
Entah kenapa Fella dan Bella kompak tidak masuk kuliah hari ini, Faya merasa bosan dan kesepian saat tidak ada kedua sahabatnya itu.
"Astaga.... mereka ngerjain gue apa gimana sih... sakit aja sampai kompak kaya gini," gerutu Faya dengan dirinya sendiri.
Gadis itu mengedumel tak habis-habisnya, ia mengikuti mata kuliah dengan malasnya. Sesekali mengecek ponselnya, siapa tau ada kabar dari kedua sahabatnya itu. Namun hasilnya tetap saja nihil. Sampai mata kuliah berakhir pun Faya tetap tak tenang, wajahnya terlihat gusar, melirik jam tangannya sesaat dengan kepala yang masih menempel di meja. Ia memutuskan untuk pergi menemui Arska untuk menanyakan keadaan sahabatnya itu.
Mondar- mandir di depan kelas Arska dengan mengigit ibu jarinya, merasa tak tenang karena tak kunjung ada kabar. Saat Arska selesai dengan kelasnya, Faya buru-buru menghampiri Arska.
"Fella kenapa nggak masuk kuliah ka?" tanya Faya saat sudah berada di depan Arska.
"Aya nggak masuk kuliah?" tanya Arska balik, cowok itu menghentikan aktifitas merapikan bukunya sesaat.
"Ih...... kenapa jadi tunangan nggak perhatian banget sih, dia nggak masuk aja sampai lo nggak tau. Malah tanya balik ke gue," ucap Faya mulai senewen.
"Gue beneran nggak tau Fay, beberapa hari ini gue sibuk sama mata kuliah yang terus-terusan numpuk."
"Ck.... ternyata gue salah nanya ke orang! Nyesel gue."
"Jangan gitu lah Fay, sorry."
"Punya dua sahabat aja kompakan pada nggak masuk. Kesel gue lama-lama." Faya bersedekap dada.
"Bella juga nggak masuk?"
"Iya... kenapa? Harusnya lo nggak usah kaget kaya gitu." lirikan mata Faya terlihat sinis.
"Kok bisa kebetulan? Brayu juga nggak masuk hari ini." Arska mengerutkan keningnya.
"Seriusan?"
"Hem..."
"Jangan-jangan gara-gara kemarin." ekspresi wajah Faya seketika berubah.
__ADS_1
"Kemarin? Emangnya lo liat Bella sama Brayu?"
"Iya mereka makan bareng."
"Terus apa hubungannya sama mereka yang masuk." Arska kembali merapikan bukunya dan memasukkannya kedalam ransel.
Tak berselang lama saat mereka sedang asyik mengobrol, terdengar suara dering telpon dari dalam ransel milik Arska, Arska segera mengangkatnya karena itu dari Angga. Saat sambungan telpon sudah terputus, tanpa pikir panjang Arska pun segera menyambar tas yang ada di mejanya dan pergi begitu saja.
...°•°©inta Untuk Fella°•°...
Sampai di kediaman Angga, Arska langsung masuk kedalam rumah tersebut untuk memastikan keadaan Fella. Mendengar suara Angga saat menelponnya tadi, sepertinya Fella dalam keadaan yang tidak baik, Arska kehilangan separuh konsentrasinya. Apa lagi beberapa hari ini ia terlalu sibuk dengan kuliahnya dan belum sempat memberi kabar kekasihnya itu. Tanpa perlu bertanya, pemuda itu sudah tau letak kamar Fella.
Arska bisa langsung mendengar jeritan Fella karena memang kamarnya tak tertutup.
"Aku nggak mau Bunda. Nggak mau." suara Fella cukup lantang untuk ukuran orang sakit. Arska memang sengaja tak langsung masuk kedalam kamar tersebut dan memilih untuk menunggu sejenak didepan kamar.
"Panas kamu makin tinggi sayang, kamu nggak mau di bawa ke rumah sakit, minum obat juga nggak mau. Terus gimana bisa sembuh?" Suara Merry kini terdengar. Omelan perempuan itu terdengar frustasi sekali karena anak gadisnya.
"Bunda...." suara Fella terdengar seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Arska juga mendengar beberapa orang membujuk Fella untuk meminum obatnya. Benar-benar merepotkan sekali gadis itu, begitu pikiran Arska.
