
Salsa sudah berdandan dari magrib tadi, gadis itu bahkan melewatkan makan malamnya bersama Arska dan yang lainnya. Ia ingin pergi jalan-jalan dengan Leon malam ini, menghilangkan rasa penat di hati dan pikiran yang sedang menganggu-nya sejak siang tadi. Untung saja besok akhir pekan, jadi ia tak terlalu mempermasalahkannya.
Dengan langkah pelan, Salsa menuruni anak tangga, kali ini ia berpenampilan sedikit berbeda dari biasanya. Ya, karena ini kencan pertamanya dengan Leon.
"Kak, aku keluar dulu ya. Aku udah izin sama Tante sama Om." ucapnya saat mengetahui Arska dan Fella sedang duduk di sofa ruang tamu.
Arska melirik adik sepupunya itu sekilas. "Pulangnya jangan malam-malam, Mama sama Papa entar khawatir," balasnya.
Kali ini Fella menatap lurus ke arah Salsa. "Kamu tumben dandan cantik banget, mau kencan ya?" ledek Fella di iringi senyum.
Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Hehehe iya kak, doain lancar ya." gadis itu tertawa canggung.
"Awas, jangan aneh-aneh. Kalau ketauan sama Tante dan Om, kamu bakalan kena marah. Bahkan elo bisa di tarik pulang ke bandung." Arska mencoba mengingatkan.
"Ya, kalau bisa. Mama sama Papa jangan di kasih tau dong, kak." ekspresi memelas di tunjukan Salsa.
Tak berselang lama, suara motor sport berhenti di depan rumah. Gadis itu langsung melirik ke arah pintu. "Ya udah ya kak, jemputan aku udah dateng. Salsa duluan ya." pamitnya yang langsung berlari meninggalkan Arska dan Fella.
"Iya, hati-hati, Sal." sahut Fella.
"Tumben Dimas nggak langsung masuk? Biasanya itu bocah langsung ngeluyur masuk." kata Arska yang tiba-tiba menjadi kepo.
Perempuan yang ada di samping Arska hanya menghela napas. "Mereka buru- buru sayang. Orang Salsa aja lari kaya gitu tadi."
Arska hanya tersenyum, seraya merangkul istrinya itu dari samping. Tak ada yang bisa mengalahkan rasa bahagia di antara pasangan suami istri itu saat ini.
Di halaman rumah.
Salsa mendekati Leon dengan napas sedikit terengah-engah. Sesekali ia memegangi hak sepatunya yang tak terlalu tinggi itu.
"Kenapa lo lari-lari? Elo takut, kalau orang tua lo tau, elo punya pacar yang lebih dewasa daripada elo?" tanya Leon dangan kening mengernyit.
Gadis itu mendengus, sambil mengerucutkan bibirnya. "Nyesel aku lari-lari, kalau endingnya cuma ditanya kaya gini!" keluh Salsa dengan membuang wajahnya.
Leon terkekeh. "Apa saking kangennya elo sama gue, sampi harus lari-lari segala." goda Leon.
__ADS_1
"Tau! Aku kesel sama kamu!" serunya dengan melipat kedua tangannya dan menaruhnya di depan dada.
Lelaki itu mengembangkan senyumnya, gadis itu terlihat semakin imut dengan tingkahnya saat ini. Tak mau membuat Salsa semakin kesel, ia pun langsung meraih lengan gadis itu.
"Jangan ngambek lagi, maafin gue, ya." ucapnya dengan nada merendah.
Senyum samar di perlihatkan oleh Salsa. "Jadi jalan nggak? Kalau keburu malam, takut kena omel sama Tante dan Om."
"Jadi, pacar gue udah dandan cantik kaya gini. Masak nggak jadi jalan, kasian dia udah dandan berjam-jam buat jalan sama gue." kata Leon yang langsung mengusap pucuk kepala gadis tersebut.
Salsa menggigit bibir bawahnya, ia merasa pujian Leon membuatnya sedikit berdebar, lelaki itu bahkan membantu Salsa untuk duduk di kursi belakang.
"Pegangan yang kenceng. Entar kamu terbang, tubuh kamu kan kecil mungil." ledek Leon saat Salsa sudah berada di belakangnya.
"Astaga. Kamu itu bisa nggak, kalau nggak bikin kesal aku! Saat aku udah ngerasa tenang, jangan bikin bete lagi, dong!"
Leon tak membalas ucapan Salsa, lelaki itu justru menuntun tangan Salsa agar memeluk perutnya. Ia segera menyalakan mesin motornya dan melanjutkannya dengan kecepatan sedang, keduanya saling terdiam. Sikap Leon yang biasanya terus menggoda pun entah lenyap kemana. Terpaan angin malam membuat kedua remaja itu menikmati keramaian kota yang di padati oleh anak muda yang ingin menghabiskan malam minggu mereka. Salsa yang baru pertama kali diboncengkan oleh Leon pun sedikit grogi lantaran ia belum pernah memeluk lelaki lain selain Papanya. Bahkan dengan Dimas pun ia tak pernah, karena ia malu.
