
Di lain ruangan, Fella sedang mengejek Arska karena pertanyaan Merry yang terus menyudutkannya, membuatnya semakin kesal, padahal ia baru sembuh, tapi Merry sudah mengomel-ngomel tak karuan.
"Ini tuh gara-gara mantan pacarnya Arska Bun," celoteh Fella ngasal dengan mata melirik ke arah Arska.
"Benar itu Ka? Dia mantan kamu?" tanya Merry serambi melihat ke arah Arska.
"Arska mana ada mantan tan, Aya tuh ngawur ngomongnya."
"Habisnya nih ya Bun, dia selalu aja pengen celakai Aya, ya Aya pikir dia mantannya Arska lah," ucapnya dengan bibir mengerucut.
"Ya udah, lagian masalahnya juga udah kelar. Dia nggak mungkin gangguin kamu lagi."
"Tapi Aya kesel Bun, Aya selalu aja jadi korbannya." protes Fella tak terima.
"Hahaha.... makanya jadi anak cewek jangan lemah. Contoh Bella," kata Merry mulai membandingkan.
Fella mengernyitkan keningnya. "Bunda, kalau mau banding-bandingin aku sama Bella, mending pulang deh." Celoteh Fella dengan tubuh membelakangi Merry dan menarik selimutnya.
"Anak muda jaman sekarang, kalau di kasih tau langsung ngambek."
"Bunda ngeselin, kayaknya emang udah nggak sayang lagi sama Aya," gumam Fella pelan.
Merry, yang tadinya berdiri di samping ranjang anaknya pun kini beralih, wanita setengah baya itu duduk di tepi ranjang sang anak, tak lupa ia mendaratkan ciuman di pelupuk mata anaknya itu. "Cepat sembuh ya sayang, maafin kalau Bunda salah ucap. Kamu cepetan sembuh ya."
Fella membuka matanya. "Aya juga minta maaf ya Bun, udah kaya anak kecil suka ngambek."
"Udah di maafin. Bunda juga mau pamit pulang dulu. Masih ada yang mau Bunda urus, nanti siang juga kamu udah boleh pulang," ucapnya dengan tangan mengelus rambut Fella.
Anggukan kecil hanya di berikan oleh Fella. Merry segera berdiri dari duduknya setelah Fella mengerti. "Tante, titip Aya ya Ka," ucapnya sambil menepuk bahu Arska pelan.
Arska mengangguk. "Ya Tante," balasnya singkat, pemuda itu memandangi punggung Merry hingga wanita setengah baya itu menghilang di balik pintu. Setelah di kiranya aman, Arska segera mendekati tempat tidur Fella.
"Masih sakit Ay?" tanya Arska pelan, lelaki membungkukkan tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan kekasihnya itu.
"Lumayan yang," ucapnya dengan membenarkan tubuhnya agar bisa bersandar.
"Lain kali, kalau mau kemana-mana mending ajak aku, atau Bella."
"Iya, maaf, udah bikin kalian semua kerepotan, sampai bikin Brayu masuk rumah sakit juga." Gadis itu menundukkan wajahnya.
"Itu semua juga bukan kesalah kamu, cewek gila itu yang udah keterlaluan sampai tega ngelakuin tindakan separah ini."
"Ow.... iya yang, aku tuh heran loh...sama itu cewek, dari aku SMA, kenapa aku terus yang dia incar."
"Karena melukain kamu sama artinya melukai aku secara perlahan."
"Idih gombalnya mulai."
"Bukannya gombal sayang, aku kan calon suami kamu, jadi wajar kalau aku ngomong kaya barusan."
"Terus enter pasti bilangnya ikatan batin," sindir Fella.
"Salah.... orang aku nggak mau bilang kaya gitu kok," ucap Arska dengan tangan yang kini menggaruk kepalannya.
"Kalau aku nggak bilang kaya gitu, pasti udah bilang duluan kamu," ucap Fella dengan bibir menyeringai.
"Hahaha... apa sih yang, sukanya nebak-nebak terus kamu tuh..."
"Hem.... udah ketebak kan, makanya garuk-garuk kepala," ucap Fella dengan bibir menyeringai.
"Apa sih Ay? Enggak kok, ini emang gatal." Elak Arska.
Kedua remaja itu semakin tertawa karena keduanya terlihat sama-sama konyol dengan segala ucapan yang mereka lontarkan.
...°•°Cinta Untuk Fella°•°...
Di kampus, nampak ke empat remaja sedang membicarakan kejadian yang menimpa Fella dan Brayu dua hari yang lalu. Faya yang biasanya cerewet pun hanya mengeluarkan beberapa kata saja, gadis itu tidak memiliki mood jika kedua sahabatnya itu tak masuk kampus.
