Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Menginginkan Cucu 2


__ADS_3

Malam Hari, selesai shalat isya. Mereka semua makan bersama di meja makan. Tak ada yang membuka suara terlebih dahulu, baik Bella atau pun Brayu, mereka lebih memilih untuk menikmati hidangan yang ada di hadapan mereka. Hingga, Ranita mulai membuka keheningan yang terasa sejak beberapa menit yang lalu.


"Jadi, kalian besok akan berangkat jam berapa?" tanya Ranita.


"Mungkin agak pagi-an, Mom. Biar bisa langsung jalan-jalan," sahut Bella.


"Oh, berarti kamu udah packing dong, Bel?" tanya Ranita lagi.


"Udah, Mom. Semuanya udah siap. Tinggal jalan aja," balasnya lagi.


"Bagus lah kalau gitu, semoga liburan kalian menyenangkan dan lancar. Syukur-syukur pulang dari jogja Mommy sama Daddy udah di buatin calon cucu." ujar Ranita dengan tersenyum.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Sontak saja, Bella yang baru mengunyah makannya pun langsung tersedak. Ekor matanya langsung menatap lurus ke arah Ranita. "Mommy, ngomong apaan, sih!" keluh Bella.


"Ngomong apaan gimana, kalian kan udah nikah. Jadi wajar dong, Mommy sama Daddy minta cucu." sahut Ranita. Ia paham, apa yang di permasalahkan Bella.


"Ya, wajar lah Mom. Aku kan masih kuliah, kalau udah punya anak, gimana sama kuliah aku nanti," jawab Bella, kesal.


"Bel, sekarang tuh banyak kok. Mahasiswi yang kuliah sambil hamil. Dan, mereka nggak masalah, tuh. Lagian, kamu hamil juga sama suami kamu. Jadi untuk apa di permasalahkan?" tanya Ranita.


"Bukan begitu, Mom. Pasti kan capek banget. Gimana aku bisa mikir?" keluh Bella sekali lagi.


"Nanti kan ada baby sister. Terus urusan rumah, juga ada yang bantu. Jadi kamu tetep masih bisa fokus sama kuliah kamu." Jawab Ranita, santai.


Bella pun tercekat, sudah tidak bisa mengelak lagi. Bella lupa, bahwa keluarganya adalah keluarga kaya raya. Sehingga tidak ada hal yang perlu di buat rumit.


Brayu hanya bisa terdiam, dan mendengarkan jawaban yang Bella berikan. Sebab ia bingung harus berbicara apa. Namun, yang pasti Brayu sudah siap, jika memang harus memberikan cucu kepada orang tua Bella. Ia selalu ingin tersenyum karena membayangkan sebentar lagi dirinya akan membuat cucu untuk Rahendra dan Ranita.


"Makan yang banyak, Bray! Biar fit," ucap Rahendra, sambil memasukan sendok yang berisikan makanan kedalam mulutnya.


"Euh, iya Dad," sahut Brayu. Ia malu karena saat Rahendra berbicara, dirinya hanya senyam-senyum sendirian.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah selesai makan malam. Awalnya Bella dan Brayu hendak duduk di ruang tengah. Namun, Rahendra menyuruh mereka untuk masuk kedalam kamar.


"Lebih baik kalian istirahat! Ini kan sudah malam. Apalagi besok kalian akan pergi hanimun, kan?" tanya Rahendra.


Bella maupun Brayu sama-sama menelan saliva-nya. 'Astaga, Daddy beneran nyuruh aku cepat-cepat bikin anak,' batinnya. Kening gadis itu terlihat mengeriput.


'Masuk kedalam kamar berarti, buat...' pikir Brayu sejenak, lelaki itu memukul pelan kepalanya.


Dengan berat hati, Bella pun mengiyakan ucapan Rahendra, begitu pula Brayu yang memang menginginkannya. "Iya, Dad." jawab mereka kompak, sebelum akhirnya naik kelantai dua. Dimana di lantai tersebut hanya akan ada mereka berdua, karena kamar Rahendra dan Ranita serata penghuni rumah lainnya seperti ART dan sopir, ada di lantai dasar.


Bella berjalan di depan Brayu. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut bibir mereka. Saat sudah tiba di depan kamar, Bella menarik handle pintu dengan tangan gemetar sekaligus keringat dingin.


