
Di depan tenda, Faya terus menatap ke arah Arska sambil memanyunkan bibirnya. Tampang melas ia tunjukan karena dirinya benar-benar malas mengikuti kegiatan camping, sudah beberapa hari ini ia tak bertemu dengan Aldy bahkan rencananya untuk kencan pun gagal total gara-gara acara yang di selenggarakan oleh pihak sekolah, jadi moodnya semakin kacau.
"Elo ngapain ngeliatin gue kaya gitu fay?" tanya Arska sambil melempar snack yang ia pegang sejak tadi.
"Fella enak... kemana aja dia pergi selalu ada elo yang siap jagain. Sedangkan gue beberapa hari nggak ketemu sama kak Aldy, nggak ada kabar pula, ngeselin-kan! apa mungkin kak Aldy mulai bosen kali sama gue," balasnya dengan kepala sedikit menyandar ke bahu Bella.
"Ya elah fay, gitu aja murung lo! coba pikir positif aja. Lagian kalian kan baru pacaran berapa bulan kan, gue yakin kok Aldy nggak kaya gitu orangnya," jelas Arska sedikit menasehati. Arska punya rencana sendiri untuk tak memberi tahu Faya tentang Aldy yang akan menyusul.
Dengan ekspresi yang sama, Faya justru sibuk memainkan ranting yang ada di hadapannya tanpa membalas ucapan Arska.
Tak berselang lama Aldy dan Brayu sudah berada di belakang Bella dan Faya, ia sempat mendengar curhatan kekasihnya itu, pasti saat ini Faya sudah galau karena dirinya. "Siapa yang bosen, aku nggak ngasih kabar karena emang nggak ada sinyal," kata Aldy yang langsung duduk di sebelah Faya.
Faya mengangkat kepalanya, melirik kesamping dan memastikan kalau itu suara pacarnya, jari telunjuknya mengarah ke Aldy tak percaya jika kekasihnya rela menyusulnya ketempat camping. "Kakak beneran kesini? aku pikir cuma suaranya aja yang sama," ucapnya sedikit terkejut melihat kedatangan Aldy yang begitu tiba-tiba dan tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Kamu terlalu mikir kejauhan buat aku nggak peduli sama kamu, aku bela-belain kesini karena aku khawatir sama kamu," jelas Aldy yang langsung menarik bahu Faya agar bersandar ke pundaknya.
Wajah Faya berubah deras-tis, sikap manjanya kini terlihat sangat jelas. Fella dan Arska saling lirik mendapati kalau Faya sudah kembali aktif, aktif cerewet maksudnya.
"Ck.... dasar bucin," kata Bella tersenyum sinis.
"Elo nggak perlu sedih bel, gue disini siap nemenin dan jagain elo. Jadi nggak usah minder sama Faya," kata Brayu seraya menyenggol lengan Bella pelan, ia tak melepas pandangannya dari Bella sejak ia datang tadi.
"Ck.. gue bisa jaga diri gue! elo nggak perlu repot-repot!" serunya sedikit menoleh tatapnya begitu sinis.
"Yakin elo bisa jaga diri? meskipun di rambut elo ada ini," ucap Brayu seraya mengerik beberapa helai rambut Bella.
"Itu apa?" tanyanya dengan mata menyipit, belom mengetahui benda apa yang menyangkut di rambutnya yang terurai saat ini.
"Ini ulet bulu," jelas Brayu.
Mendengar hal tersebut mata Bella membulat dengan sempurna. "Aaaggrrhhh... tolong singkirin ulat itu dari rambut gue!" seru Bella sedikit memerintah. "Brayu...... elo denger gue ngomong nggak sih!" panggil Bella seraya mengguncang-guncangkan lengan Brayu, matanya tertutup sempurna.
Brayu menghembuskan nafasnya pelan, ia mulai menyingkirkan ulat bulu itu dari rambut Bella dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Jagoan kok takut sama ulat bulu," sindir Arska.
"Diem... lo ka, awas aja elo entar," terik Bella masih dengan mata tertutup.
"Udah gue buang! buka mata elo sekarang," kata Brayu yang tak tahan karena cengkraman Bella yang cukup kuat di lengannya.
