
Fella tak bisa membendung kegelisahan yang selama ini ia pendam. Ia sudah sangat kesal dengan perubahan sikap Arska yang semakin hari semakin dingin terhadapnya. Meraka tak lagi saling sapa, memberi kabar pun sudah tak pernah. Fella sedikit frustasi, di kafe ia melihat Arska dengan Mona, hatinya begitu sakit mengetahui kekasihnya kini telah berubah, menjadi laki-laki yang tak pernah ia kenali saat ini. Dengan berat hati ia melangkahkan kakinya ke atas panggung, dengan segera ia meraih gitar yang ada di sana. Segera ia duduk di kursi yang ada di panggung, dan menyalakan mic agar semua penghuni kafe bisa mendengar keluh kesahnya, termasuk Arska. "Buat semua pengunjung kafe. Maaf menganggu waktunya sebentar. Saya di sini ingin menceritakan, mengenai suatu hal yang selama ini saya pendam. Menurut kalian, gimana sih rasanya di campakin sama tunangan sendiri?, sakit nggak?. Tentu.... pastinya sakit ya. Karena itu yang saya alami saat ini" ucapnya seraya menyeka air matanya yang akan menetes. Semua pengunjung kafe melihat ke arahnya termasuk Arska dan ketiga sahabatnya serta Mona. Mereka merasa iba melihat Fella yang sedih meratapi nasibnya. Bella dan Faya tahu kalau sahabatnya itu sedang mengalami patah hati yang amat parah, tapi mereka juga tak mungkin memberitahu hal sebenarnya kepada Fella.
"Disini saya mau, menyanyikan sebuah lagu khusus buat ARSKA AREGAN tunangan saya" sesekali ia mengatur nafasnya dan membuangnya pelan, bibirnya mulai gemetar, sesekali ia menggigit bibir bawahnya. "Tapi sebelumnya aku minta, tolong kasih penjelasan ke aku. Salah aku dimana?. Sampai kamu begitu dingin terhadap aku. Aku pengen kamu balik kaya yang dulu lagi. Semoga kamu nggak gantungin hubungan kita ya, aku pengen denger penjelasan kamu sekarang juga., Kalau pun emang hubungan kita cukup sampai disini. Oke aku terima, lagu ini mewakili isi hati aku buat kamu" ucapnya seraya menatap ke arah di mana Arska duduk, matanya mulai memanas, tapi ia tetap menahannya agar tak keluar, sesekali ia menundukkan kepalannya. Segera Fella memetik gitar yang ada di pangkuannya dam menyanyikan lagu berjudul keajaiban yang di populerkan oleh Ghea Indrawari.
Aku tak berencana 'tuk jatuh cinta
Mengapa aku merindukanmu?
Daripada melihat bintang di langit
Aku ingin menatap matamu
Sesekali mata Fella melihat ke arah Arska. Rasa sakit itu juga di alami oleh Arska ingin sekali ia berlari dan memeluk Fella saat ini, tapi ia sadar jika ia melakukan hal tersebut, nyawa Fella dalam bahaya. Ia tau Mona sangat picik dalam semua hal, ia bisa melakukan apa saja yang ia inginkan, ia tak mau kekasihnya dalam bahaya, Arska segera menundukkan kepalanya, matanya mulai memanas tapi ia menahan agar air matanya tak menetes.
Jika nanti kita bertemu
Ingin aku sampaikan
Aku menyayangimu
Apakah engkau tahu?
"Nggak cuma cantik, suaranya merdu, bikin bulu kudu gue merinding, saking bagusnya, pinter main gitar lagi, cewek idaman" puji Dilan yang mulai membuka suaranya.
Arska melihat ke arah Dilan, "Lo... barusan ngomong apaan?".
"Sorry ka, gue cuma kagum aja kok sama Fella, lagian bukan cuma gue yang muji Fella cantik dan suaranya bagus, semua penghuni kafe ini juga pada bilang gitu kalau lo denger celotehan mereka" ucap Dilan pelan.
