
Bella dengan telatennya mengobati luka di pergelangan tangan Fella dan di sisi pipi Fella yang agak memar untungnya tak terlalu parah, lain halnya dengan Arska yang menahan perih di sudut bibir dan pelipisnya ia meringis kesakitan saat Bella mengobatinya secara tidak sabarannya. "Bel, bisa pelan dikit nggak!" protes Arska.
"Gue bukan tunangan elo, jadi di larang protes syukur-syukur gue udah mau ngobatin luka elo!" balas Bella sambil terus mengolesi luka Arska dengan kapas dan obat merah.
"Seenggaknya bisa lebih pelan sedikit, gue ke siksa ini bel."
"Bodo amat yang penting luka elo cepat kering."
"Iya tapi nyiksa gue secara perlahan kalau kaya gini caranya," celoteh Arska dengan suara yang masih menahan pedih.
Bella tak menghiraukan ucapan Arska saat sudah selesai mengobati lukanya. Kini pandangannya beralih menatap ke arah Fella. "Elo juga fel, kalau Om sama Tante panik gimana? ngeliat luka-luka elo yang mulai membiru kaya gitu? bela diri masih abal-abal juga malah di paksain buat berantem," Bella mulai memarahi Fella.
"Ya elah bel, gue juga nggak tega ngeliat Arska sendirian ngelawan preman-preman itu tadi. Apalagi ada cewek gila itu," ucap Fella mencebirkan bibirnya.
"Kenapa nggak ngasih tau gue dari awal coba? jangan bilang kalian abis seneng-senang jadi lupa diri, sampai lupa sama sahabat lo ini !" kata Bella dengan wajah masih kesalnya.
Arska masih celingukan melihat rumah Bella yang begitu besar di sertai dengan pengawal yang hampir setiap ruangan ada penjaganya. Hingga matanya beralih melihat ke sebuah foto besar yang terpajang di ruang keluarga. "Bokap elo ternyata tuan Rahendra pemilik perusahaan Antero group bel?" ucap Arska dengan tangan menepuk pundak Bella pelan, karena saat itu Bella sedang sibuk menceramahi Fella.
"Hem..."
"Gue nanya serius bel !" ucap Arska dengan penuh kepenasaran.
"Iya Daddy gue namanya Rahendara pemilik perusahaan Antero group. Kenapa? elo udah nggak mau lagi temenan sama gue setelah tau identitas gue yang sebenernya !!" seru Bella bersedekap dada.
"Siapa yang nggak mau temenan sama elo bel, orang bego yang nggak mau temenan sama elo."
"Ya... siapa tau kaya teman-teman gue yang udah-udah mereka pada ninggalin gue setelah tau bokap gue Rahendara. Cuma Fella dan Faya yang mau jadi sahabat gue sampai sekarang," jelasnya. "Malam ini kalian tidur di sini aja ya, gue takutnya orang gila itu masih ngincer kalian," pinta Bella.
"Tapi bel.... gue takut Ayah sama Bunda nyariin," ucap Fella dengan wajah lusuhnya.
__ADS_1
"Elo enggak mungkin kan pulang dengan kondisi kaya gini, entar biar gue yang bilang sama tante Merry biar tante nggak khawatir lagi."
"Elo baik banget sih bel, mau nampung gue sama Aya disini," timbrung Arska.
"Bego.... gue ini siapa kalian, kenapa perlu sungkan!" nada bicara Bella sedikit meninggi menangapi celotehan Arska.
Tak lama kemudian Rahendra dan Ranita turun menemui anaknya yang sibuk teriak-teriak hingga sedikit menggangu pekerjaan Rahendra. "Kamu kenapa sayang? dari tadi teriak-teriak suara kamu kedengaran sampai kamar Daddy," jelas Rahendra yang kini ikut duduk bersama dengan ketiga pemuda tersebut.
"Iya sayang... Daddy kamu nggak bisa konsen denger suara kamu yang ribut-ribut tadi," tambah Ranita.
