
Sampai di parkiran Fella sibuk mencari-cari mobil Arska, tanpa ia sadari sebuah mobil muncul dari arah kiri menuju ke arahnya berdiri. Mobil berwarna merah itu melaju dengan kecepatan cukup tinggi, dan BRAKKKKK.... Fella mengalami luka cukup parah di bagian kepala, darah segar mengalir di sekujur tubuhnya. Seisi kafe berhamburan keluar untuk menolong Fella termasuk, Tristan dan kedua sahabatnya. mobil yang menabraknya segera tancap gas, Mona tak mau mendapatkan masalah karena tindakan kriminalnya barusan.
"Fel.... bangun.... gue nggak mau kehilangan lo, lo sahabat gue yang paling baik" ucap Bella dan Faya, suara serak terdengar jelas dari mulut mereka, isak tangis mulai terdengar.
"Gue pulang dari Amerika jauh-jauh, buat ngasih kejutan ke elo dek. Kenapa elo kaya gini" ucap Tristan memegangi lengan Fella air matanya menetes.
Dilan kesal dengan sikap Arska yang tak dewasa, ia tak mau mendengarkan ucapan Aldy. Sepuluh menit ambulan datang, Fella segera di bawa ke rumah sakit terdekat. Badan Brayu bergetar hebat. Segera Dilan merangkulnya, ia tau kalau sahabatnya itu fobia dengan darah.
"Lo baik-baik aja kan bray" ucap Dilan memastikan.
"Kenapa lo ikutan keluar sih bray, lo itu kan fobia sama darah, nggak usah maksain kalau lo nggak sanggup" celetuk Aldy.
"G-gue... p-pengen ngeliat keadaan Fella" suara Brayu terdengar lirih dengan badan yang bergetar.
"Gimana lo bisa mastiin keadaan Fella, kalau lo sendiri aja kaya gini" tukas Dilan.
"Sekarang nggak penting kondisi gue, cepetan hubungin Arksa" tegasnya menguatkan diri.
Segera Aldy mengeluarkan ponselnya, ia mencoba menghubungi Arska, tapi ponselnya tak aktif. Aldy mencoba beberapa kali tapi hasilnya nihil. "Ponsel Arska nggak aktif" keluh Aldy.
"Tuh... anak keterlaluan banget sih" ucap Dilan mulai emosi, "Lo jagain Brayu dy, biar gue samperin Arska, entar lo tanya Faya aja, dimana Fella di rawat" tegasnya seraya meninggalkan Brayu dan Aldy.
Dilan segera melajukan mobilnya kecepatan tinggi, sesekali ia memukul setir mobilnya. Ia sungguh kecewa dengan sikap Arska yang kekanak-kanakan.
__ADS_1
...°•°©inta untuk Fella°•°...
Sampai di halaman rumah Arska, ia segera membuka pintu mobilnya, dengan langkah cepat Dilan masuk ke rumah Arska. Ia mengepalkan tangannya, "Ka..... Arska.... lo dimana" ucapnya dengan berteriak, seraya menaiki anak tangga emosinya mulai memuncak.
Arska yang tak memiliki tenaga hanya tertidur lemas di atas kasur, tanpa mempedulikan teriakan yang memanggilnya. Dengan cepat Dilan membuka handel pintu kamar Arska. "Ka... dari tadi gue manggilin lo, kenapa lo nggak ada respon sih, ponsel lo juga nggak aktif, gue emosi tau sama sikap lo yang kekanak-kanakan" ucapnya seraya mendekati tempat tidur.
Arska masih tak bersuara, ia merasa hatinya sangat kacau. Ia sangat frustasi, ini kali pertamanya, ia bertengkar dengan kekasihnya itu. Cewek yang ia sayangi harus terluka karen sikapnya.
"Ka... gue ngomong sama lo, lo bisa nggak sih luangin sedikit waktu lo buat dengerin nasehat gue !!!" cecer Dilan seraya duduk di tepi ranjang.
