
Arska nampak memegangi dadanya, suara gemuruh jantungnya yang kian berdetak dengan cepat membuatnya semakin nervous. "Semoga Acaranya lancar," kata Arska pada dirinya sendiri.
Arska masih di posisi berdirinya, berdandan rapi di depan kaca kamarnya, ia mengenakan jas berwarna putih kesayangannya, sudah layaknya seperti pangeran yang akan menjemput sang putri untuk di ajak ke pesta dansa.
"Ayo Arska... hari ini hari yang kamu nanti-nanti kan, hari spesial kamu," ucap Arska masih pada dirinya sendiri sebelum akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar dan bersiap pergi ke rumah Fella.
Di ruang keluarga semua sudah berkumpul dan bersiap untuk pergi, tak kala Clara si cerewet pun berkomentar saat mengetahui kakaknya berdandan rapi layaknya pangeran di negeri dongen. "Kak Arska ganteng banget... udah kaya pangeran," puji Clara dengan mata berbinar.
"Iya ni kak Arska, Salsa kan jadi minder pengen punya cowok yang gantengnya kaya kak Arska," sahut Salsa dengan tampang memelas-nya.
"Salsa kan nggak boleh pacaran dulu, ingat pesan Om sama Tante," ledek Arska.
Ucapan Arska seketika berhasil membuat Salsa memajukan bibirnya dan bergegas pergi dengan ngedumel.
Hendry dan Violla tertawa tanpa dosa melihat keponakan mereka berlalu lalang dengan wajah cemberutnya, mereka tak habis pikir jika Arska bisa meledek adik sepupunya itu di waktu dirinya sedang dalam ke adaan gugup, tak cuma itu kedua pasangan suami istri itu juga tertawa kecil saat mendengar kata-kata polos itu keluar dari mulut bibir anak perempuannya.
"Emang kak Arska gantengnya kaya pangeran apa?" tanya Violla yang tak lepas memandang ke arah Clara, sedangkan Clara masih di sibukkan dengan sang kakak yang menurutnya semakin tampan dalam balutan jas berwarna putih itu.
"Kaya pangeran Heluwis, nama pangeran di negri barbie ma," balas Clara.
Arska mengembangkan senyumnya, ia segera menggendong Clara karena merasa gemas melihat tingkah adiknya yang terus memujinya.
"Kalau kak Arska kaya pangeran Heluwis terus Papa kaya apa dong?" tanya Hendry yang tiba-tiba ikut menimbrung karena penasaran dengan jawaban sang anak akan dirinya.
"Ya karena Papa udah tua, Papa cocoknya jadi Papanya pangeran Heluwis lah," ucap Clara dengan polosnya.
Seketika Hendry merenggut, ekspresi jeleknya di perlihatkan ke arah Clara.
"Papa jangan pasang wajah jelek gitu, Clara nggak suka," protes Clara seraya memeluk leher Arska, karena posisi Clara masih di gendong oleh Arska.
"Ya kan Papa udah tua, jadi wajar aja kalau Papa pasang ekspresi wajah kaya gini," ucap Hendry mulai kekanak-kanakan.
"Ih.... Papa.... meskipun Papa udah tua, tapi Clara tetep sayang sama Papa, Papa itu Papa tertampan yang Clara miliki," kata-kata polos Clara membuat Hendry tersenyum.
"Kamu anak tercantik yang Papa sayang," Hendry kini mengusap-usap rambut Clara karena merasa gemas dengan tindakan yang di lakukan-nya.
"Pasti cantik dong pa, karena Clara kan adiknya kak Arska terus anaknya Papa sama Mama," ucapnya dengan polos.
Violla tertawa kecil saat mengetahui jika suaminya bisa-bisanya melontarkan pertanyaan konyol itu untuk putri kecilnya, sambil memegangi perutnya Violla segera memeluk lengan suaminya.
"Ayo berangkat, nanti kita terjebak macet, lagi pula kasihan Salsa yang udah nungguin di mobil dari tadi," ajakan Merry membuat kedua orang anak dan Papa itu terdiam dan mengangguk menyetujui ajakan Merry.
Beberapa menit setelah mereka semua sudah berada di dalam mobil, nampak Arska yang sedang berada di balik kemudi berkali-kali menghembuskan nafasnya, tapi senyum tampan selalu di tunjukkan-nya.
"Kamu kenapa ka, dari tadi Mama perhatiin kamu sibuk membuang nafas?" tanya Merry menepuk bahu sang anak.
"Nggak Papa ma, Arska cukup narfes."