"Lo kenapa sih Fay? Dari tadi gue liatin lo, cuma manyun, ngomong aja cuma beberapa kata," ucap Regina saat melihat ekspresi wajah Faya yang berbeda dari biasanya.
"Sepi, kalau nggak ada Fella sama Bella, nggak konsen aja ngikutin mata kuliah tanpa mereka," balasnya.
__ADS_1
"Semangat dong, seenggaknya lo masih ada Aldy yang mau nemenin elo, kita juga kalau ada waktu pasti nemenin elo selagi Fella sama Bella belum masuk kuliah."
"Iya yang, kamu nggak perlu ngerasa sepi lagi," ucap Aldy yang kini meraih tangan Faya.
"Cie... bikin iri," sindir Dilan.
"Shut... jangan kaya gitu yang," ucap Regina seraya menyikut lengan lelaki yang ada di sampingnya itu.
'Mana ada kak Aldy selalu ada buat gue, gue mulai ragu semenjak kejadian itu,' batin Faya dengan mata masih menatap Aldy.
Hingga ponsel Aldy pun berdering, membuat lelaki itu buru-buru melepaskan tangan Faya. Dan langsung mengangkat panggilan telpon tersebut, semakin hari rasa curiga Faya bertambah, dengan adanya telpon dari nomor yang tidak diketahuinya itu.
"Sayang aku minta maaf, aku harus balik dulu, ada hal penting yang harus aku urus dulu," ucapnya dengan wajah sedikit panik.
Faya tak menjawab, gadis itu hanya mengangguk pelan sambil meminum softdrink-nya.
"Gue balik dulu ya Gin, Lan," lanjutnya dengan menarik ransel yang berada di atas meja.
Mata Faya hanya mengamati kepergian Aldy, gadis itu nampak gelisah, hingga sebuah ide muncul di otak kecilnya. "Gue ke toilet dulu ya Gin, Lan," ucap Faya.
"Oke...." jawab mereka kompak.
Faya sudah masuk kedalam taksi online yang ia pesan beberapa menit yang lalu. Rasa penasarannya pun bermunculan, melihat sikap Aldy yang beberapa hari terakhir ini memang sangat berbeda terhadapnya, Faya ingin memastikan untuk kedua kalinya. "Jantung gue kenapa deg-degan sih," gumamnya pelan.
Faya memutuskan untuk membuntuti Aldy, jika ia melihat hal yang sebelumnya terulang kembali, maka gadis itu memutuskan untuk menyerah. Setengah jam Faya membuntuti kekasihnya, hingga sampai di sebuah kafe, yang Faya sendiri pun belum pernah datang ketempat itu sebelumnya. Setelah membayar taksinya, Faya turun dengan pikiran was-was.
"Hal penting apa sampai harus ke kafe ini segala," gumamnya pelan.
Sampai di dalam kafe, mata Faya sibuk mencari keberadaan Aldy. Gadis itu mencari dengan sangat hati-hati, karena takut akan ketahuan oleh kekasihnya itu. Hingga matanya tertuju di meja pojokan yang lumayan jauh dari pandangannya. "Bukannya itu Zea," ucapnya pelan. Faya buru-buru menutup mulutnya karena tak percaya dengan apa yang ia lihat. Matanya mulai memanas. Bahkan rasa sesak di dadanya kembali hadir. Ia melihat kembali adegan yang beberapa hari yang lalu sempat ia lihat di toko bunga.
"Kak Aldy buru-buru kesini buat nemuin itu cewek lagi," gumamnya.
Nampak terlihat sangat jelas jika Aldy begitu cemas, bahkan lelaki itu memeluk Zea dengan erat. Adegan tersebut membuat Faya sakit mata, begitu lembut perlakuan Aldy terhadap Zea. Sampai Aldy harus rela mengorbankan waktunya ketika sedang bersama dengannya.
"Pantes aja buru-buru kesini, nggak taunya mau ketemuan sama Zea," ucapnya pada diri sendiri.
Faya tak mau jika semakin sakit hati melihat tindakan kekasihnya itu, ia memilih pergi dari tempat itu sekarang juga. Namun saat membalikkan tubuhnya, gadis itu tanpa sengaja menabrak salah seorang pelayan, hingga gelas dan piring yang pelayan itu bawa pecah berserakan di lantai.
"Biar saya saja yang bersihkan mbak, sebaiknya mbak bersihkan luka yang ada di kening dan tangan mbak itu," ucap pelayan tersebut mencoba mengingatkan.
"Luka?"
