Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Bahan Bullyan!!


__ADS_3

Priska telah meminta orang untuk menyelidiki identitas Brayu, gadis itu ingin membuat Bella kehilangan sesuatu yang sangat berharga di dalam hidupnya. Bahkan Priska memiliki rencana gila dan licik untuk menjebak kedua orang tua Brayu agar masuk kedalam perangkap yang di buatnya. Gadis itu tersenyum puas, setelah mengetahui data-data yang di berikan oleh orang suruhannya mengenai lelaki yang sangat dekat dengan Bella tersebut.


"Ternyata nggak perlu repot-repot. Kali ini rencana gue pasti berhasil!" ucapnya pada diri sendiri. Priska membolak-balikan kertas yang saat ini sudah berada di tangannya, mengetahui jika keluarga Brayu bekerja sama dengan perusahaan milik Ayahnya, semakin besar peluangnya untuk masuk kedalam kehidupan Brayu itu sangatlah mudah.


"Apa yang lo miliki, bakalan jadi milik gue! Gue nggak akan tinggal diam! Gue bakalan rebut semua kebahagiaan yang elo miliki! Gue bakalan bikin lo sehancur-hancurnya Bella, biar lo tau gimana sakit hatinya gue waktu itu. Ngerasain patah hati sampai lo nggak sanggup apa-apa." Gadis itu seperti tak waras, sesekali marah-marah tak jelas, sesekali ia tertawa seperti kehilangan akal sehatnya.


Priska memandang foto Bella dengan tatapan benci dan dendam. Gadis itu membanting bingkai foto yang di sana terdapat foto Bella bersama dengannya, entah mengapa ia semakin menjadi lebih gila dengan adanya Bella yang semakin bahagia, sedangkan dirinya tidak. Rasa iri-nya kian timbul seiring berjalannya waktu, ia tak mengikhlaskan kepergian Ferdy begitu saja, ada rasa berkecambuk didalam lubuk hatinya. Bahkan ia pun belum sempat mengungkapkan isi hatinya kepada Ferdy, namun Ferdy terlebih dahulu pergi untuk selamanya.


"Gue benci sama lo Bel, sampai kapan pun gue nggak akan maafin elo!" Gadis itu berteriak-teriak kembali, emosinya menjadi-jadi. Bahkan seluruh benda yang ada di hadapannya pun habis karena di lembarnya ke sembarang arah, senyum sinis-nya muncul kembali, setelah menghancurkan benda-benda mahal milik ayahnya. Sudah menjadi kegiatannya setiap hari, jika tak mengamuk, gadis itu tidak akan pernah berhenti untuk menyakiti dirinya sendiri. Orang tuanya sudah pasrah, apa pun yang di minta oleh anaknya itu, mereka pasti akan memenuhinya, bagaimana pun caranya, asal Priska tak menyakiti dirinya sendiri seperti yang dulu.


...°•°Cinta Untuk Bella°•°...


Saat mereka semua berkumpul dengan candaan mereka, Faya datang dengan kaki tertatih untuk menghampiri mereka. Setidaknya gadis itu harus meminta maaf kepada Bella, karena semalam ia tak berpamitan untuk meninggalkan pesta lebih awal.


"Hay," sapa Faya saat sudah berada di hadapan mereka.


Mereka langsung mengarah ke sumber suara, dengan mata yang kompak melebar pun mereka langsung bertanya, mengetahui kondisi Faya yang sungguh memprihatinkan.


"Lo kenapa Fay?" tanya Fella dan Bella kompak.


Seulas senyum terbit di sana. Gadis itu masih memaksakan diri untuk tersenyum sebisa mungkin, itu yang di ajarkan Kevin semalaman. "Gue kan juga pengen kaya kalian, bisa jaga diri sendiri. Semalam gue di todong sama preman. Gue coba ngelawan mereka, tapi hasilnya kaya gini." Faya mengangkat kedua bahunya.


"Loh... bukannya kamu semalam kelihatan nggak papa?" tanya Aldy sedikit bingung dengan luka yang ada di tubuh Faya secara tiba-tiba.


"Lo semalam juga ada di sana?" tanya Fella dengan kening berkerut.


"Iya, gue bantuin Faya bentar, tapi gue nggak tau kalau Faya sampai terluka separah ini."


Faya melihat luka pada pergelangan tangannya. "Nggak papa kok, cuma luka kecil, cuma satu jahitan mungkin beberapa minggu juga udah sembuh," ucapnya dengan memaksakan senyum.


"Sampai di jahit gini sih Fay?" ekspresi wajah Fella dan Bella seketika sedih.


"Terus semalam siapa yang bawa lo ke dokter? Aldy?" tanya Bella penasaran.

__ADS_1


Menggeleng. "Kevin," ucapnya tanpa melihat ke arah Aldy, gadis itu membuang wajahnya.


"Lo! Gimana sih! Mata lo di taruh dimana! Luka kaya gini kok nggak apa-apa!" ketus Bella dengan ekspresi wajah sadisnya.


"Keterlaluan lo dy! Biar pun Faya cuma mantan lo! Nggak seharusnya lo kaya gitu ke dia, bantuin kek. Sesama manusia juga." Dilan ikut menyalahkan Aldy.


"Tapi yang terlihat luka itu Zea," balas lelaki itu, dengan wajah bersalahnya.


