Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Ikut Camping


__ADS_3

Faya berdecak kesal saat mengetahui pengumuman di papan mading pagi ini. "Kesel banget tau nggak! besok sabtu itu waktunya gue di apelin sama kak Aldy." kata Faya dengan tampang kusutnya.


"Elo tuh... kenapa sih fay, pagi-pagi udah nyerocos nggak karuan pusing gue dengarnya." kata Bella bertopang dagu.


Fella yang baru memasuki ruang kelas sedikit terkejut ketika Faya menunjuk ke arahnya. "Gara-gara mertuanya Fella tuh. Acara gue sama kak Aldy batal."


Fella menunjuk dirinya sendiri, sedikit membuka mulutnya karena bingung dengan ucapan Faya barusan. "Kenapa sama mertua gue!" serunya seraya meletakan ranselnya dan menarik kursi untuk dirinya duduk.


"Masak kalian nggak ada yang tau?" tanya Faya sedikit mengernyitkan keningnya karena di antara mereka bertiga memang dirinya lah yang paling kepo.


Fella dan Bella kompak menggeleng mereka tak mengetahui maksud dari ucapan Faya. Sedikit menarik nafas kesal, sambil mengusap wajahnya secara perlahan. "Kalian nggak baca di papan mading tentang pengumuman tadi pagi?"


"Elo salah orang kalau pertanyaan itu elo tunjukkin ke gue! gue kan paling males buat baca papan mading, apa lagi rame-nya kaya tadi pagi." kata Bella seraya meletakan kepalannya kembali ke atas ransel.


"Elo juga nggak liat fel?" kini tatapannya mengarah ke Fella.


"Enggak! boro-boro mau liat papan manding, pagi-pagi gue udah dapat semburan naga, dari Jessy. Jadi males kan kalau elo jadi gue."


"Ck.... emang nggak ada yang update selain gue kayaknya."


"Bukannya kita nggak update, tapi elo yang terlalu kepo!" cetus Fella.


"Buruan ngomong, nggak usah bertele-tele kenapa sih fay." protes Bella.


"Oke... oke... gue ngomong tapi kalian jangan syok ya."


"Buruan ngomong kita udah penasaran setengah mati juga." lanjut Fella.


"Besok sabtu sampai hari selasa, sekolah bakalan ngadain camping buat melepas kelulusan kelas Xll dan semua siswa-siswi wajib ikut tanpa terkecuali mereka yang nggak ikut bakalan dapat hukuman." jelas Faya dengan jari telunjuk yang mengetuk-ngetuk meja.


"Hah.... kurang kerjaan banget sih sekolah, kenapa harus ngadain acara kaya gitu juga, kan gue males." ucap Fella dan Bella kompak.


"Katanya buat kenang-kenangan." ucap Faya.


"Aduh.... kencan gue sama Daddy batal dong, padahal buat janjian sama Daddy itu susah banget." teriak Bella sedikit frustasi.


"Aduh bel, jangan teriak-teriak gendang telinga gue bisa budek denger teriakan elo." ucap Fella dengan tangan masih menutup telinganya.


Mereka bertiga kompak menghembuskan nafas kesalnya, acara yang sudah mereka rencanakan harus gagal begitu saja karena kegiatan yang di adakan oleh sekolahan yang begitu mendadak.


...°•°©inta Untuk Fella°•°...


Di balkon Fella sibuk melamun sambil memangku gitar kesayangannya. Ia tak mengetahui jika kekasihnya diam-diam masuk kedalam kamarnya, Arska terus saja mengamati Fella dari kejauhan engan mendekat karena ia takut mengagetkan Fella.


Menunggu 5detik, 5menit, 15menit dan 30menit, mungkin saja Fella sedang larut dalam lamunannya sehingga Fella tak juga menyadari jika kekasihnya itu terus saja melihat ke arahnya sedikit pun enggan mengalihkan pandangannya. "Ck.... lama banget sih melamun nya kapan udahannya." gerutu Arska dalam hati, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Tak sabar melihat kekasihnya semakin larut oleh lamunannya, Arska segera mendekat. "Sayang.... melamun-in apa sih? serius amat." tanya Arska sedikit keras seraya menepuk pelan pundak Fella.

__ADS_1


Fella tersentak mendengar suara yang mengagetkannya. Fella sedikit memundurkan badannya hingga kursinya terangkat sedikit, untung saja Fella belum terjatuh, tangan Arska begitu sigap memegangi kursi tempat duduk kekasihnya itu.


"Arska aku kaget! kamu kapan masuknya?" teriak Fella hingga nyaring memenuhi ruangan kamar.


"Makanya jangan melamun terus, aku udah hampir setengah jam di sini nungguin kamu, tapi hasilnya ternyata nihil. Kamu-nya nggak peka-peka." jelas Arska.


"Kenapa nggak langsung manggil aku aja sih yang." ucap Fella menggigit bibir bawahnya.


"Kamu sibuk melamun, aku pikir kamu bakalan udahan melamun-nya ternyata makin larut. Kamu nggak lagi melamunin mantan pacar kamu yang itu kan?" tanya Arska sedikit menyelidik.


"Apaan sih yang, curiga-an muluk sukanya." Fella mengerucutkan bibirnya seraya berdiri dari tempat duduknya sekarang.


Fella tak terlalu teliti saat kakinya hendak melangkah, tiba-tiba kakinya tersandung oleh kaki meja yang ada di depannya. Reflek karena kakinya menyandung sesuatu Fella segera meraih sesuatu yang bisa membantunya, tapi sayang seribu sayang ia salah menarik hingga kini ia justru menarik pergelangan tangan Arska. Mereka berdua jatuh dengan posisi Fella di bawah tubuh kekar milik Arska.


"Kalau pengen adegan romantis nggak perlu narik tangan aku juga kan yang! jadi jatuh kan sekarang." kata Arska sedikit menggoda kekasihnya.


Fella memukul pelan dada bidang Arska cukup keras. "Kalau kamu terus bikin kesel aku dengan kalimat yang terus keluar dari mulut kamu, jangan salah-in aku buat nyumpal mulut kamu ya yang." ancam Fella dengan suara agak meninggi.


Arska menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya, didalam bekapannya Arska tertawa tanpa dosa mendengar ucapan Fella.


"Nggak usah ketawa cepetan minggir punggung aku sakit." perintah Fella sedikit mendorong tubuh Arska.


Arska segera berdiri, dan membantu kekasihnya itu untuk berdiri.


"Kamu tuh... ngeselin dateng nggak di jemput pulang nggak di antar, tiba-tiba masuk ke kamar orang tanpa permisi." omel Fella seraya memegangi pinggang belakangnya.


"Ck.... selalu pinter nyari alasan."


Arska tersenyum sinis, ia merangkul pundak Fella. "Aku belom minta tanda tanggung jawab kamu loh ay!" seru Arska.


"Tanggung jawab? buat apa?" tanya Fella mengernyitkan keningnya, kini ia menatap Arska dengan penuh kecurigaan, sedikit mendagak karena badannya yang lebih pendek di bandingkan dengan cowok di sampingnya saat ini.


Arska mengangkat sikunya, ia memperlihatkan sikunya yang sedikit tergores karena terkena bibir meja yang cukup runcing.


Fella merasa bersalah akan tindakannya tadi. "Maaf yang, aku tuh tadi refleks. Jadi nggak terlalu fokus." ucapnya seraya memainkan jari-jarinya.


"Permintaan maaf di terima." balas Arska yang langsung mencium pipi Fella, ia tak meminta izin kepada pemiliknya terlebih dahulu, jika meminta izin pasti sang pemilik juga akan melarangnya.


Segera Arska melebarkan kakinya untuk menemui Merry, ia tak mau jika terlalu berlama-lama di kamar Fella, yang ada akan mengundang kecurigaan Merry.


