Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Trik yang Membuahkan Hasil


__ADS_3

Arska sengaja membuntuti Fella hingga ke sekolahannya. Sikap Fella yang jutek tak menyurutkan semangat Arska untuk terus mengikuti kekasihnya itu, sampai di koridor kelas XII IPA 3 Fella menghentikan langkah Arska, sambil bersedekap dada Fella menolah sesekali ia mengatur nafasnya agar tak gugup. "Bisa nggak sih kalau nggak ngikutin gue, risih tau !!!, emangnya lo nggak capek apa ngikutin gue terus" celoteh Fella dengan juteknya.


Arska menggeleng pelan. "Aku nggak bakalan capek kalau pun aku harus ngikutin kamu seharian ay".


"Emangnya lo nggak ke sekolah apa?, rajin banget ngikutin gue sampai ke lingkungan sekolah !!".


"Aku udah izin buat nggak masuk sekolah hari ini ay".


Fella membuang nafasnya secara kasar sebelum akhirnya membuka suara kembali. "Kurang kerjaan banget" ucapnya singkat sambil membalikan badannya kembali, Fella melangkahkan kakinya lebar-lebar berharap Arska akan mengikutinya lagi, tapi setelah menoleh Arska justru di krubungin oleh kakak kelas yang sok ke centil lan dan sok akrab. Fella dapat menangkap beberapa ucapan yang terlontar dari mulut kakak kelasnya itu. "Hay... ganteng daripada ngejar-ngejar yang nggak pasti, mending sama gue aja" ucap salah seorang perempuan, sebut saja Milla.


"Iya ah.. ganteng gini malah di cuekin sok jual mahal banget sih jadi cewek" cecer teman yang satunya dengan suara yang begitu nyaring di telinga siapa saja yang mendegarnya.


"Udah... di sini aja sama kita".


Fella mengepalkan tangannya ia sudah sangat-sangat kesal mendengar celotehan dari kakak-kakak kelasnya yang terus-terusan dengan centilnya menggoda tunangannya itu. Sedangkan Arska tanpa ada perlawan dan tanggapan ia hanya mematung di tengah-tengah kakak kelas sambil terus menatap lurus ke arahnya. Hati yang di penuhi oleh kecemburuan dengan langkah sedikit berlari Fella langsung menarik tangan Arska dengan kuatnya. Kini Arska berada di belakang Fella dengan tangan yang masih menggenggam erat, Fella memasang ekspresi tak suka terhadap kakak kelasnya itu. "Tadi di cuekin, sekarang di gandeng" celoteh Milla dengan bibir nyinyir nya.


"Namanya juga lagi marahan, wajar aja kan kalau gue cuek sama tunangan gue, kaya kalian nggak pernah ada masalah aja sama pacar kalian" ketus Fella.


Seketika cewek-cewek yang mengerubungi Arska segera berbisik dan mundur beberapa langkah. Arska yang sengaja melakukan aksi tersebut tersenyum sangat puas, akhirnya kekasihnya itu tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Ide membuatnya cemburu pun kini berhasil. "Akhirnya tunangan aku udah ingat sekarang, makasih ya sayang" ucap Arska yang langsung merangkul bahu Fella sambil mengelus pucuk kepala Fella dengan lembutnya.


Sungguh tindakan Arska membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan sangat iri. Mata Fella kini membulat sempurna, ia benar-benar lupa bahwa dirinya sedang berpura-pura amnesia.


"Kenapa bengong sih yang, jangan bilang kalau kamu lupa lagi tentang hubungan kita" ledek Arska sambil memegangi dagu Fella.


Fella menggigit bibir bawahnya, sudah tertangkap basah mau bagaimana lagi ia mengelak.


"Papa pengen ketemu sama kamu, ada hal penting yang mau di bicara in katanya" lanjutnya.


Fella menelan saliva nya, sedangkan para kakak kelas tak mau semakin iri melihat aksi romantis sepasang remaja yang ada di depan mereka saat ini, mereka memutuskan untuk kembali kedalam kelas masing-masing.


"Kamu ngeselin, sengaja buat aku cemburu biar aku narik kamu kan" cecer Fella yang langsung mencubit lengan Arska pelan


"Siapa suruh kamu pura-pura amnesia terus, tau kalau cara ini ampuh, dari kemarin-kemarin aja aku buat kamu cemburu" celoteh Arska dengan senyum menggoda.


"Arska...." Fella merasa sedikit gemas dengan cara yang di lakukan Arska.


"Apa sayang?".


"Tau ah... ngeselin" ucap Fella sambil menghentak-hentakan kakinya sebelum akhirnya meninggalkan Arska, Fella benar-benar malu, kenapa ia sampai terpancing oleh trik yang di lakukan Arska.

__ADS_1


Senyum puas lagi-lagi menghiasi wajah tampan Arska, para kakak kelas yang menyaksikan pemandangan gratis tersebut benar-benar di buat terpesona oleh senyuman Arska. "Sungguh memikat hati gue" celetuk salah seorang cewek dari balik pintu kelas.


Arska mengamati sekelilingnya sesaat, ia benar-benar menjadi pusat perhatian bagi cewek-cewek di kelas IPA XII 3. Tak mau membuat Fella semakin marah Arska segera berlari mengikuti kekasihnya itu. Di gandengannya dengan pelan tangan mungil milik Fella, kali ini Fella tak menolak. Fella justru menyambutnya dengan senang hati.


"Papa pengen ketemu kamu ay" Arska membuka suaranya kembali.


"Aku udah denger sayang, mau di ulang berapa kali lagi sih ngomongnya".


"Hehehe aku kamu nya udah keluar lagi sekarang" ledek Arska.


"Ngeledek kin aja terus".


