Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Nasehat Dari Arska


__ADS_3

Otak Fella sepertinya sudah merekam akan hal yang ia alami tadi, hingga ia bisa sampai ke rumah sakit pun ia masih bisa mengingatnya. Karena ketika matanya terbuka, kesadarannya pun masih setipis kertas, membuat memori ingatannya tentang Arska yang kembali hadir.


Mengerjapkan matanya berkali-kali untuk bisa melihat sekelilingnya, mencari laki-laki yang sangat di rindukannya itu. Menggosok pelupuk matanya yang terasa begitu berat.


"Mata ku kenapa jadi kaya di sengat lebah gini sih," katanya pada diri sendiri. Matanya yang bengkak masih terlihat dengan sangat jelas.


Ruangan inapnya terasa begitu sepi, tak seorang pun yang berada di sana. Fella mencoba duduk, kepalanya terasa berdenyut karena hal itu.


"Sakit banget ya Allah." tangannya memegang kepala menekannya sedikit agar rasa sakitnya berkurang.


"Kira-kira gimana tampang ku sekarang ya? Pasti jelek banget. Untung aja Arska nggak ada di sini, coba kalau ada. Pasti udah di bully abis-abisan sama cowok ngeselin itu." Suara gumamnya terdengar di keheningan bahakan hampir memenuhi ruangan.


Kepala Fella mendongak, dan jantungnya hampir copot karena Arska tiba-tiba berdiri di samping ranjangnya dengan tangan bersedekap di depan dadanya. Mata lelaki itu menatap Fella dalam, dengan bibir mengatup rapat.


"Arska." suara Fella terdengar kecil sekali.


Arska bergeming dengan ekspresi wajah datarnya. Ia mencoba memasang wajah seriusnya agar Fella benar-benar tau jika dirinya sangat khawatir dengan keadaan gadis itu. Fella tentu saja salah tingkah dengan tindakan kekasihnya yang menatapnya dengan wajah kesal namun serius. Jadi ia memutuskan untuk menutupi rasa malunya, Fella kembali berbaring dan menarik selimut sampai ke kepalanya.


Tak peduli jika denyutan di bagian kepalanya semakin menjadi karena ia berbaring dengan kasar.


"Nyeremin gitu aja masih ganteng. Gue kan makin cinta." Fella masih bergumam pelan di dalam selimut. Berharap Arska tak mendengarnya.


Tiba-tiba Fella merasakan ada yang menyentuh bagian lengannya karena memang Arska sedang menyentuhkan ujung telunjuknya di bagian lengan gadis itu.


"Kalau kamu masih betah di dalam selimut, aku tinggal pulang." ancam Arska.


Kata-kata Arska sukses membuat selimut yang tadinya menutupi seluruh tubuh Fella terbuka dengan lebar, Fella menunjukkan wajah cemberutnya.

__ADS_1


"Jangan." rengek-nya dengan tangan menarik lengan Arska.


"Ternyata orang sakit masih punya tenaga juga." ledek Arska masih dengan ekspresi wajah yang sama, cowok itu tak memperlihatkan wajah ramahnya.


"Jahat." Fella mulai melepaskan tangannya dari lengan Arska.


"Kalau aku jahat, mana aku mau jagain kamu."


"Kepala aku masih sakit Arska, jangan ngomel mulu." keluh Fella seraya memegangi kepalanya yang benar-benar masih sakit.


"Kalau begitu makan!" perintah Arska.


"Pahit."


"Kalau begitu biar aku panggil Tante Merry, biar dia yang jagain kamu."


"Oke. Aku makan." Fella mencekal lengan Arska yang hendak pergi.


Arska mendekat dan memijat pelipis Fella. Gadis itu tersenyum tipis mendapati tangan Arska berada di kepalanya.


Mereka saling diam, Arska masih dengan konsentrasi melakukan aktifitasnya, dan Fella menikmati apa yang di lakukan kekasihnya di kepalanya. Keduanya saling merasakan kehadiran satu sama lain, setelah beberapa hari tak bertemu.


"Jangan lakuin tindakan konyol lagi ya sayang." Arska mengawali percakapan. "Berlari dan bersembunyi tidak akan menyelesaikan masalah. Di dalam hidup manusia, bukan hanya akan ada satu masalah. Selama kita masih hidup, selama kita masih bernafas, selama nyawa kita masih menempel di dalam raga kita, akan ada yang namanya masalah," ucap Arska menasehati.


