Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Kesuraman


__ADS_3

Pagi itu terlihat dua gadis yang berjalan beriringan dengan wajah tertekuk yang mereka perlihatkan. Mereka tak lain adalah Fella dan Faya. Bella sebagai sang penengah pun merasa heran, dengan keadaan ke dua makhluk yang tampangnya kusut itu.


"Kalian berdua kenapa sih? Ini masih pagi loh..... tapi kenapa tampang kalian udah pada kusut kaya gini," celoteh Bella.


"Nikah gue di undur," balas Fella.


"Baru PMS," jawab Faya ngasal.


Bella menaikan satu alisnya saat Faya berucap. Pandangannya beralih menatap ke arah Fella yang nampak benar-benar sedih.


"Kok bisa pernikahan elo di undur? Bukannya ortu lo, sama ortunya Arska udah setuju?" tanya Bella seraya merangkul sahabatnya itu.


"Kita kelupaan kalau masih ada kakek dan neneknya Arska yang belum tau kabar ini. Kemarin malam kita semua berunding, dan hasil akhirnya di undur. Karena nenek dan kakeknya Arksa kan masih kental banget itu adat jawanya, yang harus nyari hari bagus lah, yang harus ini itu, kan gue jadi pusing dengerinnya. Ya udah kita terpaksa nurutin ucapan mereka." jelas Fella dengan wajah yang masih tertekuk.


"Sabar ya Fel, terkadang keinginan emang nggak sesuai impian. Lagian cuma di undur kan, elo juga udah dapet restu dari keduanya. Nurutin orang tua juga nggak terlalu buruk juga kan?"


Faya masih dengan wajah datarnya tanpa berkomentar sama sekali. Bella mengernyitkan keningnya. 'Ini anak ngeselin banget! Sahabat baru sedih juga, wajahnya malah ngeselin gitu,' batin Bella.


"Thanks ya Bel, elo emang sahabat gue yang paling best. Nggak kaya orang itu." Gadis itu menunjuk Faya dengan dagunya.


"Lo kenapa lagi sih Fay? Gue sepat ngeliat elo kalau kaya gini! Harusnya lo itu bahagia, jangan sedih kaya gitu dong. Kaya lagunya siapa itu lupa gue, pokoknya pagi ku cerah gitu kok." Bella menggaruk kepalanya, mencoba mengingat-ingat lagu siapa yang ia maksud.


"Maksud lo yang nyanyiannya kaya anak kecil itu, yang lagunya kaya gini 'Pagi ku suram, matahari terbenam, hati ku suntuk, kepala ikutan nyeri," celoteh Faya ngasal.


Kedua gadis itu melongo saat mendengar lagu aneh yang di nyanyikan oleh Faya barusan.


Faya menghela nafasnya, kedua tangannya bersedekap. Lirikan matanya sinis sekali ketika melihat ekspresi wajah Fella dan Bella begitu malas menatapnya.


"Kesal deh ngeliat kalian kaya gitu ngeliatin gue-nya," ucap Faya dengan menghentakkan-hentakan kakinya.


"Pagi ku suram, matahari tengelam, kedua sahabat ku ngeselin semua." Gadis itu semakin kesal mendapatkan tatapan aneh dari kedua sahabatnya. "Tau ah.... capek sama kalian berdua," ucap Faya seraya pergi meninggalkan Fella dan Bella.


"Itu anak salah minum obat ya pagi ini," ucap Fella memulai percakapan.


"Bukan salah minum obat dah kayaknya Fel, salah makan sabun deh kayaknya."


Fella langsung menoleh kesamping-nya, mendengar ucapan Bella yang begitu nyeleneh barusan. "Apa hubungannya sama sabun Bel?" tanyanya dengan kening berkeriput.


"Dari tadi gue liatin Faya mulutnya berbusa muluk, waktu dia nyanyi."


Mulut Fella terbuka cukup lebar, gadis itu menepuk keningnya pelan. "Hari ini kalian kenapa sih, otaknya pada lengser semua kayaknya," ucap Fella dengan kaki mulai melangkah.

__ADS_1


"Kalian yang kusut! Kenapa jadi gue yang kena," gumam Bella pelan. "Hem.... pusing gue ngadepin kalian berdua!" Teriak Bella, yang kini juga memutuskan untuk mengikuti langkah kedua sahabatnya itu.


...•°•©inta Untuk Fella°•°...


Saat kelas telah usai, dan mereka bertiga akan beranjak keluar dari ruang kelas untuk membeli makanan. Tiba-tiba suara ponsel Bella berdering, hingga membuat kedua sahabatnya itu menoleh dengan kompaknya.


"Hallo," ucap Bella saat sudah menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


"Gue tunggu, nanti sehabis pulang kuliah, di kafe biasa kita nongkrong," balas Brayu dari seberang telpon, lelaki itu memang tidak memiliki jadwal mata kuliah untuk hari ini


"Ya, gue tau. Gue mau sarapan dulu, bey..." ucapnya seraya mematikan sambungan pada telponnya.


"Siapa Bel?" tanya Fella.


"Temen," balasnya singkat.


"Temen apa temen?" ledek Faya.


Bella tak langsung menjawab, gadis itu hanya menatap Faya dengan muka datarnya. Faya langsung mengalihkan pandangannya, menelan saliva-nya secara perlahan.