"Papa dulu juga gitu waktu ngelamar Mama kamu ka, yang penting tenangin hati sama pikiran kamu, dan fokus sama acaranya," kata Hendry sedikit menasehati.
"Dulu Papa kamu pas ngelamar Mama lebih parah dari ini ka, ngomong aja jadi salah-salah terus," sahut Merry yang mulai bernostalgia akan masa mudanya.
"Hahaha.... emang iya ma? Papa lebih narfus dari Arska dong," ucap Arska meledek sang Papa.
"Ma.... jangan gitu dong, Papa malu kalau ke ingat dulu."
"Habisnya Papa lucu, nasehati anak sendiri, padahal dulu Papa lebih groginya di banding Arska."
__ADS_1
Arska tersenyum mendapati kedua orang tuanya yang sedang bernostalgia akan masa lalunya, hingga tangan mungil Clara menyentuh Arska pelan. "Kakak yang semangat ya, pasti nanti acaranya lancar, terus Clara bisa sering-sering ketemu sama kak Cantika," kata Clara memberi energi positif kepadanya.
"Iya... Sayang, kamu emang adik kakak yang paling the best," ujar Arska seraya mengelus rambut lurus Clara dari samping.
"Salsa nggak di puji ni?" tanya Salsa dengan suara yang memenuhi mobil.
"Aduh... sal, sorry gue lupa kalau masih ada elo di belakang," kata Arska.
"Tau ah... kak Arska emang paling nyebelin kalau sama aku!" serunya dengan wajah tertekuk dan kembali duduk sambil memainkan ponselnya kembali.
Kedua orang tua yang duduk di tengah pundi buat geleng-geleng oleh kedua remaja yang tak mau mengalah itu.
...°•°©inta Untuk Fella°•°...
Suasana di rumah Fella sangatlah ramai, terlihat sangat jelas kendaraan mewah yang memenuhi halaman rumahnya, bahkan penjaga ke aman-an pun sengaja di perbanyak agar tak ada kerusuhan di malam spesial mereka berdua.
'Ternyata dekorasinya sama persis seperti yang ada di gambar,' batin Arska saat memasuki ruangan yang telah di dekorasi begitu elegan.
Mata Arska masih mencari kesana-kemari tapi tak juga menemuka sosok yang di carinya.
"Woy... bengong aja, awas tar lo ke sambet," kata Aldy menepuk bahu Arska pelan.
"Acara lo jangan sampai gagal ka, ini moments spesial lo, jangan sampai lo ke sambet," lanjut Dilan yang kini cekikikan.
"Nggak usah lo dengerin ka, kata-kata mereka kan emang suka ngaco," Brayu nampak membela sahabatnya itu.
"Karena di sini yang paling waras cuma elo bray, jadi gue nanyanya ke elo aja. Lo liat Aya nggak?" tanyanya tanpa basa basi.
"Gue juga waras kali ka," protes Regina.
"Kayaknya masih di kamar ka, soalnya gue juga belom liat Bella dari tadi."
"Tunggu aja sebentar ka, siapa tau nanti turun," sahut Regina.
Saat Arska sedang meminum segelas jus stroberi, matanya membulat mendapati sosok yang ia cari sejak tadi menatap kearahnya dengan senyum begitu memikat hingga Arska seperti terhipnotis olehnya.
Fella melangkahkan kakinya pelan, mengingat gaun dan sepatu high begitu tinggi dan gaunnya begitu berat hingga menutupi kaki dan sepatu high heels. "Hay...."sapa Fella tanpa ragu.
Arska masih saja terhanyut oleh lamunannya, hingga pukulan kecil mendarat di lengannya dan menyadarkan dirinya dari bawah alam sadarnya.
"Di sapa Fella malah sibuk bengong! Nggak takut apa kalau Fella ninggalin elo," celoteh Regina.
Arska gelagepan, ia tak mau jauh dari kekasihnya itu ia segera menarik pelan lengan Fella agar berdampingan dengannya.
"Kamu cantik banget ay, jantung sampai mau copot," bisik Arska.
Pipi Fella merona mendengar pujian dari kekasihnya itu, ia tersenyum begitu manis.
Arska Tak rela jika kekasihnya itu terus menjadi sorotan bagi seluruh tamu undangan. Arska berinisiatif untuk mengajak kekasihnya itu pergi dari tempatnya sekarang, menjauh dari kerumunan dan berharap untuk bisa berduaan.
"Ye.... mentang-mentang Fella udah dateng kita di cuekin," sindir Aldy.
