Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
KeKesalan Fella dan Kemarahan Faya


__ADS_3

Di taman kuliner, mereka bertiga menghabiskan jajan khas yang di jual di sana. Suasana bahagia menyelimuti hati Fella saat ini, ia tak lagi memikirkan Arska. Beberapa hari ini ia tak melihat keberadaan kekasihnya, sejak ia keluar dari rumah sakit. Ia memakan cireng dan sosis bakar dengan lahapnya, dengan cepat Fella menghabiskan jajanan yang ada di hadapannya. Bella tersenyum melihat sahabatnya itu dengan nafsunya menghabiskan jajanan tersebut. "Kalian makan sepuasnya, biar gue yang traktir" jelas Bella.


Fella dan Faya saling lirik. "Lo... beneran mau traktir kita?" ucap mereka berdua dengan kompaknya.


"Iya gue yang traktir, kalian nggak percaya sama gue?".


"Oke...kalau gitu, kita mau pesan yang banyak.... mumpung big bos yang bayarin" celoteh mereka bersamaan.


"Big Bos apanya coba, big bos kok suka makan gratisan" ucapnya.


"Tandanya lo nggak sombong kalau lo masih mau di traktir sama orang lain, udah anaknya kolongmerat, kalau yang lain mana ada yang mau di ajak makan di pinggiran kaya gini, kecuali elo" ucap Fella.


"Dan lagian, siapa sih orang yang nggak kenal sama Dady lo" ucap Faya dengan bangganya.


"Anjir... yang kaya itu Dady gue, gue cuma numpang sama Dady" ucapnya mengerucutkan bibirnya.


"Ya kan besok ahli warisnya kan ke elo semua, lo kan anak tunggalnya" celoteh Fella.


"Hem.... kalian jadi pesan apa enggak ni ?, sebelum gue berubah pikiran".


Dengan sigap Fella dan Faya berlari mencari makanan yang mereka suka. Bella yang menyaksikan hal tersebut sontak tertawa.


Fella datang dengan membawa banyak makanan di tangannya, sedangkan Faya masih mengantri. Mata Bella melebar. "Lo...yakin, bisa habis segini banyaknya fel?" ucap Bella menggeleng-gelengkan kepalanya, ia syok dengan porsi jajanan sahabatnya itu.


"Yakin lah... ini kan, makanan favorit gue semua bel" ucapnya sambil mengunyah makanannya.


Tak mau kalah dengan Fella, Faya datang membawa jajanan yang lebih banyak dari Fella. Bella menelan saliva nya saat melihat kedatangan Faya. "Emang lo bisa ngabisin segini banyaknya fay?".


"Hehehe.....kalau pun nggak habis kan, bisa gue bawa pulang" ucapnya nyengir kuda.


"Gue pikir lo kaya Fella, perut karung" ucapnya sambil melirik ke arah Fella.


"Haha... ya nggak papa bel, mumpung dia ***** makan, kan kita nggak perlu kerepotan ngebujuk kalau Fella makannya banyak" cecer Faya.


"Hehehe... bener juga ucapan lo fay".


"Terserah lo pada... yang penting gue bisa makan jajanan favorit gue, dengan puasnya tanpa perlu bayar" ucapnya dengan girang.


"Ow.. iya bel, dalam rangka apa lo traktir kita?" tanya Faya seketika.


"Dalam rangka, Dady gue baru balik dari Singapore" ucapnya dengan gembira.


"Cie.... pantesan aja, mood lo dari tadi bagus banget" celoteh Fella.


"Hehe.... bisa aja lo fel" ucap Bella menepuk lengan Fella pelan.


Fella membalas tepukan Bella, sambil terus memakan jajanan yang ada di depannya. Ia tak mengetahui kalau sepasang mata sedang mengamatinya dari kejauhan, ya orang itu adalah Arska. Mona sengaja mengajaknya ke taman kuliner agar ia bisa membuat Fella semakin sakit hati. "Sengaja banget ya, lo ngajakin gue kesini, cuma mau bikin cewek gue cemburu" cecer Arska kesal. Sedangkan Brayu sengaja membawa gandengannya yang baru, agar membuat Bella cemburu.