Maka dengan langkah pelan, Arska berjalan untuk melihat keadaan Fella. Di ambang pintu Arska melihat anggota keluarga Fella berkumpul.
Melihat kemunculan Arska, semua orang di sana menutup mulutnya rapat-rapat. Merry hanya memberi isyarat agar Arska segera masuk dan melihat keadaan putrinya.
Tangis Fella masih terdengar meskipun hanya sebuah isakan.
Menghela nafas, Arska duduk di tepi ranjang Fella dan menempelkan telapak tangannya di kening Fella. Bisa di rasakan betapa panasnya tubuh gadis itu sekarang.
Fella bergeming, seandainya hidungnya tidak mampet, dia mungkin sudah tau jika ada Arska di sana karena wangi parfum laki-laki itu.
Dengan pelan, Arska menarik bagian tubuh kanan Fella agar bisa melihat wajah kekasihnya itu dengan jelas. Tapi dengan menyebalkan Fella menutup matanya.
"Aku nggak mau Bunda." suara Fella terdengar hampir habis karena serak.
__ADS_1
"Kamu pikir dengan menangis, kamu akan sembuh sayang?" tanya Arska dengan nada pelan.
Fella langsung membuka matanya saat suara Arska terdengar dan mendapati pria itu sudah berada di depan matanya.
"Bangun!" Arska membangunkan tubuh gadis itu dengan pelan agar bisa duduk. "Kita ke rumah sakit sekarang." tanpa banyak berkata, Arska segera membopong Fella dan mengangguk ke arah Merry untuk meminta persetujuan. Angga mengekor di belakang Arska dan dirinya sendiri yang akan menyetir mobilnya sendiri untuk mengantar anaknya ke rumah sakit.
Merry menyiapkan pakaian anaknya dan segera mengambil dompet untuk menyusul Arska dan suaminya.
Di perjalanan, Fella tak mengatakan sepatah kata apa pun, seperti yang tiba-tiba gagu. Arska juga tak berniat untuk mengajak gadis itu berbicara, selain merasa jengkel karena sikap kekanakan kekasihnya itu Arska juga tak mau terlihat galak di depan kedua calon mertuanya.
Setelah masuk IGD, dan mendapat beberapa pemeriksaan, kini Fella sudah berada di ruang rawat inap VVIP dengan selang infus tertempel di tangan kanannya.
Sedangkan Arska duduk di kursi dekat ranjang pasian yang di tempati oleh Fella.
Arska bisa melihat dengan jelas bagaimana tampilan Fella saat ini. Matanya bengkak luar biasa, wajahnya kuyu dan terlihat sangat berantakan. Kalau saja Fella sedang tidak sakit, sudah Arska keluarkan jurus omelan pahit luar biasanya.
Sayangnya ia harus menundanya terlebih dahulu menuggu Fella benar-benar sembuh.
"Arska." Merry mendekat kearahnya dan menatap laki-laki itu dalam. "Maaf karena Aya sudah merepotkan mu."
Arska menggeleng. "Bukan masalah, Tante. Maafkan Arska yang sudah membuat Aya seperti ini." untungnya, Angga sedang keluar untuk mencari makanan. Seandainya tidak, lelaki itu sudah pasti membalas ucapan Arska dengan sinis.
"Kamu nggak perlu mikirin itu ka, sikap Aya memang kekanakan. Tugas Tante yang akan menggembleng dia, biar Aya jadi lebih dewasa."
Arska tersenyum dan menatap kearah Fella yang sudah tertidur.
"Tante pulang aja, biar Arska yang jagain Aya di sini. Tante kelihatan capek banget."
Bagaimana tidak jika memiliki anak yang kadar kekanakannya melebihi seorang balita.
"Nggak papa, Tante di sini aja. Tante malah akan kepikiran Aya terus kalau Tante pulang. Kita sama-sama jagain dia di sini ya, kalau udah sembuh, kita bisa marahin dia sama-sama."
Arska lagi-lagi tersenyum lebar. Merry ternyata memendam 'dendam' kepada Fella seperti dirinya.
__ADS_1
Sepetinya duet Merry dan Arska akan menjadi duet masa kini. 'Cepatlah sembuh sayang hadiah besar menanti mu,' batin Arska.