Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Tuduhan Dilan


__ADS_3

Regina dan kedua sahabatnya sibuk mengobrol di dekat toilet cowok, saking asyiknya mereka mengobrol hingga beralih topik pembicaraan. Mereka tak mengetahui kalau Dilan di dalam toilet tanpa sengaja mendengar obrolan mereka bertiga. "Gimana gin, rencana lo sukses nggak?" celoteh Melda dengan penasarannya.


"Ya... iya lah, sukses... Regina kok dilawan" jawab Regina dengan bangga sambil mengibaskan rambutnya. "Tapi kalian harus jaga rahasia ini ya, jangan sampai ada orang lain yang tau!!!, bisa bahaya kalau orang lain sampai tau" tegas Regina kepada kedua sahabatnya.


"Cie.... yang sebentar lagi mau dapetin apa yang di impi-impikan, terus dapetin apa yang seharusnya jadi milik lo, selamat ya Gina" ucap Zea memberi selamat.


"Meskipun cara lo nggak baik buat ngedapetinya, kita tetep dukung lo kok gin" lanjut Melda.


"Hahaha.... bisa aja lo mel, kan gue jadi malu ngedengar kejujuran lo barusan. Tapi akhirnya apa yang gue inginin bisa terwujud juga, gue seneng banget !!. Meskipun harus pakai cara kotor buat ngenyingkirin tuh orang" tegasnya dengan kesal.


Di dalam toilet Dilan mulai kesal karena mendengar obrolan dari ketiga perempuan tersebut, ia berfikir hal negatif terhadap Regina, apa lagi setelah mendengar kalimat terakhir itu keluar dari mulutnya, ia semakin yakin kalau menghilangnya Fella, pasti ada hubungannya dengan Regina, ia sudah tak mau bersembunyi lagi. Segera ia menendang pintu toilet cukup keras, sampai mengangetkan orang yang berada di luarnya. "Gue nggak nyangka ternyata lo pelakunya" ucap Dilan dengan emosi.


Mereka bertiga melongo karena ucapan Dilan yang tak mereka mengerti. "Maksud lo??.. apaan sih!!, gue nggak ngerti sama ucapan lo barusan" ucap Regina kesal.


"Udah nggak usah ngelak lagi, gue udah denger...semua obrolan kalian tadi" jelasnya.


"Nggak ada urusannya sama lo" tegas Regina.


"Nggak ada urusannya sama gue??, tapi sahabat gue punya urusan sama lo!! . Gue pengen ngomong sama lo berdua aja, biar lo sadar dan balikin yang seharunya bukan jadi milik lo".


Regina semakin kebingungan dengan ucapan yang keluar dari mulut Dilan, bahkan Melda dan Zea pun tak mengetahui maksud dan tujuan dari ucapan Dilan barusan. Dilan menarik paksa pergelangan tangan Regina, ia tak mempedulikan apakah Regina kesakitan atau tidak. Zea dan Melda mencoba menahan tangan Regina tapi usahanya sia-sia, saat tatapan mata Dilan berubah menjadi dingin dan penuh kemurkaan. "Pangeran lo kenapa sih mel, dingin gitu, biasanya dia kan murah senyum" celoteh Zea yang langsung mempraktekan senyuman yang biasa ia liat pada Dilan setiap harinya.


"Gue nggak tau, baru kali ini gue ngeliat dia sedingin itu sama kita, apa lagi sampai emosi kaya gitu. Gue baru tau" ucap Melda dengan kesalnya.


"Em....btw.... lo nggak cemburu apa?, ngeliat pangeran lo gandeng tangan Regina kaya gitu" ucap Zea yang masih memandang punggung Dilan dan Regina.


Dengan malas Melda menjawab celotehan Zea yang menurutnya ogah sekali ia jawab. "Terus gue harus gimana, kalau yang di sukai Dilan itu bukan gue, tapi Regina!!" ceplos Melda, segera ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya, ia sudah membongkar rahasia yang selama ini ia tutupi dari kedua sahabatnya itu.


Seketika Mata Zea beralih menatap ke arah Melda dengan syok. "What... maksud lo apaan mel?. Gue nggak salah denger kan!!" cecer Zea penuh penasaran. "Jawab gue mel...." Zea mencoba melepaskan tangan yang menutupi mulut Melda. "Jawab pertanyaan gue barusan" tegas Zea dengan sadisnya.


Melda mengangguk dengan malasnya. Ia sama sekali tak mau membahas hal tersebut saat ini.


"Kenapa lo nggak pernah cerita ke gue sih?" ketus Zea. "Padahal kita udah janji kalau nggak boleh ada rahasia di antara kita bertiga" ucap Zea kesal. "Terus... sejak kapan?, lo tau kalau Dilan suka sama Regina?" cecer Zea makin penasaran.