"Apaan sih... baby...?, ya aku pengen makan jajanan di sini lah... masak mau bikin orang cemburu... kan tempat ini lagi nge-hits..." celoteh Mona dengan suara yang sengaja di kencangkan sampai siapa pun yang ada di sana mendengar ucapan Mona. Fella yang asyik mengunyah makanannya segera melihat ke sumber suara, sedangkan Bella dan Faya masih asyik menikmati jajanan yang ada di depannya tanpa mempedulikan celotehan tersebut.


Kesal melihat kekasihnya dengan cewek lain, Fella segera menggebrak meja cukup keras. "Kenapa harus ketemu mereka sih.. bikin nggak mood makan aja" celotehnya yang langsung menaruh makanannya ke piring.


Bella dan Faya melihat ke arah Fella sebelum akhirnya menoleh ke belakang. "Ajay.... tuh cewek gatel amat sih...nempel-nempel sama cowok orang, seenak jidatnya sendiri" ucap Bella melebarkan matanya.


"Brayu, udah punya cewek baru bel, sebel gue ngeliatnya" ucap Faya yang langsung memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Dengan kasar Bella mengusap wajah Faya. "Gue udah pernah bilang kan... ke elo, lo jangan terlalu berharap sama tuh.. cowok" tegas Bella.


Fella yang tak tahan melihat kekasihnya dengan cewek lain, segera ia berpamitan kepada Bella dan Faya. "Gue pulang dulu ya... mata gue sakit kalau lama-lama ngeliatin pemandangan kaya gitu" ucapnya sambil meraih tas yang ada di samping kursinya.


Bella dan Faya menoleh, mereka mengangguk pelan, padahal Fella beberapa hari ini udah bisa senyum, gara-gara ngeliat Arska, Fella langsung berwajah kusut lagi.


"Ya... ampun.. ternyata ada yang cemburu... gitu aja langsung kabur... iri kali ya ngeliat kita mesra-mesran kaya gini ya Baby" ucap Mona makin mengencangkan suaranya. Sambil tangan kanannya melingkar di leher Arska. Arska menepisnya dengan kasar, tapi Mona tetap berusaha. Bella yang mulai emosi mendengar ucapan tersebut, dengan kesal mengebrak meja dan menendang kursi yang ada di sampingnya.


"Waduh... temennya nggak terima ya.... kalau gue nyindir temennya yang tadi" celoteh Mona makin kencang.


Bella yang sudah jengah mendengar celotehan yang tak berfaedah dari mulut Mona segera menghampiri tempat duduk Mona. "Mulut lo barusan bilang apa?" bentak Bella yang langsung menendang kursi tempat duduk Mona.


"Wih.... santai dong gitu aja ngamuk" celoteh cewek yang sedang bersama Brayu.


Tatapan membunuh beralih menatap cewek yang ada di samping Brayu. "Gue nggak ngomong sama lo!" tegas Bella sambil menunjuk cewek tersebut wajahnya benar-benar datar.


Segera cewek tersebut terdiam, ia menelan saliva nya, ia takut setelah melihat tatapan marah dari mata Bella yang begitu mengerikan.


"Wih... santai dong.. gue kan cuma ngomong apa adanya, kenapa jadi lo yang sewot sih" ucap Mona menantang.


Bella tersenyum sinis sebelum membuka suara. "Hem.... cabe, sukanya ngerusak hubungan orang !!, kalau kalah saing bilang aja kenapa sih, nggak perlu pakai cara kotor juga kan buat dapetin hal yang lo mau " ucap Bella mengejek sambil bersedekap dada.