Mona yang malas mendengar pujian Dilan segera membuang muka, ia kesal karena Arska tidak meliriknya sama sekali, Arska masih sibuk membela kekasihnya itu.
Aldy yang sedih melihat Fella sontak ikut membuka suaranya, "Gue pengen naik ke atas panggung, pengen ngehibur Fella biar nggak sedih lagi, kasihan Fella" celetuknya.
"Berani lo maju selangkah aja, gue patahin kaki lo !!!" tegas Arska menatap ke arah Aldy dengan wajah yang penuh amarah. "Gue nggak pernah rela dia di hibur sama cowok lain. Selain gue!!" lanjutnya.
Seketika Aldy merapatkan kakinya dan membungkam bibirnya dengan rapat, ia tahu kalau Arska sedang menahan emosinya, terlihat jelas dari wajahnya. Di lubuk hatinya cuma ada Fella seorang, ia hanya mencoba untuk melindungi kekasihnya dari siksaan Mona yang kejam.
"Alay banget sih, gitu aja sampai bikin heboh, perasaan nggak cantik-cantik amat, suaranya juga biasa aja" ucap Mona mencebirkan bibirnya .
"Lo.. tuh yang nggak waras, ngehalalin seribu cara buat ngerusak hubungan orang" celoteh Brayu kesal.
"Mata lo buta ya, cewek secantik gitu, lo bilang nggak terlalu cantik. Emang lo lebih cantik di banding Fella. Kalau satu kafe ini suruh milih antara lo sama Fella, pasti milih Fella" lanjut Aldy mulai geram dengan sikap Mona.
"Suaranya bagus gitu,lo bilang biasa aja jangan-jangan lo budek ya" tukas Brayu yang mulai emosi dengan sikap Mona.
Mona pura-pura tak mendengarkan ucapan Brayu dan Aldy barusan, ia segera buang muka.
"Emang sinting lo ya, dasar cewek aneh" lanjut Dilan.
Aku percaya pada keajaiban
Kau 'kan mencintaiku
__ADS_1
Lebih dari ku mencintaimu
Mungkin kita terlalu jauh berbeda
Kau manis dan aku menyedihkan
Tapi perasaanku untuk dirimu
Tidak sempurna namun sangat indah
Jika nanti kita bertemu
Ingin aku sampaikan
Aku menyayangimu
Apakah engkau tahu?
"Aku juga sayang sama kamu ay. Aku kangen banget sama kamu ay, aku pengen kita sama-sama kaya dulu lagi" ucap Arska dalam hati, sesekali ia mengusap wajahnya dengan kasar, mukanya semakin kusut. Ingin rasanya ia berteriak, ia merasakan dadanya mulai sesak.
Aku percaya pada keajaiban
Kau 'kan mencintaiku
Lebih dari ku mencintaimu
Bella dan Faya masih saja melihat ke arah panggung, tapi sesekali mata Bella melirik ke belakang, ia kesal dengan sikap Arska yang tak kunjung menghampiri sahabatnya itu. "Cih.... dasar cowok nggak guna" celetuk Bella.
Bella memutar kedua bola matanya, ia kesal dengan ucapan Faya barusan, "Lo lupa, tempo hari lo diemin gue gara-gara siapa?, udah gitu duit gue abis buat traktir lo, biar lo nggak ngambek lagi sama gue". celetuk Bella.
Faya nyengir sesaat. "Ya sorry bel, gue khilaf waktu itu, gue kan syok waktu Brayu bilang suka ke elo. Hati gue sakit gitu rasanya waktu denger cowok yang gue suka, ternyata sukanya sama sahabat gue sendiri" ucapnya jujur.
"Tapi gue kan enggak" ucapnya dengan kesal.
"Iya-iya sorry... gue nggak bahas lagi" ucap Faya memanyunkan bibirnya.
