Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Gara-gara Mie Instan


__ADS_3

Aku jatuh cinta kepada dirinya


Sungguh-sungguh cinta


Oh... apa adanya


Tak pernah meragu


Namun tetap selalu menunggu


Sungguh aku jatuh cinta kepadanya


Bibir mungil Fella terus melafalkan lirik lagu, mengikuti sebuah musik yang kini telah mengalun indah melewati ponsel yang di simpan di sebelahnya, dengan mata yang di sibukkan oleh sebuah novel yang sekarang ada di tangannya.


Arska yang kala itu hendak memasuki kamarnya mengurungkan niatnya saat mendengar suara indah istrinya yang sudah lama tak ia dengar semenjak mereka menikah.


Krek


Arska tak sengaja mendorong pintu kamarnya hingga terbuka. Fella yang tadinya fokus membaca dalam hati mengalihkan atensinya menatap Arska yang sedang menatap dengan cengiran-nya.


"Kamu kenapa, yang?" tanya Fella. Ia menghentikan musiknya dan menyimpan bukunya lantas berlalu menghampiri Arska yang masih setia di posisinya, depan pintu kamar.


"Aku lapar, yang," ujarnya seraya memegangi perut ratanya dengan ekspresi memelas.


Mendengar hal itu Fella langsung menepuk keningnya pelan. Ia lupa tidak memasak makan malam lantaran dirinya tidak lapar. "Aku lupa masak, maaf ya ayang," wanita itu merasa bersalah. Terlihat jelas dari matanya yang menyendu.


"Nggak papa sekarang masakin aku ya," pinta Arska yang langsung di balas anggukan oleh Fella.


"Ayo kita ke dapur." Fella sudah berlalu mendahului Arska keluar dari dalam kamarnya. Arska pun mengikutinya istrinya dari belakang layaknya anak kucing yang sedang mengikuti induknya.


Setibanya di dapur, Arska mendudukkan dirinya di kursi mini bar yang masih menyatu dengan kitchen set. Sementara Fella mulai membuka kulkas dan melihat apa saja yang bisa dimasaknya.


Fella mengeluarkan sawi, tomat, telur dan sosis serta dua bungkus mie instan yang baru saja di ambilnya dari dalam rak.


"Mie instan?" Arska mengangkat sebelah alisnya hingga terlihat sedikit keriputan di keningnya.


"Iya, nggak papa kan? Soalnya cuma ini yang bisa di masak. Bahan yang lainnya udah abis, besok biar aku pergi belanja." balasnya dengan manik mata menatap ke arah Arska.


Arska terdiam sejenak, sejujurnya ia tak pernah memakan mie instan sebelumnya, mungkin bisa di bilang jika Arska tak menyukai mie instan.


"Kamu nggak suka ya?" kata Fella bertanya.


Arska mengangguk ragu. Fella yang melihat itu hanya mengulas senyum manisnya. Ini memang pertama kalinya suaminya itu memakan makanan instan, sebab dirumahnya selalu ada art yang memanjakan lidahnya.


"Aku yang masak, pasti suami ku suka," ujarnya seraya mengambil panci untuk merebus air. Sementara Arska tidak bisa untuk tidak menolaknya, lelaki itu hanya diam saja memperhatikan Fella yang mulai memotong-motong sosis dan juga sayuran yang sempat dikeluarkannya dari kulkas.


Melihat Fella yang begitu sibuk membuat Arska tidak tahan untuk tidak menghampirinya. "Ada yang bisa aku bantu nggak sih, yang?" katanya bertanya.


"Emang bisa?" Fella melirik Arska sekilas kemudian fokus kepada sawi yang baru di potongnya.

__ADS_1


Lelaki itu sebenarnya ragu, namun ia tetap mengangguk.


"Kamu bantuin aku potongin bawang merah deh kalau gitu!"


Arska menurut, ia mengambil pisau dan melihat bumbu-bumbu yang ada di depannya. Lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kenapa?" tanya Fella saat melihat suaminya hanya diam saja dan nampak kebingungan.


