
Fella yang merasa tidak enak badan segera mengajak Arska untuk kembali ke Villa. "Balik yuk yang, kepala ku tiba-tiba sakit lagi," keluh Fella sambil memegangi lengan Arska.
Arska belum juga membuka suaranya ia masih sibuk mengamati kekasihnya sambil menyingkirkan poni yang menutupi mata indah milik Fella, Arska menganggukkan kepalanya pelan seraya meraih tangan kiri Fella. "Gue balik ke Villa duluan ya, tuan putri gue lagi nggak enak badan," pamit Arska yang langsung melangkahkan kakinya meniggalkan danau.
"Oke.... ati-ati ka," sahut Aldy.
"Siap...." ucap Arska yang langsung mengangkat tangan kanannya.
Terdengar celotehan dari teman-temannya yang tertangkap oleh pendengarannya, sesaat setelah Arska melangkahkan kaki sambil terus menggandeng tangan Fella.
"Bilang aja mau berduaan," celoteh Brayu cukup keras.
"Biar sweet kan emang harus gitu," timbrung Faya.
"Udah.....udah... para jomblo mending diem, jangan ganggu orang mau romantis-romantis-san dong," timbal Regina yang menghentikan celotehan para jomblo.
"Ya....ya.... yang baru punya pasangan beberapa jam yang lalu langsung sombong. Pamer aja terus...." sahut Brayu yang tak terima dengan celotehan Regina.
"Hahaha.... apa sih bray," ucap Regina yang langsung menutup mulutnya.
Arska dan Fella hanya geleng-geleng mendengar hal tersebut, mereka berdua masih saja fokus dengan langkah kaki yang berjalan serempak. Sampai di Villa Fella langsung mengambil air putih yang ada di dalam kulkas. Tapi tangan kanan Arska segera merebutnya. "Kalau pusing nggak boleh minum yang dingin-dingin sayang," nasehat Arska.
Ekspresi wajah Fella yang datar serta mata sayu nya sangat jelas terlihat oleh Arska. "Pelit...." kata-kata itu yang keluar dari mulut Fella sebelum akhirnya Fella meniggalkan Arska.
"Demi kebaikan kamu juga sayang, jangan ngambek ya," ucapnya dengan langkah cepat menyusul Fella.
"Kamu ngeselin."
"Aku perhatian gini kok di bilang ngeselin sih sayang," protes Arska yang langsung melirik ke arah dapur. "Mau aku bikinin coklat panas, biar rileks," tawar Arska.
"Boleh sayang kalau nggak ngerepotin kamu sih," suara Fella terdengar paruh, karena memang suaranya sedikit serak akibat semalaman menangis.
"Tentu nggak ngerepotin sayang. Kamu duduk di sofa dulu ya, aku bikinin coklat panas sepesial penuh cinta buat orang yang paling sepesial di hati aku juga."
"Lebay...." ucap Fella yang langsung melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu.
Arska tersenyum sinis setelah mendengar ucapan dari kekasihnya itu, buru-buru ia pergi ke dapur untuk membuatkan secangkir coklat panas spesial.
Lima menit kemudian Arska menaruh coklat hangat itu tepat di hadapan Fella. "Buruan di minum keburu dingin yang, nanti nggak enak," perintah Arska dengan merendahkan nada bicaranya.
"Makasih yang, tapi lidah aku nggak selera kalau masih panas. Takut lecet."
Arska tersenyum tipis sebelum akhirnya menggenggam erat tangan Fella yang begitu tiba-tiba. Terlebih saat Arska tersenyum sambil terus memandang lekat ke arah matanya, membuat debaran jantung Fella semakin cepat. "Kamu ngapain ngeliatin aku sampai segitunya sih yang?"
Arska makin tersenyum dan tak kunjung menjawab pertanyaan Fella. Kali ini tangan Arska bergerak menyelipkan rambut Fella ke balik telinga. Seolah tidak membiarkan sesuatu sekecil apa pun yang menutupi kecantikan kekasihnya. Fella masih tidak bergerak. Matanya mengerjap beberapa kali demi menemukan kembali kesadarannya. "Arska...." ucapnya pelan dengan jari yang siap mencubit pinggang Arska, dan bener sebuah cubitan itu meluncur ke pinggang Arska.