Bella membuka matanya perlahan. Ia menatap ke arah Brayu yang wajahnya sangat dekat dengan dirinya.
"Sorry....." katanya memalingkan wajahnya.
Brayu tersenyum sinis melihat tingkah Bella yang salah tingkah.
Empat penonton yang siap mem-bully kini saling senggol. "Cie.... jangan jaim-jaim lah..bel, jangan lama-lama nge-jomblonya," kata Aldy mulai menggoda.
"Iya nih... buruan jadian," timbrung Faya.
"Biar bisa kaya kita ini bel," sahut Fella yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Arska.
Arska tak ikut berkomentar, ia sibuk mengelus-esuk pucuk kepala Fella sesekali ia menciumnya.
"Aldy tuh suruh peka. Biar elo nggak iri muluk sama keharmonisan orang lain," ucap Arska mulai membuka suaranya.
"Dia mana peka ka. Kalau gue nggak ngomel duluan dia juga nggak bakal paham," jelas Faya melirik ke samping sekilas suaranya sengaja diperkeras.
Di sana Aldy terus menatap pacarnya, ia sengaja tak membuka suara, karena ingin mendengar apa yang di ucapkan Faya tentang dirinya.
"Siapa yang nggak peka? kalau nggak peka? mana mungkin aku nyusul kamu ke sini!" jelasnya dengan mata masih menatap Faya.
Faya menggigit bibir bawahnya tak berani menatap Aldy. "Nggak berani liat kesini kan?" tanya Aldy masih dengan tatapan yang sama.
"Tatap Aldy balik dong fay. Jawab juga pertanyaan Aldy biar dia sedikit lega, kasihan tuh Aldy udah jauh-jauh samperin kamu juga," ucap Bella seraya menggaruk kakinya yang terasa gatal.
"Faya kalau salah, mana berani tatap balik," sahut Fella.
__ADS_1
Faya makin mengerucut mendengar komentar dari kedua sahabatnya itu.
"Hahaha... liat dah mukanya Faya udah jelak gitu," ledek Brayu yang kini ikut berkomentar.
"Udah mirip kaya apa bray?" tanya Arska menyenggol lengan Brayu.
"Mirip bebek ka," balas Brayu nyengir kuda.
Tawa mereka memecah saat kedua manusia itu sibuk mem-bully Faya. Tak berselang lama Hendry selaku penyelengara acara camping menghampiri mereka.
"Arska, Brayu dan Aldy," ucap Handry, membuat tawa mereka terhenti. Mereka kompak menoleh ke sumber suara.
"Iya pa." kata Arska.
"Ini camping buat anak SMA kenapa kalian ikut kesini?" tanya Hendry masih dengan wajah tegasnya.
"Arska cuma nurutin permintaan Papa buat jagain Aya, nggak ada yang salah kan!" seru Arska dengan wajah tenangnya.
Lain halnya dengan Brayu dan Aldy. Mereka bingung akan menjawab apa? karena mereka bukan juga tamu yang di undang dalam kegiatan camping ini.
"Karena kalian tanpa di undang kesini-nya, saya minta kalian untuk jadi pembimbing buat seluruh murid-murid yang ada di sini!" seru Hendry.
"Tapi om..." ucap Brayu dan Aldy kompak, mulut mereka sedikit terbuka karena syok. Mau jadi apa kalau pembimbingnya pada soak gini, yang ada peserta camping bakalan oleng karena mendapat didikan tak benar dari tiga cowok somplak ini.
"Nggak ada tapi-tapian! keputusan saya sudah bulat. Karena kami juga kekurangan anggota pembimbing jadi kalian wajib ikut," jelas Hendry.
"Arska jadi kakak pembimbingnya Aya aja ya pa," tawar Arska.
Hendry menggeleng, tanda tak setuju dengan ucapan sang anak. "Itu nggak adil ka. Yang lain pasti iri kalau kamu fokusnya cuma ke Fella."
"Ck Arska ini anak Papa loh..." protesnya.
"Justru karena kamu anak Papa, kamu harus bersikap adil." ucap Hendry dengan tegas.
__ADS_1
Brayu dan Aldy tak kuasa menahan tawanya, kali ini justru orang tuanya sendiri yang mengatur keinginan Arska untuk tidak berada di samping Fella.