
Fella menyandarkan kepalanya di bagian sisi sofa, perempuan itu nampak memikirkan sesuatu. Karena, sejak tadi dia terus mengerutkan keningnya dan kembali lagi fokus kepada layar ponselnya. Membuat Arska, sampai tak mengalihkan pandangannya dari sang istri.
"Kamu, kenapa sih Ay? Dari tadi aku perhatiin, kaya lagi mikirin sesuatu." lelaki itu langsung meraih kepala Fella dan menyandarkannya di bahunya, sesekali Arska mengelusnya dengan lembut.
"Refreshing, yang enak itu kemana sih Huby, aku tuh bingung," balasnya dengan bibir mengerucut.
"Kamu suntuk di rumah?"
Anggukan kecil di berikan oleh Fella sebagai jawabannya. "Kita kan, belum sempat bulan madu."
Arska menyeringai seat, "Pengennya kamu kemana?" Lelaki itu masih aktif mengelus rambut Fella.
Fella membuang napasnya dengan kasar, perempuan itu seakan tak puas dengan jawaban sang suami. "Ah... nggak jadi deh, Huby. Aku malah mikirin hal lain," balasnya dengan bibir mengerucut.
"Loh.. Kenapa nggak jadi? Terus kamu juga lagi mikirin apaan, sayang?"
"Mereka sekarang pada sibuk ngapain ya?" tanya Fella dengan ekor mata melirik ke arah suaminya.
"Faya sama Bella, yang kamu maksud?"
"Iya, Huby. Aku tuh kangen mereka pakai banget."
"Pengen samperin mereka?"
Fella menundukkan kepalanya sejenak, "Nggak ada yang bales chat aku Huby, aku sedih. Semakin suntuk di rumah."
Arska mengecup kening sang istri, memang semenjak menikah mereka jarang sekali berkumpul, apa lagi sekarang Bella juga sudah menikah, pasti semakin susah untuk bertemu, meskipun, Arska tak pernah melarang istrinya untuk sekedar pergi atau berkumpul dengan kedua sahabatnya, tetap saja perempuan itu merasa aneh jika kemana-mana tak mengajak Arska, sedangkan, suaminya itu sudah terlalu di sibukkan dengan urusan kampus dan usaha distro-nya yang semakin hari semakin ramai.
"Huby, aku bosen," ucapnya dengan tangan memainkan jari-jari Arska yang terus menggenggam erat tangannya.
"Tapi ini udah malam sayang, masak iya kamu mau samperin mereka, kan nggak mungkin."
"Aku tau, Huby. Tapi, kenapa mereka nggak balas chat aku, meski cuma satu pesan aja. Seenggaknya mereka nggak bikin aku bingung."
"Yang penting, sekarang udah ada aku kan Ay, jadi kamu nggak ngerasa kesepian lagi."
Perempuan itu hanya manggut-manggut, mendengarkan setiap ucapan dari sang suami. Merasa waktu cukup larut, Arska menyuruh istrinya untum segera tidur.
...~Cinta Untuk Fella~...
Sudah dua hari terakhir ini, Bella dan Brayu resmi menjadi pasangan suami istri. Namun mereka belum melakukan hubungan suami istri pada umumnya. Masalah belum siap selalu saja membuat Bella ragu. Siang itu, Bella yang sudah selesai mandi pun, bergegas untuk melakukan kewajibannya sholat duhur. Setelah itu, dia menggunakan body lotion di seluruh tubuhnya, agar tubuhnya tercium harum.
Tak lupa, Bella pun menggunakan parfum di bagian tertentu. Entah, apa yang ada di pikirannya saat ini, yang pasti dia ingin melihat Brayu memandangnya dari sisi lain.
__ADS_1
"Berlebihan nggak ya, kalau kaya gini?" gumam Bella. Gadis itu menatap lurus kearah cermin sambil mengedus wangi tubuhnya sendiri. "Berdandan sedikit feminim kan nggak papa." ucapnya pada diri sendiri.
Bella khawatir, jika Brayu masuk ke dalam kamar dan mengendus aromanya serta tampilannya saat ini. Lelaki itu akan berpikir yang tidak-tidak, sebab beberapa hari ini gadis itu tak pernah mengindahkan setiap ucapan Brayu. Bahkan dia selalu berkata kasar, jika tak sesuai keinginannya.
