
Fella masih saja memandang ke arah Arska tanpa membuka suara, tatapannya begitu datar seperti saat mereka pertama kali bertemu. Sejak pulang dari rumah sakit Fella sengaja untuk pura-pura tak mengenal kekasihnya itu, bahkan ia bersikap dingin terhadap Arska sebagai bentuk balas dendamnya.
"Bun.... siapa sih, cowok ini sejak kemarin kesini mulu nggak ada bosen nya" ucap Fella masih dengan wajah yang datar.
Merry menelan saliva nya, ia masih bingung harus menjawab pertanyaan putrinya. "Aduh... Aya masak kamu nggak ingat sama Arska?" jawab Merry sambil mengelus-elus lengan Fella.
"Enggak" lagi-lagi Fella memasang wajah juteknya.
Arska menghela nafas sesaat, sebelum akhirnya membuka suara. "Ay, masak kamu nggak ingat sama aku?" tangan kanan Arska berusaha meraih tangan Fella. Tapi Fella segera menghindar.
"Aku nggak mau ngeliat dia bun" mata Fella kini beralih melihat Merry.
Hati Arska sangat ter totok saat mendengar kekasihnya tak mau lagi melihat dirinya, mungkin ini karma yang telah Tuhan berikan untuk dirinya, karena selama ini ia yang selalu menghindar dari tunangannya itu.
"Sayang... kasihan Arska, dia yang nungguin kamu di rumah sakit waktu kamu koma" jelas Merry.
"Tapi Aya nggak kenal bun, nanti kalau Andy tau gimana?" Fella sengaja menyebut nama Andi dengan nada yang cukup nyaring, ia ingin melihat bagaimana ekspresi kekasihnya saat ia menyebut nama mantannya.
"Kamu kan udah putus sama Andy sayang" Merry yang semakin terjebak dalam masalah putrinya semakin bingung harus bagaimana, sesekali ia melihat ke arah Arska, wajah pucat tak bersemangat terlihat jelas di depan Merry.
"Bunda apa-apaan sih, Andy itu kan pacar aku, mana ada kita putus bun, kita kan saling mencintai" ucap Fella dengan nada ngeselin, sebenarnya ia sangat eneng waktu mengatakan kata mencintai, apa lagi itu mantannya yang pernah menyakiti hatinya.
"Aya.... Arska ini tunangan kamu, jangan pernah sebut nama laki-laki lain di depan tunangan kamu" jelas Merry yang sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Bunda....sejak kapan Aya punya tunangan?, Aya aja baru ngeliat dia kok" Fella menunjuk ke arah Arska menggunakan dagunya.
Arska masih menatap ke arah Fella dengan tatapan sayu, terlihat saat jelas di mata Fella kalau kekasihnya itu tidak banyak beristirahat dengan baik. Sebenarnya hati kecilnya sangat iba melihat Arska yang begitu menyedihkan, tapi ia juga tak mau jika harus membongkar kepura-puranya untuk membalas kelakuan Arska tempo hari.
"Nggak papa tante, Arska maklumin kok tante".
"Arska jangan benerin omongan Aya, kalau dia nggak bener".
"Arska bukannya benerin omongannya Aya tante, sebenernya Arska juga sakit hati dengar ucapan Aya barusan. Tapi mau di kata apa tan, kalau Aya beneran nggak ingat sama Arska lagi" lagi-lagi Arska menghela nafas, sebelum akhirnya menundukkan kepalanya.
Fella masih menahan diri untuk tidak membuka rahasianya. Ia masih pura-pura cuek. Merry semakin geram dengan sikap tak sopan anaknya.
__ADS_1
"Aya... kamu nggak boleh ngomong gitu. Kasihan Arska".
"Bunda kenapa sih, dari tadi belain ini orang terus, Aya kan capek dengernya" Fella masih saja berusaha mempertahankan akting.
Arska lagi-lagi menghela nafasnya, ia kembali menatap ke arah Fella senyum kecewa ia tunjukan di depan kekasihnya itu. "Arska pamit pulang dulu ya tan, Ay... cepat sembuh" ucap Arska dengan nanar mata yang memerah.
"Iya ka, hati-hati pulangnya, jaga kesehatan kamu" Merry memandang Arska dengan rasa iba.
Arska hanya mengangguk pelan, segera ia berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruang tamu dengan langkah tak bersemangat. Merry melihat ke arah Fella dengan tatapan curiga, ada suatu hal yang di sembunyikan oleh anaknya itu. "Kenapa kamu harus bohong ay?".
"Maksud Bunda apa?, Aya nggak ngerti" elak Fella.
"Nggak usah bohong, Bunda bisa ngeliat dari mata kamu, ekspresi wajah kamu yang kebingungan, Bunda tau hati sama pikiran kamu lagi nggak sejalan Aya".
