
Fella sibuk meminta tanda tangan kepada para senior, sebenarnya tujuan utamanya adalah mencari Arska, tapi ia tak menemukan batang hidung kekasihnya itu sejak tadi, justru Fella terlihat sedang di sibukkan oleh para senior yang terus meminta nomor ponselnya.
"Gue... baru mau kasih tanda tangan gue, kalau elo mau ngasih nomor ponsel elo!" jelas cowok berambut agak keriting itu.
"Aku nggak punya nomor ponsel kak, kalau kakak nggak mau kasih ya udah, tapi balikin pena sama buku aku!" wajah datar tanpa ekspresi ia tunjukan di depan senior yang sejak tadi terus menggodanya.
"Cantik-cantik kok galak gitu sih, nggak takut cantiknya luntur," celoteh cowok yang berada di samping cowok berambut keriting tersebut.
"Kalau nggak mau ngasih tanda tangan, sini balikin pena sama buku aku kak, jangan jadi senior yang rese deh," nada suara Fella terdengar sewot, ia pun mengulang kata-kata yang sama.
Kedua cowok itu tersenyum sinis, menatap ke arah Fella dengan tatapan minatnya, sampai muncul lagi dua cowok rese teman kedua cowok yang sejak tadi mengganggu Fella.
"Wih... kalian baru main kucing-kucingan ya, kenapa nggak aja kita dari tadi sih," celotoh cowok berbadan ceking itu.
"Bening gini, boleh lah minta nomor ponselnya," sahut cowok berbadan jangkung yang baru juga datang bergabung.
"Ck..... nggak usah rese deh kak, waktu aku terbatas, kalau kakak-kakak ini nggak mau kasih tanda tangan kakak nggak masalah, aku bisa cari yang lain, tapi balikin pena sama buku aku kak," jelas Fella dengan wajah seriusnya.
keempat cowok itu terus saja mengerjai Fella, tawa mereka semakin menjadi-jadi karena Fella tak berhasil merebut pena dan bukunya kembali. Arska yang melihat kekasihnya terus saja di permainkan oleh para senior hingga tatapan mereka yang begitu minat menatap ke arah Fella membuatnya semakin geram. Arska benar-benar di ambang kemarahan rasa cemburunya mulai meninggi, dengan perasaan kesal bercampur emosi ia menghampiri para senior dan merebut pena serta buku yang menjadi tahanan mereka sejak tadi.
"Woy.... apa-apa lo, dateng-dateng ngajakin ribut," kata cowok berambut keriting yang tak terima dengan kehadiran Arska yang mengusik ke bahagian mereka.
"Kalian berempat nggak pantes jadi senior! Kalau terus mempermainkan mahasiswi baru kaya gini!" wajah datar Arska di tunjukkan di depan cowok tersebut, seakan ia tak takut jika dirinya akan terkena masalah, Arska merasa masa bodoh jika itu menyangkut kekasihnya.
"Dia kan anak semester tiga yang baru populer karena gantengnya bim, jadi perbincangan di sana sini," sahut teman jangkungnya.
"Ow... elo mahasiswa baru yang terus jadi sorotan mahasiswi di kampus ini. Tapi gue nggak peduli, elo udah ngerusak mood kita. Gue peringatin sama lo buat nggak jadi pahlawan kesiangan. Kalau elo mau cewek, tinggal pilih, di sana masih ada banyak kalau elo minat," tunjuk cowok berambut keriting itu tepat di depan wajah Arska.
Fella menghela nafasnya tak tahan juga jika kekasihnya itu terus menerus adu mulut dengan senior yang super duper rese itu, dengan segera Fella membuka suaranya.
"Ayang kemana aja sih? Aku dari tadi muter-muter nyari kamu keliling kampus, tapi nggak ngeliat kamu padahal aku mau minta tanda tangan. Alhasil malah ketemu kakak-kakak rese ini," ucap Fella dengan memajukan bibirnya, tangannya menggenggam erat jari-jari Arska, mengisyaratkan kalau cewek itu tak mau jika kekasihnya semakin emosi karena tingkah ke empat cowok rese itu.
"Maaf sayang, tadi aku baru ngumpulin tugas dari dosen dan belom sempet ngeliat kamu lagi," jelas Arska yang kini mengelus pucuk kepala rambut Fella dengan lembut.
Keempat cowok tersebut merasa canggung setelah mendengar sebutan dari kedua mulut bibir remaja yang ada di depannya saat ini. Mereka menelan saliva-nya merasa malu atas tindakan mencaci maki Arska.
__ADS_1
Ekor mata Arska menatap tajam ke arah empat pemuda tersebut. "Gue ingetin buat kalian, jangan sekali-kali ganggu tunangan gue! Karena gue nggak suka!" seru Arska yang kini menarik pergelangan tangan Fella pelan dan meninggalkan keempat cowok tersebut dengan sisa malu yang mereka punya.
"Anjir... gue pikir dia gay, karena nggak pernah minat sama cewek di kampus sini, bahkan si Cherry primadona kampus ini pun sempat beberapa kali di tolak mentah-mentah sama dia. Nggak taunya dia udah tunangan dan tunangannya bening gitu lagi," kata cowok bertubuh jangkung itu yang masih setia memandangi tubuh Arska dan Fella yang kian menjauh dan memasuki lorong-lorong kampus.
"Ck... udah ah... lupain, gue jadi ngerasa malu, udah bentak-bentak orang nggak jelas," balas cowok berambut keriting itu sebelum akhirnya melangkah pergi.
...•°•©inta Untuk Fella°•°...
Fella masih memajukan bibirnya merasa ia belum mendapat tanda tangan dari para seniornya, sejak tadi Arska tak membiarkannya pergi untuk meminta tanda tangan kepada para senior lain.