Mata Bella mengarah ke sumber suara. "Daddy sama Mommy lihat enggak sih wajah mereka babak belur kaya gini gimana Bella nggak ngomel-ngomel," balas Bella seraya membolak-balik wajah Fella tanpa dosa.
Arska masih mematung tak mempercayai jika di depannya kini adalah seorang Rahendra pebisnis terkenal serta bos mafia yang terkenal sangat di takuti oleh semua orang.
"Ya ampun Fella bisa sampai separah ini?" tanya Ranita seraya menghampiri tempat duduk Fella.
"Iya tante.... tiba-tiba ada preman yang nyerang kita tan, Fella ikutan ngelawan alhasil kaya gini jadinya tan," jelas Fella saat Ranita mulai memegang pergelangan tangan dan menyentuh pipinya.
"Teman kamu ngeliatin Daddy terus, makannya Daddy liatin dia balik."
Bella memutar bola matanya, yang benar saja Arska benar-benar menatap Daddy-nya tanpa sedikit pun berkedip. "Arska... elo ngapain bengong ngeliatin bokap gue," cicit Bella yang kini memukul lengan Arska cukup keras.
"Aw..... bel, luka gue belom sembuh jangan di tambahin lagi," keluh Arska.
"Elo ngeliatin Daddy gue udah kaya ngeliat hantu."
Arska mengedip-ngedipkan matanya. "Maaf Om... saya tidak bermaksud lancang, saya temannya Bella sekaligus tunangannya Aya Om nama saya Arska," ucap Arska dengan gugup sambil menunjuk ke arah Fella, ia memberanikan hatinya untuk memperkenalkan diri.
Rahendra tak memperlihatkan sisi tegasnya ia tersenyum melihat cowok yang berhadapan di depannya dengan gugupnya memperkenalkan dirinya. "Jangan terlalu gugup, saya bukan orang jahat yang akan mengadili kamu."
__ADS_1
Seisi ruangan kini menatap ke arah Rahendra, Ranita di buat geleng-geleng kepala dengan ucapan sang suami. "Daddy kamu ini bel, selalu buat teman-teman kamu kabur karena pertanyaannya yang begitu konyol !" cibir Ranita dengan pandangan tak lepas dari sang suami.
"Tau ini Daddy mau bikin temen aku kabur lagi," wajah masamnya kini di tunjukan di depan Rahendra.
"Ya ampun sayang, kamu selalu berpikir negatif tentang Daddy kamu ini," Rahendra tak mampun lagi menahan tawanya.
Arska begitu terpukau saat mengetahui sisi asli dari seorang Rahendra yang lebih terkenal kejam di banding sikapnya yang hangat. Ranita yang belum sempat memperkenalkan diri kepada Arska segera membuka suaranya. "Salam kenal ya Arska, nama tante Ranita."
Arska manggut-manggut. "Iya Tante salam kenal juga, saya sering liat Tante muncul di majalah bisnis bersama Om Rahendra," jelasnya.
Ranita tersenyum kembali. "Kamu beneran udah tunangan sama Fella?"
"Iya tante... saya tunangannya Fella."
"Ish...ish... Fella sudah punya tunangan terus anak Mommy belum juga punya pacar," ucap Ranita yang kini tengah menatap ke arah Bella.
"Ngapain Mommy ngeliatin aku kaya gitu!"
"Nggak pa-pa cuma salut aja sama Fella yang udah berhasil move on," sindir Ranita.
"Mommy jangan rese deh.."
"Mungkin pada takut kali mom sama sikap Bella yang kasar kaya gini, jadinya nggak ada yang mau jadi pacarnya," timbreng Rahendra yang ikut membully sang anak.
"Bukannya nggak ada Om.. Bella aja yang nggak mau buka hatinya," balas Fella.
"Temen saya ada yang suka sama Bella tapi di tolak terus Om," lanjut Arska.
"Kalian jangan ikut-ikut ngebully gue," protes Bella.
__ADS_1
Seisi ruangan kini tertawa melihat perubahan wajah Bella yang tertekuk dan tak bisa berkutik saat teman-temannya dan orang tuanya dengan bahagia membullynya.