
Fella melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi, sesekali ia melirik jam tangannya, ia takut kalau sampai terlambat menjemput kekasihnya. Lain halnya dengan Arska yang tak sabaran menunggu bel pulang sekolah berbunyi, karena hari ini ia tak memiliki jadwal les, jadi ia bisa pulang lebih awal. Brayu yang sedang mengawasi gerak gerik Arska langsung saja bersuara, "Yang mau di jemput, senyam-senyum terus, dari tadi ngelirik jam muluk" ucapnya seraya menyenggol siku Arska.
Arska tersenyum, "Gimana nggak seneng, yang jemput tunangan gue sendiri" ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Pamer... aja terus" ucap Brayu sewot.
"Gue nggak pamer bray, gue ngomong apa adanya".
"Ya... ya... terserah lo aja deh, capek gue ngomong sama orang bucin kaya lo" ucapnya pelan, seraya menaruh kembali kepalanya di atas meja.
"Ya elah... gitu aja ngambek, play boy kok loyonan sih sekarang, status play boynya beneran mau di copot ni" sindirnya.
Brayu tak menggubris sindiran Arska, ia sibuk memejamkan matanya tanpa mengikuti pelajaran dengan benar.
Bel, yang di tunggu-tunggu Arska dan penghuni sekolahan pun berbunyi, segera ia merapikan buku-bukunya dengan cepat ia memasukannya ke dalam tasnya.
"Semangat amat, sih..." tegur Aldy.
"Gimana nggak semangat, yang jemput bidadari nya, ya pasti semangat lah" timbrung Dilan.
"Bisa aja lo pada" ucap Arska seraya mengendong tasnya.
Mereka berempat keluar kelas dengan candaan yang biasanya mereka lontarkan saat pulang sekolah, membahas hal-hal yang tak penting, sedangkan Brayu hanya terdiam mendengarkan ketiga sahabatnya itu mengoceh tak jelas, hingga Dilan mulai meledeknya."Brayu kemana ni?, tumben nggak ada suaranya?, jangan-jangan lo masih mikirin masalah lo sama Bella, udah lah, jangan terlalu di pikirin, bikin slow aja" ucap Dilan seraya merangkul pundak Brayu.
"Lo jangan ngeledekin muluk lah lan, ngasih solusi kek, jangan bikin otak gue tambah mikir, pusing ni" ucap Brayu.
"Hahaha sorry bray" ucapnya seraya memukul lengan Brayu pelan. "Jangan jadi cowok yang lembek bray, optimis aja, lo pasti bisa ngeluluhin hatinya Bella, mungkin belom sekarang, ya mungkin aja suatu saat nanti" lanjutnya mencoba menghibur Brayu.
"Nah... gitu dong, baru sahabat gue, ngasih semangat, jangan kaya dua orang yang ada di depan kita itu, cuma ngejek muluk, nggak ngasih solusi, apa semangat gitu" sindirnya sambil menunjuk menggunakan dagunya.
Arska dan Aldy pura-pura tak mendengar sindiran dari Brayu, mereka berdua malah sibuk tertawa. Brayu yang sedikit kesal, karena tak ada responan dari Arska dan Aldy, langsung saja melayangkan kakinya ke arah Arska dan Aldy, tapi dengan cepat mereka berdua langsung menghindar, alhasil tendangannya bukanya tepat sasaran, malah celana Brayu robek cukup lebar, karena langkahnya melebihi batas maksimal. Arska, Aldy dan Dilan kompak tertawa setelah melihat apa yang mereka saksikan.
"Anjay reputasi lo sebagai play boy bisa hancur bray" ucap Aldy meledek.
"Diem lo pada, ini semua gara-gara lo berdua, coba kalian berdua nggak ngehindarin gue, nggak bakalan celana gue robek" ucapnya seraya melepaskan jaketnya.
"Hahaha... buruan gih, lo tutupi tuh, makin lebar sobeknya, entar anak-anak yang lain, kalau pada tau, bisa kena bully lo" celetuk Dilan.
"Hahaha... anjay celana dalem lo hello kitty, lo pakai celana bokser punya adik lo bray" ledek Arska sambil menunjuk celana Brayu. Sontak mereka bertiga kompak menertawakan Brayu.
Sementara di halaman sekolah, Fella masih menunggu kedatangan Arska, banyak mata yang melirik ke arahnya, banyak juga yang menyapanya, Regina pun tak luput dari mereka, dengan berani Regina dan ke dua sahabatnya segera menghampiri Fella, senyum manis terlukis di sudut bibir Regina.
"Hay... nama lo siapa?" ucap Regina sambil menjulurkan tangannya.
Fella yang menatap ke arah Regina segera menjabat tangan Regina dengan pelan, "Nama gue Fella" ucapnya di iringi senyuman.
"Nama gue Regina, ini Zea dan yang ini Melda" ucapnya sambil mengenalkan ke dua sahabatnya itu.
