
Masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan, tapi lulus dengan nilai yang sempurna menjadi kebanggaan tersendiri bagi Arska dan kedua orangtuanya, termasuk Fella tentunya.
"Kita mau kemana sih yang? bukannya ngerayain kelulusan kamu bareng temen-temen malah ngajakin aku kabur kaya gini," cicit Fella dengan tampan murungnya.
"Hehe... yakin kamu nggak semangat buat ngikutin aku kabur ay?"
"Bukannya nggak semangat yang, cuma kan biasanya kalau orang udah lulus itu coret-ceret baju, kumpul bareng temen-temen, traktiran atau apa lah."
"Nggak teruntuk aku ay," jelas Arska yang kini memandangi wajah cemberut kekasihnya itu. "Yakin nggak semangat?"
Fella masih terdiam dengan wajah murungnya sambil terus menatap ke arah Arska.
"Ya udah kita balik kalau kamu nggak semangat buat kabur. Padahal aku cuma pengen berduaan sama kamu," ucap Arska membalikan badannya.
Tapi tangan Fella segera menarik tangan kiri Arska. "Bilang kalau mau berduaan, jangan muter-muter aku nggak orangnya nggak suka bosa basi," ucap Fella mengangkat kedua alisnya.
"Akhirnya di izinin juga," Arska memeluk tubuh ramping kekasihnya. "Aku pengen ajak kamu ke pantai ay."
"Pantai? aku mau yang," wajah Fella sumringah saat mendengar kata pantai.
Arska melepas pelukannya, segera ia menarik pergelangan tangan Fella dan mengajaknya masuk kedalam mobil, Arska tak mau jika nanti kekasihnya itu berubah pikiran dan merengek minta gabung dengan teman-temannya. Arska melajukan mobilnya di bawah rata-rata. "Suka banget ya sama pantai?"
"Hem... bisa di bilang gitu yang, makanya aku langsung setuju waktu kamu ajak aku."
"Nah... senyum gini kan makin cantik."
"Dari dulu kan emang udah cantik makanya kamu terus-terusan ngejar aku."
"Habisnya kamu lain dari yang lain, maknanya aku bawaannya pengen nempel terus sama kamu."
"Ih... gombal muluk kamu tuh yang."
"Nggak papa, bisanya gombalin kamu juga pas lagi berduaan gini kalau pas rame-rame yang ada salah terus di mata Bella sama Brayu."
Ponsel Arska tiba-tiba berdering, ia hanya menatapnya sekilas. "Ini anak kupingnya panas apa gimana, abis di omongin langsung telfon," ucap Arska sebelum akhirnya mematikannya ponselnya dan membuangnya secara sembarang ke belakang kursi kemudi.
"Kok nggak di angkat yang?"
"Kalau di angkat yang ada mereka cuma ganggu moments kita berduaan," jelas Arska.
Fella segera memalingkan wajahnya, ia melihat pemandangan dari kaca jendela. "Cantik.." ucap Fella pelan.
Arska menoleh sekilas, "Kamu lebih cantik ay," balas Arska seraya mengelus pelan pucuk rambut Fella dengan lembut.
Fella menoleh kesamping. "Nyetirnya yang bener sayang."
"Hahaha.... ini juga bener kok sayang."
Satu setengah jam akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka ingin kunjungi. Mata Fella membulat sangat sempurna saat melihat hamparan laut yang terbentang luas serata hembusan angin semilir menambah sejuk hatinya saat ini.
"Suka ay?" suara Arska menyadarkan lamunan Fella.
Fella mengangguk. "Udah lama banget aku nggak ke pantai yang, jadi aku seneng banget waktu kamu ajak aku kesini," serunya tak henti menebar senyumnya.
Arska segera menarik tangan Fella agar segera mengikuti langkah kakinya.
"Yang.... pelan-pelan... mau kemana sih... nggak sabaran banget kan aku baru menikmati keindahan pemandangan yang Tuhan ciptain."