"Bodo amat, ah! Namanya juga belum siap! Harusnya dia ngerti dong." gumamnya. Setelah itu, Bella pun bingung harus melakukan apa?
Akhirnya, gadis itu pun memilih duduk di sofa panjang yang ada di kamar tersebut, sambil berpura-pura memainkan ponselnya menunggu Brayu masuk kedalam kamar.
Tak lama kemudian, Brayu datang dan masuk kedalam kamar itu.
Ceklek!
Bella langsung menoleh. "Udah, shalatnya?" tanya Bella basa-basi.
"Udah," jawab Baryu. Kemudian ia masuk dan menutup pintu mereka lagi.
"Lo, udah shalat?" Brayu bertanya balik. Ia pun bingung, harus melakukan apa. Dia sebenarnya tidak enak memanggil dengan sebutan 'Elo'. Namun ia mengatakan hal itu, lantaran Bella juga masih menggunakan bahasa elo-gue.
"Udah, tadi pas azan langsung sholat," balas Bella.
Setelah itu, Brayu pun duduk di sebelah istrinya. Bella langsung salah tingkah, melihat Brayu sudah duduk di sebelahnya. Mereka pun bingung ingin melakukan apa? Karena Brayu sudah hafal ketika lelaki itu menginginkan apa, Bella pasti akan menolaknya mentah-mentah. Lelaki itu sedikit melirik ke-sebelah, mengamati perubahan istrinya yang memang terlihat sedikit feminim dari biasanya 'Cantik', dan hidungnya mencium aroma yang memang membuatnya harus menatap kearah Bella karena penasaran. 'Gila' wangi banget. Apa dia habis mandi, ya? ' batinnya. Ia sangat tergoda dengan keharuman istrinya.
"Elo nggak packing? Buat besok?" tanya Brayu memecah keheningan. Ya... mereka akan melakukan hanny moon ke jogja, sesuai dengan apa yang di janjikan oleh Rahendra dan Ranita. Anaknya itu, memang suka sekali dengan nuansa jawa, jadi berlibur sekaligus bulan madu ke sana tak terlalu buruk menurutnya.
"Awww!" pekik Bella saat akan terjatuh.
"Hati-hati!" ucap Brayu yang sigap menangkap Bella. Saat ini, ia sedang memegangi Bella dengan tubuh sedikit membungkuk. Bella pun terbelalak, saat Brayu tak sengaja menyentuh bagian yang seharusnya tidak disentuh saat menyangga dirinya yang hampir terjatuh itu.
Ketika Brayu menyadari kesalahannya. Ia pun terbelalak. Brayu langsung menelan saliva-nya karena benda yang ia sentuh begitu kenyal dan membuat pikirannya berkelana.
Sontak saja, Bella langsung berusaha berdiri dengan wajah merah padam. "Thank," ucapnya cepat. Kemudian ia bergegas menuju lemari.
Tangan Brayu masih kaku, seolah masih menggenggam benda tersebut. 'Ya ampun, barusan gue megang apa?' batin Brayu sambil ternganga. Lututnya terasa lemas, karena apa yang ia pegang barusan telah membangkitkan gairahnya.
'Haah, kenapa dia harus menyentuh bagian itu, sih?' batin Bella. Bagian yang disentuh oleh Brayu tadi terasa kebas dan meremang. Bella sampai bingung harus melakukan apa karena dirinya sudah gagal fokus.
'Oke, mungkin dia tadi cuma nggak sengaja. Ya kali, dia agresif banget sampai dia menyentuh itu? Eh, tapi pas habis akad itu, dia juga langsung nyosor, kan?' batin Bella sambil menyentuh bibirnya, ketika mengingat kejadian waktu itu.
"Bel!" panggil Brayu.
Bella terperanjat. "Euh, iya?" tanyanya.
"Gue, keluar dulu, ya," ucap Brayu. Kemudian lelaki itu langsung berlalu meninggalkan kamar tersebut.
__ADS_1
"Huuuu! Akhirnya," ucap Bella. Ia merasa lega saat Brayu meninggalkan kamarnya. Berada di kamar berdua dengan Brayu, membuatnya seperti sesak napas.
