
Sudah tiga hari terakhir ini, Faya dan Aldy putus. Aldy mencoba menelpon mantan kekasihnya itu beberapa kali, namun Faya tak juga mengangkatnya, bahkan di kampus pun Faya tak terlihat batang hidungnya. Membuat Aldy semakin dilema.
"Muka lo kenapa sih? Kusut amat?" tanya Arska setelah ia menyelesaikan permainan game onlinenya.
"Tau ni! Nggak seru banget!" seru Regina sambil memakan kuaci yang di belikan Dilan tadi.
"Lo ada masalah apa? Cerita ke kita, siapa tau kita bisa bantu," timbrung Dilan.
"Sebisa mungkin kita bakalan kasih solusi ke elo." Regina membuka suaranya kembali.
"Dengerin tuh... kata cewek gue. Kita bakalan kasih solusi ke elo nyet, jadi lo nggak perlu sungkan," kata Dilan yang kini menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan Regina.
"Gue putus sama Faya," ucap Aldy dengan raut wajah yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Kok bisa? Bukannya kalian selama ini baik-baik aja!" seru mereka bertiga kompak.
"Pasti elo kan yang nyari gara-gara?" tanya Regina dengan dagu menunjuk kearah Aldy, tatapannya begitu ingin memojokan.
"Iya gue ngaku salah, selam ini gue selalu bohong sama Faya. Setiap kali Zea telfon dan dia pengen curhat masalah kehidupannya. Gue selalu samperin dia dengan alasan ke Faya kalau ada hal yang mendesak yang perlu gue urus."
"Kaya waktu itu? Lo pamit ke kita dengan alasan mendesak, karena urusan pribadi?" tanya Dilan.
"Iya. Habis itu gue putus sama Faya, dia putusin gue gara-gara hal itu, dia diam-diam buntutin gue."
"Elo juga sih! Ngawur banget, udah tau kalau hati cewek itu rapuh, baperan, paling nggak suka di singgung. Masih aja berani ngebohongin." Suara Ragina tiba-tiba meninggi.
Sementara Dilan menelan saliva-nya merasa jika ucapan Regina juga berlaku untuknya. 'Sindiran banget ni cewek gue,' batin Dilan.
"Tuh kan. Bukannya ngasih solusi malah gue yang kena semprotan elu Gin. Nyesel gue udah cerita." wajah Aldy semakin kusut.
"Ya sorry, kebawa suasana gue, gue cuma pengen lo jangan ngulangin kesalahan yang sama," ucapnya sambil melirik ke arah Dilan.
"Lo udah coba jelasin ke Faya?" tanya Arska. Dari segi mana pun, Arska terlihat lebih dewasa jika berpikir, ia tak mungkin gerusa-gerusu dalam bertindak.
Menggeleng pelan. "Gue telpon Faya berkali-kali tapi nggak di angkat, gue kerumahnya juga percuma. Dia nggak mau buka pintu kamarnya." Jelas Aldy mulai frustasi.
"Dia lagi semedi Dy," sahut Regina.
"Macem mana semedi di kamar Gin?" tanya Aldy mengernyitkan keningnya.
"Iya, gue baru dengar, kayaknya Aya nggak penah kaya gitu?" sahut Arska.
Dilan tak membuka suara, lelaki itu sudah paham maksud dari kekasihnya. Sebab jika Regina ngambek, gadis itu pasti akan melakukan hal serupa dan Dilan pastinya akan kelabakan dengan sikap ceweknya itu.
"Dia kan cewek, gue juga cewek. Kalau dia ngerasa kecewa, patah hati, lagi nggak pengen di ganggu. Biasanya dia bakalan ngurung diri di kamar sampai berhari-hari bahkan sampai lupa makan."
"Ow.... semedi yang kaya gitu, gue pikir semedi yang kaya gimana, bikin penasaran aja," ucap Arska dan Aldy kompak.
"Ya, itu karena gue pengen kasih tau kalian aja, berbagi pengalaman kan nggak masalah."
__ADS_1
Dilan menggaruk kepalanya lagi, dia sudah kena sindiran dua kali dari Regina.
"Sindiran lo emang mantap Gin, Dilan aja sampai gelagepan kaya gitu, sampai nggak berani ngomong," kata Arska memancing perkara.
"Sialan lo Ka! Bangunin macan di jam segini!"
"Macan? Hahaha.... Gina. Lo di samain kaya macan sama si Dilan." Tunjuk Arska tanpa dosa, tawa lelaki itu tak bisa di rem.
"Macan betina," celoteh Aldy.
Regina melirik kesamping kanannya. "Itu panggilan beneran buat aku yang?"
"Y-ya... bukan lah yang, mana tega aku ngatain kamu kaya gitu."
"Awas ..... aja ya, kalau sebutan itu emang di tunjukkin ke aku." Mata Regina semakin melotot, ingin rasanya ia menerkam Dilan saat ini juga.
"Rese lo Ka! Seneng banget, ngeliat gue di marahin sama bini gue!" Lelaki itu melempar snack yang ada di depannya.
"Hahaha.... gue cuma pengen ngeliat Aldy ketawa doang, gue sepet banget ngeliat dia kaya gitu."
"Jangan sampai endingnya, ku menangis...." celoteh Dilan.
"Udah kemaren," jawab Aldy ngasal.
"Yakin. Lo nangis kemaren?" tanya Regina dengan ekspresi wajah tak percaya.