"Emangnya kamu nggak lapar apa ay? aku lapar banget ni, cacing aku udah pada konser minta di kasih makan," jelas Arska tapi tak menghentikan langkah kakinya.
"Iya... iya... nggak sabaran banget sih kalau urusan makan."
"Lebih nggak sabaran lagi kalau lama nggak ketemu kamu ay, hati aku meronta-ronta nggak karuan."
"Kamu tuh.... selalu aja paling pinter buat hati aku seneng," ucap Fella yang kini langsung memeluk lengan Arska dengan erat.
Setelah mengisi perut Fella segera mengajak Arska ke bibir pantai untuk bermain air. "Kamu nggak mungkin dengan pakaian kaya gitu mau main air kan ay?"
"Aku nggak bawa ganti."
"Kata siapa?"
"Kata aku lah... barusan aku bilang nggak bawa," balas Fella sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Aku udah siapin buat kamu, tapi nggak tau muat apa enggak," kata Arska seraya menarik tangan Fella agar mengekor di belakangnya.
"Ampun deh ini cowok selalu aja bikin aku ngerasa spesial," batin Fella tak henti-hentinya mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
Sampai di perkiraan Arska segera membuka bagasi mobilnya. "Buruan ganti ay," ucap Arska menyodorkan sebuah baju yang masih terbungkus rapi.
Fella hanya mengernyit sesaat sebelum akhirnya ia mengambilnya dan pergi ke toilet dengan berlari kecil, ia sudah tak sabar ingin segera bermain air. Arska terus saja mengekor di belakang Fella, ia takut jika di toilet tak aman untuk kekasihnya. Lima belas menit Fella sudah mengenakan baju dan celana yang telah di siapkan oleh Arska sangat pas dan cocok untuk Fella. "Udah ni yang," ucap Fella saat masih di ambang pintu.
Wajah Arska berubah menjadi merah saat mengetahui kekasihnya mengenakan baju pilihannya. "Pas banget ay, tapi kok aku jadi nggak rela kalau kamu jadi pusat perhatian kaya gini," cicit Arska sambil melihat cowok-cowok yang memandang lurus ke arah kekasihnya. Arska segera menarik jaketnya dan menutupi kaki jenjang Fella, karena memang celana yang di kenakan Fella di atas lutut.
Fella hanya celingukan dengan reaksi yang di lakukan Arska. Sambil tangannya sibuk menguncir rambutnya yang terurai.
"Jangan tebar pesona terus sayang," protes Arska yang langsung menarik tangan Fella agar segera meninggalkan toilet.
"Huw... kamu yang milihi baju kamu juga yang ribet yang."
"Bukannya ribet sayang, tapi aku nggak suka aja kalau kamu di lihatin sama cowok lain."
"Iya... iya.. aku ngerti kok," kini Fella menarik paksa tangan Arska, ia sudah tak sabar ingin bermain air.
"Dasar anak kecil," celoteh Arska saat melihat Fella dengan girangnya menyentuh air laut.
"Cobain dulu yang ini beneran seru, jangan asal ngatain kaya anak kecil."
"Nggak mau ah...kamu aja... aku kan buka anak kecil yang suka main air," ekspresi wajah Arska sengaja di perlihatkan se-ngeselin mungkin dengan tangan bersedekap.
Fella menggigit bibir bawah, ia melihat ekspresi mengejek yang di tunjukan untuk dirinya, dengan langkah berlari kecil Fella langsung menarik paksa Arska hingga Byurrrr...... mereka terjatuh dan basah kuyup karena tarikan Fella cukup kuat. "Hahaha.... seru banget kan," ucap Fella.
Arska tak henti-hentinya memandang Fella, senyumnya semakin mengembang. "Iya seru... se seru aku ngeliat kamu bahagia kaya gini."
"Hahaha... kamu bisa aja yang buat aku ngerasa lebih spesial di mata kamu."
