
Arska memasuki kamar dengan langkah pelan, lelaki itu takut jika membangunkan istrinya yang sudah terlelap dengan sebuah buku yang masih menempel di atas dada. Perlahan, lelaki itu mulai melangkahkan kakinya mendekati Fella yang tertidur di atas sofa yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat tidur. Arska menatap wajah istrinya lamat-lamat, sangat manis dan juga sangat polos. Melihat tidur istrinya yang nampak damai membuat rasa lelahnya menghilang dengan seketika.
Dengan perlahan Arska mengambil alih buku dalam genggaman Fella. Nampaknya istri Arska itu tak merasa terusik, karena terlihat dari raut wajahnya yang masih tenang dalam tidurnya. Lelaki itu menyimpan novel yang sempat di baca Fella di atas meja yang terletak tak jauh dari sofa yang di tempati istrinya itu. Selanjutnya, Arska beralih ke tubuh mungil istrinya, menggendongnya ala bridal style guna memindahkan ketempat tidur yang lebih nyaman. Bukannya terusik Fella justru mencari posisi nyaman, menyembunyikan wajahnya di bali dada bidang suaminya itu, membuat Arska melebarkan senyumnya.
Dengan perlahan Arska memindahkan tubuh Fella ketempat tidur, setelah memastikan Fella nyaman dengan posisinya, Arska berniat menjauh untuk memasangkan selimut pada tubuh istrinya, namun siapa yang menyangka jika Fella justru menahan tangannya, membuat si pemilik menoleh kearahnya dengan alis yang terangkat sebelah.
"Jangan pergi," gumamnya pelan.
Arska dapat mendengarnya dengan jelas. Lelaki itu tau jika Fella pasti hanya mengigau sebab matanya masih terpejam, ia tau jika istrinya sangat merindukannya, sebab beberapa hari ini Arska selalu di sibukkan oleh urusan di distro-nya yang semakin hari semakin ramai, membuat waktu berdua-nya bersama Fella sedikit tersita. Fella semakin mempererat genggamnya seakan tak ingin melepaskan.
"Aku mohon jangan pergi," Fella kembali bersuara dengan mata yang masih terpejam.
"Dasar manja," gumamnya pelan seraya mendekati tepi ranjang. Lagi lagi senyum Arska mekar mendapati istrinya yang begitu manja walaupun dalam keadaan tertidur.
Fella langsung memeluk tubuh tegap suaminya. Membuat lelaki itu hanya bisa menggelengkan kepalannya melihat kelakuan istrinya saat terlelap. Perlahan Arska mulai membalas pelukan Fella, terlihat sangat jelas jika Fella sangat nyaman berada di dalam pelukannya. Biarlah malam ini kita seperti ini dan esok aku kan memberimu sedikit hukuman, pikirnya sejenak.
"Have a nica dream, sayang." gumamnya seraya mengecup pucuk kepala Fella dan akhirnya memilih untuk memejamkan mata dan menyusul Fella yang sudah menyelami alam mimpinya.
__ADS_1
Pagi telah tiba, mentari sudah menampakan sinarnya. Sekarang adalah hari minggu jadi Fella sengaja tak membangunkan Arska yang masih terlelap di sebelahnya. Tadinya Fella sedikit terkejut dengan adanya Arska yang tidur di sebelahnya, sebab ini kali pertamanya perempuan itu melihat wajah tampan suaminya masih terlelap, jika hari biasanya ia selalu bangun tanpa adanya Arska di sebelahnya, kali ini sungguh berbeda. Fella mengembangkan senyumnya seakan tak rela meninggalkan tempat tidurnya. Rasanya Fella ingin mempertahankan posisinya ini, ingin berlama-lama memandangi wajah tampan Arska.
Tangan Fella bergerak untuk membelai ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di hadapannya saat ini.
"Wajah yang sangat tampan, aku beruntung menjadi istri mu," gumamnya pelan agar tak mengusik tidur Arska.
Perempuan itu mengamati setiap inci dari wajah suaminya. Jari lentiknya menyentuh kedua alis tebal Arska secara bergantian, kemudian turun ke hidung setelah itu tangan Fella perlahan turun dan mengusap bibir merah muda yang sejak tadi di tatapnya. Namun, kegiatannya itu terhenti saat sebuah tangan besar mencekal tangannya dan menggenggamnya cukup erat. Tatapan mata Fella beralih menatap mata Arska yang masih terpejam namun perlahan mulai terbuka.
