Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Menjadi Penguntit


__ADS_3

Salsa berdiri tegak membelakangi tembok agar Leon tak melihatnya, gadis itu nampak mengamati pergerakan Leon dari pantulan cermin yang ada di depannya, mengendap-endap sudah seperti maling saja tindakannya itu. Entah sadar atau tidak Salsa telah menguntit kekasihnya dengan harap-harap cemas. Saat Leon mulai menjauh dan tak terlihat, Salsa mulai menguntitnya kembali. Langkah Leon yang begitu cepat membuatnya harus rela melangkahkan kakinya lebar-lebar.


"Dia mau kemana sih, mencurigakan banget! Awas aja kalau dia ngelakuin tindakan yang enggak-enggak." gumamnya pelan.


Di sepanjang menguntit Salsa terus menekuk wajahnya. Di dalam hati ia terus menggerutu. "Hah...." helaan napas mulai keluar dari bibir mungilnya.


"Dia mau ngapain sih sebenernya?" kepala Salsa sudah dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak bernalar lagi.


"Jangan bilang dia culik anak orang, habis itu mau di jual." pikirnya mulai tak karuan.


Hingga langkah kakinya harus berhenti di sebuah gang yang cukup sempit, gang itu mengarah ke sebuah gedung yang nampak sudah tak terpakai, terlihat sedikit kumuh dan tak terawat, hanya itu yang dapat Salsa lihat saat ini. Leon menghentikan langkah kakinya di sana, dan mulai menghampiri beberapa orang yang dari perawakannya terlihat begitu sangar, ada juga yang terlihat kalem intinya mereka berbeda-beda dan tak serupa.


"Lama nggak kesini, kemana aja lo bos." ucap salah seorang yang sekarang tepat berada di depan Leon, sebut saja Ivan.


"Gue sibuk," balasnya singkat. Lelaki itu ikut mendudukkan dirinya di antara mereka.


"Lo sibuk ngapain aja bos? Sampai nggak ingat kita." sahut seorang laki-laki yang berparas lumayan tampan, yang bernama Reza.


Leon menarik sudut bibirnya, "Mau tau aja lo urusan anak muda." ucapnya.


"Cih... gitu lo ya sekarang, apa udah ada yang dapet ngisi hati lo sekarang? Makanya kita ditelantarin kaya gini." lelaki bertubuh tinggi itu mulai ikut membuka suara.


"Cewek mana yang lagi deket sama elo bos, boleh lah kenalin ke kita." sahut seorang lelaki yang kulitnya nampak putih dari yang lainnya.


Menoleh ke samping kirinya. "Racun lo semua, gue baru berapa bulan nggak kumpul sama kalian, banyak banget pertanyaan yang harus gue jawab." protes Leon diiringi seringai-an.


Salsa dapat menangkap percakapan mereka meskipun samar-samar. Gadis itu mengamati semua laki-laki yang ada di sekeliling Leon dengan mata menyipit, mereka terlihat seumuran.


"Buat apa Leon kesini? Udah tempatnya jelek kaya gini, apa harus ngobrol sambil ngumpet-ngumpet kaya cicak." gumamnya pelan. Manik mata Salsa mulai mengamati sekelilingnya.


"Kaya rumah hantu," cicitnya pelan.


Salsa memegangi kedua lengannya dan mengusap-usapnya secara perlahan, bulu kuduknya terasa mulai berdiri. Ekor matanya kembali menatap Leon dan yang lainnya.


"Bos, jangan absen lagi lah. Kita nggak ada pemasukan semenjak lo hiatus." cicit Raiki.


"Banyak job masuk, tapi mereka minta elo yang dateng. Nggak adil banget kan, mereka pilih kasih. Mentang-mentang lo lebih ganteng dari kita." timpal Ken.


"Lo operasi plastik aja, biar muka lo bisa nyangin gue," kata Leon ngasal.


Ken mencebirkan bibirnya, merasa ucapan Leon mulai mengejek.


"Minggu depan ada tawaran balapan, taruhannya lumayan gede. Lo ikut ya Bos." pinta Reza.


Leon belum juga bergeming, lelaki itu nampak mendengarkan celotehan dari ke enam teman-temannya itu. Sedang Salsa semakin menekuk wajahnya, pikirannya sudah traveling kemana-mana.


"Bos, bos. Bos cendol apa gimana, sih. Dari tadi nggak jelas banget manggilnya." kesal Salsa mencibir kekasihnya.


Atensinya masih menatap kearah Leon dan teman-temannya itu. Muram sudah pasti, karena hatinya sudah di penuhi oleh kekesalan, akibat tindakan Leon yang sedikit mengabaikan panggilan telpon dan pesannya pagi ini.


"Gimana tawaran gue bos? Masa iyo lo mau absen lagi?"


"Mulut lo bisa diem nggak Ki, capek gue denger lo nyerocos mulu." Leon mulai membuka suaranya.


"Lo yakin, udah nggak ada niatan buat ikut balapan lagi? Taruhannya lumayan, bisa buat beli motor sport."


Menggeleng cepat, "Sementara ini gue nggak ikut dulu Van."