"Salam kenal ya, Fella" ucap Zea dan Melda kompak.
"Iya salam kenal juga" ucap Fella seraya melepaskan tangannya dari genggaman tangan Regina.
"Kita teman sekelasnya Arska, btw lo tunangannya Arska kan?".
__ADS_1
Fella hanya mengangguk pelan, di iringi dengan senyum manisnya.
"Lo cocok deh... sama Arska, yang satunya ganteng banget terus yang satunya lagi cantik banget, pokoknya kalian berdua serasi banget.... emang nggak salah Arska milih lo" puji Zea.
Regina dan Melda kompak mengangguk, mereka setuju dengan ucapan Zea barusan. Regina menepuk pundak Fella pelan, "Gue mau ngasih informasi, lo pokoknya harus hati-hati, ada orang saiko yang nggak suka sama hubungan kalian, dia mau coba ngerusakin hubungan kalian" ucap Regina pelan.
Fella menyipitkan matanya, "Maksud kak Regina apa ya?".
"Jangan manggil kak, kelihatan lebih tua, gue kan masih muda".
Fella tertawa kecil mendengar ucapan Regina barusan, "Emang lo lebih tua daripada gue kak, lo kan temen sekelasnya Arska, kalau gue masih kelas Xl" jelasnya.
"Jangan manggil kak dong, manggil nama gue aja biar keliatan akrabnya, biar keliatan lebih seumurannya" ucap Regina dengan menaikan turunkan alisnya.
"Oke.. Regina".
"Nah.... gitu kan lebih enak di denger, ucapan gue barusan jangan lupa ya fel".
"Maksud lo, tadi apa ya?, gue masih bingung" ulangnya.
"Maksud Regina tadi, lo cuma di suruh hati-hati aja, di sekolahan ini ada yang ngejar-ngejar si Arska, takutnya entar jadi pengaruh buat hubungan lo sama Arska" jelas Melda.
"Iya fel, lo harus hati-hati pokoknya" lanjut Zea.
Regina melirik ke motor sport milik Fella, ia tersenyum simpul. "Lain kali boleh dong fel, ajarin gue naik motor kaya punya lo, dari dulu gue pengen banget bisa naik motor kaya punya lo ini, tapi nggak dapet izin" celetuk Regina sambil memegangi motor milik Fella.
Fella tersenyum simpul, "Boleh, kapan aja kalau lo mau di ajarin, bisa kok, tapi kalau gue ada waktu luang ya".
"Deal ya" ucap Regina penuh semangat.
Regina dan Melda pun juga ikut pamit, "Gue juga pulang dulu ya fel" ucap mereka berdua hampir bersamaan.
"Oke..., makasih ya, buat info kalian tadi, hati-hati pulangnya" ucap Fella dengan ramahnya.
"Oke... lo juga hati-hati ya pulangnya, pegangannya yang erat, biar makin sweet" ledek Regina seraya melambaikan tangannya, dan mengikuti kedua sahabatnya dengan berlari.
Fella geleng-geleng kepala, ia tersenyum setelah mendengar ucapan Regina barusan. Pak Doni satpam yang dari tadi mengamati Fella, segera menghampiri Fella dan ikut duduk di samping Fella. "Eh....mbak, lagi nungguin siapa?" tanya Doni memastikan.
Fella menoleh ke sumber suara, ia tersenyum sesaat, "Saya... nungguin tunangan saya pak" jelas Fella.
Mata Doni terbelalak, setelah mendengar ucapan Fella barusan, "Kecil-kecil udah tunangan mbak-mbak" celetuk Doni geleng-geleng.
Fella tersenyum mendengar ucapan Doni barusan, "Ya elah Pak, emang kalau mau tunangan harus nunggu dewasa dulu ya baru di bolehin".
"Hehehe...nggak juga sih mbak" ucap Doni nyengir kuda.
"Lagian, kalau udah ada ikatan, kalau mau macem-macem kan mikir dua kali Pak" jelas Fella.
"Iya juga ya mbak, ngomong-ngomong, kalau boleh tau tunangan mbak namanya siapa, siapa tau Bapak kenal".
"Nama tunangan saya, Arska Aregan Pak" jelas Fella.
Mata Doni makin terbelalak, setelah mendengar nama Arska di sebut-sebut, "Ya ampun si gunung es, ternyata udah punya tunangan" celetuk Doni yang langsung menutup mulutnya rapat.
__ADS_1
Fella melihat ke samping, "Bapak tadi bilang apa?, si gunung es !!!".
Doni nyengir sesaat, "Iya mbak, soalnya mas Arska itu di julukin kaya gitu kalau di sekolahan ini, guru-guru juga sama pada njulukin kaya gitu" jelas Doni.
Fella tertawa kecil, "Masak sampai segitunya sih pak".
"Iya mbak, saking irit ngomongnya, sama nggak pernah senyum, sampai-sampai ekspresinya yang datar itu ngebuat julukannya makin cocok buat mas Arska".
"Iya pak, saya faham sekarang" ucap Fella seraya menutupi mulutnya, ia menahan tawanya.
Doni garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, "Maaf ya mbak, saya nggak bermaksud ngejelekin mas Arska".
"Hehehe.... nggak papa pak, justru saya malah seneng, saya jadi punya julukan baru buat Arska".
Mereka yang berlalu lalang semakin terpesona, saat melihat senyum manis muncul di sudut bibir Fella. Hingga datang segerombolan cowok yang berhenti pas di hadapan Fella dan Pak Doni, mereka ingin berkenalan dengan Fella. Arska dan ketiga sahabatnya menuruti anak tangga, mereka masih asyik bercanda, hingga Brayu memecah tawa Arska, "Ka, lo mending simpan tawa lo dulu deh, Fella tuh di kerubunin cowok-cowok IPS 1 tuh" ucapnya sambil menunjuk ke arah Fella dengan dagunya.
"Anjay, tadi dari pagi sampai siang, sampai pulang sekolah jadi trending topik, sekarang cewek lo jadi pusat perhatian satu sekolahan, cowok semua pada ngantri, pengen kenalan" celetuk Dilan.
Segera Arska melihat ke arah yang ditunjuk oleh Brayu, mata Arska membulat segera ia berlari mendekati kekasihnya. Ia meraih tangan Fella dengan cepat, "Maaf ya sayang, lama ya nunggunya" ucap Arska sambil melirik ke arah cowok-cowok yang ada di hadapan Fella, tatapannya tak bersahabat, Fella mengelus-elus tangan Arska agar tak emosi, "Iya nggak papa kok sayang" ucapnya pelan.Dengan segera cowok-cowok yang ngerubunin Fella kabur dengan cepat, karena mereka tak mau mendapat amukan dari Arska.
Brayu, Aldy dan Dilan langsung mendekati Arska, mimik wajah Aldy dan Dilan siap mengejek, "Sayang maaf ya, lama nungguin nya" ucap Aldy dengan mimik wajah yang di buat-buat, seraya memegang tangan Dilan.
"Nggak papa kok sayang, aku rela nungguin kamunya" lanjut Dilan dengan nada yang di buat-buat dengan mimik wajah yang mengesalkan.
"Anjay... muka kalian berdua, bikin gue ilfil nyet" celetuk Brayu.
Arska menatap lurus ke arah Aldy dan Dilan, Aldy menelan salivanya, "Ampun bang Arska, adik Aldy dan Dilan cuma bercanda kok" ucap Aldy sambil mengelus tengkuknya yang tiba-tiba saja mengering.
Senyum sinis terlukis di sudut bibir Arska, "Lo pada, udah mirip sama bencong perempatan deket lampu merah, taman kuliner" ucap Arska tertawa terbahak.
Pak Doni yang menyaksikan pemandangan langka itu sontak menggeleng-gelengkan kepalannya, ia baru mengetahui kalau sifat Arska bisa humoris juga.
"Anjay... lo tega banget sih ka, ngatain kita kaya bencong" ucap Aldy memelas.
"Udah ah..., lo jangan pasang muka memelas lo tau dy, gue mau pulang dulu sama baby gue" ucap Arska seraya menaik turunkan kedua alisnya, senyum lepas terlukis di wajah tampannya.
"Alay lo ka" celetuk Brayu.
"Bodo amat.... yang penting gue udah punya gandengan" sindir Arska seraya mengandeng tangan Fella agar mengikuti langkahnya dari belakang.
"Pamer aja terus" ucap Brayu nyinyir.
"Udah, lo mending urusin celana lo yang sobek, daripada lo ngatain gue terus" sindirnya.
Segera Brayu merapatkan jaketnya, agar tak terlihat kalau celananya sobek, " Anjay lo ka, nggak usah teriak-teriak juga kali".
"Hehehe.... sorry kelepasan, gue pulang dulu ya" ucap Arska seraya menaiki motornya. Fella melakukan hal yang sama, segera Arska menarik tangan Fella agar memeluknya lebih erat. "Helmnya udah di pakai yang bener kan sayang" ucapnya dengan nada yang di buat-buat agar romantis.
"Udah sayang" ucap Fella pelan.
"Para jomblo di larang liatin, nanti minder" celetuk Arska segera ia menyalakan mesin motornya, "Gue pulang duluan ya" lanjutnya seraya melajukan motornya pelan.
"Tuh.. anak makin hari makin menjadi aja" ucap Dilan.
__ADS_1
"Biarin aja lah lan, namanya juga baru jatuh cinta, wajar lah" timbrung Aldy.
"Woy... mau pulang nggak kalian, apa mau jagain halaman barengan pak Doni" ucap Brayu seraya meninggalkan Aldy dan Dilan menuju parkiran. Aldy segera bergegas mengikuti langkah Brayu di susul dengan Dilan di belakangnya.