanti kamu terbebani karena permintaan aku yang keterlaluan ini, jadi ganggu kuliah kamu," kata Fella menundukkan kepalanya.


"Aku nggak ngerasa terbebani sama permintaan kecil kamu ini kok sayang, kamu terlalu berpikir jauh, aku udah minta izin sama dosen buat nggak ikut kelas selama beberapa hari terakhir ini," jelasnya. "Kamu terlalu banyak mikirin apa? sampai kamu berpikir sejauh ini."


"A-aku.... terlalu banyak mikirin kamu."


Arska mengerutkan dahinya hingga alisnya kini terpaut. "Kamu mikirin aku? soal apa? jangan terlalu mikir yang macam-macam."


"Seminggu terakhir ini sikap kamu aneh.." kata Fella yang kini beralih memainkan kukunya.


"Aku aneh?" ulangnya.


"Kamu terlalu berpikir jauh sayang, mana ada niatan aku mau jauhin kamu," jelas Arska yang kini beralih menggenggam tangan Fella.


"Seminggu terakhir ini aku emang terlalu sibuk sayang.. dan bukan berarti aku mau jauhin kamu. Aku harus ngerjain tugas kelompok, yang tugasnya di suruh membuat suatu perusahaan lengkap dengan laporan keuangan selama tiga bulan berturut-turut, dan apesnya aku dapet kelompok ngelawak disitu cuma aku sama Brayu yang serius ngerjain tugasnya," curhat Arska dengan mimik wajah semrawutnya.


Fella mengerucutkan bibirnya, ia sedikit bersalah karena pikirannya yang tidak-tidak membuatnya semakin egois. "Ribet ya... kalau udah kuliah itu, banyak tugasnya."


Arska tersenyum simpul. "Enggak juga kok ay tergantung kamu aja yang ngejalaninnya. Sebentar lagi kamu kan juga mau lulus SMA dan....."


Fella mengerutkan keningnya karena Arska tak kunjung melanjutkan ucapannya. "Dan... apa yang?"


"Dan kita bakalan resmi tunangan setelah kamu lulus SMA, karena itu janji Om sama Tante," wajah tampan Arska terlihat jelas di mata Fella, ia tersenyum penuh bahagia saat mengucapkan hal tersebut.


"Janji.... jangan pernah ninggalin aku ya yang."


"Takut banget sih...kalau aku ninggalin kamu," tangan Arska mulai jail, ia mencubit pipi Fella karena gemas mendengar setiap ucapan yang terlontar dari bibir mungil kekasihnya itu.


"Aw.... sakit yang.. jangan di cubit lagi," rengek nya.

__ADS_1


"Abis kamu terlalu mikir kejauhan sayang, mana ada niatan aku buat jauhin cewek yang paling aku sayang ini," Arska kini mengelus pipi Fella yang masih demam.


"Kamu mikirin aku sampai tipus kamu kambuh," lanjutnya sedikit meledek.


"Apaan sih yang, tipus aku ini kan penyakit lama, mana ada cuma mikirin kamu sampai bisa kambuh," Fella kembali mengerucutkan bibirnya.


"Hehehe.... siapa tau saking mikirin akunya kamu sampai lupa makan atau malah makan sembarangan," selidik Arska.


"Tau... ah.. kamu ngeselin banget, kalau ngomong bisa enggak sih yang serius sedikit aja."


"Ini juga serius tau yang."


"Em.... cewek-cewek kampus pasti gituan semua ya yang," selidik Fella berharap mendapatan jawaban atas pertanyaannya yang konyol.


Arska nampak berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan Fella. "Gituan gimana yang?"


"Ya... gitu... lebih menarik, lebih uw... lah di banding aku yang masih bau kencur ini."


Sontak ucapan Fella membuat Arska tertawa terpingkal. "Ya ampun sayang... apa sih.... yang ada di dalam otak kamu saat ini sampai kamu berpikir sejauh itu."


"Habisnya Bella sama Faya itu ngeselin."


"Ngeselin gimana?" Arska menatap fokus.


"Ya katanya gitu... tadi.. makanya aku mikirnya jadi ngaco."


"Haha.... jangan suka ambil keputusan sendiri sebelum tau keputusan yang sebenarnya," Arska mencoba meyakinkan kekasihnya itu agar selalu berpikiran positif terhadap dirnya.


"Maaf...."


"Aku nggak terima kalau cuma kata maaf."


"Arska aku ini lagi sakit, jangan minta yang aneh-aneh."


"Terus...."


"Aku cuma minta kamu cepat sembuh," kata Arska yang kini beralih mencium kening Fella. "Dan aku pengen kamu selalu percaya sama aku," lanjunya.


Fella mengangguk pelan, merasa lega dengan penjelasan yang Arska berikan setidaknya tidak ada lagi kata curiga.

__ADS_1


__ADS_2