Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Identitas Asli Bella


__ADS_3

Brayu melajukan kecepatan motornya di atas rata-rata, membuat Bella nyaris jantungan karena setiap mobil atau pemotor lain yang ada di depannya selalu di dahuluinnya. "Bray, lo bisa nggak pelanin motor lo, gue jantungan kalau bawa lo ngebut kaya gini," pinta Bella dengan tangan yang masih menggenggam erat jaket milik Brayu.


"Hem...."


"Brayu.... lo dengerin gue ngomong nggak sih, lama-lama gue bisa mati gara-gara lo bawa motornya ngawur kaya gini," ucap Bella sekali lagi dan itu berhasil membuat Brayu memelankan laju motornya.


'Gue sengaja bawa motornya ngebut biar lo bisa terus peluk gue kaya gini bel,' batin Brayu sambil mengembangkan senyumnya.


Tak kala cowok itu mengamati keadaan Bella dari balik kaca spionnya, wajah pucatnya terlihat sangat jelas di sana, meskipun gadis itu terlihat sedikit boyok di area wajahnya tak membuatnya menjadi jelek, Brayu semakin kagum dengan keberaniannya.


"Nggak usah ngeliatin gue!" seru Bella yang sejak tadi sadar kalau ia telah di amati oleh Brayu dari balik spion.


"Bray, gue laper, lo bisa nggak mingirin motor lo sebentar, nyari wartek atau angringan kek buat makan. Tadi gue belom sempet makan gara-gara mau bantuin lo." Bella benar-benar kelaparan, sejak tadi perutnya selalu berbunyi, ia belum sempat mengisi perutnya tapi ia harus duel terlebih dahulu, dan itu membuatnya kehilangan seluruh tenaganya.


"Lo tadi bilang apa? Wartek atau angkringan." Nampak Brayu mengeryitkan keningnya, mengulangi perkataan Bella yang menurutnya tak mungkin di ucapkan oleh seorang anak tuan Moregan.


"Iya, kenapa? Lo nggak terbiasa makan di tempat yang kaya gitu?"


"Bukannya nggak terbiasa, gue cuma heran aja sama lo."


"Nggak usah heran, gue adanya ya kaya gini. Gue bukan tipe cewek yang selalu milih-milih tempat, keculi kalau tempatnya kotor sih."


Brayu tertawa kecil, ia tek pernah menyaka jika pemikiran gadis itu bisa sesederhana itu walaupun hanya sekedar makan.


"Nggak usah ketawa! Nggak lucu." Nampak Bella mulai sewot.


"Jangan galak-galak, entar gue nggak ngajak makan loh..." ancam Brayu.


"Berani ngancem gue! Gue pukul, gue nggak main-main."


Brayu makin cekikikan melihat gadis itu terus-terusan mengomel sambil memukul-mukul pundaknya, membuat gadis itu semakin mengemaskan saja dengan segala tingkahnya.


Brayu menepikan motornya di sebuah rumah makan pinggiran, tanpa bosa basi Bella turun tanpa mengajaknya. Mungkin karena gadis itu sudah sangat lapar jadi tak terlalu menghiraukan keberadaan Brayu.


"Dasar tukang lapar, nggak nungguin gue dulu, main ninggalin aja," gumam Baryu pelan, seraya mengikuti Bella yang sudah lebih dulu masuk kedalam.


Cowok itu tak langsung menghampiri tempat Bella duduk, ia berbicara kepada salah satu pelayan terlebih dahulu. Membuat Bella penasaran karena Brayu menunjuk terus ke arahnya. "Dasar cowok ganjen," ucapnya pelan, ia mulai membuka kerupuk yang ada di hadapannya saat ini sambil menunggu pesanannya datang.


"Lo lapar banget, sampai lo nggak sabaran ninggalin gue," kata Brayu yang kini sudah berada di depan Bella.


"Gue udah pesanin lo juga kok, kenapa pesan lagi?"


Brayu hanya tersenyum, ia tak langsung menjawab pertanyaan Bella, hingga salah seorang pelayan yang tadi di ajak berbicara oleh Brayu pun menghampiri meja mereka, sambil membawakan kotak yang berisikan obat-obatan.


"Buat apaan?" tanya Bella dengan kening mengkerut.


"Mbak beruntung banget loh, punya pacar perhatian kaya masnya ini," kata pelayan wanita itu.


"Pacar?" Bella makin kebingungan.


Pelayang wanita itu hanya mengangguk, tapi Brayu terlebih dahulu mengucapkan 'terimakasih' agar pelayan tersebut segera meninggalkan tempatnya berdiri saat ini.


"Lo ngomong apaan sih? Sama mbaknya tadi. Terus ini buat apa?" tanya Bella dengan tangan menunjuk kotak obat yang ada di depannya saat ini.


Brayu tak langsung menjawab pertanyaan Bella, ia hanya menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan gadis itu.


"Daripada pada lo cerewet mending lo diem dulu, gue bantuin lo ngobatin lukanya." Brayu mulai membuka kotak tersebut, mengambil kapas dan alkohol.