Arska menarik tangan Fella agar tak ada jarak di antara mereka. "Kamu emang cewek paling spesial yang udah bikin aku selalu bahagia setiap hari."
Fella semakin tersenyum mendengar ucapan dari kekasihnya itu, sungguh keberuntungan bagi dirinya memiliki tunangan yang selalu menyayanginya.
...°•°©inta Untuk Fella•°•...
Cinta yang tulus tidak akan pernah putus
Cinta yang sayang tidak akan pernah hilang
Cinta yang setia tidak akan pernah sirna dan
Akan selalu abadi di dalam hati.
Perungkapan isi hati yang di alami Fella saat ini sungguh murni dari hatinya yang begitu tulus mencintai Arska.
"Capek yang," keluh Fella saat sudah berada di bibir pantai.
"Kamu terlalu semangat main airnya."
"Habisnya asyik banget yang, sampai lupa diri," ucap Fella sambil menampilkan gigi putihnya.
"Hahaha yang penting jangan lupa diri waktu sama aku."
Fella mengernyitkan dahinya. "Apaan sih yang, nggak lucu," bibir Fella mengerucut.
"Dasar bebek, gitu aja cemberut," ledeknya.
"Abis kamu ngeselin."
"Siapa suruh kamu kalau di godain gemesin gini, siapa yang bisa tahan ngelihat imutnya calon istri ku ini," kata Arska yang kini menarik hidung mancung kekasihnya itu.
"Aw... sakit sayang, hobi banget sih tarik-tarik hidung aku," celoteh Fella sambil memegangi hidungnya.
"Biar makin mancung sayang," kata Arska yang kini menarik tubuh Fella agar jatuh ke pelukannya.
Fella merasa nyaman saat berada di dekapan kekasihnya itu, ia tak mau jauh- jauh lagi dari cowok yang selama ini selalu ada untuknya. "Terimakasih Tuhan udah ngasih aku cowok terbaik buat hidup ku, semoga kedepannya selalu seperti ini," batin Fella yang kini membenamkan wajahnya di dada bidang milik kekasihnya itu.
"Nyaman banget ya di sana, sampai nggak mau ngeliat aku dan milih ngumpet di dada aku," sindir Arska saat merasakan wajah Fella yang memeng betah berada didalam dekapan Arska.
Fella mengangkat kepala, wajahnya sudah merah padam akibat terlalu lama di sana. "Habisnya aku ngerasa aman kalau udah kaya gini."
Arska mengacak rambut Fella yang masih basah. "Kamu itu ada-ada aja sih ay."
"Kenyataanya emang gitu, kamu selalu bikin hati aku loncat-loncat nggak karuan. Bersyukur banget punya kamu tuh yang, Tuhan udah kasih cowok sekeren dan perhatian kaya kamu."
Sudut bibir Arska mengembang karena pujian dari pujaan hatinya. "Teruntuk kamu yang spesial... tetaplah selalu berlabuh di hati ku, karena hatiku tak sanggup jika jauh dari kamu."
Fella menutup mulutnya yang terbuka, karena ucapan Arska yang begitu menggelikan ketika mendengarnya.
__ADS_1
"Kenapa ay?"
"Bikin merinding, kata-kata kamu menggelikan yang," protes Fella yang langsung berdiri.
"Hahaha... aku nggak pandai buat kata-kata romantis yang," kata Arska yang kini beralih menatap ke atas.
"Kalau nggak pandai jangan coba ngerangkai kata-kata kaya tadi."
"Tapi kamu suka kan, buktinya pipi kamu merah gitu," goda Arska serambi berdiri mensejajarkan badannya di samping Fella. Meraka tak menghiraukan orang-orang yang berlalu lalang memandang ke arah mereka.
"Apaan si yang, ini itu....kena sinar matahari makannya merah" elak Fella yang kini memeluk pinggang Arska.