"Bawang merah yang mana, Ay? Bentuknya yang kaya apa?" Arska menatap Fella dengan tampang melongo-nya.


Mendengar hal itu, tawa Fella memecah. "Astaga ayang, ternyata kamu nggak tau bawang merah itu kaya apa?" ucapnya seraya mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya.


Arska hanya menggeleng pelan, bahkan mukanya sudah tertekuk saat melihat ekspresi Fella yang justru menertawakannya.


"Kamu sekarang umur berapa sih yang? Kok nggak tau bentuk bawang merah itu kaya apa?"


"Jangan ngeledek, wajar aja kalau aku nggak tau, aku kan laki!" serunya. Arska merasa sedikit malu. Masa iya bawang merah saja ia tak tau.


Fella mengambil bawang yang berkulit ungu dan meletakkannya di hadapan Arska. "Ini namanya bawang merah," Fella berkata sembari menahan tawanya. Entah mengapa, Fella merasa lucu melihat suaminya itu.


"Ini kan warna ungu? Masak iya di bilang merah? Merah dari mananya coba?" protes Arska tak terima saat melihat bawang itu.


Mengangkat kedua bahunya, "Mana aku tau, salahin aja nenek monyongnya bawang." ucap Fella ngawur. Wanita itu masih menatap Arska, karena lelaki itu justru membolak-balikan bawangnya dan belum juga mulai memotong.


"Udah ah, jangan di lihatin muluk. Buruan potong-potong katanya mau bantuin."


"Iya sayang, jangan galak-galak lah." Arska mulai mengupas bawang merah berkulit ungu itu dengan perlahan.


Dirasa air rebusan sudah mendidih, Fella segera memasukkan mie instan yang baru saja di buka, tak lupa ia menambahkan cabai yang sudah di potongnya.


Tag


Tag


Tag


Fella melirik Arska yang sibuk memotong bawang, suara yang di hasilkan mengusik indra pendengaran wanita itu. Fella terkekeh hingga membuat Arska menoleh.


"Kamu mending duduk aja, biar aku yang kerjain." Fella mengambil alih pisau yang ada di tangan Arska. Lelaki itu sedikit mundur dan memberikan ruang untuk istrinya.


"Kalau kamu motongnya sebel kaya gini, mana enak di makanya!" seru Fella seraya memotong bawang merah itu tipis-tipis, Arska hanya memperhatikan dan tak banyak berbicara.


Selang lima menit kemudian, dua porsi mie rebus buatan Fella sudah siap. Dari tampilannya sih sangat menggoda, tapi entah rasanya.


"Cobain," ucap Fella seraya meletakan mangkuk yang berisikan mie dengan toping sosis, sawi dan juga tomat serta telur di hadapan suaminya. wanita itu turut menghidangkan mie di hadapannya dan segers mendudukkan dirinya berhadapan dengan Arska.


Dengan sedikit ragu, Arska mulai menyuapkan mie kedalam mulutnya. Tidak ada respon aneh dari Arska, lelaki itu nampak menikmati makanannya dalam diam.


"Enak kan?" tanya Fella meminta persetujuan.

__ADS_1


"Enak, karena yang buat istri aku," balas Arska dengan senyum mengembang. Tak lupa ia mendaratkan tangannya di pucuk kepala Fella sebagai tanda ia menghargai usaha istrinya itu.


Malam hari saat Fella sudah terlelap, dan Arska merasakan sakit di bagian perutnya yang kini mulai menjalar. Lelaki itu sedikit meringkuk-kan tubuhnya dengan tangan yang masih memegangi perutnya, keringat dingin mulai mengalir di bagian keningnya.


"Aduh...perih banget .." keluhnya seperti itu. Arska semakin meringkuk-kan tubuhnya, merasa sakit perut yang di alaminya semakin menjadi. Lelaki itu Ingin membangunkan Fella, namun ia urungkan lantaran kasihan. Rintihan demi rintihan keluar dari mulut bibirnya. Hingga Fella terbangun dan sedikit membuka matanya seraya mengucek-nya pelan.


