
Siang itu Bella nampak sangat serius dengan buku-buku yang sekarang berada di hadapannya, gadis itu sangat serius dengan kegiatannya kali ini. Entah mengapa semangatnya untuk menambah ilmu semakin bertambah ketika memasuki masa kuliah, jauh berbeda dengan saat masih dia masih SMA. Kini ia berada di taman kampus, belajar seorang diri dengan tangan sibuk membolak-balikan buku dan memegangi soal yang sejak tadi mencuri pandangannya, bahkan dia pun sempat menggigit pulpennya, lantaran soal yang ia dapat lumayan agak menguras pikiran. Hingga Leon pun datang menghampiri gadis tersebut dengan wajah sumringahnya.
"Ngapain lo Bel? Dari tadi gue perhatiin tampang lo serius banget?" tanya lelaki itu saat sudah berada di samping Bella.
"Nggak tau apa! Kalau gue lagi belajar, buat kuis besok!" seru Bella dengan nada tinggi ala khasnya.
"Ya elah... gitu aja di ambil pusing, bikin santai aja kali Bel."
"Kalau gue sesantai elo! Yang ada, gue nggak kelar-kelar, kalau besok di suruh ngerjain skripsi! Lo aja nggak lulus-lulus," sindir Bella.
Leon menggaruk kepalanya pelan, membetulkan ucapan Bella barusan. "Ya... elah, tinggal setengah semester lagi, gue juga lulus."
"Tapi temen-temen lo udah pada jadi sarjana kan?" tanya Bella melirik sekilas ke arah Leon, gadis itu kembali fokus pada bukunya dan soalnya.
"Ya... itu kan, karena gue pengen lebih deket sama elo. Jadi wajar aja kalau gue masih bertahan di sini."
"Pengen bertahan di sini? Apa emang kemampuan berpikir elo itu sangat payah, jadi alasan itu yang lo ambil," ledek Bella dengan sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Y-ya karena gue..." Leon tak melanjutkan ucapannya, matanya beralih kepada soal yang sejak tadi di pegang oleh Bella.
"Kebanyakan alasan, bilang aja iya! Susah banget!" seru Bella yang kembali membolak-balikkan bukunya, sambil terus memegang soal yang sejak tadi membuat otaknya semrawut.
Leon hanya mampu menelan saliva-nya, gadis yang incar kali ini memang lebih extra galak dari yang sudah-sudah, bahkan lebih cuek dari perkiraannya sebelumnya. Namun lelaki itu tak kehilangan ide untuk terus mengobrol dengan Bella. Membuat gadis itu lebih dekat dengannya, adalah point terpenting untuk menaklukan hatinya. Itu prinsip dari seorang Leon.
"Yang mana? Yang lo nggak bisa? Biar gue ajarin elo, muka lo udah semrawut kaya gitu saking nggak bisa ngerjainnya," kata Leon, yang langsung merebut kertas soal yang sejak tadi membuat Bella terus fokus ke arah sana.
"Entar, kalau elo yang ngajarin gue! Gue makin bodoh yang ada," ucap Bella yang langsung menarik kertas soal itu dari tangan Leon.
"Gini-gini gue juga pinter! Lo jangan ngeremehin kemampuan otak gue," balasnya, yang langsung menarik kembali kertas tersebut.
Tak perlu waktu lama, untuk Leon memberikan contoh-contoh soal kuis yang ada dalam soal tersebut, lelaki itu memberitahu Bella, mana yang harus di kerjakan terlebih dahulu agar tak memakan waktu sewaktu mengikuti kuis. Lelaki ikut sebenarnya memang sangat pintar dalam segala bidang. Namun karena urusan pribadinya tak terlalu baik, jadi ia harus mengulang setiap semesternya.
"Lo udah paham kan?" tanya Leon sambil melirik ke arah Bella.
"Lumayan, tapi ada beberapa yang nggak gue ngerti, lo bisa tolong ulangin lagi nggak?"
"Oke... bagian mana yang lo nggak tau, kasih tau ke gue, biar gue ulangin lagi sampai lo paham." jelas Leon.
__ADS_1
"Ternyata otak lo lancar juga ya. Gue pikir lo cuma kebanyakan ngomong doang," kata Bella yang mulai percaya dengan kemampuan otak Leon.
"Gue kan udah bilang tadi, gue ini pinter. Cuma ada sedikit masalah aja, makanya gue belum mampu ngerjain skripsi dengan baik," balasnya.
Bella hanya manggut-mangut merasa ucapan lelaki yang ada di sebelahnya itu dapat di percaya. Tanpa nanti-nanti dan tak ingin membuang waktu terlalu lama, Bella langsung menunjuk bagian soal yang menurutnya sulit. Hingga jarak duduk di antara keduanya sangat dekat, Leon tak mau membuang kesempatan tersebut. Sampai Brayu pun melintas dan menyaksikan pemandangan abstrak tersebut. Membuat darah tingginya naik sampai kepuncak.
"Sial! Itu Senior makin hari makin deket aja sama Bella, peluang gue semakin kecil kalau kaya gini caranya," gumam Brayu pelan.
Lelaki itu tak mau, jika gadis yang selama ini telah mencuri hatinya, sampai jatuh ke pelukan lelaki lain. Tanpa nanti-nanti, Brayu pun segera menghampiri tempat mereka berdua. Menerobos di tengah-tengah antara Bella dan Leon. Membuat keduanya kaget.
"Duduk kalian terlalu mepet, gue gerah ngeliatnya. Kalau gini kan gue bisa bernapas lega," celotehnya saat dirinya sudah berada di tengah-tengah antara Bella dan Leon.