Mona mengigit bibir bawahnya, ia mulai terpancing emosi dengan ucapan yang keluar dari mulut Bella. "Lo barusan bilang apa?" ucapnya yang langsung berdiri, jari telunjuknya menunjuk ke arah Bella.


"Gue tadi bilang C A B E.... apa kuping lo tuli ya!!. Apa perlu gue perjelas lagi C A B E.. tukang perusak hubungan orang" teriak Bella yang semakin keras.


Mona mengangkat tangan kanannya, bermaksud akan menampar Bella, tapi Bella dengan sigap meraih tangan Mona dan memelintirnya dengan kuat, hingga Mona merasakan kesakitan yang luar biasa. "Aw.... lepasin gue... cewek sialan" teriaknya dengan keras.


Lagi-lagi Bella tersenyum sinis, segera ia mengabulkan permintaan Mona, Bella melepaskan tangannya dan langsung mendorong Mona dengan kencangnya hingga Mona tersungkur jatuh. Arska dan Brayu hanya menyaksikan tanpa ada yang membantu, mereka justru senang karena ada yang berani melawan Mona. Sementara cewek yang bersama Brayu, ia membantu Mona berdiri. " Lo kenapa keterlaluan banget sih, jadi cewek kasar banget nggak punya etika" ucap cewek tersebut dengan tatapan tak bersahabat nya.


"Baby... kenapa kamu diem aja sih... aku di permaluin kaya gini, kamu cuma diem aja, kamu cuma jadi penonton" ucap Mona yang langsung memegang lengan Arska.


Bella yang kesal melihat sikap centil Mona, segera memukul-mukul tangan Mona dengan cukup keras. "Ganjen banget sih..... jadi cewek !".


Arska tersenyum puas dengan tindakan yang di lakukan oleh Bella barusan, matanya mengisyaratkan kalau dia benar-benar puas dengan kerjaan Bella. Bella yang mengetahui hal tersebut ikut tersenyum.


"Lo... gila ya?, ngapain lo pukul-pukul tangan gue, tangan gue makin sakit tau!!, kalau tangan gue sampai patah lo bisa ganti rugi" tegasnya sambil terus memegangi tangannya yang memar.


"Lo harusnya ngaca dong, Arska nggak nyaman.. sama sikap ganjen lo, lagian kalau tangan lo patah, malah bagus lo nggak bisa ganjen sama cowok orang. Itung-itung kan ngurangin dosa lo" celetuk Bella dengan muka mengejek.


"Perasaan gue nggak punya masalah sama lo!!" tegas Mona.


"Tapi, lo punya masalah sama sahabat gue, dan gue perlu ikut campur. Lagian gue udah dari kemarin-kemarin, pengen nonjok muka lo, karena lo udah sering bikin sahabat gue sedih" ucap Bella meninggikan nada bicaranya.


"Lo....berani ya sama gue?. Lo nggak tau gue anaknya siapa?".


"Gue nggak peduli, lo anaknya siapa!!" jelas Bella.


Mona yang semakin kesal dengan sikap angkuh Bella, segera membuka suaranya kembali. "Nama Bokap gue Ridwan Wijaya. Dia Manager di ANTERO GROUP. Lo pasti tau kan perusahan itu, perusahaan yang paling di takutin sama perusahan mana pun, dan kalau gue ngasih tau ke papa, kayaknya hidup lo bakalan menderita" ucap Mona dengan bangganya.


Bella yang mendengar ucapan sombong dari Mona segera bersedekap dada. "Ow... ternyata bokap nya kerja di perusahaan Dady. Kenapa sombong banget sih!!. Gue yang anaknya pemilik dari perusahaan aja nggak pernah ngasih tau identitas gue, kecuali sama Fella dan Faya" batin Bella. "Uw.... takut..." ucap Bella makin mengejek sambil mengibaskan rambutnya kebelakang. "Dengerin ya!!, gue Bella Sandrica nggak pernah takut sama siapa pun, termasuk bokap lo!!" tegas Bella tak kalah sombong.