Mereka berdua kembali fokus ke atas panggung.
Dan bila musim berganti
Bahkan hangat pun beranjak pergi
Meninggalkan rasa sepi
Ku 'kan berjalan denganmu
Apa pun jalan yang akan ditempuh
Takkan pernah ku meninggalkanmu
Kala kau akan mencintaiku...
__ADS_1
Di depan pintu Tristan membawa buket bunga mawar merah, ia melihat ke atas panggung, senyum sinis terlukis di sudut bibirnya, ia tak mengira kalau adik sepupunya itu pintar memainkan gitar. Fella mengatur nafasnya, sesekali ia melihat ke samping, matanya membulat ketika melihat Tristan tegah berdiri memandangnya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya, matanya mulai memanas ia tak bisa lagi membendung air matanya, Fella segera meletakan gitarnya dengan pelan, dan segera berlari menghampiri Tristan. Fella memeluk Tristan dengan erat, tangisnya pecah saat memeluk Tristan. "Aku kangen kakak" ucapnya paruh karena menangis.
Bella dan Faya segera menghampiri Fella dan Tristan. Arska yang melihat kekasihnya memeluk laki-laki lain segera naik pitam, ia mencoba mengontrol emosinya. Tapi Mona selalu saja menjadi kompor bleduk.
"Uw... malah mesra-mesraan sama cowok lain, di depan umum lagi, nggak tahu malu banget" celetuknya sesekali melirik ke arah Arska.
"Lo nggak usah jadi tukang kompor lah mon, lo sendiri nggak ngaca, lo itu perusak hubungan orang" cecer Brayu kesal.
Mona segera menutup mulutnya rapat, ia kesal dengan ucap Brayu yang pedas itu.
"Lo sabar aja ka, mungkin aja itu saudaranya, gue yakin Fella nggak kaya gitu, dia cewek yang baik" ucap Aldy seraya menepuk-nepuk pundak Arska pelan.
Di sisi lain, Bella sibuk mengelus-elus pundak Fella dengan pelan, Fella belom juga melepaskan pelukannya dari Tristan. "Sabar fel, lo jangan banyak pikiran, nanti anemia lo kumat lagi kaya yang udah-udah" ucap Bella pelan.
Faya yang dari tadi memandangi Tristan, hanya senyam-senyum tak jelas, "Kak Tristan, apa kabar?, lama nggak ketemu ya" ucap Faya salah tingkah.
Tristan tersenyum simpul, "Kabar gue baik kok fay" ucapnya singkat seraya mencoba melepaskan pelukan Fella, seraya mengusap air mata yang jatuh dari pipi Fella dengan lembut. "Kenapa cengeng banget sih dek?, jangan-jangan karena Andy?".
Fella mencoba mengontrol nafasnya, suara isak masih terdengar dari mulutnya, segera ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Andy mah udah lewat kak, sekarang udah ganti cowok" bisik Faya.
Tristan melihat ke arah Fella, "Ya ampun, kakak kesini mau ngasih kejutan, ke kamu malah kamu nangis nggak jelas gini, cuma gara-gara cowok" ucapnya sambil mengelus-elus pucuk rambut Fella.
Arska yang tak bisa membendung emosinya lagi segera menggebrak meja dengan cukup keras. Semua penghuni kafe melihat ke sumber suara. Arska tak mempedulikan tatapan orang-orang yang melihat ke arahnya, segera ia melangkahkan kakinya lebar-lebar, ia berjalan menghampiri Fella, tangannya mengepal. Dengan cepat ia melayangkan tangannya ke wajah Tristan cukup keras. Tristan tersungkur kelantai, segera Bella dan Faya membantunya agar Trista bisa berdiri lagi. Fella membungkam mulutnya mengunakan kedua telapak tangannya. Ia sudah tak bisa mengontrol emosinya, dengan kesal ia menampar pipi Arska cukup keras. "Kamu keterlaluan banget ya" tukasnya dengan mata yang masih berkaca.
