Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Pengakuan Cinta Dilan 2


__ADS_3

Sepanjang pelajaran Dilan hanya melirik ke arah Regina, Dilan begitu bahagia karena sudah memberitahukan isi hatinya ke pada cewek yang selama ini ia sukai. Sekarang keadaan berbanding berbalik, Regina yang tadinya bersikap biasa saja terhadap Dilan, kini ia harus menghindari kontak mata terhadap cowok itu.


"Gin, Dilan dari tadi ngeliatin lo terus tuh" bisik Zea.


"Diem lo, gue nggak suka sama tuh cowok" katanya tanpa balik memandang Dilan.


"E-hem.... kita udah denger kok pengakuan Dilan yang suka sama elo" timbrung Melda.


Regina menghembuskan nafasnya, kini ia berbalik menghadap Melda yang duduk di belakangnya. "Kenapa lo nggak cerita kalau Dilan suka sama gue, gue jadi nggak enak hati sama lo" cecernya dengan menaikan satu alisnya.


"Hehehe.... sorry gin, gue nggak maksud buat nutupin hal itu ke elo, gue takut kalau lo jadi gimana gitu saat tau Dilan suka sama lo".


"Emangnya elo nggak sakit hati apa, cowok yang lo suka, malah suka sama sahabat lo?" selidik Regina.


Melda tersenyum sesaat. "Ngapain gue harus sakit hati gin, elo kan nggak ngerebut Dilan dari gue, lagian hati seseorang nggak bisa kan kalau di paksain buat suka sama kita, namanya kita egois. Lagian gue udah move on kok dari Dilan".


"Cepat banget lo move on nya" Regina sedikit kaget dengan perkataan Melda.


"Ya karena Dilan suka sama elonya udah lama, jadinya gue cepat move on nya" jelas Melda.


"Ngeles aja lo" ucap Regina yang langsung berbalik ketempat semula. Matanya kini beralih ke arah Zea. "Ngapain lo ngeliatin gue kaya gitu".


"Gimana rasanya di tembak sama cowok populer gin" ucap Zea cengengesan.


"Biasa aja, kaya lo nggak pernah pacaran sama play boy yang populer aja" sindir Regina.

__ADS_1


Zea mencebirkan bibirnya. "Udah nggak usah bahas lagi".


"Siapa suruh lo mulai duluan" cetusnya.


"Eh.... gin, Dilan kesini" bisik Zea.


Regina gugup setengah mati saat Dilan duduk di depannya. Satu menit kemudian ia berhasil mengontrol rasa gugupnya. Dengan nafas yang sedikit berantakan, Regina membuka suaranya. "Ngapain lo kesini" ucap Regina tanpa menatap ke Arah Dilan.


"Kalau ngomong sama orang itu, liat orangnya, jangan buang muka kaya gini, nggak sopan" ucap Dilan yang langsung memegang dagu Regina dengan lembut. Kini mata Regina bisa melihat dengan jelas keseriusan Dilan.


"Nanti siang pulang bareng gue, ya" pinta Dilan seraya tersenyum semakin lebar. "Selamat istirahat" Ia mengusap pelan pucuk kepala Regina, lalu berbalik pergi. Setelah sosok Dilan sudah tidak terlihat di balik pintu kelas, Regina baru dapat bernafas lega. Regina merasakan lama-lama ia bisa terkena serangan jantung bila Dilan selalu memperlakukannya seperti ini.


Zea dan Melda, segera membuka suara. "Cie.... di ajakin pulang sama bambang Dilan, tatapannya bener-bener uw... bikin hati dag dig dug" ucap Zea dengan genitnya.


"Kayaknya bentar lagi ada yang jadian ni" timpal Melda.


"Jangan sotoy deh mel".


"Nyatanya lo nggak nolak tawaran Dilan tadi, berarti lo juga ada rasa dong sama Dilan" cecer Melda.


"Gimana mau nolak kalau dianya nyerocos terus, abis itu main nyelonong pergi".


"Hehehe.... nggak papa gin, pelan-pelan aja" ledek Zea.


"Pelan-pelan pala lo, baru tadi pagi bilang suka sama gue siangnya udah agresif banget, padahal kemarin-marin sering banget buang muka depan gue".

__ADS_1


"Ya... namanya juga usaha gin, siapa tau cepat nyantol nya" goda Melda.


Regina memandangi Zea dan Melda secara bergantian. "Emang kalian ikhlas kalau gue ngelepas masa jomblo gue?".


"Asalkan lo bahagia kenapa enggak sih gin" ucap Zea seraya menepuk-nepuk pundak Regina dengan pelan.


"Gue aja yang dulu naksir Dilan udah ikhlas banget kok kalau Dilan sama lo" lanjut Melda.


"Apaan sih lo mel, baru juga tadi pagi dia nyatain cintanya ke gue".


"Ya... tapi kenapa muka lo langsung merah gitu waktu nyebut nama Dilan" goda Melda.


"Masak sih... perasaan lo aja kali".


"Ya... ya... mungkin cuma perasaan gue dong, tapi gue saranin buat lo ya gin. Mending lo cepat-cepat buka hati lo buat Dilan".


"Kenapa harus buru-buru" protesnya.


"Ya kalau nggak buru-buru takutnya entar Dilan kecantol sama cewek lain" timbrung Zea.


"Ya... kalau pun dia kecantol sama cewek lain, berarti dia nggak serius sama gue. Simpel kan" ucap Regina yang mengangkat kedua tangannya.


"Huft.... susah ya kalau ngomong sama orang yang nggak peka" ucap Melda.


"Hahaha.... udah ah... kalian pada ngapain sih... kenapa ngomongnya jadi pada ngelantur gini" ucap Regina yang langsung merapikan buku-buku yang berserakan di mejanya. Tapak sangat jelas jika Regina malas untuk meladeni celotehan dari kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2