Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Teori Lima Detik 3


__ADS_3

Bella dan Brayu tak mengetahui jika mereka sedang menjadi pusat perhatian saat ini, suara gemuruh akibat rak yang tergeser dan beberapa buku yang terjatuh membuat mereka penasaran dan buru-buru menghampiri sumber suara.


"Ck... kenapa banyak orang yang liat kejadian ini sih, tampang mereka juga terlihat sinis begitu," batin Bella seraya mengangkat lengang Brayu dan menaruhnya tepat di pundak miliknya.


Bella merasa iba saat mengetahui kening dan lutut Brayu yang tertimpa oleh beberapa buku yang cukup tebal, di tambah lagi dengan kaki yang harus terkilir akibat terlalu terburu-buru menolong dirinya. Saat mereka melewati kerumunan orang-orang tersebut, mereka sedikit menangkap beberapa perkataan yang tak terlalu menyenangkan.


"Itu cowoknya kenapa bisa berdarah gitu mb?"


"Di pukul sama yang cewek kali."


"Mereka ngapain sih sampai bukunya bisa berhamburan kaya gitu?"


"Pasti mereka mau first kiss."


"Mereka mau berbuat mesum kali, makanya Tuhan ngasih hukuman kaya gitu."


"Mungkin mereka baru berantem, jadi gitu, anak muda kan sering labil."


Celotehan dari beberapa pengunjung lain yang melihat kejadian di antara Bella dan Brayu, mereka tak henti-hentinya menyinyir, sangat terasa panas ketika mulut pedas mereka terdengar oleh telinga Bella dan Brayu.


Brayu sedikit menunduk, ia tampak melihat ke arah Bella yang kini terlihat sedang menahan emosinya. "Nggak usah di dengerin, an*jing emang tugasnya menggonggong," bisik Brayu pelan di iringi senyum sinis.


Bella melotot, mendengar ucapan Brayu baru. "Terlalu kasar omongan elo, gue nggak suka!" ujar Bella sedikit menasehati.


"Ya .. kalau elo nggak suka, bisa gue rubah biar elo suka."


"Nggak lucu, udah elo diam aja. Fokus sama jalan elo, karena elo itu berat banget, bikin pundak gue jadi ngilu rasanya."


Brayu tersenyum sinis, mendengar ucapan itu keluar dari bibir gadis tersebut, ia nampak berjalan tertatih kakinya yang bengkak terlihat sangat jelas disanap, untung saja gadis itu dengan suka rela meminjamkan pundaknya untuk membantu dan memapahnya berjalan, ia merasa masa bodoh dengan tatapan pengunjung lain yang menatap kearahnya dan Bella, yang ia tahu saat ini dirinya bersyukur karena bisa sedekat ini dengan pujaan hatinya.


Saat berjalan di depan kasir dan di sana juga terdapat pemilik toko, Brayu segera merogoh saku celananya. Mengambil kartu kredit dari dompet mininya dan menyodorkannya kepada pemilik toko. "Buat gantin buku yang sudah saya rusakin ya pak."


"Terimakasih mas Brayu, maaf jika pelayanan di sini kurang memuaskan," ujar pemilik toko tersebut.


"Itu kesalahan saya pak, Bapak nggak perlu sungkan dan minta maaf, karena saya yang merusakkannya jadi saya wajib bertanggung jawab," balas Brayu yang kini kembali melangkahkan kakinya.


Di ruang baca, Bella nampak mengunci mulutnya sesaat, ia masih sibuk membersihkan noda darah yang ada di kening Brayu menggunakan tisu basah yang kemana saja ia bawa, tak lupa ia menempelkan handsplat untuk tahap terakhir.

__ADS_1


"Luka elo udah gue bersihin, nanti kalau kurang bersih, bersihin sendiri," ucap Bella saat sudah selesai mengobati.


"Makasih udah bantuin gue ngobatin lukanya sekaligus bantuin gue jalan ke sini," ujar Brayu dengan senyum mengembang.


"Elo nggak perlu berterimakasih, elo kaya gini juga karena ngelindungin gue," balas Bella dengan wajah cemberut. "Ow... ya, seharusnya elo nggak perlu repot-repot buat bayarin barang yang udah gue rusakin, gue bisa bayar sendiri kok," lanjutnya.


"Sebagai cowok gue wajib tanggung jawab, karena elo posisinya sama gue."