"Tega kamu ay" ucapnya menundukkan kepalanya seraya memegangi pipinya yang merah akibat tamparan dari kekasihnya itu.
"Yang tega itu kamu, kamu kenapa diemin aku kaya gini. Udah gitu kamu main tonjok orang tanpa alasan" tegasnya sambil mengepalkan tangannya.
"Aku cemburu ay, ngeliat kamu pelukan sama cowok lain di depan mata kepala aku sendiri" ucap Arska dengan mata memerah.
"Kamu pikir aku nggak cemburu!!!, ngeliat kamu tiap hari jalan sama cewek lain yang ngakunya pacar kamu, dan kamu nggak ngebantahnya sama sekali, justru kamu makin cuekin aku. Kamu nggak pernah ngertiin perasaan aku, kamu keterlaluan, kamu itu jahat !!" cecer Fella, ia tak sanggup menahan air matanya, sesekali ia menyekanya agar tak menetes.
Arska mundur beberapa langkah, ia benar-benar frustasi, ia mengusap wajahnya dengan kasar, serta mengacak rambutnya dengan penuh kekesalan. Ia tak bisa menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Fella barusan. Tanpa berpikir panjang ia segera berlari keluar kafe, pikirannya benar-benar kacau.
Brayu dan kedua sahabatnya segera menghampiri dimana Fella berdiri. "Bahaya kalau Arska naik mobil dengan keadaan emosi gini, gue jadi kepikiran" celetuk Aldy membuka suara.
"Dia sebenernya ngelakuin ini buat ngelindungin elo fel, dia nggak mau lo kenapa-napa. Dia beneran sayang sama lo" ucap Dilan.
Fella melirik ke arah Dilan dahinya berkerut. "Maksud ucapan lo barusan apa lan, gue nggak ngerti".
"Jadi gini, lo sering banget kan ketimpa masalah. Lo yang di keroyok preman, lo yang di serempet dan yang lebih parahnya lagi, hal yang terakhir lo alami, lo sempet di culik sampai masuk rumah sakit. Dan itu ngebuat Arska bener-bener drop sampai frustasi, dia bingung harus ngelakuin apa buat ngelindungin lo" ucap Dilan panjang lebar.
"Ya itu semua ulah cewek gila yang selalu sama-sama bareng kita fel. Dia terlalu teropsesi sama Arska. Dia pengen miliki Arska seutuhnya. Dia sering ngancem Arska lewat lo. Jadi Arska milih nurutin hal gila yang dia ucapin ketimbang nurutin egonya buat terus sama lo. Di bener-bener sayang sama lo fel" lanjut Brayu.
"Yang di bilang Dilan sama Brayu barusan semuanya bener fel, kita di suruh diem buat nggak cerita ke elo. Karena Arska nggak mau lo terlibat dalam masalah ini, dia nggak mau lo kenapa-napa" jelas Aldy.
"Yang di omongin mereka semuanya bener fel, kita udah tau semuanya, tapi Arska ngelarang kita buat ngasih tau ke elo" lanjut Bella dan Faya serempak.
"Waktu anemia lo kambuh, terus lo pingsan di kafe, Arska juga yang udah nganterin lo kerumah sakit sama yang ngejagain lo fel semaleman. Dia bener-bener sayang sama lo" lanjut Faya serambi merangkul lengan Fella.
__ADS_1
"Jadi waktu itu gue bener-bener nggak ngimpi, Arska bener-bener jagain gue" keluh Fella pelan bibirnya mulai bergetar. Seketika Fella menangis setelah mendengar pengakuan dari teman-temannya itu. Hatinya terasa sesak, ia benar-benar menyesal setelah mengetahui faktanya. "Jadi semua ini, cuma kesalahpahaman, kenapa gue bodoh banget sih" ucapnya pelan. Segera ia tersadar dan berlari mengikuti Arska dengan berlari keluar kafe.