Brayu sengaja meninggalkan kamar tersebut untuk mendinginkan otaknya yang panas. Kejadian itu, membuatnya ingin segera melakukan hubungan suami-istri dengan Bella. Namun saat ini hari masih siang dan sebentar lagi akan ashar. Brayu tak ingin, jika pengalamannya tak berkesan, ya meskipun ia sudah di tolak, setidaknya dengan cara sedikit memaksa, mungkin akan meluluhkan hati Bella sedikit. Tetapi ia juga tak mau di cap sebagai suami yang durhaka, karena memaksakan kehendaknya sendiri.
"Bray, lagi ngapain?" tanya Rahendra, saat melihat Brayu yang sedang duduk di taman. Ia bingung, pengantin baru seperti Brayu kenapa duduk sendirian.
"Eh, Daddy, lagi cari angin aja," sahut Brayu, canggung. Sebab ia tidak enak, baru menikah, sudah diam di luar sendirian.
"Bella, lagi ngapain?" tanya Rahendra lagi.
"Lagi packing. Besok kan mau ke jogja Dad, kalau pakaian ku kebetulan masih di koper jadi nggak perlu peking lagi, hehehe," jawab Brayu.
Rahendra tersenyum. "Gimana, kamu nggak nyesel kan, nikah muda?" tanya Rahendra. Padahal hal itu, kurang tepat di tanyakan kerena pernikahan mereka baru dua hari yang lalu berlangsung.
"Alhamdulillah, enggak Dad," jawab Brayu.
"Syukurlah kalau begitu. Daddy cuma mau pesan. Sebagai suami, kamu harus memiliki inisiatif dalam hal apa pun. Sebab, kedepannya kamu yang akan bertanggung jawab atas rumah tangga kalian," nasehat Rahendra.
"Siap, Dad!" ucap Brayu.
Bukan tanpa alasan Rahendra berbicara seperti itu. Ia tau jika Bella dan Brayu masih canggung, karena menikah muda tak semudah yang mereka pikirkan. Sehingga, Rahendra menasehati Brayu agar ia lebih berinisiatif lagi, agar pernikahan mereka berhasil.
"Kamu juga harus lebih peka, Bray. Karena wanita ingin selalu di mengerti. Jadi sabar aja kalau tiba-tiba Bella ngambek tanpa kamu tahu sebabnya. Nah, tugas kamu itu harus mencari tahu apa penyebab dia marah," ujar Rahendra lagi.
Sebelumnya, ia pun sudah menasehati putrinya itu untuk mengubah sikap keras kepalanya, dan menuruti semua ucapan Brayu sebagai imamnya. Kali ini, Rahendra merasa perlu menasehati Brayu agar mereka yang masih menikah dini itu, bisa menjalani rumah tangganya dengan baik. Rahendra tak ingin melihat pernikahan mereka yang gagal karena saling egois.
"Iya, Dad. Terimakasih untuk masukannya," jawab Brayu.
"Daddy harap kalian jangan menunda untuk memiliki momongan ya, Bray. Daddy ingin menimang cucu dari kalian," ucapnya.
Brayu menelan saliva-nya, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat Bella menolaknya, sungguh pahit rasanya. Dan sekarang dia, justru di todong untuk memberikan cucu kepada mertuanya.
"Kenapa, Bray? Apa permintaan Daddy terlalu berat?" tanya Rahendra dengan kening berkerut.
Brayu masih terdiam, dan belum menjawab pertanyaan dari mertuanya itu. Lelaki setengah baya itu khawatir jika Bella dan Brayu berencana untuk menunda kehamilan. Sementara dirinya dan sang istri sudah sangat tak sabar menantikan cucu, yang akan menjadi penerus perusahaan kelak.
"Tapi, Bella masih muda, Dad. Brayu khawatir kalau Bella belum siap."
Menepuk pundak Brayu pelan, "Daddy yakin, Bella pasti bisa. Kan ada kamu, Mommy-nya, yang mau munsupport. Tinggal di kalian aja. Semoga bisa ya, Bray?" pinta Rahendra sekali lagi.
'Masalahnya, anak menantu mu ini, sudah di tolak anak mu beberapa kali Daddy! Di tolak mentah-mentah!' batin Brayu sedikit gemas jika mengingat kelakuan istrinya itu.
Brayu membuang napasnya dengan perlahan. "Insyallah, Dad," balas Brayu sambil tersenyum kikuk.
__ADS_1
Membayangkan harus membuat anak? Hatinya bertalun-talun tak karuan.