"Ck.... kalian berdua seneng banget nyudutin temen sendiri sampai segitunya."
"Lo lebih parah! Dari tadi ngetawain Aldy mulu." Nampak Regina mulai emosi.
"Kita bertiga kan emang payah. Nggak ada yang waras kalau lagi ngebully orang."
Aldy mengamati ketiga mahluk yang sekarang berada di hadapannya itu sedang adu mulut. Bukan solusi yang ia dapatkan, melainkan pusing luar biasa kerena ulah ketiganya.
...°•°Cinta Untuk Fella°••...
Lain halnya dengan Bella dan Brayu, semenjak Brayu keluar dari rumah sakit, lelaki itu bak seperti raja, yang apa-apa selalu di turuti oleh Bella. Mungkin karena Bella merasa bersalah, jadi gadis itu memilih untuk menuruti segala kemauan Brayu.
"Capek gue!" keluh Bella dengan membuang celemek-nya ke sembarang arah. Mengusap keringatnya yang kini bercucuran di setiap keningnya. Masakan yang di buatnya gosong sampai tak berupa.
"Kenapa sih Bel?" tanya Brayu saat sudah berada di belakang Bella.
"Makanannya nggak ada yang layak makan, gue capek sama kompornya. Dia nggak mau mengecil," keluhnya.
Brayu melongo dengan ucapan gadis tersebut, mana ada kompor bisa mengecil? Mungkin yang di maksud adalah kompor camping.
"Mengecil?" tanya Brayu dengan kening mengeriput.
"Iya, apinya nggak mau kecil. Dia pengennya besar terus," keluh Bella sekali lagi.
__ADS_1
"Ya ampun Bel, ini tinggal di puter, kalau nggak di puter mana mau kecil apinya. Terus kenapa tadi nggak manggil gue aja sih kalau lo nggak bisa?"
"Ya.... Mana gue tau, kalau itu masih ada fungsinya." Bella memajukan bibirnya, gadis itu terlihat imut jika berkelakuan seperti sekarang ini.
"Mau gue ajarin masak?" tawar Brayu.
"Enggak. Gue maunya langsung makan aja, biar nggak ribet," ucap Bella dengan bersedekap dada.
"Ya elah Bel, itu namanya lo nggak ngerawat orang sakit. Tapi ngebudakin orang sakit."
"Ya maaf, gue kan nggak bisa masak. Lo tau sendiri kan, di rumah gue udah ada koki, jadi gue nggak perlu masak sendiri," ucap Bella memajukan bibirnya.
"Iya-iya, gue percaya. Tapi besok kalau elo udah jadi istri gue, lo harus bisa belajar masak, masa iya gue suruh makan, makanan buatan koki lo terus."
"Siapa juga yang mau jadi istri lo!"
"Yakin nggak mau?" tanya Brayu dengan alis terangkat sebelah.
"Kagak...." Bella memalingkan wajahnya.
"Entar lo nyesel loh... kalau gue jadi jodohnya orang."
"Kagak ada nyesel-nya."
"Lo kelihatan imut, kalau kelakuan lo kaya gini Bel."
"Dari dulu emang gue imut! Lo-nya aja baru nyadar."
"Iya.... iya gue percaya kok."
Brayu akhirnya memutuskan untuk mengalah, jika di teruskan takutnya akan semakin panjang hingga esok hari. Lelaki itu mengelus pucuk rambut Bella dengan pelan. "Ya udah, lo istirahat sana gih, biar gue yang masak."
"Thanks you Bray, gue takut kalau kelamaan di dapur lo. Takut kalau dapur lo jadi gosong gara-gara ulah gue."
Brayu membekap mulut bibir Bella dengan tangan kanannya, lelaki itu kini mendekatkan wajahnya ke arah wajah Bella, jarak di antaranya hanya berjarak seinci. "Jangan bicara sembarangan, dapur gue masih utuh. Kalau elo ngomong sembarangan lagi, gue nggak segan-segan buat tutup bibir lo! Pakai bibir gue."
Bella menggeser tubuhnya. "Lo jangan macem-macem, gue bisa pukul lo, sampai sekarat." ancam Bella.
Brayu hanya menyunggingkan sudut bibirnya, ia sangat bersemangat ketika menggoda Bella. "Gue nggak takut, meskipun gue sakit. Tapi tenaga gue nggak kalah kok dari elo."
Bella memukul lengan Brayu pelan, gadis itu buru-buru menjauhkan diri dari lelaki itu. "Lama-lama kok kelakuan lo angker kaya gini sih," kata Bella yang kini memilih berlalu lalang.
"Itu karena kita cuma berduaan di rumah, takutnya gue khilaf sama lo Bel," teriak Brayu, lelaki itu semakin mengembangkan senyumnya, bahagia sekali hatinya saat menggoda Bella.
sampai sendal jepit yang di pakai Bella tadi pun melayang ke arah punggung Brayu dengan kerasnya. "Ngomong ngawur lagi, bukan cuma sendal yang bakalan gue lempar, tapi lo sekalian gue lempar."
Brayu menoleh sambil memegangi punggungnya. "Gue mau kok di lempar, tapi, di lempar pakai cinta."
Bulu kudu Bella merinding, mendengar gombalan ngeri dari Brayu. 'Apa mungkin otaknya ikut bergeser sewaktu kena pukul waktu itu?' pikiran Bella menjadi ngalor ngidul setelah melihat kelakuan Brayu yang terlalu gila itu.
__ADS_1