"Bos kita ini kenapa, sih? Padahal dulu kalau ada taruhan dia paling semangat. Bahkan jauh-jauh hari dia udah gembar-gembor duluan." protes Reiki sedikit kecewa.


"Gue belum kasih tau semuanya sama cewek gue, gue takut kalau dia kecewa pas tau gue ini raider-nya Geng Avegas. Cowok yang suka ngabisin hidupnya di jalan karena balapan liar, cowok yang selalu ikut tawuran dan suka pukulin orang. Bahkan gosip tentang kita sempat jadi trending topik beberapa bulan yang lalu, sampai gue di D.O dari kampus!"


Salsa langsung menutup rapat mulutnya, menggunakan tangan sebelah kirinya. Leon ketua geng Avegas? Kenapa aku nggak tau sebelumnya? pikiran Salsa mulai melayang tak karuan.

__ADS_1


"Anjir! Sekarang lo mulai peduli dengan pacar lo. Gue pikir lo itu batu yang nggak punya perasaan." cicit Devan dengan tawa menguar.


"Sialan lo! Gue ini laki-laki tulen. Jadi wajar punya perasaan sama cewek." jelas Leon.


"Yang ini seriusan? Nggak kaya yang udah-udah?" tanya Ivan dengan khas nyengirnya.


"Lo udah tobat? Yakin lo cuma minat sama satu cewek aja?" kata Reza bertanya, lelaki itu nampak ragu dengan Leon.


"Aduh-duh... to tweet, sarangheo bos Leon yang udah tobat." ucap Reiki menggoda.


Bukanya terlihat sweet justru tindakan Reiki membuat anggota lain ingin muntah. Sedangkan Leon memasang ekspresi masamnya, lelaki itu begitu kesal mendengar celotehan teman-temannya yang tak berfaedah.


"Santai dong bos, tatapan mata lo ini udah kaya harimau mau makan mangsanya aja," canda Reza.


Tawa mereka semakin mengur, tak kala Leon yang menjadi bulan-bulan anak buahnya.


"Diem lo semua! Kalau ada yang masih ngetawain gue lebih dari lima detik, siap-siap gue lempar!" ancam Leon dengan tampang datarnya.


Mereka langsung merapatkan mulutnya. Ancaman Leon membuat bulu kuduk mereka berdiri, tak ada yang berani bergeming lagi.


Salsa yang masih setia menguping pun di buat semakin kesal dengan ucapan teman-teman Leon barusan. "Dih, ternyata Leon dulunya kampret banget ya!" kesal Salsa dengan tangan mengepal, raut wajahnya semakin masam.


"Eh, ngomong-ngomong lo beneran serius sama yang ini bos? Udah nggak ada niatan mau ganti yang lain?" kata Devan bertanya. Lelaki itu mulai memberanikan dirinya bertanya saat keheningan mulai tercipta.


Sedangkan Salsa memasang telinganya dengan benar, ia ingin sekali mendengar penuturan langsung dari mulut Leon.


"Kalian semua kenapa jadi ngurusin urusan pribadi gue? Apa nggak ada hal lain yang pengen kalian bahas?"


"Ck, kita kan juga manusia, kepo sama urusan pribadi bosnya kan lumrah." sahut Sam.


Leon tak bergeming dan justru memasang ekspresi malasnya.


"Hah.... percuma, dia nggak akan ngomong!" Salsa membuang napasnya secara kasar, ia kecewa dengan ucapan Leon.


Mengangkat satu alisnya, Leon nampak mengamati keenam teman-temannya secara bergantian, dan menarik sedikit sudut bibirnya.


"Ya, kalau gue sayang sama dia. Kalian juga nggak mungkin rese kan."


"Jawaban macam apa itu? Kenapa menggantung?" cibir Devan.


"Intinya dia imut. Gue sayang sama dia." seringai-an kembali terlihat di wajah tampannya. Lelaki itu tiba-tiba membayangkan wajah Salsa saat mengerucutkan bibirnya.


"Wahahaha...." tawa mereka menguar, sepertinya Leon sedang terserang virus bicin akut. Sampai ketua Geng Avegas itu tak mampu untuk tidak melontarkan kata-kata yang membuat siapa saja salah paham jika mendengarnya.


Leon tak menanggapi tawa ejekan yang di berikan teman-temannya itu, ia memilih diam sambil mendengar setiap kata yang di berikan untuknya. Sedangkan Salsa, sudah merasakan rasa bahagia yang amat luar biasa, pipi dan telinganya sudah memerah mendengar ucapan Leon barusan. Hingga, tanpa sadar kakinya mengayun-ayun dan menendang sebuah kaleng yang tepat ada di depannya.


Klontang....


Suara kaleng yang terlempar membuat ketujuh pemuda itu menoleh ke sumber suara.


"Woy, suara apa itu?" teriak Reza sedikit mendongakkan kepalanya.


"Kucing," balas Salsa spontan.


"Ow kucing, cuman kucing coy." kata Reza kembali membenarkan posisi duduknya.


"Iya, ini kucing bego!" Salsa masih membalas ucapan Reza.


