Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Acara Pertunangan


__ADS_3

Dua insan yang kini telah dipersatukan telah mengikat janji cinta mereka melalui acara pertunangan. Ya, mereka tak lain adalah Dilan dan Regina yang melangsungkan acara tukar cincin malam ini. Suasana terbilang cukup meriah, bahkan tak sedikit dari orang penting yang menghadiri acara pertunangan tersebut. Faya yang juga menghadiri pesta pertunangan kedua sahabatnya itu sebenarnya cukup minder, lantaran ia akan segera di tinggal lagi oleh sahabatnya ke jenjang yang lebih serius. Bahkan tak sedikit sindiran dan cibiran yang di berikan oleh pasang suami istri. Ya, siapa lagi kalau bukan duo cicit Fella dan Bella.


"Hayo loh, kapan elo mau nyusul Fay, yang lain udah pada slot out, elo kapan?" kata Fella memuai pertanyaan.


"Iya ni, masih anteng-anteng aja. Padahal tinggal pilih Kevin apa Aldy," imbuh Bella yang tak mau kalah.


Faya hanya melirik kedua sahabatnya itu secara bergantian. Wajah masamnya mulai terlihat keruh.


"Iya, kak Faya kapan nyusul. Kak Fella sama Kak Bella aja perutnya udah pada buncit, bentar lagi mau punya anak." sahut Salsa khas cengir-nya.


"Noh, dengerin Salsa ngomong." imbuh Fella.


Memegangi pelipisnya dengan menatap ke depan. "Jangan pojokin gue dong. Gue belum bisa mikir ke sana." balasnya masih dengan bibir mengerucut.


"Yah, masak lo kalah sama Salsa yang udah jadian sama senior kampus." ucap Bella di sertai lirikan.


"Salsa kan masih gadis, ya wajar lah kalau dia masih bisa milih-milih."


"Jadi, maksud elo. Elo udah nggak perawan." cicit Bella dengan mata mendelik.


"Anjir. Siapa yang berani ambil keperawanan elo Fay," sambung Fella.


Mengusap wajahnya dengan kasar, gadis itu mengucapkan kalimat yang tak tepat memang. "Gue masih prawan anjir, maksud gue. Dia kan masih muda di banding gue. Jadi wajar aja lah kalau dia lebih berpengalaman di banding gue, secara anak SMA zaman sekarang."


Kedua ibu hamil itu hanya manggut-manggut mendengarkan ucapan Faya, sampai sebuah suara mengalihkan atensi mereka dengan serempak.


"Anak SMA zaman sekarang udah pandai apa Fay?" tanya seorang lelaki yang tak lain adalah Arska.


Mendengus kesal karena mau tak mau ia harus mengulang perkataan yang sama. "Iya, anak zaman sekarang apalagi anak SMA udah pada pinter pacaran, contohnya adik sepupu lo ini." Faya menunjuk Salsa dengan dagunya.


Salsa menggigit bibir bawahnya, dengan kepala sedikit merunduk. Atensi Arska mengalih kepada Salsa, yang nampak tak mengeluarkan suaranya. Hingga, sebuah tangan besar merangkulnya dari samping dan membuatnya mendongak ke arah lelaki yang sekarang ada di sampingnya itu. Ya, laki-laki itu tak lain adalah Leon.


"Pada ngobrolin apaan sih? Serius gitu wajah lo pada." kata Leon yang memang baru saja bergabung.


Mata Arska mulai menyipit, atensinya tak beralih dari Salsa. "Sampai kapan elo mau bohong sama Mama-Papa?" kata Arska bertanya.


Salsa memberanikan diri menatap kakak sepupunya itu dengan atensi memelas. Menelan saliva-nya secara perlahan.


"Gue masih bisa toleransi kalau elo udah punya pacar, tapi gue elo belom dapet restu dari Mama-Papa, karena elo belom dapetin izin dari mereka. Sampai kapan lo mau bohong?" Arska mulai menginterupsi adik sepupunya.


Leon mengangkat satu alisnya, atensinya menatap sang kekasih dengan rasa iba, sebenarnya ia tak terima jika kekasihnya itu terus menerus di pojokan seperti ini oleh Arska.


"Lo jangan terlalu kolot Ka, gue yang akan tanggung jawab kalau ada apa-apa sama Salsa, bahkan gue besok siap kok temuin orang tua lo buat minta restu ke mereka." ucapnya dengan tangan mengusap lengan Salsa beberapa kali agar gadis itu tak merasa takut lagi.


"Oke, gue tunggu lo besok. Semoga lo beruntung, karena nyokap-bokap gue itu orangnya rada susah."

__ADS_1


Leon mengangguk pelan, lelaki itu menapakkan senyum tipis. Sedangkan Salsa masih berdiam diri dengan kepala menunduk, sepertinya gadis itu tak ada tempat lagi untuk bersembunyi. "Kamu tenang aja, nggak usah takut. Aku bisa atasin ini semua," bisik Leon seraya menuntun Salsa agar meninggalkan tempatnya itu.