"Ayang, kamu kenapa?" katanya bertanya, suara serak Fella terdengar kedalam telinga Arska, namun lelaki itu tak menjawabnya. Ia masih meringis kesakitan karena perutnya sedang bermasalah.


"Sayang." kepanikan mulai terlihat dari wajah Fella, wanita itu bingung harus berbuat apa lantaran ini kali pertamanya Arska seperti ini.


"P-Perut aku sakit Ay." keluhnya dengan tubuh yang masih meringkuk.


Fella membalikan tubuh suaminya dengan susah payah, wanita itu semakin panik saat melihat wajah suaminya yang terlihat pucat pasif.


"Kamu kenapa? Aku harus gimana biar kamu nggak kesakitan kaya gini. Panggil dokter apa masih ada yang dateng di jam segini." Fella menitihkan air matanya seraya mengusap butiran keringat yang ada di kening suaminya dengan pelan.


"A-ambilin aku, o-obat magh di laci se-sebelah kiri, Ay," perintah Arska dengan mata yang masih tertutup.


Fella menuruti permintaan Arska, tak lupa ia mengambilkan segelas air minum, untung saja ada dispenser di kamarnya jadi Fella tak harus ke dapur untuk mengambil minum. Perlahan Fella membimbing Arska untuk meminum obatnya. Setelah itu Fella membantu suaminya menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur.


"Kamu kenapa Ayang?" kata Fella bertanya, matanya masih mengeluarkan butiran air mata.


Arska masih belum merespon, lelaki itu masih memejamkan matanya. Fella semakin larut dalam kesedihannya, wanita itu menggenggam erat tangan suaminya, tatapannya begitu sendu.


Sejenak, Arska sedikit tenang dan tak menimbulkan suara rintihan seperti tadi. Fella menenggelamkan wajahnya di antara tangan suaminya, ia masih menangis dan bingung harus berbuat apa.


Sekitar lima belas menit Arska merasakan jika perutnya mulai membaik, ia membuka matanya secara perlahan, dapat di rasakan jika Fella begitu sedih melihat dirinya sakit, apalagi tangan yang digenggam oleh istrinya itu mulai membanjir lantaran air mata Fella yang jatuh cukup banyak.


Mengelus pucuk kepala istrinya dengan pelan, "Sayang," titahnya pelan.


Fella mendongakkan kepala, wajahnya terlihat sendu.


"Aku udah nggak papa," katanya diiringi seulas senyum yang menghiasi wajah tampannya.


Memeluk erat tubuh Arska, Fella meluapkan tangisnya di sana. "Kamu kenapa? Bikin aku takut?" katanya diiringi sesegukan.


"Aku nggak kenapa-napa sayang."


"Lalu kenapa perut kamu bisa sakit?"


"Maaf sayang, sebenarnya aku nggak boleh makan mie instan."


Mendorong pelan tubuh suaminya, "Terus kenapa kamu nggak bilang tadi." Fella merasa semakin bersalah karena keteledorannya.


"Kamu semangat bikinin aku makan, gimana aku bisa nolak. Aku nggak mau bikin kamu kecewa," tuturnya kembali mengelus rambut Fella yang terurai itu.


"Tapi kalau ujung-unjung-nya bikin kamu sakit kaya gini, aku semakin ngerasa bersalah." cicit Fella. Mata perempuan itu masih terlihat sendu.


"Nggak papa, toh aku udah sembuh. Kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri ya sayang, jangan terlalu stres. Kasihan anak kita nanti."

__ADS_1


Sejenak Fella menuruti perkataan Arska, manik matanya masih menatap suaminya dengan tatapan sendu. Wanita itu memegangi kedua pipi Arska, mendaratkan sebuah ciuman di bibir ranum Arska yang terlihat masih sedikit memucat itu. Arska menikmati sentuhan hangat yang mendarat di bibirnya itu, biarlah Fella melakukan sesuka hatinya. Toh ngidam-nya masih sebatas wajar. Apalagi tadi wajahnya terlihat sangat panik ketika melihat dirinya sedang kesakitan. Biarlah istrinya itu merasa tenang dengan ciuman yang di berikan olehnya itu.


__ADS_2