"Kenapa jadi galakan elo sih!" Bella nampak kesal. "Lagian gue nggak papa kok, cuma lebam dikit aja lebay," lanjutnya.


Brayu tak merespon ucapan gadis yang ada di depannya, ia menuntun tangannya untuk segera mengobati luka yang ada di wajah gadis tersebut. "Lo tahan dikit ya."


"Ngapain gue harus tahan, ini itu nggak sebanding, nggak ada sakit-sakitnya tau. Pendekar kok lemah," kata Bella dengan sombongnya.


Tadinya Brayu mengobatinya dengan sangat hati-hati dan lembut, namun ketika mendengar kesombongan Bella, Brayu pun sengaja menekan kapas yang sudah di beri alkohol tersebut tepat di bagian luka.

__ADS_1


"Aw......... sakit Bray, lo bisa pelan-pelan nggak sih ngobatinnya?" Bella sedikit meringis dengan tindakan Brayu.


"Katanya pendekar, baru di teken dikit aja udah ngeluh sakit, tadi pas kena tonjok nggak neguluh," ucap Brayu sengaja menyindir.


Gadis itu melotot kearah Brayu. "Itu beda Bray."


"Ya udah jangan melotot gitu, gue kan udah baik hati mau bantuin lo."


"Ck... perhitungan banget sih, gue tadi juga udah bantuin elo."


"Hahaha... Jangan ngambek dong bel, becanda."


Tangan Brayu masih sibuk mengobati wajah Bella, setiap inci selalu ia perhatikan, hidung Bella yang mancung, bibirnya yang mungil, pipinya yang cubi, bulu matanya yang lentik, semuanya begitu indah di matanya. Cowok itu semakin mengembangkan senyumnya karena ia bisa leluasa mengobati luka gadis itu tanpa perlu ada penolakan darinya. Hingga manik mata mereka pun bertemu, lumayan lama mereka saling tatap, hingga Bella mulai tersadar dan sedikit memundurkan tubuhnya agar tak terlalu dekat dengan Brayu.


Bella mulai meraih tangan Brayu yang sejak tadi terus membantunya mengobati luka, ia mengamati secara detail tangan Brayu yang ternyata banyak luka di sana.


"Tangan lo juga luka, sini biar gue bantu obatin." Bella segera mengambil obat merah, kapas dan alkohol.


'Gue rela kaya gini asal sama lo terus Bel,' pikir Brayu, cowok itu masih saja mengamati setiap gerakan yang Bella lakukan.


Tapi yang namanya Bella, tak pernah ada kata tak balas dendam, ia membalas perlakuan Brayu yang tadi sempat membuatnya meringis kesakitan.


"Aw.... sakit Bel, pelan dikit kenapa sih!"


"Cowok kok lembek, harusnya kuat dong. Udah lo diem aja entar juga kelar," kata Bella yang semakin menekan kapasnya tepat di bagian yang terluka. Gadis itu tersenyum girang karena ia berhasil membalas tindakan yang di lakukan Baryu tadi.


"Bahagia banget kalau ngeliat gue kesakitan kaya gini," kata Brayu yang kini masih mencoba menahan rasa perih karena ulah Bella.


"Hahaha... Ya kan biar impas," kata Bella yang kini masa bodoh dengan tatap pengunjung lain.


Tak berselang lama, makanan yang mereka pesan pun akhirnya datang. "Cie.... Bikin iri aja mas sama mbaknya," ucap salah seorang pelayan cowok.


"Hahaha... Bikin iri apanya mas? Lo mau bonyok kaya kita ini," kata Bella dengan menunjuk mukanya.


"Bukan kaya gitu juga mbak, maksud saya pengen kalau punya pasangan yang kaya mbak sama masnya ini."


"Masnya yang bilang tadi mbak, orang masnya khawatir banget ngeliat mbaknya luka kaya gini."


Brayu berdehem, ia tak mau mendengar perkataan pelayan itu lagi. "Maaf ya mas, kita udah mau makan, masnya udah boleh pergi sebelumnya terimakasih." Brayu segera memakan bakso yang di pesankan oleh Bella tadi. Bisa kena pukul kalau Bella terus mendesak pelayan itu untuk bicara lebih jauh lagi.


Pelayan itu hanya mengangguk sambil tersenyum sebelum akhirnya pergi. Sedangkan Bella tak melepas tatapannya dari Brayu, gadis itu berekspresi dengan sinis-nya.


"Kenapa ngeliat gue udah kaya ngeliatin setan sih bel?"


"Ya emang lo setan, setan bikin perkara."


Brayu menelan saliva-nya cowok itu tak kunjung kehabisan ide, ia mencari akal agar Bella tak menatapnya seperti itu lagi. "Kalau nggak mau makan, biar gue aja yang abisin ya," kata Brayu dengan tangan yang sudah mengarah ke mangkuk bakso milik Bella.


"Enak aja, gue juga lapar, lo kan udah dapet sendiri, dasar serakah," balas Bella dengan tangan yang mulai aktif mengerakkan sendok dan garpu-nya.


Bella mulai memakan baksonya, ia tak melirik Brayu sama sekali, padahal Brayu berharap jika Bella meliriknya.


'Apa yang ada di pikiran cowok ini sih sebenarnya?' batin Bella sambil terus mengunyah makanannya.


"Ternyata elo anaknya tuan Moregan? Kenapa nggak pernah cerita?" tanya Brayu secara tiba-tiba.


Gadis itu kembali melirik kesamping, melihat ke arah Brayu yang tiba-tiba menanyakan hal yang sama sekali enggan ia bahas untuk saat ini. Menghentikan makannya dan meletakkan sendok serta garpu-nya.


"Untuk apa gue cerita sama lo, lagian nggak semua orang harus tau kan."


"Tapi gue pengen tau semua hal yang menyangkut tentang lo, meskipun cuma secuil."


"Dan habis itu, lo bakalan ninggalin gue, lo nggak mau jadi temen gue lagi. Setelah tau identitas asli gue." tebak Bella dengan alis terpaut.


Brayu meraih tangan gadis itu, menggenggamnya sesaat sebelum akhirnya membuka suara. "Siapa yang bakalan ninggalin elo? Walaupun kita pernah marahan bukan berarti gue bakalan ninggalin lo kok."

__ADS_1


"Ck.... karena gue anaknya Moregan! pemilik dari perusahaan yang selalu mempersulit perusahaan lain dan di takuti siapa pun, Bos mafia yang terkenal kejam."


"Gue nggak peduli, lo mau anaknya siapa?...." Brayu menghela nafasnya sesaat. "Karena...."


"Karena apa?" tanya Bella dengan alis terpaut.


"Karena gue fans berat bokap lo bel," kata Brayu dengan girangnya.


"Hah.... seriusan."


Brayu mengangguk, cowok itu kembali mengembangkan senyumnya.


"Idih... kenapa lo harus tau sih, itu artinya kan lo nggak mungkin mau nyerah, lo bakalan terus gangguin gue."


"Haha.... siapa bilang gue mau nyerah, gue bakalan berjuang sampai hati lo luluh, meskipun lo bukan anaknya tuan Moregan gue tetap akan perjuangin lo bel."


"Dasar cowok keras kepala!"


"Sama kaya elo kan."


"Cowok nyeblin!"


"Sama-sama nyebelin."


"Brayu!" seru Bella, mulai meninggikan nada bicaranya.


Cowok itu bukannya takut malah tertawa jahat, melihat ekspresi wajah Bella yang begitu mengemaskan, ingin rasanya mencubit pipi Bella sekarang juga.


"Ketawa mulu, nggak ada topik lain apa, selain ketawa." Bella memajukan bibirnya, dan melanjutkan aktifitas makan yang tertunda tadi.


"Makannya pelan-pelan, nggak ada anggun-anggun sama sekali jadi cewek."


"Udah tau nggak anggun kenapa masih lo kejar, kalau pengen yang anggun yang tinggal balik lagi kan sama cewek yang tadi mohon-mohon sama elo itu."


Gadis itu memang pintar kalau memutar balikkan ucapan.


"BELLA..." Brayu sengaja menekankan kata-kata tersebut agar gadis itu menoleh kepadanya.


"Hem....."


Bella masih saja fokus dengan baksonya yang mulai mendingin itu.


"I LOVE YOU BELLA."


Gadis itu menghentikan makannya melihat kearah Brayu dengan kening mengkerut. Tapi cowok itu tiba-tiba mengarahkan ibu jarinya, menyentuh sudut bibir milik Bella dan mengusapnya pelan. "Kalau makan yang anggun dikit, masak bibir kamu belepotan saos kaya gini." Brayu memperlihatkan ibu jarinya ke arah Bella.


"Gue bisa sendiri kok, lo nggak perlu berlebihan kaya gitu, karena semua orang ngeliat ke arah kita."


"Dasar keras kepala."


"Lo suka banget ya, perhatian sama cewek sampai kaya gini?"


"Gue cuma perhatian sama cewek yang bener-bener gue suka."


Bella tersenyum sesaat, ia tak melanjutkan makannya karena merasa sudah cukup kenyang. "Anterin gue balik," kata Bella dengan punggung menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Balik ke kafe apa langsung ke rumah?"


"Langsung ke rumah aja."


Di sisi lain ternyata sepasang kekasih terus mengamati ke arah Brayu dan Bella, tadinya mereka ingin ikut bergabung tapi mereka urungkan karena tak ingin menganggu moments kedekatan keduanya.


"Yakin nggak mau ke sana kak?" tanya Faya sambil melirik ke arah kekasihnya.


"Biarin mereka berduaan yang, kapan lagi mereka bisa ketawa bebas kaya gitu."

__ADS_1


"Semoga aja mereka lekas jadian."


Aldy hanya mengangguk dengan seulas senyuman terbit di sudut bibirnya. Ia masih dengan setianya mendengarkan setiap celotehan yang keluar dari mulut bibir kekasihnya itu.


__ADS_2