Mereka hanya memandang punggung Leon dan Salsa yang kian menjauh. "Jangan terlalu keras sama Salsa yang, kasihan dia kan." kata Fella mencoba mengingatkan.


"Iya Ka, wajar aja kan seusia dia baru suka pacaran. Lagian selama hubungan mereka sehat kenapa nggak di dukung aja." sambung Bella.


"Tau ni, kaya nggak pernah muda aja. Udah mau jadi Papa juga, masih aja kolot." cicit Faya.


Arska melihat ketiga perempuan yang ada di depannya itu terus menyalahkannya, atensinya mengamati secara detail ucapan yang di keluarkan dari ketiganya.


Menghela napas, sebelum mencari keadilan untuknya. "Kalian nggak tau kan, rasanya di titipin anak orang, dan orang tuanya udah kasih amanat buat gue sama orang tua gue supaya jagain dia dan ngelarang dia buat pacaran untuk sementara waktu. Harusnya kalian paham setelah denger penjelasan dari gue ini."


"Kalian jangan sepenuhnya salahin Arska juga, dia punya alasan tersendiri buat ngelarang Salsa pacaran. Lagian dia punya amanat dan amanat itu berat kalau di langgar." sambung Brayu yang baru saja menapakkan batang hidungnya.


"Dih, si laki satu. Muncul juga, gue jadi kambing congek kalau formasi kalian udah lengkap kaya gini." cibir Faya penuh dengan kesyirikan.


"Ya elah, makanya buruan nikah." ucap mereka berempat kompak.


Faya mencebirkan bibirnya, gadis itu merasa tertindas dengan ucapan ke empat manusia yang ada di depannya itu.


"Nikah, nikah. Pasangan aja belom dapet, udah di suruh nikah." Faya membuang wajahnya ke sembarang arah.


"Yakin nggak ada calonnya, kalau gitu..." tak sempat Arska melanjutkan ucapannya, Brayu sudah memanggil Aldy untuk ikut bergabung dengannya.


"Dy, sini lo, ada yang nyariin. Katanya kangen." kata Brayu sedikit meninggikan nada suaranya, lelaki itu melambaikan tangannya.


"Yah, si Faya pergi." tunjuk Fella.


"Ck, kamu sih yang, Faya udah pergi tuh." cicit Bella menyalahkan suaminya.


"Kenapa nggak ada yang cegah sih." keluhnya.


Sempat terdiam sesaat, sebelum Aldy sampai di hadapan ke empat sahabatnya itu. "Ngapain lo teriak-teriak Bray, ini di tempat pesta bukan kebun binatang," ucapnya sok menasehati.


Melayangkan tangan kanannya tepat di bagian kepala Aldy. "Lemot lo! Faya udah keburu pergi. Lagian kuping lo budeg apa gimana sih, gue bilang ada yang kangen. Lo cepat-cepat kesini." sesal Brayu.


"Sampai sana cuma keliatan mulut lo yang gerak, suara lo nggak sampai." elaknya.


"Udah ah, kalian tuh kalau ngumpul udah kaya anak kecil aja," kata Fella mencoba melerai.


Hingga Dilan dan Regina pun menghampiri tempat mereka.


"Woy, temen lo baru bahagia, nggak kasih selamat malah asyik ngerumpi," ucap Dilan.


"Tau ni, mana nggak ada yang minta foto ke kita, ngenes banget deh jadinya." imbuh Regina yang masih setia memeluk lengan lelaki yang sudah resmi menjadi tunangannya itu.

__ADS_1


"Maaf ya Gin, kita nggak maksud bikin mood lo hilang," kata Fella dan Bella bersamaan. Kedua perempuan itu langsung memeluk tubuh Regina dan mengucapkan selamat atas kebahagiaannya itu.


Ketiga lelaki itu juga melakukan hal yang sama, memberi selamat kepada sahabatnya dengan saling berpelukan dan menguar senyum bahagia untuk menyambut kebahagiaan yang baru saja di dapat Dilan dan Regina.


Sedangkan di taman belakang, Salsa dan Leon justru memilih untuk tak berada di dalam keramaian, mereka menikmati indahnya langit dengan menghitung bintang-bintang yang bertebaran di sana. Lelaki itu ingin menghibur hati kekasihnya yang sedang dirundung kegelisahan.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Leon dengan atensi menatap ke samping kirinya.


Menggeleng pelan dengan napas yang sedikit berat, "Nggak papa." Hanya jawaban itu yang terus keluar dari bibir mungil Salsa saat ini.


"Kamu masih mikirin hal yang tadi?" Leon nampak menebak.


Seketika tebakan itu membuat Salsa yang tadinya hanya mengangguk dan menggeleng menjadi cerewet dan susah untuk mengontrol ucapannya.


