
Fella mengedumel tak henti-hentinya saat ia mengetahui kalau dirinya sudah tertinggal oleh bus pengangkut rombongannya, kata-katanya terus mengomel ke Arska. "Ini gara-gara kamu yang, aku sampai ketinggalan! nanti kalaupun aku di hukum kamu juga harus ikut di hukum!" serunya dengan nada cukup ketus.
"Bisa berhenti ngomel nggak sih yang? aku baru konsentrasi nyetir! lagian aku juga udah tanggung jawab kan buat nganterin kamu ke tempat camping."
"Ya... karena kamu juga ikutan ke sana kan." balas Fella dengan mencebirkan bibir atasnya.
"Bisa diem nggak!" serunya dengan mata yang masih terfokus dengan jalannya.
"Galak banget...." kata Fella bersedekap dada seraya memalingkan wajahnya menghadap kaluar jendela.
Sesekali Arska mencuri pandangannya, Arska tau kalau Fella saat ini sedang kesal terhadap dirinya, bahkan nada bicaranya pun terdengar tak enak ketika sampai di telinga Arska.
Sebenarnya ia tak ada niatan untuk terlalu galak dengan gadis yang ada di sampingnya saat ini. Ia cuma ingin Fella diam dan berhenti mengomel karena itu semakin membuat dirinya merasa bersalah.
"Ngambek lagi?" tanya Arska seraya mengelus pucuk kepala Fella dari samping.
"Nggak! siapa yang ngambek?" ucapnya masih dengan posisi yang melihat ke arah luar jendela mobil.
"Aku udah bilang sama Papa kalau kamu ikut, tapi nggak satu rombongan bareng yang lain, jadi kamu nggak perlu takut kalau dapat hukuman." jelas Arska mencoba menenangkan Fella.
Mata Fella kembali berbinar. "Beneran udah bilang sama om Hendry?"
"Iya.... sejak kapan aku bohong." jelas Arska kembali fokus menyetir.
"Makasih ya sayang." kata Fella yang langsung merangkul lengan Arska sesaat.
Arska menjawab dengan anggukan, ia nampak bahagia ketika mengetahui kekasihnya tak lagi mengerucut.
...°•°©inta Untuk Fella°•°...
Tempat camping....
Suasana yang begitu asri membuat siapa pun terpukau oleh tempat itu, termasuk Arska dan Fella, mereka sangat takjub dengan tempat yang telah di pilih oleh kepala sekolah mereka untuk ber-camping.
__ADS_1
"Aku nggak jadi ngeluh yang, kalau tempatnya kaya gini." ucap Fella masih dengan tatapan takjubnya, sesekali ia menghirup udara yang begitu segar tanpa polusi dan kebisingan.
"Udah nggak bete? nggak takut lagi?" tanya Arska dengan posisi yang masih menenteng ransel milik kekasihnya itu, tangan kanannya sibuk menggenggam erat tangan Fella, takut si matan datang mengusik pikir Arska.
Fella menggeleng pelan. "Kan ada kamu yang siap nemenin aku, kalau ada tantangan atau hukuman. Lagian kan kamu sendiri yang bilang tadi, kalau nggak ada kegiatan macam itu. Jadi nggak perlu bete apa takut lagi." jelas Fella panjang lebar.
Arska menunjuk dirinya sendiri. "Aku kan cuma jagain kamu, masak iya aku harus nemenin kamu kalau ada tantangan atau hukuman? lagian aku juga nggak yakin sama ucapan Papa, ucapan Papa bisa kapan aja berubah." kata Arska sengaja berekspresi murung.
Keriputan di kening Fella mulai muncul mendengar hal tersebut. "Tadi katanya siap buat nemenin aku kemana aja, udah janji loh... nggak boleh ingkari, dosa! terus kalau om mau ngasih tantangan biar kamu aja yang lakuin buat aku!" seru Fella seraya melebarkan kakinya.
"Yang nggak enak aja ajak-ajak, udah gitu soal kegiatan dia sendiri, aku juga yang suruh nanggung. Tega kamu ay." keluh Arska pelan.
