Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Bella Vs Brayu


__ADS_3

Brayu masih di posisi tidurnya, memanjakan dirinya dengan fasilitas yang di berikan oleh keluarga Moregan. Entah mengapa pemuda itu begitu betah tinggal cukup lama di rumah Bella, apa mungkin karena satu rumah dengan pujaan hatinya? Atau entah lah othor juga nggak tau yang ada di pikiran Brayu.


Lagi-lagi Bella berdecak kesal karena pemuda itu urung untuk beranjak dari tempat tidurnya.


"Eh.... kebo! Sampai kapan lo mau tidur terus kaya gini, pulang sana!" Seru Bella seraya melempar bantal yang sejak tadi ia pegang. Sebenarnya, sejak subuh Bella sudah berdiri di depan pintu kamar yang di tempati oleh Brayu, tapi ia tak juga berani membangunkan cowok itu, karena masih terlalu pagi.


Brayu masih tak meresponnya, pemuda itu justru semakin keras mendengkur-nya, entah berpura-pura sedang tidur atau memang ia masih tertidur.


"Ck.... cowok nggak punya aturan, dasar kebo! Gara-gara lo! Kaki gue jadi kesemutan, nungguin lo kelamaan, dan sampai sekarang nyatanya lo belum juga bangun," gumam Bella sambil menarik nafasnya kembali. "Bunda juga! Kurang kerjaan banget nyuruh gue buat bangunin elo." Lanjutnya.


"Huffttt.... kampret! Cepetan bangun." Bella mendesis kesal, ia benar-benar tak bisa menahan kesabarannya untuk waktu yang cukup lama lagi, selimut yang di pakai Brayu di tariknya dengan kasar, dan itu tak membuat Brayu bangun.


Gadis itu lagi-lagi mengomel tanpa henti, ia begitu kesal, kepalanya serasa sudah mendidih, melihat sikap Brayu yang tak kunjung merespon segala ucapan dan tindakannya itu. Sampai Ranita pun membuka pintu dengan perlahan, ia ingin mengecek keadaan pemuda yang beberapa hari ini masih menginap di rumahnya karena memang kondisinya belum terlalu membaik, sekaligus ingin mengecek putrinya yang sejak tadi tak kunjung turun.


"Kenapa cuma di liatin aja sih Bel? Bangunin. Ajak sarapan, udah satu jam lebih loh...kamu disini!" perintah Ranita yang sekarang sudah berada di sebelah Bella.


"Mommy nggak denger apa? Bella dari tadi udah komat kamit, udah persis kaya mbah dukun. Dia malah nggak bangun sama sekali, malah makin kenceng ngoroknya. Gimana Bella mau turun kalau kaya gini caranya."


"Yang sopan dong bel, kalau bangunin tamu itu."


Bella membuang nafasnya dengan sembarang dan kasar, gadis itu benar-benar kesal, karena Ranita justru membela Brayu dan bukan dirinya.


"Mommy tuh kenapa sih.... belain dia mulu. Bella kesel tau nggak dengernya," ucap Bella seraya mengambil guling yang ada di sebelah Brayu dan melemparkannya tetap ke arah muka pemuda itu.


"Sayang, kamu tuh apa-apaan! Dia kalau kaget gimana? Di juga masih sakit!" suara Ranita sedikit meninggi.


"Tuh.... kan mi, nggak bangun! Mommy masih aja belain dia, dia sengaja kali pura-pura masih tidur. Orang tidur kok kaya orang mati!" Ketus Bella.


"Bukannya belain sayang, Mommy cuma ngasih tau kamu biar sopan sedikit kalau sama tamu, apa jangan-jangan dia calon pacar kamu? Makanya kamu seenaknya sendiri banguninnya." Ranita mulai menggoda anaknya ucapannya terdengar ngawur saat sampai di telinga Bella , wanita paruh baya itu mendekatkan wajahnya ke arah Bella. "Ow iya... jangan sembarangan ngomongnya ya sayang, dia masih ada nafas gitu, jangan dikatain kaya orang mati. Nanti kalau kehilangan kamu baru nyesel loh..." Lanjutnya masih dengan nada meledek.


"Tau.... ah... Mommy kayaknya udah nggak sayang lagi sama Bella! Terus ya... Mommy jangan suka bilang kalau dia pacar Bella, karena Bella nggak mau! Pokoknya Mommy ngeselin banget pagi ini." Bella benar-benar sudah mendidih, seakan kepalanya ingin segera mengeluarkan lahar jika ia terlalu lama di kamar tersebut, gadis itu segera berdiri dari kursi dan pergi begitu saja. Membuat Ranita geleng-geleng kepala karena tindakan anak gadisnya itu.


"Anak zaman sekarang, di kasih tau malah langsung ngambek, main pergi aja, udah nggak pamit, anak gadis ku kenapa seperti itu kelakuannya? Mungkin suami ku terlalu memanjakannya," gumam Ranita dengan mata ekor yang masih melihat kepergian Bella yang menghilang di balik pintu. Kini Ranita beralih menatap ke arah Brayu dan segera membangunkan pemuda itu dengan pelan.


Bella menuruni anak tangga dengan wajah tertekuk, mengomel sudah pasti ia lakukan. "Awas aja... kalau lo nggak pulang-pulang, terus bikin masalah! Sampai gue harus kena omelan-nya Mommy....kaya tadi. Bakalan gue cincang lo Bray," kata Bella dengan tangan memukul-muluk pegangan anak tangga.


Sudah seperti lebah saja gadis itu kalau mengomel, cerewetnya sudah melebihi Faya kalau Bella mulai mengomel. Gadis itu sampai lupa kalau penghuni rumah sedang sibuk memperhatikan tingkah konyolnya itu, termasuk Mbok Rumi


"Non Bella, kenapa sejak tadi saya perhatiin dari bawah non ngomel-ngomel terus," tegur salah satu asisten rumah tangga yang dekat sekali dengan Bella, sebut saja Mbok Rumi.


"Mbok tau nggak? Cowok yang beberapa hari Bella bawa pulang?" tanya Bella dengan wajah mendekat kepada perempuan paruh baya itu.


Mbok Rumi hanya manggut-manggut merasa mengerti dengan perkataan anak majikanya itu. "Yang ganteng itu ya non? Bukannya itu pacarnya non Bella." Mbok Rumi asal berucap karena semua penghuni rumah memang tahunya seperti itu.


"Mbok Rumi ngarang ni, mana ada Bella punya pacar kaya gitu." Kini Bella memajukan bibirnya karena kesal.


"Maaf non, Mbok pikir itu pacarnya non Bella."


"Nggak papa Mbok... lagian Bella juga jarang bawa cowok pulang, pasti pada mikirnya juga kaya gitu. Lagian Mommy juga lebih belain itu cowok di banding sama anak sendiri," ucap Bella memulai curhatnya. Ia memeluk mbok Rami, merasa di anak tiri-kan oleh Ranita.

__ADS_1


"Nggak boleh gitu non, Nyonya sayang sama non Bella, mana ada Nyonya marahin non Bella." Mbok Rumi masih saja membela Ranita.


"Mbok Rumi mah gitu, selalu belain Mommy, sebenernya Mbok Rumi sayang nggak sih sama Bella." Kini Bella mulai merajuk kepada wanita paruh baya itu, sejak ia masih kecil jika kedua orang tuanya sibuk dan tak ada waktu luang untuk menemaninya, Mbok Rumi adalah orang yang selalu ada di sisinya, maka wajar jika Bella bisa sedekat itu.


Mbok Rumi tersenyum lebar, ia mengelus pucuk kepala rambut gadis yang sekarang berada di pelukannya itu. Sampai sebuah deheman membuat Bella harus menoleh ke sumber suara.


"Ngadu sama Mbok-nya," ucap Ranita yang sudah berdiri di sebelah Bella di ikuti Brayu yang mengekor di belakangnya.


"Biarin! Lagian lebih nyaman di peluk Simbok, daripada punya Mommy yang bisanya ngomelin terus gara-gara orang itu." Bella meninggikan nada bicaranya, gadis itu menaikan satu bibir atasnya dan mempererat pelukannya, seraya menunjuk ke arah Brayu.


"Maaf Bel, badan gue sakit semua, luka gue juga belum sembuh seutuhnya. Jadi gue nggak terlalu sadar sewaktu lo bangunin gue." Brayu sengaja memelas-kan mukanya.


"Ck... dasar cowok, pinter banget cari alasan!"


"Udah biarin aja Bray, Bella emang suka kaya gitu kalau ngomong. Maklum kelakuannya masih kaya anak kecil, jadi nggak mau ngalah," Ranita sengaja meledek anaknya.


"Ck.... Mommy emang nyebelin," celetuk Bella seraya melepaskan pelukannya dari Mbok Rumi, ia lebih memilih pergi ke meja makan di banding berdebat dengan Ranita.


"Meskipun ngambek, kalau soal makan ternyata emang nggak pernah lupa." Ranita mencoba meledek sekali lagi, tapi Bella tak juga meresponnya dan memilih mengikuti Bella di belakangnya.


Di meja makan, mereka yang beranggotakan tiga orang menyantap hidangan yang berada di depan mereka dengan lahapnya, mereka tak terlalu banyak bicara kalau sudah menyangkut makan, karena Rahendara melarang makan sabil berbicara jika sedang di meja makan.


"Bella udah kenyang, Bella duluan ya mi," ucapnya tanpa menghiraukan Brayu yang masih sabar menguyah itu.


"Eh.... tunggu sayang, jangan pergi dulu. Tungguin Brayu selesai makan, kasihan dia kan kalau kamu tinggal." Ranita mencoba menghadang Bella agar tak beranjak dari tempat duduknya.


"Eh.... nggak boleh gitu, dia kan temen kamu, sekaligus tamu di rumah ini, jadi kamu nggak boleh kaya gitu, ingat kalau Daddy sampai tau! Yang ada kamu kena marah karena sikap kamu ini." Ranita mulai mengancam.


"Iya mi maaf.... Bella nggak akan ngulangin lagi."


'Ternyata dia paling penurut kalau di rumah, meskipun harus pakai embel-embel marah dulu baru dia mau dengerin,' batin Brayu dengan mata sedikit melirik Bella yang ada di depannya.


Bella pun tak sengaja menangkap lirikan mata Brayu yang pastinya di tunjukkan untuk dirinya. "Apa lo! Nggak usah lirik-lirik. Puaskan lo! Gue kena marah terus sama Mommy." Mulut pedas Bella mulai beraksi lagi.


Brayu menggaruk kepalanya yang tak gatal, lagi dan lagi dia selalu salah jika di mata Bella. Sedangkan Ranita di buat geleng-geleng atas tindakan anaknya yang begitu menguras kesabarannya.


Bella mengajak Brayu berkeliling rumahnya dan itu bukan kemauan Bella sendiri, tentu saja itu perintah dari Ranita. "Capek gue, elo kalau mau keliling, keliling aja sendiri," ucap Bella seraya duduk di kursi yang dekat dengan kolam renang.


"Gue juga capek, butuh istirahat juga kali Bel," sahutnya dengan nada pelan, cowok itu tanpa permisi dan langsung duduk di dekat Bella.


"Tempat duduk lain kan masih ada! Kenapa lo suka banget bikin orang naik darah."


"Kalau naik, kan tinggal di turunin aja Bel, nggak perlu marah," jawab Brayu masih dengan nada santainya.


"Huft..... susah ya kalau ngomong sama orang susah."


"Nggak usah di bikin susah kalau lo nggak mau susah. Simpel kan."


"Ck... ngomong sama cowok nyebelin kaya lo itu bener-bener nguras tenaga." Bella mulai melebarkan matanya, melotot ke arah Brayu dengan tatapan penuh kekesalan yang sejak tadi dipendamnya.

__ADS_1


"Gue itu orangnya santai kok Bel, tinggal elo-nya aja kapan mau ngebuka hati buat gue." Brayu menatap balik gadis yang sejak tadi melotot ke arahnya itu.


Mata Bella yang tadinya melotot tiba-tiba berubah menyipit, ketika melihat reaksi cowok yang sejak tadi di bentaknya selalu berbicara santai dan lembut terhadap dirinya, bahkan sorot matanya pun menandakan kalau cowok itu benar-benar tulus dalam setiap ucapan yang keluar dari mulut bibirnya. Dengan segera Bella pun membuang pandangannya, gadis itu tak tau harus berucap apa.


"Setiap ucapan gue selalu lo balik, kenapa lo ngeselin sih." Kini Bella memilih merendahkan nada bicaranya.


Brayu menarik sudut bibirnya, hingga sebuah senyuman terlukis di sudut bibir cowok tampan tersebut, tanpa merasa marah, atau pun ilfil dengan kelakuan Bella, cowok itu justru menyandarkan kepalanya di pundak milik Bella. "Pinjem bahu lo sebentar, kepala gue masih sakit."


"Kalau masih sakit, kenapa minta di temenin keliling rumah, kan elo bisa istirahat di kamar sampai lo sembuh."


"Gue jenuh kalau kelamaan di kamar Bel."


"Lo nggak ada niatan pengen pulang gitu?" Tanya Bella sedikit mengernyitkan keningnya dan melirik sekilas ke arah Brayu.


"Lo mau ngusir gue, dengan kondisi gue yang masih kaya gini?" Brayu memasang muka memelas-nya, cowok itu kini menarik bahu Bella yang tadi di gunakan-nya untuk bersandar.


"Bukan maksud gue mau ngusir elo. Ya... emangnya keluarga lo nggak nyariin apa? Kalau lo nggak pulang-pulang." Gadis itu menatap lurus ke arah Baryu, ia tak mau menunduk atau pun memalingkan wajahnya.


"Gue nggak mungkin pulang dalam ke adaan kaya gini Bel." Brayu menundukkan kepalanya dengan kedua telapak tangan yang menutup rapat di wajahnya, cowok itu terlihat tidak baik-baik saja.


"Lo kenapa? Seenggaknya, lo harus kabarin keluarga lo kan, mereka pasti khawatir banget kalau lo nggak ada kabar kaya gini!" Seru Bella dengan wajah seriusnya, gadis itu benar-benar heran dengan kelakuan Brayu yang menurutnya aneh.


"Mereka nggak mungkin nyariin gue. Karena mereka nggak peduli lagi sama keadaan gue, kecuali kak Jasmin, dia satu-satunya keluarga gue yang paling ngertiin kondisi gue," kata Brayu yang kini telah mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Bella.


"Mana ada orang tua kaya gitu?" gadis itu mengerutkan keningnya lebih dalam seakan ingin mengetahui hal lebih tentang kepribadian Brayu, yang tidak ia ketahui sampai saat ini.


"Bokap udah lama meninggal. Nyokap nikah lagi, gue cuma punya Bokap sambung. Dan semenjak Nyokap gue nikah, dia udah lama banget nggak ngasih kabar ataupun nengokin gue sama kak Jasmin."


Bella menelan saliva-nya, setelah mendengar cerita Brayu tentang keluarganya. Nampaknya hati gadis itu sedikit melunak, ia merasa kasihan, ternyata kehidupan yang di alami cowok itu begitu pahit. Mempunyai orang tua yang hanya mementingkan egonya dan tidak memikirkan perasaan anak-anaknya.


"Yang sabar ya Bray, gue harap lo kuat." Gadis itu menepuk-nepuk pundak Brayu pelan.


Brayu tersenyum sinis sebelum akhirnya ia kembali menatap ke arah Bella. "Santai aja, gue orangnya sabar kok. Di tolak lo berkali-kali aja gue masih bisa sabar, apa lagi cuma masalah yang udah lama gue lupain." Cowok itu kembali biasa saja, seperti tak memiliki beban sama sekali.


"Ck.... ngeselin, gue nyesel udah simpatik sama lo."


"Hahaha..... nggak boleh kaya gitu Bel, dosa loh...."


"Lo masih aja bisa ketawa, padahal tadi lo baru sedih."


"Kalau gue sedih muluk takutnya lo nggak siap." Cowok itu makin cekikikan tak jelas.


"Ya udah...syukur deh kalau lo bisa ketawa lagi," ucapnya dengan besedekap dada.


"Dan gue juga bersyukur karena lo, nggak ngomel-ngomel kaya tadi pagi lagi."


"Mulai lagi! kalau nggak sakit udah gue pukul."


Brayu semakin tertawa melihat celotehan Bella yang terus mengancam ingin memukulnya. Sedang di sisi lain Ranita mulai tersenyum melihat kedua pemuda itu saling berceloteh tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2