"Harusnya kamu nggak nantang kak Arska, Tante sama Om aku itu galak banget, aku takut kalau kamu kena omelan mereka. Bahkan aku lebih takut kalau nanti kita di suruh putus. Ya, walaupun awalnya aku nggak cinta sama kamu, karena kamu tukang maksa dan ngeselin, tapi kan sekarang aku udah cinta sama kamu. Kalau disuruh putus entar aku galau, aku bingung harus jalani hidup aku yang tadinya berwana seketika jadi gelap karena kamu nggak ada di samping aku, ya meskipun kamu udah om-om dan usia kita terpaut jauh, tapi kan aku udah cinta sama kamu. Dulu aku juga pernah pacaran diem-diem, abis putus sebenarnya nggak mau pacaran lagi karena takut ketauan, dan kak Arska juga udah ngelarang. Tapi karena kamu maksa, aku jadi bohongin Tante sama Om lagi, dan salahnya aku udah terlanjur cinta sama kamu Leon! Aku harus gimana aku pusing, beneran aku pusing dari tadi otak aku cuma berhenti mikirin itu terus." kata Salsa mengakhiri dialog panjangnya, nampaknya ia mulai berani mengeluarkan unek-unek yang selama ini ia pedam.


Menarik sudut bibirnya, Leon meletakkan telapak tangannya tepat di kepala Salsa. "Hem.... akhirnya, pacar aku yang imut dan mungil ini punya keberanian buat ngatain aku om-om lagi? Aku salut, bahkan dia nggak tanggung-tanggung buat jelek-jelekin aku." puji Leon yang sebenarnya sedikit gemas dengan perkataan kekasihnya itu.


Salsa melebarkan matanya, nampaknya ucapannya tadi terlalu panjang. Bahkan ia berani mengatai kekasihnya itu dengan kata-kata terlarang yang sebenarnya tak boleh di ucapkan oleh gadis itu lagi.


"Maaf, aku khilaf." ucapnya memasang tampang se-melas mungkin, ia menyatukan kedua tangannya sambil memohon.


"Aku bakal maafin kamu, tapi dengan satu syarat."


Mengerutkan keningnya, ia mulai berpikir syarat apa yang akan di berikan Leon untuknya, bahkan jika di pikirkan syarat atau hukuman yang sering di berikan Leon terbilang sangat nyeleneh dan menyebalkan.


"Kenapa harus ada syarat sih." keluhnya.


"Mau aku maafin apa enggak?"


Mengangguk pelan di iringi dengan ekspresi yang terlihat tak ikhlas. "Ya udah apa syaratnya?"


Leon hanya menampilkan senyumnya, seperti menyembunyikan sesuatu dari Salsa. "Aku nggak akan kasih tau kamu syaratnya sekarang, aku akan kasih tau syaratnya kalau kita udah dapatin restu dari Om dan Tante kamu." Leon segera meraih kedua tangan Salsa dan menggenggamnya cukup erat. Membuat gadis yang ada di depannya itu menjadi salah tingkah, bahkan debaran jantungnya pun ikut bersorak seakan ingin merasakan kebahagiaan yang ia dapatkan saat ini.


Disisi lain Faya yang sedang menyendiri karena ingin menghindari Aldy, nampak mengerucutkan bibirnya. Gadis itu merasa kesal lantaran Brayu dan Arska terus saja berulah dan membuatnya semakin nampak konyol di depan mantan kekasihnya.


"Kamu kenapa nggak sama yang lainnya?"


Suara yang di yakini Faya adalah Aldy itu membuat atensinya tertuju kepada sosok tersebut, seketika Salsa gelagepan akibat kdatagan Aldy yang memang sudah duduk di sampingnya itu.


"Ah, Kak Aldy. Aku pikir siapa yang dateng," katanya dengan atensi yang sedikit menurun.


"Kamu ngehindarin aku?" kata Aldy bertanya.


"Perasaan Kakak aja kali. Aku di sini cuma pengen menyendiri aja kok nggak lebih," balasnya yang merasa tak canggung sama sekali.

__ADS_1


Aldy hanya tersenyum simpul saat mendengar hal tersebut. "Kenapa pengen menyendiri di saat semuanya lagi asyik sama yang punya acara?" Aldy kembali bertanya.


"Ya udah ayo masuk," finalnya yang tak ingin bosa-basi. Gadis itu langsung beranjak dari duduknya dan berlalu lalang. Sedangkan Aldy hanya mampu memandang punggung mantan kekasihnya itu tanpa sepatah kata pun, lelaki itu belum memiliki keberanian penuh untuk mengajak Faya balikan, jika hal ini terlihat oleh adiknya, mungkin saja Alina akan mengomel tanpa henti. Tersenyum pahit, mungkin saat itu yang harus di terima oleh Aldy.


__ADS_2