"Gue, mau sikat gigi dulu," ucap Bella. Kemudian ia masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Brayu sendirian di dalam kamar.


Melihat Bella pergi ke kamar mandi, Brayu langsung mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


Klek! Klek!


'Huh! Akhirnya,' batin Brayu setelah mengunci pintu.


Setelah itu, ia bingung harus melakukan apa. Hingga matanya pun beralih mengamati sebuah lampu yang di kiranya terlalu terang. "Kayaknya, kamarnya keterangan, deh," gumam Brayu pelan.


Brayu yang masih berdiri di depan pintu pun, akhirnya menekan tombol saklar, hingga lampu utama kamar mereka pun padam dan menyisakan cahaya remang-remang.


"Oke, ini baru mantap. Gue kan di minta bikinin cucu sama mertua, kalau nggak nurut kan namanya durhaka. Jadi nggak perlu nurutin kata-kata Bella lagi, dong!" ucap Brayu.


Setelah itu, Brayu duduk di sofa sebelah jendela, untuk menunggu istrinya itu keluar dari kamar mandi. Lelaki itu mengambil ponselnya dan berpura-pura bermain game.


Ceklek!


Brayu menoleh, saat pintu kamar mandi terbuka.


"Udah?" tanyanya.


"Udah, elo mau sikat gigi juga, kan?" Bella balik bertanya.


"Iya," jawab Brayu singkat.


"Ya udah, tuh!" sahut Bella, yang langsung meninggalkan depan pintu kamar mandi, dan langsung berjalan ke arah ranjang.


Sementara itu, Brayu tak menunggu nanti-nanti, lelaki itu bergegas masuk kedalam kamar mandi.


'Ini, perasaan tadi terang. Kenapa jadi gelap, ya?' Apa iya, Brayu yang matiin? Jangan-jangan di emang mau nurutin permintaan Mommy sama Daddy buat....?" batin Bella, gadis itu menelan saliva-nya berkali-kali. Ia merinding, membayangkan apa yang baru saja ia pikirkan tadi.


Bella pun bergegas naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana. Tak lupa, ia memakai selimut untuk menutupi tubuhnya dan hanya menyisakan kepalanya saja.


'Ayo dong langsung tidur. Jangan kabulin permintaan Mommy sama Daddy,' batin Bella. Gadis itu berharap, jika ia akan tertidur lelap karena ia takut mengahadapi malam pertama yang memang sempat tertunda beberapa hari terakhir ini.


Ceklek!


Manik mata Bella membulat dengan sempurna, saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.


"Lo, udah mau tidur, Bel?" tanya Brayu bosa-basi.


'Duh, pertanyaan macam apa, itu? Entar di kira gue ngebet banget, lagi. Meskipun beberapa hari ya lalu emang gitu.' batin Brayu.


"Iya, mau istirahat. Udah malam. Besok takut ketinggalan pesawat," sahut Bella. Kemudian ia berbalik badan dan memunggungi Brayu. Sebab, ia khawatir jika Brayu akan melihat wajahnya yang sudah memerah dan malu itu nanti.


"G-gue, boleh tidur di ranjang, kan?" tanya Brayu, saat sudah berdiri di samping tempat tidur Bella, lelaki itu mengatakan hal tersebut karena memang beberapa hari ini, ia selalu tidur di sofa.


"B-boleh, silahkan saja," balasnya gugup.


Tanpa bertanya lagi, Brayu langsung naik ke atas ranjang dan masuk kedalam selimut yang sama dengan Bella. Lelaki itu memunggungi Bella. Ia masih bingung akan melakukannya atau tidak, karena Bella begitu kaku, bahkan lelaki itu tak berani menghadap ke arah Bella, ia takut jika tak mampu menahan hasrat yang beberapa hari ini di pendam-nya. Namun, sudah beberapa menit mereka memejamkan mata, mereka masih belum bisa terlelap. Bahkan, mereka merasa gerah dan kepanasan.


'Ini, AC-nya nyala nggak, sih? Gerah banget,' batin Brayu. Kemudian ia melirik ke arah AC dan ternyata nyala dan di posisi paling dingin.

__ADS_1


Lain halnya dengan Bella yang merasakan hal yang sama dengan Brayu. Berada di satu ranjang dengan Brayu, membuatnya kegerahan.


