
Arska, Brayu dan Dilan berjalan beriringan melewati koridor kampus. Saat berpapasan dengan Bella, nampak gadis itu cuek terhadap Brayu.
"Udah berapa bulan ini Bray? Lo kenapa masih belum juga jadian sama Bella," celoteh Arska.
"Jangan lo pikir dapetin Bella itu semudah beli permen karet di warungnya mbak Sity, dia itu susah banget di dapetinnya."
"Yah... kasihan amat sih.. Bella di samain sama permen," kata Dilan cekikikan.
"Ya....ya.... kalian mah enak bisa dapetin apa yang kalian mau, Arska yang nggak secara sengaja di jodohin sama Fella dan Dilan karena Regina mulai nyaman sama lo, makanya dia mutusin buat terima cinta lo! Lah gue.... ngejar sampai ke awang-awang juga belom dapet-dapet." Curhat Brayu sesaat.
"Hahahaha... itu namanya Dewi Fortuna belom berpihak sama lo." Arska dan Dilan kompak meledek Brayu.
"Lo berdua kalau mau ngeledek jangan kebangetan dong, gini-gini gue juga masih punya hati."
"Hahaha....abis lo lucu banget Bray, lo itu mantan play boy waktu sekolah. Masa dapetin cewek satu aja butuh bertahun-tahun."
"Semua itu butuh proses Lan, butuh perjuangan. Semakin susah di dapetin itu bukannya semakin menantang."
"Tantangan lo terlalu terjal Bray, yang lempeng-lempeng aja," sahut Arska dengan tangan yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Maunya juga yang lempeng Ka, tapi hati gue udah terlalu suka sama yang terjal itu."
"Yang penting muka lo nggak ikutan terjal Bray, kalau ikutan terjal gue kasihan sama lo," canda Dilan.
"Sialan lo! Ngatain muka gue terjal emangnya muka gue se-suram itu."
"Lebih tepatnya angker, kaya nggak ada kehidupan di wajah lo."
Brayu tak membalas celotehan yang Dilan lontarkan, otaknya bisa gundul lama-lama jika menanggapi lelaki itu.
Arska mengamati sekilas wajah Brayu yang mulai kusut itu. "Lo nggak usah kusut-kusut gitu lah Bray, gue ada ide buat lo, gimana kalau pas ultahnya Bella aja lo ngungkapin seluruh perasaan lo ke dia, denger-denger Bella bakalan ngadain pesta. Sekaligus reunian teman SMA-nya."
"Gue ultahnya Bella aja nggak tau kapan," jawabnya tanpa semagat.
"Payah banget lo Bray, gimana mau dapetin Bella kalau gitu aja lo nggak tau," celoteh Dilan.
"Tiga minggu lagi Bella ultah tanggal 4 mei. Dia genap 18 tahun." Arska memberi sedikit informasi yang ia dapatkan dari kekasihnya.
"Seriusan, kenapa Bella nggak pernah cerita ke gue." Brayu tanpa sadar berkata demikian.
__ADS_1
Arska dan Dilan bertukar pandang, bukannya mereka berdua tak pernah dekat bagaimana mungkin Brayu bertanya kepada gadis itu.
"Lo aja nggak pernah deket sama Bella, gimana dia ngasih tau ke lo-nya." sindir Dilan.
Lelaki itu menjadi salah tingkah karena ucapnya salah. 'Bisa berabe kalau yang lainnya tau dan sampai kedengaran ke telinga Bella,' batin Brayu. "Maksud gue, kenapa Bella nggak pernah cerita, tentang hal itu."
"Ngarep banget sih lo... nungguin Bella cerita. Lo aja nggak pernah deket sama dia, mana ada cewek itu cerita ke elo," jelas Dilan.
"Hahaha.... iya ya nggak pernah dekat, saking nggak deketnya gue jadi gemes," balas Brayu menggaruk kepalannya pelan, ia merasa kikuk waktu mengatakan hal tersebut, padahal ia sudah sangat dekat dengan Bella, namun gadis itu tetap bersikeras jika dirinya belum siap membuka hatinya untuk laki-laki mana pun termasuk untuk dirinya.
"Kenapa tawa lo lucu gitu Bray, apa lo udah frustasi banget sama keadaan lo sekarang ini." Dilan masih saja meledek sahabatnya itu.
"Udah.... nggak usah, bahas hal itu lagi, kasihan Brayu, mukanya udah kaya jemuran nggak kering selama seminggu gitu," ucap Arska dengan kaki yang melangkah lebih jauh, lelaki itu sejak tadi memegang ponselnya dan terus mengembangkan senyumnya. Mungkin saja pesan tersebut dari Fella, karena Arska pergi tanpa pamit setelah mengatakan hal tersebut.