Fella melihat sekilas ke arah Merry, ia nampak gugup jika ia memberitahu rencana awalnya mungkin Merry akan sangat marah terhadap dirinya. "Aya nggak ngerti sama ucapan Bunda barusan" Fella menatap Merry dengan tatapan yang di buat tenang, segera ia pamit untuk beristirahat. "Kepala Aya agak pusing bun, Aya duluan ya mau istirahat" pintanya yang langsung beranjak dari duduknya.
Merry yang melihat ekspresi bohong dari anaknya hanya geleng-geleng kepala. Sesekali ia mengelus dadanya karena merasa sesak.
...°•©inta Untuk Fella°•...
"Pagi Fella sayang" sapa Faya dari belakang yang langsung merangkul pundaknya.
"Pagi juga fay, bel" jawabnya dengan senyum sesaat sambil melihat ke arah kedua sahabatnya secara bergantian.
"Tumben pangeran lo nggak nganterin?" tanya Bella penasaran.
"Pangeran siapa sih?" jawab Fella simpel.
"Ya pangeran Arska lah... tunangan lo kan cuma Arska. Ya kecuali lo punya tunangan lain" celetuk Bella.
"Percaya nggak?, kalau gue cuekin dia" mata Fella kini berubah menjadi serius.
"Ya... enggak lah... masak iya lo tega cuekin Arska setelah dia rela ngelakuin apa aja demi lo" ucap Bella dengan percaya dirinya. "Jangan bilang lo jadi ngelakuin hal konyol yang lo rencana in tempo hari" lanjutnya sambil menunjuk ke arah Fella.
"Iya Fel... masak iya, lo tega kaya gitu sama cowok yang beneran tulus ke elo, kurang bukti apa lagi cuba" timpal Faya sambil memajukan bibirnya.
__ADS_1
Sampai di kelas Fella langsung menyandarkan badannya ke tembok, sesekali ia menghela nafasnya agar bisa menangapi ke kepoan kedua sahabatnya itu.
Bella dan Faya masih fokus menatap ke arah Fella pandangannya tak beralih sedetik pun.
"Kalian ngapain sih, pada ngelian gue sampai segitunya" ucap Fella mengernyitkan keningnya.
"Kita masih nungguin jawaban lo, jangan bikin kita mati penasaran gara-gara lo nggak ngasih jawaban ke kita" jelas Bella.
Lagi-lagi Fella menghembuskan nafasnya. "G-gue.... pura-pura amnesia, buat ngasih perhitungan ke Arska".
Bella dan Faya meronta tak bisa menerima ke konyol lan yang di lakukan oleh sahabatnya itu. "Kok lo tega gitu sih fel" protes mereka kompak.
"Kalian itu sebenarnya sahabat gue apa sahabatnya Arska sih, gitu banget belain nya".
"Kita nggak maksud belain Arska, tapi cara lo itu salah fel" Bella merendahkan nada bicaranya.
"Dia itu cowok perfect fel, selain tampang dia yang super ganteng, dia juga pinter ngejaga hatinya cuma buat lo, kurang apa coba" Faya masih mencoba menasehati Fella.
"Kalian benar, dia emang cowok perfect, yang pernah gue kenal, tapi please. Kali ini aja kalian nggak usah ngerusak rencana gue, cukup kalian tau, jangan bocorin rahasia gue. Please gue mohon" ucap Fella memohon.
"Ya..ya..ya... terserah lo, kita tutup mulut, lo boleh ngelakuin hal gila yang lo mau, tapi saran kita, li jangan keterlaluan sama Arska" tegas Bella.
"Dia cowok baik fel, salah langkah sedikit aja, lo bakalan nyesel" lanjut Faya sambil memanyunkan bibirnya.
"Iya gue tau konsekuensinya, kalian tenang aja gue cuma ngasih sedikit pelajaran buat Arska, biar bisa ngehargain gue sebagai tunangannya, nggak semua masalah harus dia sendiri yang nanggung, gue sebagai tunangannya jadi ngerasa nggak guna" jelas Fella dengan wajah memelas.
Bella dan Faya segera memeluk Fella dengan eratnya. "Otak lo masih fungsi ternya fel, gue pikir setelah lo kecelakaan waktu itu otak lo udah geser" canda Bella.
"Ya ampun bel, tega banget sih lo, otak gue masih fungi, cuma kadang suka sakit kalau buat mikir hal berat".
Faya memanyunkan bibinya lagi, wajahnya memelas dengan pelan ia mengusap-usap pucuk rambut Fella dengan pelan. "Kasihan banget sih sayang ku Fella".
"Apaan sih... kalian kan gue jadi ikutan sedih" suara Fella berubah serak.
Mereka bertiga saling memeluk cukup lama. Rindu akan kebersamaan yang selama ini menghilang, karena Fella yang tak kunjung masuk sekolah akibat koma yang cukup lama.
__ADS_1