"Jika di hadapkan satu masalah saja kamu akan lari, bagaimana cara kamu menyelesaikannya." Lanjut Arska.


Fella terdiam sesaat mendengar nasehat dari kekasihnya itu. Tanpa ada niatan untuk menyela. Ia juga merasa bersalah akan sikapnya yang terkesan kekanakan.

__ADS_1


Menarik tangan Arska yang masih berada di kepalanya, Fella menggenggam erat tangan kekasihnya itu. "Maaf," ucapnya paruh. Menekan keinginan untuk tidak menangis.


"Aku selalu maafin tindakan kamu yang konyol itu, berhenti bikin orang lain khawatir. Oke!" Arska mendaratkan satu kecupan manis di kening Fella, sebenarnya ia juga merasa bersalah gara-gara kesibukannya ia selalu mengabaikan Fella.


"Aku nggak tau kenapa aku ngelakuin itu. Aku hanya ngerasa kamu makin jauh aja daru aku, aku takut."


Arska duduk di tepi ranjang Fella. Tangannya yang bebas kini mengelus pucuk kepala Fella dengan lembut.


"Aku cinta dan sayang sama kamu. Kamu tau itu kan? Maafin aku yang terlalu sibuk akhir-akhir ini dan jarang banget ngasih kabar ke kamu. Di banding dengan semua hal yang aku lakukan, aku selalu berpikir jernih terlebih dahulu. Karena aku cuma memiliki satu wanita yang wajib untuk aku pertahankan, wajib aku jaga. Aku ingin jadi yang terbaik untuk kamu, lulus dengan nilai sempurna dan menyandang gelar sebagai sarjana. Mendapat pekerjaan yang layak agar aku bisa menghalalkan kamu dengan hasil kerja keras ku sendiri, tanpa tergantung dengan orang tua lagi." Ucapan Arska begitu panjang lebar, ia ingin menjelaskan semuanya secara detail, agar gadis yang sekarang berada di hadapannya itu tak lagi berpikir yang macam-macam terhadap dirinya dan bertindak konyol seperti ini lagi.


Fella serasa ingin menangis, dikala ia mendengarkan penjelasan Arska. Tindakannya begitu konyol sampai ia tak mampu untuk berpikir jernih lagi. Yang ia pikirkan hanyalah, jika dirinya sakit dan tak mau berobat, pasti Arska akan menjadi orang pertama yang menemuinya dan keinginannya bertemu dengan kekasihnya akan terwujud. Meskipun mereka satu kampus tak menutup kemungkinan kalau mereka jarang sekali bertemu.


"Jangan nangis lagi, please.... mata kamu udah bengkak kaya di sengat lebah sama ratunya."


Fella sontak menutup wajahnya karena malu, ia lupa jika saat sakit dirinya hanya sibuk menangis dan berpikir hal negatif terus terhadap tunangannya itu.


Arska hanya menyeringai melihat tingkah laku kekasihnya itu. Kemudian ia mengambil makanan di atas meja, berniat untuk menyuapi Fella.


Di sela-sela aktifitas menyuapinya itu, sesekali Arska mencubit pipi Fella karena merasa gemas. Pria itu hanya beberapa hari tak melihat kekasihnya, tapi rasa rindunya sudah meluap-luap. Memilih mementingkan egonya di bandingkan dengan perasaan rindunya.


"Jangan ngeliatin aku terus." Protes Fella saat dirinya menyadari jika Arska terus memperhatikannya.


"Kenapa?"


"Aku malu, kita nggak sering bertemu sebelumnya. Sekali bertemu kamu lihat kondisi aku yang kaya gini. Menyedihkan."


"Makanya jangan nangis lagi, kalau Bella sama Faya tau. Kamu bakalan kena bully abis-abisan."

__ADS_1


"Ih..... aku kaya gini juga karena kamu!" Fella mulai kesal dengan ledekan yang di tunjukan untuknya.


Arska tertawa, mendengar penuturan yang Fella ungkapkan secara jujur. Pria itu kembali menyuapkan makanan yang masih di pegangannya.


__ADS_2