"Tuh, lo semua dikatain sama kucing." Reza masih tak peka dah hanya tertawa secara sepihak


"Woy bego! Mana ada kucing bisa ngomong." sahut Devan yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Astagfirullah, ini mulut kenapa nggak bisa di rem." ucap Salsa pelan.

__ADS_1


"Penyusup!" final Ken seraya berdiri.


"Anjir! Siapa yang punya keberanian masuk ke wilayah kita," imbuh Devan.


Salsa yang merasa salah berucap langsung memukul mulut bibirnya pelan, "Astaga. Sial!" umpat Salsa yang langsung saja mencari tempat persembunyian yang di rasa aman.


Keenam pemuda itu langsung berlari menghampiri tempat berasal-nya kaleng tersebut, mereka takut akan adanya bahaya yang mengancam keselamatan mereka, apa lagi ketua gengnya baru saja kembali. Sementara Leon hanya melihat dari kejauhan, ia belum bergerak dari tempat persinggahannya, lelaki itu hanya memantau dari kejauhan dengan atensi mengawasi pergerakan dari teman-temannya itu.


"Nggak ada orang!" seru Reiki kesal.


"Padahal gue udah pengen nonjok kalau itu penyusup." timpal Ken.


"Rese, ah! Padahal tangan gue udah gatel. Pengen nonjok orang!" sahut Devan.


Keenamnya sibuk berceloteh dengan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa keenam temannya itu kesulitan mencari si pelaku, Leon beranjak dari tempatnya.


Mata tajamnya melihat-lihat sekelilingnya, lelaki itu sangat teliti ketika mencari sesuatu.


Gawat! Jangan sampai ketauan Sal. banti Salsa was-was.


Dasar kaki nggak ada akhlak, main tendang-tendang aja. Sekarang aku harus gimana? kata Salsa bertanya dalam hati, gadis itu gelisah sejadi-jadinya.


Melihat pergerakan tong yang bergerak dengan lamban, membuat atensi Leon langsung mengarah ke sana. Perlahan ia mulai mendekati tong tersebut, laki-laki itu begitu hati-hati, takut jika serangan mendadak akan melukai tubuhnya.


Hingga kakinya berhenti tepat di samping tong tersebut. Leon melebarkan matanya selebar-lebarnya. Lelaki itu terkejut saat melihat kekasihnya dengan wajah kepanikan bersembunyi di sana.


"Sayang?" suara Leon terdengar begitu pelan.


Astaga, aku ketauan. Gimana ini, aku nggak mau babak belur dan masuk rumah sakit. pikirannya kembali tak karuan.


"Hah!"


Kali ini hanya helaan napas sebal yang Salsa dengar, gadis itu menundukkan wajahnya, rasa takut mulai menghantuinya.


Tanpa menunggu nanti, Leon segera menarik kekasihnya untuk keluar dari persembunyiannya dengan tangan sedikit membungkam mulut Salsa agar tak mengeluarkan suara ketika ia meninggalkan tempatnya. Leon bergerak cepat agar keenam temannya itu tak mengetahui hal tersebut, ia takut jika Salsa akan di goda oleh teman-temannya, jadi laki-laki itu memutuskan untuk membawa Salsa pergi dari tempat itu secepatnya.


Devan yang merasa jika keadaan terlihat aman segera memutar lehernya, mata lelaki itu membola saat mengetahui Leon tak ada di tempatnya.


"Bos di culik." perkataan itu lolos dari mulut Devan.


"Ngaco lo! Mana ada bos di culik," timpal Reiki dengan tangan melayang tepat di kepala Devan.


"Kenyataannya dia nggak ada di tempatnya," imbuh Devan seraya mengusap kepalanya.


Reza, Ken, Ivan dan Sam menoleh secara bersamaan. Memang benar Leon tak ada di tempatnya.


"Cuma gara-gara suara kaleng yang melayang, bos bisa langsung hilang dalam hitungan detik," Ivan mulai membuka suaranya.


"Bos diculik!" timpal Devan lagi.


Menggeloyor pelan kepala Devan. "Daripada culik bos kita yang kaya batu itu, mending culik dedek-dedek gemes!" sahut Ivan kesal.


"Otak lo terlalu jauh travelingnya Van. Mana ada yang mau sama bos, hantu aja udah takut ngeliat tampang datar dia kalau udah marah." imbuh Ken.


"Kenyataannya bos nggak ada di tempatnya!" Devan masih membenarkan ucapannya.


"Ya kali bos kita di culik, teori lo nggak masuk akal. Lagian sejak kapan penculiknya pinter, nggak ngeluarin suara dan langsung hilang." kini Sam mulai ikut membuka suaranya.


"Atau mungkin bos kita di culik sama sasange cantik?" ucap Reiki tak kalah nyeleneh.


Tangan enteng Reza melayang ke kepala Reiki cukup keras, "Lo semua pada ngaco, mana mungkin bos langsung tertarik!"


"Ya kan cantik," imbuh Reiki mengusap kepalanya.

__ADS_1


Keenam laki-laki itu justru main lempar pernyataan-pernyataan konyol yang tak masuk akal dan menggelikan jika di dengarkan terlalu lama.


__ADS_2