"Kantin yuk.... lapar tau..." keluh Fella dengan tangan mengusap-usap perutnya yang memang sudah keroncongan.


"Setuju," sahut Faya yang langsung berdiri. Faya memang selalu bersemangat jika berurusan dengan makanan.


Faya tak menghiraukan ucapan Bella tersebut, gadis itu sudah kebal dengan setiap ucapan yang di lontarkan oleh sahabatnya itu, jadi wajar saja jika ia tak pernah merasa sakit hati dengan setiap celotahan Bella.


Ketiga gadis itu beriringan menelusuri koridor kampus, candaan mereka lontarkan seperti biasanya. Sepertinya mereka sedikit melupakan tentang kejadian tadi pagi, karena siang ini tampak mereka mulai ceria seperti biasanya. Namun saat melintasi ruang kelas Aldy, Faya buru-buru mencari alasan untuk tak beradu pandang dengan kekasihnya itu.


"Gue pergi ke toilet dulu ya gaes," ucap Faya dengan kaki sudah melangkah meninggalkan tempatnya.


"Oke.." jawab Fella dan Bella kompak.


Tak berselang lama Aldy pun menghampiri Fella dan Bella. "Lah kok cuma kalian berdua sih? Faya mana?" tanyanya, dengan ekor mata yang melihat ke sekeliling kedua gadis tersebut.


"Ke toilet, kaya cewek lo kebelet banget," balas Bella cepat.


"Oke, thanks ya, Bel," ucap Aldy, yang segera menyusul Faya.


"Mereka kenapa sih? Apa lagi marahan ya?" Fella menoleh mengamati punggung Aldy yang mulai menjauh.


"Perasaan lo aja kali Fel," kata Bella yang juga ikut menoleh.

__ADS_1


"Tapi dari tadi, tingkah Faya aneh banget. Buktinya waktu ngeliat Aldy dia langsung kabur, cari alasan mau ke kamar mandi."


"Ya udah lah, biarin aja. Mereka udah segede itu, bisa lah... nyelesaiin masalah dengan kepala dingin."


"Ayo... gue lapar Bel," rengek Fella yang kini menarik tangan Bella, agar mengikuti langkahnya.


Aldy dengan setianya menunggu Faya di dekat toilet cewek, sesekali lelaki itu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi kekasihnya itu. Banyak mata yang melirik ke arah Aldy, namun dia tak mempedulikannya.


"Kenapa masih ngga aktif sih," gumam Aldy.


"Udah keluar kalinya." Tebaknya, Aldy mulai melangkahkan kakinya menjauh dari tempat tersebut. Mencari kekasihnya di taman belakang kampus, tempatnya tak terlalu luas, tak sedikit orang yang menghabiskan istirahatnya di sana.


Lama mencari akhirnya Aldy menemukan kekasihnya sedang duduk di kursi paling pojok. Lelaki itu mengembangkan senyumnya, berlari menghampiri Faya dengan hati berbunga.


"Aku nyariin kamu dari tadi yang," ucapnya dengan nafas ngos-ngosan.


Faya terperanjat. 'Kenapa harus ketemu? Padahal aku pengen banget ngehindar dari kak Aldy,' batin Faya.


"Kenapa bengong?" tanyanya saat sudah berada di sebelah Faya.


Gadis itu belum juga bereaksi, ia justru hanya menundukkan kepalanya, membuat Aldy semakin kebingungan.


"Kamu sakit?" tanya Aldy seraya memegangi pipi Faya.


"Enggak kok kak, baru nggak enak bandan aja," ucapnya dengan nada suara pelan.


Aldy mengamati penampilan kekasihnya dari atas hingga bawah, dan matanya terhenti saat melihat rok yang di kenakan Faya terlalu minim baginya, sehingga memperlihatkan paha mulusnya. Lelaki itu langsung melepas jaketnya dan menaruh di atas paha Faya. "Lain kali jangan pakai rok ini lagi ya yang. Terlalu terbuka nanti kamu bisa masuk angin." Aldy mencoba menasehati kekasihnya itu.


Faya hanya mengangguk, gadis itu tak bisa menatap wajah Aldy untuk saat ini.


"Kalau nggak enak badan, kenapa masih di paksain buat masuk kuliah."


"Di rumah suntuk," balas Faya dengan posisi wajah masih menunduk.


Aldy hanya melihat wajah kekasihnya itu dari sela-sela rambut yang masih terurai. Menyingkirkannya dengan perlahan, dan mengangkat dagu Faya dengan perlahan. "Aku minta maaf ya, kalau aku punya salah."


"Kak Aldy kenapa harus minta maaf kalau emang ngerasa nggak punya salah?"


Terlihat jelas mata sayu Faya yang memang tidak baik-baik saja. "Nggak papa, aku ngerasa kamu agak menghindar."


Faya menghembuskan nafasnya, memalingkan wajahnya agar tak menghadap ke arah Aldy lagi.

__ADS_1


"Tatap aku sayang," pinta Aldy.


Merasa tak ada tanggapan dari kekasihnya itu Aldy kembali meraih dagu Faya. "Aku sayang kamu. Jangan kaya gini lagi ya, kalau aku punya salah langsung tegur aku."


__ADS_2