'Astaga Sal. Kamu harus tahan jantung kamu biar nggak terlalu kenceng debarannya.' batinnya.
Gadis itu menggeleng pelan, Loen dapat merasakannya lantaran helm yang di pakai Salsa sedikit membentur helm yang di pakainya.
"Lo, pegangan yang kenceng. Gue mau ngebut."
"Kenapa harus ngebut, sih!" protes gadis bertubuh mungil itu.
Tersenyum sinis dan menoleh. "Biar lo nggak telat makan, kalau sampai lo sakit. Besok-besok nggak ada yang nemenin gue kasih makan kucing." sahutnya sebelum menambah kecepatan pada laju motornya tersebut.
Salsa semakin mempererat pelukannya, 'Dia bener-bener sengaja atau gimana,sih. Kenapa kenceng banget bawa motornya,' gumam Salsa yang kini memejamkan matanya.
"Aku masih pengen hidup, kamu bawa motornya pelan dikit, dong!" sentak Salsa dengan nada yang cukup tinggi. Tapi, entah mengapa, Leon bukannya memperlambat laju motornya justru semakin menambahnya.
"Leon. Kuping kamu denger nggak, sih." Salsa kembali berteriak. Rasanya percuma juga berteriak hingga tenggorokan mengering, Lelaki itu sepertinya terlalu fokus dengan jalannya, bahkan bisa di bilang kalau suara teriakan Salsa sudah terbang terbawa angin terlebih dahulu, di bandingkan masuk kedalam telinga Leon.
Sampailah mereka di sebuah restoran yang mayoritas penghuninya adalah para remaja, lelaki itu segera memarkirkan motornya.
__ADS_1
"Udah sampai, buruan turun." ucap Leon saat sudah melepas helm full face-nya.
Merasa tak ada respon dari Salsa, dan justru gadis itu semakin erat memeluk perutnya. Leon semakin mengembangkan senyumnya.
"Lo sering banget ya, peluk cowok sampai nggak mau lepasin kaya gini. Atau, jangan-jangan elo itu emang nyari kesempatan buat peluk gue lebih lama," goda Leon seraya menoleh kebelakang.
Salsa hanya terdiam dengan mata yang masih tertutup dengan rapat, namun ia dapat mendengar ucapan Leon dengan jelas.
"Lo suka banget ya peluk gue sampai tutup mata kaya gini?" tanya Leon saat mengetahui gadis itu belum juga membuka suaranya.
Dengan perlahan, Salsa membuka matanya. Ekor matanya terlihat sangat kesal. "Apa aku masih hidup? Apa aku udah di alam baka." katanya cukup ngelantur.
Leon buru-buru melepaskan tangan Salsa yang memeluk perutnya, pemuda itu langsung turun dari motornya. Ia ingin memastikan jika Salsa tidak kenapa-napa. Leon segera memegangi kening gadis itu dengan raut wajah yang terlihat sedikit panik.
"Lo, kenapa Sal?" tanyanya dengan wajah sedikit mendekat kearah wajah Salsa.
Gadis itu menghela napasnya cukup panjang. Tanpa menunggu nanti-nanti Salsa segera mengusap wajah Leon dengan cukup kasar.
"Apa-apaan, sih lo!" Leon sedikit memundurkan tubuhnya, lelaki itu protes dengan tindakan yang di lakukan oleh Salsa.
"Kamu yang apa-apaan, bawa motor kenceng banget. Emangnya aku ini makhluk tak kasap mata, sampai kamu bawa akunya nggak nengok-nengok dulu! Aku tuh takut tau! Kamu malah dengan PD-nya bilang yang enggak-enggak." celoteh Salsa panjang lebar. Gadis itu masih mengatur napasnya yang sempat terputus-putus.
Leon kembali mendekati Salsa, lelaki itu bukannya merasa iba dengan perkataan Salsa, justru ia tertawa tanpa dosa.
"Astaga, gue pikir lo kenapa? Nggak taunya lo ketakutan," ucapnya dengan tawa yang semakin keras.
Salsa membuang wajahnya ke sembarang arah, ia benar-benar kesal dengan lelaki yang tidak memiliki akhlak seperti Leon ini.
"Terus aja ketawa, sampai puas! Dasar pacar nggak punya akhlak!" ucapnya dengan nada ketus.
Sejenak Leon menghentikan tawanya, lelaki melepas helm yang di kenakan oleh Salsa. Saat rambut kecil mulai terlihat di sana, Leon segera mengelus pucuk kepala gadis itu dengan lembu.
"Maafin gue ya, gue nggak akan ngulangin tindakan bodoh seperti tadi, gue nggak akan bikin lo ketakutan lagi." ucapnya dengan nada rendah.
Salsa masih mengerucutkan bibirnya, namun ia juga mengangguk pelan merasa ucapan Leon dapat di percaya.
__ADS_1