'Kenapa, AC-nya jadi panas gini, ya? Bisanya dingin, deh,' batin Bella. Sambil mengipas-ngipas wajahnya.


Akhirnya Brayu memutuskan untuk turun dari atas ranjang dan berjalan kearah sofa.


"Lo tidur duluan aja, Bel. Gue belum ngantuk. Mau main game dulu," ucap Brayu. Lalu ia duduk dan mengambil ponselnya.


"Iya," jawabnya singkat. Tangan kirinya mulai menarik selimut karena merasa gerah.


Saat sedang memainkan ponselnya, sesekali Brayu melirik ke arah Bella. Jantungnya berdebar dengan sangat cepat, melihat istrinya berbaring di atas ranjang, membuat gairah lelaki itu semakin menggelora.


'Gue kan udah halal dan berhak ngelakuin itu. Tapi, kenapa sekarang gue kaya orang bego? Udah jelas tadi Daddy nyuruh gue inisiatif! Lagian, kayaknya Bella juga nggak nolak, dia nggak bentak-bentak gue dari tadi. Kalau gue grogi kaya gini, gimana mau bikin cucu?' batin Brayu kesal pada dirinya sendiri.


Sementara itu, Bella yang merasa kegerahan pun turun dari ranjang, untuk mengambil air minum. Ia harus melintasi Brayu yang sedang duduk, karena memang dispenser-nya ada di dekat lelaki itu.


Saat sedang mengambil air minum, sesekali Bella melirik ke arah Brayu. 'Beneran main game?' batinya. Gadis itu berpikir jika Brayu tadi berbohong.


'Berarti, malam ini emang harus istirahat,' gumam Bella dalam hati. Akhirnya, dia pun tidak berharap dan berniat untuk beristirahat.


Tek!


Brayu mendengar suara Bella menaruh gelas. Kemudian matanya langsung melirik langkah Bella tanpa menoleh. Manik matanya masih terfokus kepada langkah kaki istrinya itu. Sudah seperti kucing yang sedang mengincar mangsanya saja. Perlahan, Brayu menaruh ponselnya, dan tiba-tiba ia menarik pergelangan tangan Bella saat gadis itu melintas di depannya, hingga gadis itu pun terjatuh keatas pangkuan-nya.


"Aww!" pekik Bella, terkejut.


Deg!


Debaran jantung mereka bersahutan, saat wajah mereka berjarak hanya beberapa centi saja. Hembusan napas terasa sangat panas, karena mereka berhadapan.


"Lo, nggak bisa tidur juga?" tanya Brayu sambil menahan napas.


Bella hanya menjawab dengan anggukan saja. Saat ini, ia sedang tidak fokus karena merasa ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana.


Brayu berdehem, karena tenggorokannya tergencet. "Orang tua lo! Udah pengen punya cucu," ucap Brayu.


Bella menelan saliva-nya saat mendengar Brayu mengatakan hal tersebut.


"Lo udah siap belom, buat ngasih cucu ke mereka?" tanya Brayu lagi.


Saat ini, telinga Brayu sudah merah padam. Tubuhnya semakin panas dan seperti ada sengatan yang menjalar keseluruh tubuhnya. Mereka terdiam untuk beberapa saat, Brayu menunggu jawaban Bella untuk melancarkan aksinya.


"Kalau elo belom siap, gue nggak akan maksa kok, kemarin itu gue juga cuma godain elo." elaknya agar tak terlihat memaksa.


Bella masih terdiam, sebenarnya ia juga tak tega melihat suaminya menahan hasrat yang sudah terpendam beberapa hari terakhir ini. Sebab, ia tau jika Brayu menginginkan hal itu. Saat ini pun, ia merasakan hal yang sama dengan Brayu. Sehingga ia, tak memiliki alasan untuk menolak lelaki itu lagi.


"G-gue, siap, kok," jawab Bella, gugup. Wajahnya sudah merah padam karena tak bisa menahan rasa malunya.


Ucapan Bella, berhasil membuat aliran darah Brayu mengalir begitu deras. Mendapat izin dari Bella, membaut tubuhnya semakin bersemangat. Akhirnya, Brayu pun tak menunggu lagi dan langsung melengkapi malam pertama mereka yang sempat tertunda sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2