"Kamu kenapa cemberut? Jelek tau," kata Arska yang masih merasakan hatinya menggondok sejak tadi.
"Kamu ngesin," balas Fella yang tiba-tiba menghentikan langkahnya saat hampir sampai di depan kelas Arska.
"Kamu ngerasa ke ganggu, karena aku udah belain kamu tadi dari orang-orang yang menyebalkan itu?"
Fella langsung mengangkat buku tugas ospeknya yang belom ada tanda tangan satu pun di buku itu. "Kamu pengen aku kena hukuman karena nggak ada satu pun tanda tangan dari senior yang mampir ke buku aku ini," Fella menunjuk bukunya yang masih bersih tanpa noda itu.
"Hahaha.... kenapa kamu nggak bilang dari tadi sih ay," Arska tertawa sesaat sebelum akhirnya ia mengambil pena dan buku milik Fella.
"Mau kamu apa-in yang?" tanya Fella mendelik.
"Harus banget ya, kalau ospek ngerjain mahasiswinya kaya gini, kaya nggak ada kerjaan aja, udah kaya anak TK," gerutu Fella yang kini memilih duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sesekali Fella menghela nafasnya yang seakan berat, melihat kesana-kemari tapi hasilnya masih sama, ia tetap mendapat tatapan minat dari para seniornya, meski sudah bersikap cuek tetap saja ia terlihat cantik di mata yang menatapnya.
Tak butuh waktu lama untuk Arska memenuhi buku tersebut, hanya lima menit waktu yang di butuhkannya untuk memenuhi buku yang menjadi tugas Fella untuk menyelesaikan tugas ospeknya.
Arska mengembangkan senyumnya, sambil menyodorkan buka yang sudah terisi penuh oleh tanda tangan para senior dan juga namanya.
"Udah selesai, buruan balik, nanti kamu dapet hukuman gara-gara telat ngumpulin," katanya yang kini sudah duduk di sebelah Fella.
Fella membuka bukunya, betapa terkejutnya ia membuka lembaran demi lembaran, ternyata kekasihnya itu berkata jujur, ia sudah menyelesaikan tugas utamanya dan terhindar dari hukuman yang tak penting itu lagi.
"Ya ampun ayang, kamu pinter banget sih... baru lima menit tapi udah berhasil penuhin ini buku, coba kalau aku... mana bisa, yang ada malah di kerjain balik sama senior," keluh Fella.
"Coba liat tunangan kamu ini?" perintah Arska.
__ADS_1
"Udah aku liat," Fella menuruti perintah Arska, kepalanya manggut-manggut menikmati setiap inci paras Arska yang selalu membuatnya tersenyum setiap saat.
"Ganteng tidak?" tanya Arska dengan pedenya.
"Ganteng.." Fella mengikuti setiap ucapan yang keluar dari mulut bibir Arska.
"Ya karena ini, makanya aku cepat banget dapetin tanda tangan mereka."
Fella mencebirkan bibirnya merasa kekasihnya itu terlalu narsis dalam berucap, meskipun hal yang di ucapkan memang benar.
"Jangan suka pasang muka kaya gitu, mereka pada minat sama kamu karena kamu makin cute kalau kaya gini," Arska mencoba memperingati kekasihnya itu agar tak berekspresi terlalu jauh, karena ia bisa benar-benar bisa gila karena menahan cemburu jika Fella benar-benar menjadi primadona kampus.
"Ya udah.... berhubung tugas aku udah kelar, aku mau balik dulu ya yang," pamit Fella seraya tersenyum. Senyumnya selalu menjadi obat penawar untuk Arska jika hatinya sedang gelisah.
Arska mengangguk kecil, senyumnya semakin merekah di kala ia mendapati kekasihnya tersenyum lebar menatap ke arahnya.
"Ingat... jangan suka tebar pesona," jelas Fella memperingati.
"Siap."
Fella segera berdiri dari duduknya, sekilas menatap kekasihnya dengan tatapan manjanya, berhubung waktu yang di berikan kakak pembina tak terlalu banyak lagi Fella segera berlari meninggalkan Arska yang tengah duduk sendirian sembari menatap punggung Fella yang kian menjauh.
"Woy.... siapa tuh cewek ka, boleh lah kenalin ke kita," ucap Aldo teman satu jurusan Arska.
"Kayanya bakalan jadi incaran gue selanjutnya," sahut Make.
"Dia adik lo ya ka? Boleh lah gue minta nomor ponselnya, biar bisa lebih akrab," ujar Rendi.
"Bening gitu... siapa yang nggak terpikat, jantung gua aja deg-degan dari tadi," Timpal Bejo yang baru bergabung.
Baryu yang mendengar dari balik pintu kelas segera keluar dengan tangan berada di kedua saku celana pendeknya. "Kalian cari mati kalau sampai berani deketin itu cewek," kata Brayu mencoba meningkatkan.
Keempat cowok itu segera menoleh ke arah Brayu tatapan mereka benar-benar sinis setelah mendengar ucapan Brayu. "Kenapa?" ucap mereka kompak.
"Arska aja nggak keberatan kita deketin cewek itu," ucap Make yang sejak tadi penuh minat mendekati Fella.
__ADS_1
Hati dan telinga Arska seakan terbakar mendengar celotehan dari keempat pemuda yang juga satu jurusan dengannya. "Karena dia tunangan gue! Sekali kalian berani deketin dia! Gue bakalan pastiin kalian nyesel," ucap Arska yang langsung menyambar tas ranselnya dan masuk ke dalam kelas dengan perasaan kesalnya.
Merinding juga mendengar ucapan Arska yang begitu serius, mereka tak berani bersuara lagi.