"Aw... sakit sayang, udah di bikinin coklat panas masih cubit aku, awas aja ya !!" seru Arska dengan tangan yang masih memegangi sisi pinggangnya.
"Salah sendiri di tanya malah bengong."
__ADS_1
"Aku lagi fokus ngeliatin tunangan aku yang makin hari makin cantik ini."
"Idih... gombal aja terus," seulas senyuman muncul di sudut bibir Fella, nampaknya ia mulai tergoda dengan ucapan Arska yang terus menggombalinya.
"Ngapain senyum-senyum kalau nggak mau aku gombalin," ledek Arska yang kini tengah memainkan ujung rambut Fella dengan jari telunjuknya.
"S-siapa juga yang senyum, orang datar gini," elak Fella yang langsung menggigit bibir bawahnya karena kesal dengan ledekan kekasihnya itu.
"Berarti pusingnya udah hilang dong ay?".
"Masih pusing sedikit," jawab Fella seraya memegangi pelipisnya.
"Aku pikir cuma pura-pura pusing biar bisa berduaan," ledek Arska sambil terus memandang ke arah Fella.
Fella yang sedikit gugup mendadak gagu mendengar ledekan yang di lontarkan untuk dirinya. "A-apa sih yang, beneran pusing kok."
"Ya...ya... aku baru tau kalau orang pusing bisa bicara dengan nada tinggi sambil jail lin jarinya buat cubit tunangan sendiri."
Mata Fella melotot. "Bibir aku kering gini masak kamu nggak bisa lihat," ucap Fella sambil menunjuk bibirnya yang memang benar-benar kering.
Mata hazel Arska segera mengarah ke arah bibir yang di tunjuk kekasihnya itu. "Ini mah... kurang vitamin C," celotehnya dengan tangan yang langsung memangut dagu Fella.
"Vitamin C?" ulang Fella.
"Iya sayang, kurang vitamin cium," seru Arska yang langsung mencium bibir mungil yang ada di hadapannya saat ini. Cukup lama hingga Fella membelalakkan matanya dengan sangat lebar. Arska melepaskan ciumannya. "Tuh... bener kan kurang vitamin cium, buktinya setelah aku cium pipinya jadi merah padam gitu," tunjuk Arska yang langsung memalingkan wajahnya ke sudut lain, ia menahan tawanya karena mendapat kesempatan emas untuk mencium tunangannya itu.
Fella memegangi bibirnya dengan sedikit menggigit bibir bawahnya. "Arska ngeselin," teriak Fella yang langsung memukul pelan pundak kiri tunangannya.
"Jahat.... nyari kesempatan terus."
"Enggak jahat.... namanya aku ngasih perhatian lebih ke kamu, biar kamu nggak sakit lagi sayang," jelas Arska seraya mengacak-acak rambut Fella dengan gemasnya.
"Tau ah.... nyebelin," cetusnya sambil meraih secangkir coklat yang ada di depannya.
"Enak?" ucap Arska dengan posisi yang masih menghadap ke arah Fella.
Fella mengangguk. "Enak," matanya kini melihat ke arah Arska.
"Siapa dulu yang bikinin, spesial penuh rasa sayang," seru Arska dengan bangganya.
"Pabrik,"
Mata Arska membulat. "Pabrik?".
"Iya... pabrik yang buat lah..bukan kamu," jelas Fella sambil menjulurkan lidahnya.
"Aku gitu yang buatin tadi," protes Arska tak terima.
"Takarannya kan dari pabrik, kamu kan tinggal nyedu" ledek Fella sekali lagi seraya meletakan kembali cangkirnya ke atas meja.
__ADS_1
Arska menyipitkan masih tak terima dengan ledekan yang terlontar dari mulut kekasihnya, hingga matanya beralih memandang ke sudut bibir Fella yang masih tersisa bekas coklat yang di minumnya tadi. Tangan kananya mulai memangut dagu gadis yang ada di sampingnya itu dan sebuah ciuman manis mendarat di bibir Fella dengan lembutnya. Arska memejamkan matanya sesaat, ternyata Fella tak mempermasalahkan hal tersebut, di liriknya sekilas ternyata kekasihnya itu juga melakukan hal yang sama dengan dirinya, Fella juga memejamkan matanya, sungguh sentuhan yang luar biasa yang Arska berikan untuk kekasihnya itu. Debaran jantungnya kini terdengar sangat jelas di telinga mereka masing-masing, sepasang kekasih yang baru di mabuk cinta ini kini telah melepas rindu untuk waktu yang cukup lama. Puas dengan hal yang di lakukan, Arska segera melepaskan ciumannya. "Ada sisa coklat di bibir kamu yang, sayang kalau nggak di bersihin."