Netra kelam Arska bertemu dengan netra sebening embun milik Fella. Jantung Fella tiba-tiba terpacu sangat cepat, rasa gugup bercampur malu karena ke-gep saat diam-diam memperhatikan wajah tampan suaminya. Dari wajahnya mulai terlihat rona memerah, padahal ini bukan kali pertamanya Fella melakukan hal tersebut. Namun, yang membuat Fella menjadi salah tingkah dan gugup adalah tindakannya diketahui langsung oleh Arska, dan ini kali pertamanya Arska melihat tindakan konyolnya itu.
Perempuan itu mengangkat wajahnya, debaran jantungnya sedikit menetral saat mendengar ucapan Arska yang begitu menggoda namun tepat. Fella langsung mengulum senyumnya, memang benar perkataan Arska, jadi dia pun tak bisa memungkirinya.
"Kenapa?" tanya Arska masih dengan posisi miringnya menghadap Fella.
"Kangen," balasnya cepat dan tak ingin bosa-basi.
"Duh, istri ku ini belajar ngegomabal dari mana sih, masih pagi udah ngegombal, lagian baru beberapa hari aku tinggal. Udah kangen aja," ucapnya seraya menarik tubuh mungil Fella kedalam pelukannya.
__ADS_1
Fella menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya, perempuan itu tak bergeming sama sekali, bahkan untuk membalas ucapan Arska barusan rasanya dia enggan, ia memilih untuk meluapkan rasa rindunya di dalam pelukan lelaki tersebut. Aroma wangi dari tubuh lelaki itu masih tercium, meskipun dia belum mandi sekalipun, membuat Fella semakin hanyut dalam pelukannya.
"Se-rindu ini ya istri ku, sampai semalam aku nggak di izinin pergi, bahkan buat ke kamar mandi untuk cuci muka pun aku nggak di bolehin." cicit Arska mencoba mengingatkan memori Fella tentang kejadian semalam.
Mata Fella membola ketika mendengarkan ucapan Arska, perempuan itu mendorong pelan dada bidang milik suaminya. Dengan mengangkat sedikit kepalanya Fella memandang Arska dengan pikiran Sejak kapan aku mengatakan kalimat itu? Aku bahkan merasa tidak pernah mengatakannya? pikiran Fella di buat bertanya-tanya karena ucapan suaminya itu.
"Aku nggak ngerasa...."
Belum sempat Fella melanjutkan kalimatnya, Arska terlebih dahulu menukasnya. "Jadi kamu lupa? Perlu bantuan aku buat ingetin?" tanyanya namun Fella hanya terdiam di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun.
"Oke, aku ingetin ya Sayang." ucap Arska bersemangat, lelaki itu mulai mendekatkan dirinya pada Fella. Sementara Fella masih menunggu suaminya akan melakukan apa. Jantung Fella kembali berdetak dengan cepat seiiring mendekatnya Arska. Dapat Fella rasakan hembusan napas Arska yang menerpa pipinya membuat bulu kuduknya meremang dengan seketika. Apa mungkin Arska akan melakukan hal itu, pagi-pagi? pikiran Fella kembali melayang. Sebab, apa yang di lakukan Arska sekarang benar-benar memicu adrenalin-nya.
Kini Fella memejamkan matanya kembali, ia pasrah jika suaminya akan melakukan sesuatu terhadap dirinya. Hingga, sebuah beda kenyal menyentuh tepat di bagian bibirnya. Fella langsung membuka matanya. Ternyata ini yang di maksud Arska adalah ciuman. Membuat pikiran ku tak karuan saja, batin Fella menggerutu, namun masih menikmati ciuman yang di berikan oleh Arska.
"Morning kiss," ucapnya singkat seraya beranjak dari posisinya dan memilih untuk masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok giginya.
Selepas kepergian Arska, Fella memegangi dadanya. "Bikin kaget aja, aku pikir kita mau anu.." gumam Fella pelan, perempuan itu mulai berpikir yang tidak-tidak hingga raut wajahnya berubah menjadi merah akibat pikiran yang tak karuan. Fella menjadi salah tingkah sendiri akibat pikirannya yang terlalu menjerumus kearah intim.
__ADS_1