
Mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Brayu yang nampak tak sabar itu, segera menghampiri istrinya. Alih-alih mendapat pujian dari sang istri, justru Brayu harus menelan kenyataan pahit, setelah mendengar ucapan Bella.
"Ngapain lo senyum-senyum," ucapnya, saat melihat ekspresi Brayu yang sejak tadi melihat ke arahnya dengan jarak yang begitu dekat.
"Em... Berhubung kita udah nikah, dan udah halal, jadi kita bisa gituan dong Bel," balasnya, dengan memainkan kedua jari telunjuknya.
"Gituan apanya? Lo tidur di sofa!" serunya.
Seketika harapan Brayu pun sirna. "Tega amat sih lo Bel, kita kan, baru beberapa jam yang lalu nikah. Masak iya kita nggak anu!" ucapnya dengan memasang ekspresi cemberutnya.
"Anu apaan lagi? Gue capek Brayu, pengen istirahat, badan gue serasa mau rontok semua. Relasi bisnis Daddy itu banyaknya nggak ketulungan, tega banget nyuruh anaknya berdiri sepanjang hari di pelaminan," keluhnya dengan memijat betisnya yang terasa pegal.
"Nggak boleh ngeluh, alhamdulillah kan. Banyak yang dateng di acara pernikahan kita, jadi banyak pula yang mendoakan kita langgeng sampai nenek-nenek, kakek-kakek," ucap Brayu, mencoba menasehati istrinya.
Bella hanya menyeringai, sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk.
Lelaki itu melihat segala pergerakan istrinya, "Gue, juga mau kali Bel, tidur di atas ranjang yang empuk itu," ucapnya, masih dengan bibir mengerucut, namun jari telunjuknya menunjuk kearah ranjang.
"Tidur di sofa!" suara Bella terdengar memerintah, ekor matanya sangat lebar ketika melihat kearah Brayu.
"Kita kan udah halal Bel, masak iya, kita nggak bobok bareng."
Bella yang merasa kesal dengan sikap menjengkelkan suaminya itu, langsung melempar bantal yang sejak tadi ada di tangannya.
"Dasar mesum! Bisa diem nggak sih lo!" serunya dengan suara lantang. "Gue, masih kesel sama kelakuan mesum elo tadi siang!"
"Astaga Bella, gue refleks saking bahagianya. Ngeliat istri gue cantik banget." ucapnya dengan tangan menutup mulutnya. "Lagian kan, elo juga nggak nolak." lanjutnya.
Bella menggeleng pelan. "Gue serasa terhipnotis gara-gara kelakuan mesum elo, tadi!" Bella masih menyangkalnya, gadis itu memang tak menolak kelakuan Brayu yang sengaja menciumnya, namun saat kesadaran telah kembali, Bella sedikit malu dan enggak mengakui kebenaran jika dirinya telah terbuai oleh pesona Brayu. "Pokoknya elo tidur di sofa! Kalau gue ngeliat elo naik ke atas ranjang. Jangan harap gue maafin elo!"
Brayu merengut. "Gue, ngerasa, elo punya kepribadian ganda deh, Bel." tak tahu mengapa lelaki itu tiba-tiba mengatakan hal yang membuat Bella melongo.
"Elo barusan bilang apa?"
"Nggak jadi, gue mau langsung tidur. Capek!" Brayu langsung naik ke atas sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana, dengan bibir komat-kamit. Lelaki itu merasa, jika istrinya, memiliki sifat yang berubah-ubah. Kadang senang bukan main, saat mendapatkan sesuatu yang di inginkan dan terkadang dalam hitungan detik juga, langsung berubah secara tiba-tiba. Seperti saat ini.
__ADS_1
Sebetulnya Bella sengaja melakukannya, gadis itu jujur saja belum siap, tentunya ada banyak faktor yang mendorongnya. Nemun karena tak ingin kehilangan lelaki tersebut, terpaksa ia menginginkan menikah cepat.
Sedangkan di balik pintu terlihat dua orang tua, yang sedang menguping. Mereka ingin mendengarkan apa saja yang di lakukan oleh pengantin baru tersebut, bukan tanpa alasan mereka melakukannya. Karena sang anak yang meminta menikah secara mendadak, jadi mereka sedikit mencurigai.
"Mereka tidak melakukan apa-apa Dad? Tidak terdengar sesuatu. Atau mereka udah.... Itu ya?" ucap Ranita dengan suara pelan dan masih menempelkan telinganya di daun pintu.
"Daddy, juga nggak denger apa-apa Mom, apa saking serunya, sampai nggak bersuara?" balas Rahendra masih dengan posisi yang sama.
"Ih... Daddy, mana ada hal kaya gitu. Apa mereka udah tidur ya? Ah... nggak asik malam pengantin malah udah tidur sore."
"Ck... Mommy harus sabar, kalau pengen cucu, emang harus gitu."
"Habisnya Mommy kan penasaran, mereka dulu sering banget berantem. Bahkan hampir setiap ketemu, nanti takutnya mereka nggak ngapa-ngapain."
Anggukan hanya di berikan oleh Rahendra sebagai tanda untuk menjawab pertanyaan dari istrinya tersebut.
Saat mereka masih mengobral, dan posisi mereka masih berada di depan pintu dengan telinga menempel di daun pintu. Dan, Jasmin yang baru saja selesai membersihkan riasannya pun sedikit penasaran dengan kelakuan kedua orang tua setengah baya tersebut.
"Tante, sama Om kenapa ada di sini?" tanya Jasmin dengan suara cukup keras.
Rahenra dan Ranita yang memang sudah tertangkap basah pun segera berdiri. Mereka ingin mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Jasmin itu, namun sedikit kebingungan juga.