Fella membuka matanya seraya memegangi dadanya yang masih berdebar. "Astagfirullah, jantung ku," seru Fella yang masih memegangi dadanya yang serasa ingin melompat, ia menelan saliva nya seraya menghembuskan nafasnya secara perlahan.
Arska makin cekikikan melihat gadis di sampingnya itu makin salah tingkah akibat ulahnya. Bernafas lega sudah pasti, karena itu keinginan Arska sejak ia terpaksa menjauhi kekasihnya karena ulah Mona. "Jangan tegang gitu, lagian kita ciuman nggak cuma sekali atau dua kali."
"Kamu tuh ngeselin tau nggak yang. Suka banget ya cium orang tanpa permisi dulu," bibir Fella mengerucut.
Arska tertawa kecil. "Kamu kan tunangan aku, bukan orang lain lagi sayang."
"Ya terus kalau tunangan kamu, bisa gitu seenaknya cium cium tanpa permisi dulu sama pemiliknya," seru Fella bersedekap dada, ia menampilkan wajah cemberutnya.
"Kalau permisi dulu nggak bakalan di izinin sama pemiliknya, soalnya pemiliknya galak," celoteh Arska seraya menarik hidung mancung Fella dengan pelan.
"Harus banget ya narik hidung aku," protes Fella dengan wajah memelas nya.
"Hahaha.... jangan memelas gitu lah yang, aku makin gemes ngelihatnya."
"Gemes aja terus, biar nggak lari ke lain hati."
"Hati aku udah aku kunci cuma buat kamu jadi nggak mungkin lari."
"Gombalnya nggak terkondisikan dan makin menggila."
"Ya ampun, nggak percayaan banget tunangan aku ini, belah dada aku kalau kamu nggak percaya," seru Arska yang langsung melebarkan dadanya.
"Bercandanya udahan dong sayang, aku sama sekali nggak terhibur ini," seru Fella yang langung memijat pelipis keningnya dengan pelan.
Arska menaruh tangannya di pundak Fella. "Coba deh ay, liat wajah aku," perintah Arska yang masih menatap ke arah Fella.
Fella melakukan hal yang di perintahkan oleh Arska, ia menatap wajah Arska dengan seksama. Senyum memikat Arska mulai menghiasi wajah tampannya. Fella seakan terhipnotis oleh ketampanan kekasihnya, sedetik pun ia tak berkedip.
"Ganteng nggak?" celoteh Arska dengan senyumnya.
Fella mengangguk-anggukan kepalanya pelan. "Ganteng..." Fella masih fokus menatap wajah Arska.
"Coba cium aku ay," lanjutnya.
Seakan terhipnotis oleh ucapan kekasihnya, Fella langsung mengikuti perintahnya tanpa berpikir panjang. Fella mendekatkan wajahnya ke arah wajah Arska dan cup, sebuah kecupan mendarat di bibir Arska.
Arska makin cekikikan, setelah rencananya berhasil. "Gimana ay?, impas kan sekarang, aku udah izinin kamu cium aku," ucap Arska dengan bangganya.
Seakan tersadar Fella langsung memukuli kepalanya pelan. "Ih.... kenapa otaknya nggak jalan sih, mau aja nurutin omongannya Arska."
Arska segera meraih tangan Fella. "Jangan di pukul lagi sayang nanti pusing lagi."
Fella melihat ke depan. "Kamu nyebelin Arska."
"Aku nggak nyebelin sayang, aku tuh sayang sama kamu," ucap Arska yang langsung mencium kening Fella, ia menarik tubuh Fella agar jatuh kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Arska Aregan jahat...." terik Fella yang kini membenamkan wajahnya di dada bidang milik kekasihnya.
Entah bagaimana cara mengekspresikan perasaan mereka saat ini yang mereka tau adalah berdua itu lebih menyenangkan.