"Iya saking merahnya kaya kepiting rebus."
"kamu tuh ngeselin," ucap Fella yang langsung mendorong badan Arska agar menjauh darinya.
"Hahaha... ngambek lagi," tangan Arska melebar berharap Fella menghampirinya.
Fella hanya bersedekap dada, ia menjulur kan lidahnya mengejek kekasihnya yang masih saja berharap Fella akan memeluknya. "Nggak punya malu banyak orang tau yang," ledek Fella yang langsung melarikan diri.
Arska menarik tangannya kembali, sudut bibirnya terangkat melihat tindakan yang kekanak-kanakan dari kekasihnya. "Awas aja kamu ay kalau ketangkep," ucap Arska yang kini berlari mengejar Fella.
Mereka begitu menikmati suasana pantai dengan candaan dan hati yang begitu membahagiakan. Seharian dengan Arska sungguh anugrah bagi Fella tanpa kedua sahabatnya dan tanpa teman-teman Arska yang setiap saat datang untuk mengusik moments berdua mereka.
...°•°©inta Untuk Fella°•°...
"Yah... kulit ku gosong yang," protes Fella saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Meskipun kamu gosong aku tetep sayang sama kamu," cicit Arska yang kini tengah mengelus pucuk rambutnya.
"Lain kali kesini lagi ya yang."
"Bareng-bareng atau..."
"Berdua aja," potong Fella saat Arska belum menyelesaikan kata-katanya.
Arska tersenyum penuh arti, sampai celotehan cewek yang ada di sampingnya itu membuatnya harus lebih berkonsentrasi. "Kamu kenapa sih yang?"
"Ini nyangkut," jawab Fella singkat.
"Ya ampun tinggal tarik gini aja ribet banget sih yang," kata Arska yang mencoba membatu menarik jaket yang tersangkut di bagian kursi.
"Susah kan?"
"Iya susah... kamu dudukin kaya gini. Kamu kan berat," protes Arska.
"Aku nggak berat."
"Coba kamu berdiri dulu," perintah Arska.
Fella menuruti kemauan Arska hingga ia tak terlalu memperhatikan box kecil yang ada di depannya dan bruk.
"Aduh... sakit yang," ucap Fella sambil memegangi keningnya.
"Kamu tuh ceroboh banget sih yang, ati-ati makanya."
"Bukannya nolongin malah ngomelin," protes Fella dengan posisi masih memegangi keningnya.
"Langsung bilang aja, tiupin sayang ku," suara Arska terdengar menggelikan jika di buat-buat apa lagi ekspresi wajahnya yang begitu menyebalkan bagi Fella.
"Nggak ada macho-machonya jadi cowok," balas Fella dengan nada mengejeknya.
"Kamu tuh harusnya beruntung tau ay, cuma kamu yang bisa liat ekspresi aku yang mengemaskan ini."
Fella mengumpat, entah apa yang membuat kekasihnya itu semakin menggila dengan kata-kata dan ekspresi wajah yang selalu membuatnya ingin tertawa karena tindakan konyolnya. Arska mengarahkan jari-jarinya agar bisa melihat kening Fella yang terbentur tadi. "Bisa biru gini sih yang?" katanya dengan wajah yang serius.
"Serius amat sih yang."
"Biar kelihatan macho."
Fella melongo sesaat sebelum akhirnya ia menyadari jika jari-jari Arska kini mulai menyingkirkan poninya. "Sakit?"
Fella mengangguk pelan, Arska meniupi bagia yang memar sebelum akhirnya mendaratkan ciumannya di sana. "Udah aku cium besok pasti mendingan," ucap Arska yang kini membenarkan posisi duduknya di kursi kemudi.
"Modus..." desis Fella.
Arska hanya tersenyum sinis menangapi ucapan Fella, segera ia melajukan mobilnya dari parkiran agar tak menjadi perhatian bagi orang-orang yang masih berlalu lalang di sana.
__ADS_1