"Kalau Tante sama Om mau ngobrol dulu sama Bella dan Brayu, biar saya panggilkan," tawar gadis tersebut dengan tangan siap mengetuk pintu.
Melihat hal tersebut, membuat pasangan suami istri separuh baya itu berkata gagap, dan Ranta langsung menarik tangan Jasmin jauh-jauh dari daun pintu tersebut. "N-nggak, n-nggak usah, besok aja tante sama Om ngobrol sama mereka," ucap Ranita kikuk.
"Em... ya udah, Jasmin permisi dulu ya Tante, Om," ucapnya seraya melangkahkan kakinya. Tapi, saat seperempat kaki melangkah, gadis itu menoleh kembali. "Jangan keseringan nguping, Om, Tante. Takutnya penghuni kamar bakalan keluar mendadak," ucap Jasmin mencoba mengingatkan. Jasmin menahan tawanya, dan kembali melebarkan langkah kakinya. Benar-benar kelakuan orang tua zaman sekarang memang sangat konyol.
Kedua pasangan setengah baya itu, akhirnya bisa bernapas dengan lega, setelah mengetahui Jasmin pergi. Mereka juga mencebirkan bibirnya setelah mendengar ucapan terakhir dari gadis tersebut. Namun sayang, kelegaan mereka harus bercampur rasa kikuk, saat mengetahui Brayu dan Bella membuka pintu kamarnya dengan cukup lebar. 'Astaga, inikah yang di namakan kualat dengan anak muda.' pikir mereka saat, ketika melihat sepasang suami istri yang sudah berdiri di depannya itu.
"Deddy, sama Mommy, ngapain di depan kamar kita?" tanya Bella, dengan ekor mata yang menatap lurus kearah kedua orang tuanya.
Merasa tertangkap basah oleh sang anak, kedua orang tua tersebut berbicara ngalor-ngidul. Dari keduanya tak ada yang kompak untuk menjawab pertanyaan dari anaknya itu, menambah rasa curiga Bella yang semakin tinggi.
"Berhubung kalian belum tidur, Mommy sama Deddy, balik ke kamar dulu. Selamat bersenang-senang pengantin baru," titahnya, seraya menarik tangan suaminya agar mengikutinya pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
"Ngerasa aneh sama sikap mereka nggak?" tanya Bella, dengan menatap ke arah sang suami.
Lelaki itu hanya mengangguk dengan, dan segera menutup pintu kamarnya, dengan wajah cemberut tentunya. Brayu segera naik ke atas sofa seraya menarik selimutnya, membuat Bella sedikit heran dengan sikap suaminya itu.
"Menjengkelkan," gumamnya.
Gadis itu melipat tangannya di depa dada, sambil melangkahkan kakinya. Namun, saat melewati sofa tersebut, gadis itu tak lupa memukul punggung suaminya pelan. "Menyebalkan!" ujarnya, sesaat sebelum naik keatas ranjang. Ekor matanya masih mengarah kepada Brayu, tak sedikitpun ia mengalihkan pandangannya dari punggung lelaki yang memang sengaja membelakangi tidurnya itu.
"Udah tidur sana! Katanya capek!" seru Brayu, dengan posisi yang sama.
"Nggak ngantuk!" balasnya rada sewot.
"Perlu di sun, biar bisa merem?" tawarnya sedikit menggoda.
"Dasar mesem!"
"Ya udah kalau nggak mau, gue tidur duluan."
"Brayu!" sentak-nya.
Lelaki itu menoleh kearah Bella. Matanya mungkin tinggal lima what, karena kantuk yang tiba-tiba melanda dirinya. "Kenapa?"
"Tidur yang pules! Awas kalau macem-macem." tunjuk-nya dengan memicingkan matanya.
"Nggak pa-pa udah halal aja, kalau khilaf kan nggak takut dosa," balasnya dengan membenarkan posisi tubuhnya.
Bella mengusap wajahnya pelan, kesal sekali hatinya mendengar perkataan sang suaminya itu, walaupun tak bisa di pungkiri jika perkataan Brayu memang benar. Dia bebas melakukan apa saja karena mereka memang sudah halal.
Saat tengah malam, Brayu yang sudah benar-benar tertidur pulas, harus rela terbangun. Ketika mendengar suara istrinya yang mengigau dengan nada suara cukup keras, lelaki itu beranjak dari sofa, menghampiri tepi ranjang dengan ekor mata yang menatap lurus kearah gadis tersebut. Brayu mengernyitkan keningnya, saat melihat hal tersebut, sebab, Bella terus berteriak dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat ketakutan. Lelaki itu memutuskan untuk naik keatas ranjang, mencoba membangunkan Bella beberapa kali, namun gadis itu tetap memejamkan matanya. Sampai sebuah kata terlontar dari mulutnya, "Ferdy" ucapnya dengan nada ketakutan.
Brayu segera mendekap istrinya, keringat tengah bercur-curan membasahi kening gadis tersebut. "Ternyata elo mimpi buruk, gue berharap. Elo jangan pernah mimpi hal itu lagi, karena gue sakit!" ucapnya pelan dengan bibir menempel di kening sang istri.
Ucapan Brayu sukses membuat Bella tenang, gadis itu semakin membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Mungkin rasa nyaman membuatnya tenang. Semakin lama Bella membenamkan wajahnya, semakin berat juga matanya untuk terbuka. Lelaki itu kembali pulas tertidur.
Dan apa yang akan terjadi keesokan harinya, yang pastinya, Bella, sudah seperti singa yang siap melahap suaminya hidup-hidup.
__ADS_1