Fella menghentikan langkahnya secara tiba-tiba dan membalikan badannya menghadap Arska. Alhasil Arska membentur kepala Fella, tepat di dada bidang miliknya, Arska menundukkan kepalanya kini wajahnya tepat berada di depan wajah Fella. Bahkan aroma mint dari nafas Fella dapat tercium, hingga membuat Arska terpukau dengan kekasihnya saat ini.
"Ehem..." suara deheman sengaja di keras-kan Fella agar Arska segera tersadar dari bengong-nya.
"Maaf sayang.... nggak sengaja, abisnya kamu ngeremnya dadakan." kata Arska dengan mata tak berkedip.
Fella semakin cantik, karena angin yang berhembus membuat rambut indahnya terurai dan itu semakin membuat Arska larut oleh kecantikan yang di miliki tunangannya itu.
Anggukan kecil yang dilakukan Arska membuat Fella semakin puas dengan pertanyaan yang terlontar dari mulutnya barusan. "Ow... iya.. ngomong-ngomong aku tadi denger suara jangkrik loh yang, jangkrik-nya ngeluh nggak mau di ajak susah." sindir Fella.
Arska nyengir kuda, ia tau kalau jangkrik yang di maksud adalah dirinya. "Hahaha.... kamu salah denger ay, tadi suara kodok yang lewat." elaknya seraya menggaruk lengannya yang tak gatal.
"Ow... jangkrik-nya berubah jadi kodok. Atau mungkin jangkrik-nya mati di makan kodok kali ya yang." ucap Fella seraya mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan jari telunjuk.
Tawa Arska berubah menjadi kaku. Wajah yang tadinya tenang berubah dengan seketika. "Kamu tadi bilang apa?"
"Jangkrik-nya mati di makan kodok."
"Kamu pengen aku ngalah sama mantan kamu berarti?" tanya Arska menyipitkan matanya.
"Apa hubungannya? nggak masuk akal tau yang? hubungannya jangkrik-kodok, kamu-mantan apa? nggak ngerti aku!" seru Fella sedikit sewot.
"Iya... ibarat aku jangkrik-nya terus mantan kamu kodoknya." jelas Arska.
__ADS_1
Fella mencebirkan bibirnya. "Kamu sendiri tadi yang bilang kodok?"
"Kamu yang ngatain aku jangkrik!"
"Ya terus... apa hubungannya?"
"Ya kalau jangkrik-nya di makan kodok, yang tersisa cuma kodoknya, jadi kalau aku di makan sama mantan kamu yang tersisa cuma mantan kamu!"
"Mana ada perumpamaan kaya gitu, lagian Andy mana mau makan kamu... kamu-nya ke-pe-de-an!"
"Terus... kalau udah gitu, pilih aku apa mantan kamu!"
"Ck.... pinter-nya kelewat akut, jadi soak kan buat mikir!" Fella mengerutkan keningnya, ia benar-benar kesal dengan ucapan nyeleneh Arska.
"Kamu bilang apa tadi ay?" Arska memasang telinganya mendekatkan ke bibir Fella.
"Pilih kamu!" seru Fella.
Arska mulai berdiri tegap, ia suka sekali membuat kekasihnya itu darah tinggi. "Nah... hati aku kan lega dengernya."
"Hati kamu lega...hati aku kesel." jelas Fella.
Bella dan Faya sibuk mengamati sepasang kekasih yang sibuk berebut itu. "Woy..... udahan pacarannya buruan bantuin pasang tenda!" seru Bella dengan suara cukup keras hingga Fella dan Arska harus menoleh ke sumber suara.
"Udah selesai gitu bel?" tanya Arska dengan teriakan balik.
"Iya emang udah selesai, kita cuma pengen kalian berhenti ngeributin hal yang nggak penting." balas Bella.
"Uh .. ngeselin." ucap Fella menghentakkan kakinya tatapan kesalnya menatap lurus ke arah Arska.
"Uh .... kamu juga ngeselin." ucap balik Arska seraya meninggalkan Fella, ia melangkahkan kakinya menuju ke tenda Bella dan Faya.
"Lah kok jadi aku yang di tinggal." keluh Fella kesal, ia berlari mengejar Arska.
Konflik yang sepele di dalam hubungan yang membuat Fella dan Arska semakin menetapkan hatinya hanya untuk satu orang.
__ADS_1