"Ye.... tuh anak main nyelonong aja tanpa permisi dulu." Dilan mulai sewot dengan kelakuan Arska yang seperti itu.
"Biarin aja, kaya lo nggak pernah ngalami aja." Bela Brayu dengan mendorong lengan Dilan pelan.
Tak berselang lama, Aldy si mulut ember pun datang dan menghentikan aksi dorong mendorong kedua sahabatnya itu.
"Woy... kalian kaya anak kecil aja main dorong-dorongan nggak cool banget jadi laki."
"Gue nggak cool, tapi gue gemesin." Wajah Aldy sengaja di buat se-cute mungkin, hingga membuat orang yang berlalu lalang merinding seketika.
"Anjir... jangan pasang muka lo yang menjijikan itu nyet, gue pengan muntah ngeliatnya," kata Dilan dengan tangan mengusap muka Aldy dengan kasarnya.
"Pusing gue ngeliat kelakuan kalian yang kaya bocah kaya gini."
"Biar pun kelakuan kita kaya bocah, kalau nggak ada kita nggak bakalan rame."
"Kalau pengen rame tinggal bakal kampus aja pasti rame-nya," celoteh Brayu ngasal.
"Iya... belom sempet lo bakar kampus udah di penjara lo!"
"Belom dapetin cintanya Bella udah di penjara, kan nggak enak banget di dingernya," ledek Aldy sesaat sebelum akhirnya ia menganti topik yang sejak tadi ingin ia bahas bersama kedua sahabatnya itu. "Eh...kalian berdua pasti belom tau hal yang bakalan bikin kampus kita heboh." Aldy sengaja membuat kedua sahabatnya itu agar penasaran dengan ucapannya itu.
"Hal menghebohkan apaan sih? Paling juga tingkah konyol lo yang bakalan trending topik, kaya yang udah-udah," kata Dilan dengan santai.
"Yakin, kalian nggak penasaran sama apa yang bakalan gue omongin." pancing Aldy.
__ADS_1
"Kalau penting kita bakalan dengerin."
"Tentang sahabat lo yang satu itu. Yakin masih nggak penasaran?" tanya Aldy dengan alis naik turun.
"Ya udah buruan kasih tau! Kalau emang lo niat kasih tau. Jangan sampai bikin kita mati penasaran," ucap Brayu dan Dilan kompak.
"Serius kalian nggak tau?"
"Udah buruan ngomong kampret!" Nampaknya Dilan mulai tak sabaran.
"Fella sama Arska mau nikah dalam waktu dekat ini." Suara Aldy sengaja di perkecil agar tak terdengar oleh mahasiswa lain yang sejak tadi berlalu lalang melewati mereka bertiga.
"Hah.... seriusan!" teriak kedua remaja itu hampir bersamaan.
"Mulut lo berdua bisa pelan sedikit nggak ngomongnya? Kalau nggak bisa diem! Apa perlu gue lakban satu-satu tuh mulut." Tatapan mata Aldy begitu sinis.
"Anjir... itu anak kenapa nggak kasih tau ke kita rencananya mau nikah muda," kata Dilan dengan tangan mengusap-usap dagunya.
"Gue juga taunya dari Faya, kalau dia nggak cerita mana gue tau."
"Tapi Fella nggak hamdul kan?"
"Hamdul? Bahasa planet mana lo dapetin itu kata-kata?" Brayu dan Aldy mengernyitkan kening mereka muka mereka sudah seperti baju yang terlipat selam berminggu-minggu.
"Hamil duluan maksud gue," bisik-nya.
"Mana ada hal semacam itu, mereka pengen segera halal. Kayaknya bentar lagi gue mau nyusul," Aldy mengosok-gosok kedua tangannya tampangnya sudah sangat menggelikan.
"Lo juga mau nikah muda?" tanya Brayu.
"Hehehe.... paling, dua tahun lagi gue sanggupnya." Lelaki itu nyengir kuda.
"Yaya.... pada akhirnya kalian semua bakalan ninggalin gue! Cuma gue yang tersisa karena belum bisa luluhin hatinya Bella."
"Tenang aja, kita nggak bakalan ninggalin lo, sebelum lo berhasil dapetin Bella," kata Dilan menepuk-nepuk pundak Brayu pelan.
"Tapi jangan kelamaan ya Bray, gue juga nggak mau lama-lama," sahut Aldy.
Hanya lirikan yang meluncur ke arah Aldy, kedua pemuda itu nampak ingin menghajar Aldy saat ini juga.
__ADS_1