"Gue bakalan ganti kerugiannya."


"Apa sebegitu nggak maunya elo punya hutang budi sama gue, sampai elo nggak mau nerima bantuan dari gue," ujar Dilan dengan wajah lesunya.


"Elo bukan cowok gue, jadi nggak ada kewajiban elo buat bayarin apa yang udah gue rusakin."


"Kalau gitu kita pacaran aja, biar gue ada rasa buat bantuin elo sebagai pacar gue."


"Elo udah denger kan! Tadi gue bilang apa? Kita nggak mungkin pacaran, karena gue nggak ada rasa sama elo!" ujar Bella seakan menelan suaranya kembali.


"Ya karena gue cuma cowok rese yang bisanya gangguin elo, cowok yang nggak punya malu, udah di tolak tapi masih bertahan," Brayu mengulang kata-kata yang di ucapan oleh Bella tadi.


Hembusan nafas kasar terdengar di sebelah Brayu, kelihatannya Bella nampak kesal dengan ucapan Brayu barusan. Brayu melirik ke arah Bella sesaat, napak Bella sedang memalingkan wajahnya.


"Gue takut elo kabur lagi kaya yang udah-udah."


"Kenapa elo nggak nyerah aja, kan masih banyak cewek lain selain gue," Bella menatap Brayu, kali ini ekspresi wajah seriusnya nampak terlihat.


"Kalau gue udah sayang sama sesuatu, gue susah ngelepasinya, seperti halnya perasaan gue ke elo, gue tetap akan berjuangin sampai elo bisa ngebuka hati cuma buat gue," Brayu mencoba menyakinkan Bella, meraih tangan kanan gadis yang ada di sampingnya saat ini.


Saat Brayu serius membahas perasaannya, tiba-tiba Arska dan Fella datang mengusik.


"Udah... dong, serius banget tatapannya," ujar Arska yang kini sudah duduk di hadapan Brayu dan Bella.


"Kalian pacaran?" tanya Fella mendadak.


Bella menarik tangannya dengan kasar. "Siapa yang pacaran? Gue cuma bantuin Brayu buat ngobatin lukanya."


Kening Fella mengkerut, tatapannya lurus melihat ke arah wajah Brayu. "Kok bisa?"

__ADS_1


"Gue ketimpa buku fel, ya gini deh hasilnya," jelas Brayu.


"Jangan-jangan yang tadi yang di kerubungin sama pengunjung lain tadi itu kalian?" Fella mengira-ira.


"Hem...." Bella malas menjawab.


"Kalian adu jurus apa sampai kalian hampir jatuhin rak?" tanya Arska sedikit meledek.


"Ayang... nanyanya kok gitu."


"Ck... udah deh ka, nggak usah ngeledek, kita nggak nerima atau pun mau dengerin ejekan elo," kata Bella bersedekap dada.


"Hahaha.... Brayu kualat gara-gara nggak bantuin gue ngerjain tugas."


"Rese lo, sahabat baru ketimpa musibah malah elo ketawain seenak jidat elo."


"Tau nih ngeselin... ketawa aja muluk," Bella ikut sewot mendengar ejekan Arska.


"Cie...cie... di belain, aduh..." timbrung Fella.


"Ck... terserah elo mau ngomong apa fel, gue capek ngeladenin kalian berdua, gue mau pulang!" seru Bella seraya berdiri.


"Gue anterin pulang," tawar Brayu dengan tangan yang masih menarik pergelangan tangan milik Bella.


"Gue bawa mobil sendiri, elo nggak perlu repot-repot daripada elo ngaterin gue mending elo mikirin gimana caranya elo balik dengan kaki terkilir kaya gitu," ucap Bella mencoba mengingatkan.


Brayu menundukkan kepalanya, ia mengamati kakinya yang terlihat bengkak. "Bengkak dikit," ucapnya pelan.


"Elo tuh... keras kepala tau, bengkak kaya gitu masih aja ngelak."


"Tapi bel."


"Gue bisa pulang sendiri."


"Tapi gue pengen anterin elo."


"Nggak usah rewel, mending lo urusin kaki sama kening elo."

__ADS_1


Arska dan Fella hanya menjadi penonton tanpa ada niatan untuk menggangu perdebatan di antara kedua makhluk tersebut, mereka semakin terhanyut dengan adegan live streaming yang di ciptakan oleh Brayu dan Bella.


__ADS_2