"Arska...." teriak Fella saat Arska sudah berada di ambang pintu, melarikan diri dari perbuatannya barusan sudah pasti.


Arska hanya menoleh sesaat, sebelum akhirnya berlari kecil untuk menghindari pukulan kecil yang biasa di lakukan kekasihnya itu jika Arska melakukan kesalahan.


"Huft.... kebiasaan lari dari tanggung jawab." omel Fella sesaat sebelum akhirnya mengikuti Arska. Fella tau kalau dirinya pasti sudah tertinggal jauh dari kekasihnya.


...°•°©inta Untuk Fella°•°...

__ADS_1


Saat sudah berada di meja makan, Fella terus memandang lurus ke arah Arska, ia hanya mengaduk-aduk makanannya. Sedangkan orang yang di lihatnya hanya asik mengunyah makanannya tanpa menatapnya balik.


Merry yang melihat ekspresi sang anak terus menatap ke arah Arska, menjadi sedikit menyelidik. "Kamu kenapa ay? liatin Arska sampai segitunya?"


"Kesel aja sama Arska bun."


"Kok bisa?" tanya Merry sekali lagi.


"Arska kaget-in Aya bun, gimana nggak kesel."


Arska menoleh ke samping, ia menghentikan aktifitas mengunyahnya seraya meletakkan sendok-nya. "Gimana nggak Arska kagetin tan, orang Arska nungguin orang melamun sampai 30menit." ucap Arska.


"Tapi bun...." elak Fella.


"Siku Arska sampai luka ini tan, gara-gara Aya tadi." Arska sengaja memperlihatkan sikunya yang tergores tadi.


"Ya ampun Aya, kamu apa-in itu sikunya Arska sampai kaya gitu?" tanya Merry memastikan.


"Cuma Aya tarik kok bun nggak lebih. Abisnya Aya tadi mau jatuh." ucap Fella merasa sedikit bersalah. "Dasar Arska awas aja kalau Bunda udah pergi. Aku becek-becek biar jadi rempeyek." batin Fella sedikit melirik ke arah Arska.


Arska tersenyum bahagia mendapati kekasihnya terkena omelan dari Bundanya sendiri.


"Lagian kamu kenapa? melamun-in apa? sampai kamu nggak fokus ada orang masuk ke kamar, untungnya cuma Arska coba kalau maling." ucap Merry memperingatkan.


Fella tak langsung menjawab pertanyaan Merry. "Justru bahaya kalau Arska yang masuk kamar bun, anak perawan mu ini terancam, gara-gara calon mantu mu ini asal nyosor." batin Fella seraya menggigit bibir bawahnya, ia melirik ke samping.


"Aya... Bunda nanya ke kamu, kenapa kamu diem aja?" tanya Merry.


"E-em... itu bun, Aya harus ikut camping, buat melepas perpisahan kelas XIl, katanya buat kenang-kenangan." jelas Fella.


"Terus kenapa? harus pakai acara melamun segala, Arska jadi mikir yang enggak-enggak."


"Aya males ikut bun.. tapi kalau nggak ikut dapet hukuman, Aya mikirin gimana caranya biar camping Aya sedikit menyenangkan."


"Gimana kalau aku ikut ay, sekalian jagain kamu." sahut Arska.


"Em... ide yang bagus itu ka, Tante setuju." balas Merry sedikit manggut-manggut.


"Emangnya boleh orang luar ikut?" tanya Fella memastikan.


"Nanti biar aku bilang sama Papa, biar kamu nggak bosen juga kalau ada aku. Dan yang paling penting biar mantan kamu yang itu, nggak gangguin kamu terus." jelas Arska mengingatkan.


Fella berdecak kesal, mendengar kekasihnya itu terus mengingatkan hal yang sudah lampau.


"Jangan cemberut gitu ay, Arska ngomong gitu karena dia cemburu."


"Iya bun...Fella ngerti kok."

__ADS_1


Arska menatap ke arah Fella dengan tatapan puas, lagi-lagi ia menang banyak dari Fella.


__ADS_2