"Jangan cemberut gitu dong sayang aku makin gemes ngeliatnya" ucap Arska dengan nada bicara di buat- buat.


Kini tangan Fella beralih memeluk lengan Arska dengan eratnya, ia tak mau jika kekasihnya itu di godain lagi oleh cewek-cewek sekolahannya. Arska tak henti-hentinya tersenyum saat melihat tingkah manja kekasihnya itu. Sampai di depan ruangan kepala sekolah ia melihat Bella dan Faya sedang berdiri di depan pintu menuju ruangan kepsek. Bella dan Faya langsung menunjuk ke Arah Fella dan Arska secara bersamaan. "Yang udah baikan cie...." ledek Faya terlebih dahulu membuka suara.


"Nah.... gitu kan enak ngeliatnya daripada sok jaim" lanjut Bella sambil mencebirkan bibirnya.


Fella tersipu malu karena ledekan dari kedua sahabatnya itu, tak mau bosa-basi Fella segera mengalihkan topik pembicaraan. "Kalian ngapain di sini?".


Segera Faya menampilkan wajah jengkelnya. "Gue sebel banget sama kepala sekolah yang baru" suara Faya sengaja di perkecil.


"Gue dapet point jelek gara-gara rok gue yang katanya kependekan lah, poni gue yang nutupin mata lah, pokoknya rese banget deh kepala sekolah yang baru itu, banyak aturannya" celoteh Faya dengan wajah kesalnya.


Arska hanya berdehem sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, sebenernya ia tak terima jika bokap nya di jelek-jelekin oleh Faya, tapi ia tak mungkin memberitahukan hal yang sebenarnya. Fella yang melihat tingkah Arska segera mengelus-elus lengannya agar ia bisa sabar mendengar celotehan Faya.


"Terus Bella juga dapet point?" tanya Fella.


Bella menggeleng pelan. "Ngapain gue dapet point, gue kan nggak ngelakuin kesalahan, gue cuma nemenin Faya doang" jelasnya.


"Berarti cuma elo yang jadi biang rusuhnya dong fay" ledek Fella.


Mata Faya melotot tak terima dengan ucapan Fella barusan. "Yang biang rusuh itu kepala sekolah yang baru. Bukan gue!!" Faya nampak mulai jengkel sambil menunjuk pintu masuk ruang kepala sekolah.


Fella dan Arska melotot ke arah Faya sedikit bengong. "Ngapain kalian ngeliatin gue kaya gitu" protes Faya.


Berapa detik kemudian pintu ruangan kepala sekolah terbuka cukup lebar, Hendry keluar dengan wajah tegasnya. Faya menelan saliva nya. "Bisa gawat kalau tadi pak Hendra denger omongan gue, dasar mulut nggak bisa di rem" batinnya sambil menepuk-nepuk bibirnya pelan.


"Kalian masih di sini?" tanya Hendry kepada Bella dan Faya.

__ADS_1


"Iya pak, ini juga mau balik ke kelas" ucap mereka sungkan.


Hendra hanya mengangguk pelan, kini ia beralih menatap ke arah Arska dan Fella senyumnya sedikit melunak setelah melihat anaknya dan calon mantunya berdiri di depannya. "Fella, Arska udah dari tadi disini?. Buruan masuk ada suatu hal yang pengen Papa omongin sama kalian berdua" ucapnya sambil mempersilahkan Fella dan Arska masuk ke dalam ruangannya.


Bella dan Faya di buat kaget dengan sebutan Papa yang keluar dari mulut Hendry. "Papa?" ucap Bella dan Faya kompak.


Hendry melihat kearah dua siswi yang masih setia berdiri di tempatnya itu. "Iya, ini anak saya Arska dan ini tunangannya".


"Mampus..." kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Faya sambil menepuk jidatnya pelan, ia mengatur kembali pernafasannya.


"Mampus?" Hendry mengulangi kata-kata yang terlontar dari mulut Faya.


"E-eh... bukan gitu pak maaf saya pamit ke kelas dulu, baru ingat belom ngerjain tugas" Faya mencoba me ngeles. "Kenapa lo nggak bilang dari awal sih fel" bisik nya sambil menepuk pundak Fella.


"Kita berdua balik ke kelas dulu ya pak" ucap Bella yang langsung menarik paksa tangan Faya agar tak membuat onar kembali.


"Ya silahkan" ucap Hendry singkat.


Fella dan Arska segera masuk ke dalam ruangan yang sudah di persilahkan oleh penghuni ruangan.


Di sisi lain Faya nampak panik dengan ucapannya tadi, ia merasa bersalah telah menjelek-jelekan pak Hendry di depan anaknya, sambil terus memukul-mukul kepalanya pelan dan menggerutu terus mengulangi kata-kata yang sama. "Faya lo bodoh banget sih".


Bella yang melihat sikap konyol Faya segera menarik tangan yang terus memukuli kepalannya itu. "Cukup fay, gue pusing ngeliat lo terus-terusan ngulang gin kata-kata yang sama".


"Gue harus ngomong apa kalau ketemu sama Arska".


" Ya lo harus minta maaf lah fay".


"Tapi gue malu, entar kalau Arska nggak maafin gue gimana?".


"Nggak ada salahnya nyoba dulu, lagian lo punya mulut ember muluk sih, sekali-kali di rem kenapa sih fay".


"Gue terbawa suasana bel".


"Ya udah... dari pada lo bingung mikirin masalah lo tadi, mending ke kantin aja, kalau kenyang mungkin aja otak lo bisa jalan".


"Bener juga omongan elo bel".


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin, mengisi perut yang masih kosong di jam yang akan memasuki pelajaran setengah jam lagi.

__ADS_1


__ADS_2