__ADS_1


Melda menghembuskan nafasnya dengan kesal. "Bukannya gue nggak mau ngasih tau ke elo, gue malu kalau harus cerita ke kalian berdua. Nasib gue ngenes bangat, gue nggak mau kalau harus di ketawain kalian" ucapnya memanyunkan bibirnya, Melda ingin sekali mengubur luka lama itu, tapi Zea selalu menyelidikinya. Ia benar-benar kesal dengan sikap kepo sahabatnya itu.


Tak puas dengan jawaban Melda, Zea pun mulai membuka suara lagi. "Lo belom jawab pertanyaan gue yang terakhir. Sejak kapan lo tau Dilan suka sama Regini".


"Huft.....Zea...Zea, kenapa lo malah ngungkit masalah yang seharusnya mau gue lupain sih" ucap Melda makin kesal.


"Gue... masih penasaran tau" celetuk Zea menghentak-hentakkan kakinya.


Dengan malas ia menangapi pertanyaan Zea. "Beberapa hari yang lalu, gue ngungkapin isi hati gue ke Dilan. Tapi Dilan nolak gue, karena dia sukanya sama Regina. Dia bilang kalau dia suka sama Regina udah lama, tapi nggak berani bilang, sampai dia bela-belain nggak mau pacaran. Padahal banyak yang suka sama dia" sesekali Melda menghela nafasnya dengan berat sebelum melanjutkan perkataannya lagi. "Padahal gue sempat beberapa kali ngeliat adik kelas pada ngantri minta nomor ponselnya. Tapi dia sama sekali nggak ngeres pon. Dia milih di katain temen-temennya jomblo akut, kan gue jadi kesel waktu tau hal itu, ternyata sahabat gue sendiri yang dia taksir, padahal gue udah ngarep banget kalau Dilan sukanya sama gue" ucap Melda panjang lebar.


"Hehehe.... gue suka sama jawaban lo barusan mel, nyerocos nggak karuan" ledek Zea.


"Daripada gue ceritanya cuma setengah-setengah, mending gue nyerocos aja sekalian. Gue takut kekepoan lo jadi ngerusak otak gue, buat gagal move on" ucap Melda dengan senyum sinisnya.


"Hehehe.... sorry deh mel, lo tau sendiri gue kan ratu kepo, kalau nggak kepo hidup gue asyik" jelasnya.


"Idih....sana lo balikan sama Brayu, kayaknya otak lo makin hari makin konslet dah semenjak lo putus sama Brayu" ledek Melda.


"Ih.... gue tuh... udah move on lama tau... gue udah nemuin sandaran hati gue yang baru" celoteh Zea dengan girangnya.


"Aldy" ucap Zea nyengir kuda.


"Ya ampun... lo kalau jadian sama Aldy yang ada otak lo makin miring, coba cari yang lain deh.. jangan disitu-situ aja".


"Lah.... emang kenapa?, Aldy kan imut, lagian dia nggak jelek-jelek amat kok. Dia juga temen curhat gue, semenjak gue putus sama Brayu" ucapnya memanyunkan bibirnya.


"Ya... ya... deh.. terserah lo aja, tapi siap-siap aja lo saingan sama adik kelas" celoteh Melda yang langsung melangkahkan kakinya menuju kekelas, ia malas kalau harus berlama-lamaan di depan toilet cowok, yang ada nanti rahasianya ketauan sama orang banyak.


...•°©inta Untuk Fella•°...


Regina yang kesal dengan sikap Dilan langsung saja memberontak. Ia mengigit tangan Dilan yang berada di pergelangan tangannya. "Aw.... apa-apaan sih lo gin?" ucap Dilan mengibas-ibaskan tangannya.


"Yang apa-apa itu elo, ngapain lo marah-marah sama gue, sampai narik-narik tangan gue. Lo pikir tangan gue juga nggak sakit" ucap Regina dengan nada tinggi sambil memandangi pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Gue cuma mau minta, lo balikin apa yang seharusnya bukan hak lo!!" tegas Dilan tak kalah meninggikan nada suaranya.


"Maksud lo apaan sih?, gue nggak ngerti sama ucapan lo!!, dari tadi lo cuma bilang suruh balikin apa yang bukan seharusnya jadi hak gue. Gue bener-bener nggak ngerti sama ucapan lo barusan" ucap Regina dengan ketusnya seraya mendorong badan Dilan dengan cukup kuat.