Bella membuka mulutnya, matanya melotot. sedangkan Leon berdecak kesal atas tindakan kekanak-kanakan dari Brayu.
"Kekanak-kanakan benget!" seru Leon, lelaki itu sengaja bersuara cukup keras agar terdengar oleh Brayu.
Namun, yang namanya Brayu, ia tak mudah terpancing meskipun Leon menyindirnya sampai seribu kali pun. Lelaki itu pasti bisa menahan diri untuk bersabar, selama tak kelewat batas.
"Lo apa-apaan sih! Gue baru belajar, buat kuis besok!" seru Bella, gadis itu nampak begitu sangat kesal.
"Biar gue aja yang ngajarin elo! Jangan dia," ucap Brayu melirik sekilas ke arah Leon, lelaki itu langsung merebut kertas yang ada di tangan Leon.
"Gue nggak nyari gara-gara sama elo! Cuma
elo terlalu ambil kesempatan buat deket-deket sama Bella. Gue sebagai calon pacarnya merasa panas."
"Ck.... baru calon kan? Belum jadi siapa-siapanya Bella. Kenapa lo harus nyolot kaya gini waktu gue deket sama Bella, lagian kalau elo ngerasa panas tinggal nyemplung aja. Tuh.... ada kola," balas Leon tak kalah pedas.
Bella yang menjadi perebutan antara kedua lelaki tersebut, menghela nafasnya berkali-kali, sambil merapikan bukunya dan memasukannya ke dalam tas ranselnya. "Kalian lanjutin ributnya! Kepala gue pusing dengerin celotehan kalian yang nggak ada gunanya buat gue." Bella langsung berdiri dan pergi begitu saja.
Membuat kedua lelaki itu mematung sesaat. "Ini, gue lakuin demi elo juga Bel!" teriak mereka hampir bersamaan.
Merasa ucapan mereka sama, mata mereka kembali beradu. "Gara-gara lo!" seru Brayu yang langsung berlari menyusul Bella.
Leon juga tak mau kalah, lelaki itu juga mengikuti Brayu dari belakang. Nampaknya mereka akan berusaha keras untuk merebutkan hati Bella kali ini.
"Dasar dua laki-laki sinting, nggak bisa apa kalau ngeliat gue tenang dikit!" gumam Bella dengan wajah yang benar-benar sudah sangat kesal.
__ADS_1
Di kantin. Bella sengaja menyusul kedua sahabatnya sekaligus ingin mengisi perutnya yang sudah terasa sangat lapar.
"Muka lo kenapa kucel banget?" tanya Fella, saat Bella sudah berada di satu meja dengannya.
"Soalnya susah banget ya Bel?" lanjut Faya.
Bella masih terdiam beberapa detik, sambil ekor matanya melirik ke arah Fella dan Faya secara bergantian. "Bukan masalah soalnya!"
"Terus?" tanya mereka kompak.
Bella beralih memijat pelipis keningnya. "Gue capek sama kedua makhluk astral itu," tunjuk Bella saat mengetahui Brayu dan Leon mengikutinya.
Fella dan Faya mengernyitkan kening mereka, sebelum beralih pandang melihat ke arah yang di tunjuk oleh Bella. Terlihat sangat jelas, dari kedua lelaki itu yang saling dorong ketika ingin memasuki pintu kantin.
"Kekanak-kanakan banget sih mereka itu, nggak malu apa di liatin mahasiswa lain," kata Fella yang masih melihat aksi dari keduanya.
"Ternyata cinta bisa buat orang jadi ngerasa gila ya. Sampai rela mempermalukan diri sendiri," lanjut Faya.
"Iya.... kaya gilanya elo ke Aldy, udah sama persis," celoteh Bella.
Faya membenarkan posisi duduknya kembali, gadis itu menatap Bella dengan dalam. "Gue udah nggak sama kak Aldy. Jadi stop! Buat ngingetin akan hal gila gue ke dia dulu."
"Lo tadi bilang apa?" tanya Fella sambil menepuk pundak Faya karena spontan. Merasa tak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.
"Nggak perlu gue ulangi lagi. Semuanya udah jelas kok," balasnya.
"Sorry Fay, gue nggak tau. Lagian elo nggak cerita ke kita. Mana kita tau kalau kalian udah putus." Raut wajah Bella seketika berubah, gadis itu merasa bersalah dengan ucapannya barusan.
"Udah... gue nggak papa, jangan bahas masalah itu lagi," ucap Faya masih dengan senyum paksa-nya. "Ya lo harus pikirin saat ini, gimana cara lo misahin kedua orang itu." Faya mencoba mengingatkan kembali tentang topik pertama dalam obrolan mereka tadi.
"Ck.... tau ah... gue pusing, mending kita cabut aja dari sini! Malu gue jadi tontonan seisi kantin," balasnya sembari berdiri.
"Lo nggak jadi makan?" tanya Fella.
"Udah kenyang, waktu ngeliat muka mereka."
"Tapi lewat mana? Mereka aja masih menuhin pintu kantin?" tanya Faya.
__ADS_1
"Pintu samping kan masih berfungsi," kata Fella yang berjalan terlebih dahulu.
Bella yang masih berdiri dan belum beranjak dari tempatnya. Sekilas melirik roti yang ada di depannya, tak bisa di pungkiri kalau perutnya benar-benar sangat lapar. "Mbok Ani, ngutang dulu," teriak Bella sambil membawa tiga roti di tangannya. Gadis itu langsung berlari mengikuti Fella dan Faya yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya.