Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Balikan!


__ADS_3

Kevin dan Faya sedang menikmati suasana sore di sebuah kafe, mereka nampak berbincang tentang hal yang mungkin sedikit serius. Keduanya nampak asyik sampai tak mengetahui kehadiran dua perusuh yang siap untuk merusak moments kedua remaja itu. Ya, mereka tak lain adalah Aldy dan Alina, kedua kakak beradik itu memiliki rencana untuk mengambil perhatian dari Faya, bahkan Alina siap untuk menjadi gadis menyebalkan agar Aldy bisa balikan lagi dengan mantan kekasih kakaknya itu.


"Abang siap?" katanya bertanya.


Anggukan kecil di iringi senyum licik terlihat menghiasi wajah lelaki tersebut. "Ya udah ayo, manggut-manggut mulu kapan dapetnya." cicit Alina yang langsung menarik tangan Aldy hingga sampai ke meja yang telah di duduki oleh Faya dan Kevin sejak tadi.


"Kak Faya," sapa-nya sok pura-pura tak mengetahui apa-apa, padahal sejak tadi ia terus menguntit Faya kemana saja.


Keduanya kompak menoleh ke sumber suara yang memang memanggil namanya. "Alina," ucap Faya pelan.


"Iya ini aku, kak" balasnya dengan senyum sumringah.


"Pengganggu!" gumam Kevin dengan suara yang mampu di dengar oleh siapa pun yang ada di sana.


Mengangkat satu alisnya, seraya menarik kursi yang tepat berada di depannya. "Gabung ya," katanya yang tak mau bosa-basi.


"Abang juga duduk lah, masak kaya patung berdiri aja. Emang nggak capek!" sindirnya saat mengetahui Aldy masih berdiri tegap menatap ke arah Faya.


Sedangkan Kevin membelalakkan matanya, saat si gadis menyebalkan itu memanggil nama Aldy dengan sebutan Abang.


"Abang?" ulangnya dengan atensi menatap Alina.


"Iya kenapa?" sahut Alina cepat dengan mata melebar.


"Pantesan aja ngeselin, ternyata dari darah yang sama." cibir Kevin kesal.


"Barusan kamu bilang apa?" Alina meninggikan nada bicaranya dengan alis terangkat sebelah.


"Lo tuh ngeselin. Sama kaya Abang lo yang suka ganggu moments gue sama Faya!" jelasnya.


Faya menutup wajahnya, merasa malu sekaligus kesal dengan kedua orang yang kini duduk di hadapannya itu. Bakalan jadi perang dunia ke seratus enam puluh lima, dan nggak ada habisnya kalau gue tetap di sini. batinnya dengan atensi melirik ke arah Aldy.


Mengangkat kedua alisnya, merasa Faya sejak tadi terus menatapnya. Gadis itu hanya mengangkat sedikit dagunya, mengajak lelaki yang sudah duduk di sampingnya itu untuk keluar dari kafe tersebut. Aldy hanya mengangguk, merasa paham dengan perintah yang di berikan oleh Faya, perlahan keduanya menarik kursi, mereka berdiri dengan sangat hati-hati agar tak mengalihkan pandangan kedua remaja yang sedang beradu mulut itu.


Aldy dan Faya keluar dari dalam kafe, mereka tak menghiraukan Kevin dan Alina yang masih sibuk berdebat. Bahkan cicitan mereka terdengar hingga luar kafe.


"Huft... capek aku dengerin mereka ribut terus tiap ketemu, kapan mereka akurnya sih." curhat Faya dengan kedua tangan sudah berada di pinggangnya. Sesekali ia menatap kedalam kafe.


"Mending kita jalan aja, nggak usah peduliin mereka." sahut Aldy.


Menghela napas panjang, dan sedikit menegapkan tubuhnya. "Oke." balasnya singkat.


Tak ingin Faya berubah pikiran, Aldy langsung menarik tangan gadis itu dan menuntunnya ke parkiran. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk kesekian kalinya, ia harus berhasil membuat Faya menjadi miliknya kembali.


Sedangkan Kevin yang masih berdebat pun di buat gelagapan hingga mengalihkan atensinya ke arah tempat duduk yang tadi di duduki oleh Faya.


"Lah, gue di tinggal lagi." katanya yang mulai sadar jika Faya sudah meninggalkan dirinya.


"Yah, kak Aldy juga ninggalin aku." sambung Alina.


Keduanya kompak berdiri dan memutar bola mata mereka untuk menemukan keduanya. Kevin segera berlalu lalang meninggalkan Alina, sejenak gadis itu melebarkan matanya dan ikut berlalu lalang karena tak ingin jika ia di tinggal seorang diri di sana. Mengekor di belakang Kevin dengan wajah tertekuk, gadis itu mengikuti Kevin hingga ke arah parkiran.


"Ngapain lo ngikutin gue!" kesal Kevin yang merasa memiliki buntut baru.


Menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku pulang sama siapa?" tanya Alina polos.


"Terserah lo!"


Tanpa meminta persetujuan sang pemilik motor, Alina langsung saja mendudukkan dirinya di jok belakang.


"Lo ngapain?" Kevin memutar lehernya agar bisa melihat Alina.

__ADS_1


"Anterin pulang."


"Nggak mau! Setiap kali ketemu elo, hidup gue selalu sial, dan lagian gue ini bukan tukang ojek yang seenaknya elo suruh-suruh!" Kevin mulai kehilangan kesabaran.


Tak menghiraukan ucapan Kevin dan hanya memajukan bibir bawahnya, Alina memegang erat jaket yang di kenakan Kevin hingga jaket itu napak kusut.


Menghela napas dengan kepala menunduk, Kevin semakin malas untuk berdebat dengan Alina, karena ujung-ujungnya dia akan kalah juga.


"Yah, kak Aldy sama kak Faya kelewatan. Mereka udah cabut duluan." ucapnya dengan jari telunjuk mengarah ke depan.


Kevin yang semula menundukkan kepalanya langsung menatap lurus ke depan, lelaki itu segera memakai helm full face-nya tanpa menghiraukan gadis yang ada di belakangnya itu. Menyalakan mesin motornya dan memacu kuda besinya dengan kecepatan rata-rata.


Seperempat perjalanan, Kevin mulai mengeluh. "Lo berisik! Ganggu konsentrasi gue!" teriak Kevin dengan suara yang sudah terbang entah kemana.


Sedangkan yang di teriaki tak paham sama sekali, ia tak mendengar teriakan Kevin yang sengaja mencicitnya.


"Woy! Lo budek ya?" teriak Kevin kembali.


Memukul lengan Kevin pelan. "Sembarangan. Siapa juga yang budek."


"Dari tadi lo nggak dengerin gue ngomong." kesalnya.


"Jadi cowok yang sabar kek. Kaya Abang aku." Alina mulai membandingkan.


"Terserah lo! Lo berisik banget!" serunya dengan tampang tertekuk.


Mendengus kesal, itulah yang di rasakan Alina kali ini. Gadis itu memilih untuk diam, hingga mereka terhenti di sebuah taman.


"Ngapain kita berhenti di sini?" kata Alina bertanya, gadis itu terlihat ingin memprotes lagi.


"Turun!" perintah Kevin.


"Lah, kenapa aku di suruh turun?" Alina nampak celingukan.


Mengangkat bibir atasnya sesaat, Alina nampak kembali kesal. Gadis itu akhirnya turun dari atas motor dengan terpaksa. Mengikuti langkah kaki Kevin untuk memasuki taman tersebut.


"Ngapain kita kesini, sih?"


"Gue nggak ngajak elo kesini! Ngapain lo ngikutin gue!" ketus Kevin yang masih kesal.


Alina menarik pergelangan tangan Kevin cukup kuat, ia tak ingin jika rencananya dan Aldy sampai gagal gara-gara lelaki itu terus mengganggu moments berdua mereka.


"Ngapain lo tarik tangan gue? Lepas nggak!"


"Aku nggak akan biarin kamu ganggu mereka." balasnya dengan tangan masih menahan.


Rahang Kevin mulai mengeras, karena Alina mencoba menghalanginya. "Gue bilang lepasin tangan gue!" sentak-nya.


"Aku nggak mau!"


"Lo tuh keras kepala!" Kevin mencoba menarik tangannya, namun Alina justru ikut tertarik hingga memeluk badan tegapnya.


Ampun deh. Kenapa cowok ngeselin ini punya perut kotak-kotak sih. batinnya dengan tangan sedikit meraba.


Ya ampun, gue jadi melting kalau kaya gini caranya. Salsa mulai hilang kendali hingga pikirannya seperti tak berfungsi lagi.


"Udah raba-rabanya?" Kevin sengaja menekankan ucapannya.


Sedangkan yang di sindir justru semakin menempelkan tangannya, memejamkan matanya sesaat dengan senyum mengembang di sana.


"A L I N A! Lo nggak lagi mikir hal-hal jorok kan!" kesal Kevin yang mencoba melepaskan pelukan gadis tersebut.

__ADS_1


"Di balik kamu yang ngeselin, ternyata tersimpan perut yang kotak-kotak kaya roti sobek gini. Aa.... kenapa kamu harus ngeselin sih. Padahal kamu tuh ganteng aslinya." gumam Alina yang terdengar hingga ke telinga Kevin.


Deg!


Kevin mencoba mendorong kepala Alina agar menjauh dari dadanya yang bidang, ia tak ingin menjadi tontonan gratis untuk orang-orang yang berlalu lalang di taman tersebut.


"Alina! Istighfar! Lo jangan bikin gue malu, karena ulah gila lo ini."


Seketika ucapan Kevin membuatnya langsung tersadar, "Astagfirullah, khilaf mak setan lewat." katanya dengan mulut sedikit terbuka. Alina menjaga jarak satu langkah ke belakang.


Menghela napasnya sesaat, Kevin melayangkan tangannya tepat di kepala Alina. "Bukan setannya yang lewat, lo abis kerasukan setan sampai nggak sadarkan diri." ketus Kevin yang kini memilih berlalu lalang.


Mengerucutkan bibirnya dengan mengangkat tangan kanannya, ia menatap sesat tangan tersebut. "Astaga, aku kayaknya udah beneran gila karena muji cowok ngeselin itu." gumam Alina. Gadis itu segera menyadarkan dirinya dan kembali mengejar Kevin yang mulai berjarak darinya.


Di bangku taman, terlihat Aldy yang memantapkan hatinya untuk mengajak Faya balikan. Lelaki itu mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya, sembari meraih tangan Faya secara perlahan.


"Fay, sejujurnya. Aku masih sayang sama kamu. Aku pengen kita balikan kaya dulu lagi, separah hati aku nggak bisa hidup tanpa kamu ada di samping aku. Please terima aku balik ya." kata Aldy memohon.


Faya mematung sesaat, nampaknya ia sedikit terkejut dengan tindakan mantan kekasihnya. Ya walaupun sejujurnya memang lelaki itu masih mengisi hatinya hingga saat ini.


"Aku pengen kita balikan Fay. Sebenernya, aku udah siapin ini dari dulu, sebelum kita putus. Dari dulu aku pengen hubungan yang serius sama kamu Fay. Tapi karena ke salah pahaman yang belum sempat aku jelasin ke kamu itu ngebuat aku terpaksa menjauh sesaat dari kamu." imbuhnya dengan ekspresi yang nampak serius.


"Fay, aku mohon terima aku lagi. Aku nggak akan bikin kamu kecewa lagi. Masalah Zea dulu itu...."


Belum sempat Aldy melanjutkan perkataannya, gadis itu sudah menempelkan jari telunjuknya di bibir mantan kekasihnya itu. "Aku nggak mau denger tentang cewek lain selain aku. Kalau kak Aldy emang mau serius sama aku, jangan lakuin hal itu."


"Maksud kamu?"


Mengembangkan senyumnya, "Aku terima kak Aldy lagi. Karena aku juga masih sayang sama kakak." balasnya.


Aldy merasakan bahagian yang luar biasa, lelaki itu berjingkrak heboh karena ia di terima lagi oleh pujaan hatinya. "AKU SAYANG KAMU FAYA. TERIMAKASIH UDAH MAU BALIKAN LAGI SAMA AKU." lelaki itu berteriak, hingga membuat semua orang yang ada di sana bertepuk tangan mengiringi kebahagian Aldy saat ini.


Menarik tangan Aldy dengan pelan. "Kak Aldy jangan teriak-teriak, aku malu." ucapnya dengan wajah yang sudah bersemu merah.


Lelaki itu membuka kotak kecil yang sejak tadi di bawanya, meletakkan cincin itu di jari manis Faya. "Ini cuma untuk sementara, aku bakalan lamar kamu dalam waktu dekat ini."


Faya menggigit bibir bawahnya, merasa dirinya begitu bahagia mendengar perkataan Aldy yang terdengar begitu tulus terhadapnya. Gadis itu segera memeluk Aldy. Matanya mulai berkaca-kaca merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


Sedangkan Kevin merasakan lemas pada bagian kakinya, pemuda itu nampak murung karena dirinya datang terlambat. Sementara Alina mengembangkan senyumnya karena ia merasa lega sekaligus bahagian melihat Abangnya yang kembali menemukan kebahagiaan yang selama ini sulit untuk di dapatkan.


"Gara-gara elo gue terlambat!" kesal Kevin.


Melirik sekilas ke samping. "Move on dong. Kalau perlu cari yang baru." ucapnya nyengir kuda.


"Nyari. Emang semudah yang di bayangin."


"Kalau kamu mau, aku mau kok jadi pacar kamu." tawar Alina polos, gadis itu tanpa sadar mengucapkan hal tersebut.


Kevin menatap lurus ke arah Alina, ia ingin memastikan ucapan gadis tersebut apakah benar, atau pendengarannya yang sedikit bermasalah.


"Lo bilang apa barusan?" tanya Kevin mencoba memastikan.


"Aku mau jadi pacar ka..." Alina langsung menutup mulutnya rapat. Ia tak berani melanjutkan ucapannya.


"Oke, gue terima lo jadi cewek gue.Tapi lo harus nurut dan jangan bikin gue kesel." balasnya.


Alina langsung mengangguk, nampaknya gadis itu tergiur dengan perut kotak-kotak milik Kevin.


Nggak ada salahnya gue mulai lembaran baru lagian dia terlihat imut kalau dia nggak banyak omong. Bahkan dia juga terlihat lebih c a n t i k. puji Kevin dalam hati, lelaki itu memukul mulutnya pelan.


Ya ampun dapet roti sobek, kapan lagi punya cowok kaya gitu. Aduh, beruntungnya aku. Dapetin yang ganteng plus roti sobek. batin Alina dengan menampilkan senyumnya yang paling manis.

__ADS_1


Kevin menarik pergelangan tangan Alina dengan pelan, ia mengajak gadis yang sekarang resmi menjadi kekasihnya itu untuk meninggalkan taman.


__ADS_2