"Biasa lah ngelepas rindu abis di pingit beberapa hari nggak ketemu," celoteh Dilan.
"Biarin aja lah yang, itu kan urusan mereka," sahut Regina.
Arska tak menghiraukan celotehan sahabat-sahabatnya itu, yang ada di pikirannya saat ini cukup satu. 'Berdua aja sama Fella sementara yang lain belom penting.'
__ADS_1
Di taman belakang Arska menghentikan langkahnya. Ia menoleh menatap Fella dengan tatapan yang begitu lekat.
"Jantung ku serasa mau copot ay, kamu benar-bener cantik hari ini," ujarnya dengan tangan yang masih menggenggam.
Fella hanya tersenyum, cowok di sampingnya itu benar-benar membuatnya hatinya berbunga-bunga, ia sedikit menjauhkan diri dari Arska, menikmati sore sambil menunggu datangnya acara nanti malam. Fella menatap ke arah langit yang masih nampak cerah dan indah di hari bahagianya ini, 'Sepertinya acara nanti malam akan berjalan dengan lancar seperti cuaca yang mendukung saat ini.' pikir Fella sejenak.
Arska diam-diam mengeluarkan ponselnya, mengambil beberapa pose Fella yang menurutnya cantik dan elegan jika di jadikan wallpaper ponselnya sambil terus mengembangkan senyumnya.
"Kasih pose terbaik kamu ay, aku pengen jadiin kenang-kenangan buat di simpan di ponsel aku," teriak Arska seraya mendekati tempat Fella berdiri saat ini.
"Hah... maksud kamu?" Fella mengernyitkan dahinya.
Arska memegangi pipi Fella sesaat. "Kasih pose terbaik kamu buat aku simpan di ponsel aku sayang," ulang Arska.
Fella mulai mengatur nafasnya, sedikit mengerucutkan bibirnya takut jika posenya akan di salah artikan sebagai pose menggoda lawan jenisnya.
"Kenapa sayang, kok cemberut, kalau nggak mau aku nggak akan maksa."
"Oke... tapi jangan ketawa atau komentar yang enggak-enggak ya."
Arska mengangguk kecil, tanda menyetujui persyaratan dari Fella. Arska kembali mengeluarkan ponselnya, mengarahkan kameranya tepat ke arah wajah yang akan di ambil.
Arska menahan tawanya saat Fella berekspresi layaknya seekor bebek. Tapi ia sudah berjanji untuk tidak mengejek kekasihnya itu, jadi Arska memutuskan untuk kembali fokus mengambil foto berikutnya.
Kali ini Arska tersenyum cukup lebar, betapa cantiknya bidadari yang sekarang berada di hadapannya, begitu memikat hatinya sampai tak mampu mengucapkan satu patah kata pun.
Arska tersenyum lagi, ia benar-benar puas dengan hasilnya jepretannya. Fella menatap kearah Arska penuh curiga, mengerucutkan bibirnya saat mendapati ekspresi wajah Arska yang terus tersenyum sambil memegangi ponselnya, entah apa yang Fella pikirkan hingga ia berpikiran negatif tentang kekasihnya itu.
"Udah ah.. yang.... aku capek," keluhnya dengan wajah yang masih tertekuk.
"Kenapa? Cemberut sayang?" tanya Arska saat Fella sudah berada di sebelahnya sambil bersedekap dada, Arska sedikit terkejut karena kekasihnya langsung berpindah posisi.
"Pasti kamu ngetawain aku kan?"
"Ngetawain apa sayang?"
"Tauk... kamu ngeselin banget," ucapnya seraya melangkahkan kakinya dan duduk di kursi taman.
Arska geleng-geleng kepala, selalu saja kekasihnya itu berfikiran negatif terus terhadap dirinya.
"Jangan berfikiran negatif terus sayang, aku cuma kagum ngeliat kecantikan kamu," Arska mencoba menjelaskan.
"Serius?"
Arska mengangguk, seraya mengambil tangan Fella dan mendekatkannya ke arah dadanya. "Kamu bisa rasain kan, gimana kenceng nya jantung aku saat ini."
"Hem..." Fella menggigit bibir bawahnya, matanya berbinar-binar setelah mendapat pengakuan dari Arska.
"Percaya kan kalau aku nggak ngeledek."
"Iya.... aku percaya yang."
__ADS_1
Arska mencium tangan Fella layaknya tuan putri yang sedang bertemu pangerannya. Hingga kini mereka asyik bercanda dan tak mau melewatkan waktu berdua meski hanya satu detik.