"Lain kali, lo harus liat yang bener, kalau kedua-duanya butuh bantuan. Lo langsung tolongin keduanya lah! Jangan mentang-mentang lo baru deket sama Zea. Lo cuma peduli sama satu cewek doang!" Arska ikut membuka suara.


Mereka semua sibuk menyalahkan Aldy, sedangkan Faya memijat pelipisnya yang masih terasa ngilu karena luka memar di bagian keningnya. "Udah.... kalian jangan nyalahin orang lain terus, gue juga nggak papa kan!" seru Faya masih dengan posisi yang sama, gadis itu enggan menatap ke arah Aldy.


Faya menghela napasnya berkali-kali, sepertinya ia sudah harus move on dari lelaki plin-plan tersebut. "Gue pulang dulu ya, gue izin beberapa hari nggak masuk kampus," katanya yang langsung berdiri.


Aldy mendongak, lelaki itu langsung menawarkan diri untuk mengantar gadis tersebut pulang. "Biar aku anterin pulang Fay, sekalian nebus kesalahan aku semalam ke kamu!" ucapnya dengan mata sayu.


Lagi-lagi Faya menggeleng. "Nggak perlu kak, lagian aku juga mau ke rumah sakit dulu."


"Biar sekalian aku anterin." Aldy cukup memaksa.


Semua mata melirik ke arah Kevin. "Cie.... sampai buru-buru gitu," ledek Fella dan Regina bersamaan.


"Udah... udah... nikahin aja Vin," celoteh Bella.


Mata Faya melirik ke arah gadis itu dengan mata melotot. "Bella!"


Bella nyengir kuda, gadis itu sengaja meledek mereka berdua agar bisa melihat reaksi Aldy bagaimana.


"Maunya juga gue nikahin secepatnya Bel, tapi Faya belum siap."


Plak.... plak...


"Kevin! Jangan mulai lagi!" seru Faya yang langsung membungkam mulut Kevin dengan tangan kirinya.

__ADS_1


"Berhubung, tukang ojek gue udah dateng. Gue balik duluan ya!" kata Faya dengan senyum terpaksa-nya.


"Oke... hati-hati," jawaban yang kompak dari mereka.


Hanya Aldy yang terdiam dan mengepalkan tangannya. Lelaki itu begitu tak suka dengan kehadiran Kevin.


Faya langsung menarik tangannya kembali, sambil Kevin memapah gadis itu. Karena memang jalannya tak seimbang, namun Kevin masih saja mengomel dan mengerutuki Faya karena telah membungkamnya tadi. Membuat mereka menjadi pusat perhatian lagi oleh teman-temannya.


"Gue nggak bisa bayangin kalau mereka jadi suami istri," celoteh Bella saat matanya masih menatap punggung Faya dan Kevin.


"Sama Bel, gimana jadinya coba? Tiap hari nggak akur, ada aja yang di bahas," sahut Fella.


"Emang mereka kenalnya udah lama?" tanya Regina.


"Udah lama banget, dulu sempat mau lamaran, tapi gagal gara-gara sikap Faya yang masih egois, jadi batal deh," ucap Bella.


"Tapi seru deh kayaknya kalau mereka beneran nikah, pasti banyak banget hal-hal yang nggak terduga dari pasangan absurd kaya mereka."


"Tunggu deh, gimana sama elo dan Brayu kalian kan sama-sama absurd juga. Kalau kalian nikah pasti nggak jauh beda dari mereka," kata Fella menduga-duga.


"Woy... siapa yang mau nikah sama dia! Istri lo gue jadiin kambing guling lama-lama Ka! Kalau ngatain gue terus!" seru Bella dengan tampang nyolotnya.


"Hubby.... aku kena omel Bella lagi," ucapnya dengan suara manja, perempuan itu langsung memeluk suaminya di depan umum.


"Dasar pengantin baru nggak ngerti tata krama, main peluk-peluk di depan umum aja, di kira yang lain nggak minder apa?" gerutu Regina saat melihat aksi Fella tersebut.


"Jangan dong Bel, kita baru anget-angetnya jadi pengantin baru, masak lo tega mau jadiin istri gue kambing guling. Gue nggak ikhlas lah," katanya yang langsung membalas pelukan dari istrinya. "Makanya lo buruan nikah biar nggak minder ngeliat yang halal pelukan kaya gini!" seru Arska meledek.


"Semenjak kalian nikah, lebay-nya itu semakin kelihatan tau!" Seru Bella.


"Apa lagi elo! Yang awet ngejomblo, makin baper ngeliat yang kaya ginian. Gue yang nunggu janur kuning aja bapernya sampai ke awang-awang." celoteh Dilan ngasal.


"Terserah lo mau ngebully gue apa! Mau sampai ubun-ubun kalian berjerawat pun gue nggak peduli!" Gadis itu melirik ke arah Beryu dengan menyipitkan matanya.

__ADS_1


Tanpa perlu berkomentar, Baryu hanya tersenyum melihat wajah memerah Bella saat meliriknya. Mereka semua tertawa tanpa dosa, membully anak Tuan Rahendra itu sangat menyenangkan apa lagi jika gadis itu gelagepan tak bisa menjawabnya. Hingga suara keras terdengar dari meja yang di duduki oleh Aldy. Sepertinya lelaki itu mulai terbawa emosi, tanpa berpamitan dan berkomentar sedikit pun. Aldy berlalu lalang begitu saja. Membuat semua orang yang berada di sana bertanya-tanya akan sikapnya yang sering berubah-ubah.


__ADS_2