"Gue nggak semangat buat ngobrol lan, beberapa minggu ini semangat gue udah ilang, semenjak gue jauh dari Fella" suaranya lemah tak berdaya.
Emosi Dilan mulai surut setelah mengetahui keadaan Arska yang menyedihkan.
"Dia nggak butuh gue, dia udah punya pengganti gue, dia tega meluk cowok lain di depan mata kepala gue, dan itu makin ngebuat hati gue sakit" celetuknya, Arska menutup wajahnya menggunakan bantal.
Dilan mengerutkan keningnya sampai kedua alisnya menyatu. "Yang lo maksud cowok yang ada di kafe tadi?".
Arska membuka penutup wajahnya, ia mengangguk dengan malasnya.
"Ya Allah ka, itu kakak sepupunya Fella, di pulang dari Amerika, buat ngasih kejutan ke Fella".
Arska bangkit dari tidurnya ia melirik ke arah Dilan, matanya sayu seperti orang tak ada semangat untuk hidup.
__ADS_1
"Lo ngapain... ngeliatin gue kaya gitu".
"Kata-kata lo barusan, beneran apa cuma buat ngehibur gue" celetuknya.
"Itu sekarang nggak penting, terserah lo mau percaya apa enggak, yang terpenting Fella butuh lo sekarang juga !!" tegas Dilan.
"Gue belom siap ketemu dia saat ini lan, dia pasti benci banget ngeliat gue" suara Arska terdengar paruh, seraya membanting kan tubuhnya ke kasur lagi.
"Ya udah terserah lo aja, gue kesini cuma mau ngasih tau ke elo tentang keadaan Fella yang nggak baik-baik aja, sisanya kalau lo nggak peduli ya udah, yang terpenting gue udah ngasih tau elo. Dan gue sekarang mau kerumah sakit buat mastiin keadaan Fella baik-baik aja" tukas Dilan seraya berdiri.
Mata Arska melotot, ia segera bangkit dari tidurnya lagi. "Lo barusan bilang apa?, Fella sakit?".
"Bukan cuma sakit, dia antara hidup dan mati. Fella tadi ngejar lo, pas lo keluar dari kafe. Dia jadi korban tabrak lari" jelas Dilan.
Arska mengusap wajahnya cukup keras, ia sama sekali tak bisa menjaga kekasihnya dengan baik, ia berteriak cukup keres kali ini ia benar-benar frustasi, hingga Dilan mulai menenangkannya.
"Lo... nggak bisa kaya gini terus ka, sekarang yang paling penting adalah jenguk Fella, pastiin kalau dia dalam keadaan selamat".
Arska mengangguk pelan, segera ia meraih jaket yang ada di sampingnya. Sesekali ia menitihkan air matanya, ia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri, kenapa semua ini harus terjadi sama hubungan mereka. Yang semulanya hangat dan tanpa halangan, sekarang menjadi rumit dan penuh mala petaka. Dilan yang melihat kegelisahan di dalam diri Arska sontak membuka suara. "Jangan terlalu nyalahin diri sendiri ka, semua ini bukan sepenuhnya salah lo" ucap Dilan mencoba menenangkan Arska.
"Tetep aja lan, ini semua salah gue, gue nggak bisa jagain Aya dengan baik".
Dilan berdecak kesal, kenapa semuanya bisa seperti ini. Banyak kejadian yang janggal pada hubungan sahabatnya itu. Ponsel Dilan berbunyi tanda notifikasi pesan masuk, ia segera mengambil ponselnya dan membaca pesan dengan cepat. Aldy telah menginformasikan alamat rumah sakit yang telah menangani keadaan Fella saat ini. "The Hospital Internasional" kata-kata itu terucap dari bibir Dilan pelan. "Cabut ka, gue udah dapetin alamatg, dimana Fella di rawat" ucap Dilan.
__ADS_1