"Gue cuma mohon sama lo gin, tolong balikin Fella, kasihan Arska. Gue udah denger apa yang lo omongin tadi sama Melda dan Zea. Gue janji nggak akan ngasih tau ke siapa pun, kalau lo dalang di balik penculikan Fella" ucapnya dengan wajah memohon.


Regina menghela nafasnya pelan, sesekali ia menggelengkan kepalanya, ia benar-benar kesal dengan tuduhan yang di tujukan kepadanya. "Gue benar-benar nggak tau Fella dimana?. Gue baru tau kalau Fella di culik" tegasnya.


"Gue tadi udah denger, kalau lo pengen nyingkirin seseorang, dan seseorang itu pasti Fella kan?".


Dengan kesal Regina menendang kaki Dilan dengan cukup keras. Dilan merintih kesakitan akibat tendangan Regina di bagian lututnya, tapi Regina tak menghiraukannya, dengan angkuh Regina bersedekap dada. Senyum sinis ia tunjukan di hadapan Dilan. "Dulu gue emang suka banget sama Arska, saking sukanya gue sering khilaf. Tapi rasa suka itu udah sirna seiring berjalannya waktu. Gue sadar diri, kalau Arska nggak mungkin pernah suka sama gue. Gue udah mutusin mundur waktu Arska bilang udah punya tunangan!!" jelasnya.


Mata Dilan membulat, segera ia menatap ke arah cewek yang ada di hadapnya saat ini. "Maksud lo...lo nggak tau keberadaan Fella dimana, dan lo bukan orang yang nyulik Fella?".


"Hem...... gue bukan tipe orang yang suka ngerusak hubungan orang lain, lagian tampang gue ada apa tampang kriminal" ucapnya memalingkan wajahnya.


Dilan menghela nafas lega, ia tersenyum simpul setelah mengetahui Regina sukses move on dari sahabatnya itu. Regina yang melihat ekspresi Dilan yang berubah menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak percaya jika sahabatnya bisa menyukai cowok aneh yang ada di hadapannya saat ini. "Gue heran, kenapa Melda bisa suka sama cowok kaya lo. Cowok yang asal nuduh tanpa ada buktinya".


Senyum Dilan sirna seketika, ucapan Regina benar-benar menusuk ke hatinya. Dilan menelan saliva nya, ia menjadi gugup.


"Lo bener-bener bikin gue kesel. Bikin darah tinggi gue naik" ucapnya seraya melangkahkan kakinya, Regina ingin cepat-cepat pergi meninggalkan tempatnya saat ini. Tapi Dilan dengan cepat menghalangi langkahnya. "Gue minta maaf gin, gue udah keterlaluan sama lo" ucapnya sambil memandang ke arah Regina.


"No problem... Gue nggak nyalahin lo kok, wajar aja kalau lo curiga sama gue. Karena gue, dulu sempet suka sama Arska, tapi yang harus gue ingetin ke elo, lo jangan suka nuduh orang yang enggak-enggak deh, nggak baik tau. Dan gue mau ngasih tau ke elo, cewek yang wajib lo curigai itu Mona si Ketos, dia kan demen benget tuh sama Arska !!" ucap Regina sambil melirik ke arah tangannya. "Dan satu hal lagi, tolong dong, lepasin tangan gue!!, gue paling nggak suka di pegang-pegang sama cowok lain, selain cowok gue!!" tegasnya.


Seketika Dilan melepaskan tangan Regina, ia menundukkan wajahnya. Dengan wajah datar Regina melangkahkan kakinya pelan sebelum suara Dilan menghentikan langkahnya. "Lo mau kemana?".


"Ya balik ke kelas lah, ya kali gue mau balik ke toilet lagi" jawabnya sambil menoleh.


"Sebenernya... gue...." ucap Dilan terputus-putus, ia masih ragu mengungkapkan isi hatinya. Dilan menghampiri Regina. Gerakannya gugup, sesekali ia menggigit bibir bawahnya, ia terlihat grogi. Regina yang melihat sikap Dilan langsung saja membuka suara. "Lo mau ngomong apaan lagi sih, jangan bikin gue tambah kesel ya".


"Gue....suk...".


Belom sempat melanjutkan ucapannya Regina terlebih dahulu memotong pembicaraan Dilan. "Gue nggak mau lagi lo tuduh-tuduh... udah cukup!!!... OKE!!!, gue mau balik ke kelas" ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya dengan segera ia berlari pelan.

__ADS_1


"Gue suka sama lo gin, maksud gue!!!" cecernya dengan nada pelan. "Lo bodoh banget sih lan, kenapa harus pakai acara gugup segala" ucapnya memukul kepalanya pelan. Segera ia mengikuti Regina kembali kekelas.


__ADS_2