Mona makin kesal dengan sikap angkuh Bella yang semakin menjadi-jadi. Sedangkan Arska dan Brayu merasa salut dengan keberanian Bella. Bella tak ketinggalan ide untuk mempermalukan Mona, dengan cepat ia meraih segelas minuman yang ada di depannya dan langsung menyiramkan minuman tersebut ke baju Mona. "Apa-apaan sih lo... baju gue jadi basah semua" teriak Mona dengan menghentak-hentakan kakinya, segera Mona meninggalkan tempat duduknya. Mona tak mau jika semakin di permalukan.


"Akhirnya... satu cabe terselesaikan" ucapnya bersedekap dada. "Lain kali, lo harus lawan dia ka, jangan takut sama dia karena bokap nya yang kerja di Antero group. Terus nyali lo langsung ciut. Gue ada di belakang lo kok, kalau dia ngancem lo lagi" jelasnya.

__ADS_1


Arska tersenyum penuh arti. "Thanks ya bel, lo udah bantuin gue barusan, gue bener-bener nggak nyaman sama tuh.. cewek, dan gue juga salut sama tindakan lo barusan".


"Nyantai aja ka, kalau itu menyangkut hubungan lo sama Fella, gue pasti bantuin lo kok".


"Pokoknya Thanks banget bel, lo bener-bener bantuin gue. Gue udah pusing ngadepin tuh cewek" curhat Arska.


Bella hanya mengangguk, Hingga Faya muncul dari arah belakang. Nafasnya ngos-ngosan karena berlari, ia takut jika Bella terluka. "Lo nggak kenapa-napa kan bel, apanya yang luka?. Nanti kalau lo lecet, sedikit aja, Dady lo bisa ngamuk" ucap Faya panik sambil membolak-balikkan badan Bella.


"Lebay banget sih fay... gue udah gede, gue udah bisa jaga diri gue sendiri" celotehnya.


"Ya tapi..." belom sempat Faya melanjutkan ucapannya, Bella segera membungkam mulut Faya. Ia takut kalau sahabatnya itu bicara tentang identitasnya aslinya, ia paling tak menyukai jika orang lain mengetahui hal itu, yang ada kejadian delapan tahun yang lalu terulang kembali. Dimana ia harus di jauhi oleh teman-temannya karena mereka tak mau jika harus berurusan dengan Bos Mafia yang terkenal kejam, sekaligus pemilik perusaahan Antero Group. Perusahaan yang terkenal selalu merumitkan perusahan lain agar tak mendapatkan tender dari rekan bisnisnya. Bahkan sampai membuatnya menjadi bangkrut jika melawan Antero Group.


Mata Faya kini beralih memandang ke arah Brayu yang sedang bermesraan dengan cewek yang ada di sampingnya. Sedangkan Bella sibuk mengobrol dengan Arska tanpa mempedulikan keberadaan Brayu dan ceweknya itu. Panas hati melihat hal tersebut, Faya langsung memanyunkan bibirnya tanpa ada niatan ingin duduk. "Bel, pulang yuk...gue jadi ketularan Fella ni, gara-gara ngeliat pemandangan abstrak...mata gue jadi sakit".


Bella yang mendengar celotehan Faya segera melihat ke arah Brayu. Mata tanda tak bersahabat itu muncul kembali. "Bisa nggak sih lo... kalau mau mesra-mesraan, jangan di depan Faya?. Nggak bisa ngehargai perasaan cewek banget" ketus Bella.


"Elo... juga nggak bisa menghargai perasaan gue bel, jadi apa bedanya gue sama lo" celoteh Brayu.


"Maksud lo... lo suka sama Bella?" ucap Faya yang langsung menutup mulutnya.


"Iya... gue suka sama Bella...bahkan bisa di bilang gue sayang sama Bella. Gue bakalan taubat jadi play boy, kalau Bella mau nerima gue jadi cowoknya!" jelas Brayu.


"Tutup mulut lo... simpan khayalan lo buat jadi cowok gue, gue nggak bakalan suka sama lo sampai kapan pun" tegas Bella.


Faya melihat ke arah Bella, matanya mulai memerah. "Lo... tega bel, kenapa lo nggak ngasih tau ke gue hal yang sebenernya. Kenapa lo nggak jujur sama gue" ucap Faya dengan suara yang mulai serak. "Gue pikir lo sahabat gue!, ternyata lo nggak bener-bener nganggep gue" Faya mulai meninggikan nada bicaranya.


"Fay, gue nggak maksud buat nggak cerita ke elo, gue sengaja nggak bilang ke elo karena gue pengen ngejaga perasaan lo!" ucap Bella meyakinkan, tangannya memegang erat lengan Faya.


Faya yang tak bisa lagi menahan emosi dan air matanya segera menepis tangan Bella cukup keras. "Gue nggak butuh penjelasan lo bel, gue muak sama lo" celotehnya yang langsung berlari meninggalkan tempatnya. Sesekali ia mengusap air matanya yang jatuh menetesi pipinya.


"Elo harus cari waktu yang tepat buat bicara sama Faya bel" ucap Arska menenangkan Bella.


"Thanks ka buat sarannya, tapi gue nggak bisa tinggal diem gitu aja, Faya kalau ngambek tuh luar biasa" jelasnya dengan muka yang di tekuk, ia melirik sekilas ke arah Brayu. "Gue benci sama lo bray... bahkan lebih benci... daripada sebelumnya!!" ketus Bella, Brayu yang berdiri mencoba meraih tangan Bella, tapi Bella dengan cepat menepisnya, segera Bella meninggalkan tempatnya tanpa berpamitan.


"Gue... bakalan nunggu lo.. sampai lo ngebuka hati lo buat gue bel!!" teriak Brayu dengan kencangnya. Bella tak menggubris ucapan Brayu, ia berlari pelan hingga menabrak seorang cowok yang melintas didepannya. "Sorry...... gue nggak sengaja" ucapnya masih menunduk.


"Bella?... lo ngapain disini?, terus lo ngapain lari-lari" ucap cowok itu.


Bella mengangkat wajahnya. "Eh... elo vin, gue pikir siapa?, gue lagi ada masalah sama mantan lo, dia ngambek sama gue, bisa bantuin ngebujuk dia nggak?".


"Bisa... bisa, gue bisa bantu" ucap cowok tersebut, sebut saja Kevin.


Dengan sigap Kevin menarik tangan Bella dan mencoba mengejar Faya. Brayu yang melihat aksi tersebut langsung memukul meja hingga minuman yang ada di meja tumpah semua. "Sayang kamu apa-apaan sih" celetuk cewek yang ada di sebelahnya sebut saja Farah.


"Jangan pernah panggil gue sayang!. Gue bukan cowok lo!. Gue cuma manfaatin lo buat bikin cewek yang gue suka cemburu!" ucap Brayu tanpa dosa.


Farah yang sudah menahan kesal sejak tadi segera melayangkan tamparan di pipi kiri Brayu cukup keras. "Itu pun nggak sebanding sama sakit yang gue rasain. Lo bener-bener cowok brengsek yang pernah gue kenal" ucapnya segera meninggalkan Brayu dan Arska.


"Lo... nggak papa bray?" ucap Arska yang mencoba membantu Brayu duduk. "Seharusnya lo nggak boleh kasar gitu sama cewek. Dia juga punya perasaan bray".


"Gue ngerti ka, tapi gue kesel, ngeliat Bella gandengan sama cowok lain, sedangkan gue belom pernah kesampaian buat ngegandeng tangannya" cecernya.


"Cemburu boleh, posesif jangan. Apa lagi lo belom jadi siapa-siapanya" ucap Arska.


Brayu mengusap wajahnya dengan kasar, ia bingung harus bagaimana menghadapi sikap Bella yang semakin dingin terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2