"Iya, luka di kening mbak tadi kayaknya kena nampan saya waktu mbak buru-buru nunduk buat beresin pecahan beling tadi."
Faya melihat ke arah pelayan tersebut, sebelum akhirnya tangannya sendiri menyentuh keningnya. 'Kenapa gue nggak sadar,' batinnya saat mengetahui kalau keningnya benar-benar terluka.
Gadis itu menoleh kebelakang, tak ada respon dari Aldy, bahkan lelaki tersebut terlihat sedang mengobrol dengan Zea, hingga Zea menerbitkan sebuah senyuman yang begitu manis.
"Ck.... sudahlah lupain aja, mundur lebih baik dari pada harus sakit hati kaya gini," gumam Faya pelan.
Faya beranjak pergi dari tempatnya saat ini, rasa sakit di tangan dan di keningnya tak sebanding dengan rasa sakit hatinya.
...°•°Cinta Untuk Fella°•°...
Faya duduk di sofa sambil menonton acara televisi yang memang tak terlalu bagus. Wajah kusutnya terlihat sangat jelas, apa lagi banyak plester di tangan dan di keningnya, semakin membuat penampilan Faya terlihat berantakan. Rani yang melihat kelakuan anaknya pun merasa heran karena sikapnya tak seperti biasanya, wanita setengah baya itu melirik ponsel Faya yang terus berdering, namun anak gadisnya itu tidak meresponnya sama sekali.
"Ponsel kamu bunyi tuh sayang, yakin nggak mau di angkat?" tanya Rani saat sudah berada di sebelah Faya.
"Males ma," jawabnya singkat.
"Kamu baru ada masalah sama Aldy?" tanyanya dengan wajah menyelidik.
"Faya mau putus sama kak Aldy!"
"Loh.... Mama pikir kalian udah serius sama dia, terus kenapa pakai acara mau putus segala."
"Kita udah nggak cocok lagi ma, mungkin kak Aldy udah bosen juga sama sikap Faya."
"Padahal Mama udah suka sama itu anak. Sayang kan kalau sampai putus."
"Belom jodoh ma."
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar saat ibu dan anak itu sedang membahas masalah Faya. Rani tanpa nanti-nanti segera membuka pintu.
"Loh.... nak Aldy," ucap Rani sedikit menggeser tubuhnya.
"Faya-nya ada tan?"
"Ada, dia di dalam baru nonton tv. Nak Aldy langsung masuk aja." perintah Rani.
Lelaki itu masuk dengan sopan, kemudian ia menghampiri di ruang tengah.
"Ma.... siapa sih?" tanya Faya dengan suara seraknya.
"Aku sayang," sahut Aldy yang kini sudah berada di sampingnya.
'Kenapa orang yang paling ingin gue hindari harus kesini sih,' batin Faya.
"Kakak ngapain kesini?" tanya Faya, mata gadis itu terlihat sayu, seperti tak ada kehidupan di sana.
Lelaki itu tak langsung menjawab ucapan Faya, ia justru melihat kening dan tangan Faya yang di plester secara bergantian.
"Ini, kenapa bisa kaya gini?" Tangan Aldy mulai memegangi kening Faya dengan pelan. Namun Faya menepisnya dengan pelan juga.
"Nggak papa kok, hal kecil nggak perlu di besar-besarain!" kata Faya, suaranya terdengar ketus.
"Kamu marah sama aku? Kalau aku punya salah aku minta maaf."
"Kakak nggak ada salah kok, yang salah itu aku karena..." Faya tak langsung melanjutkan ucapannya, gadis itu menghela nafasnya beberapa kali.
"Karena apa?" desak Aldy.
"Karena aku udah terlanjur sayang sama kakak," lanjutnya.
"Hahaha.... kamu ini lucu banget sih yang, jangan cemberut kaya gitu dong kalau kamu sayang sama aku," ucap Aldy dengan jari telunjuk mengarah ke pipi cubi Faya. "Aku juga udah terlanjur sayang sama kamu."
"Karena kita udah sama-sama terlanjur sayang..." Lagi-lagi Faya menghela nafasnya, rasanya berat untuk melanjutkan ucapannya tersebut.
Sedangkan Aldy tak sabar mendengarkan kelanjutan dari ucapan kekasihnya itu, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Berharap, apa yang akan di katakan Faya adalah hal bahagia.
"Ayo kita putus kak," ucap Faya yang kini memberanikan diri menatap Aldy.
Bukan kata-kata ini yang Aldy harapkan, lelaki itu mematung sesaat, jantungnya seakan berhenti saat ini juga.
"Maksud kamu?" tanya Aldy memastikan.
"Ayo kita putus kak, nggak baik kalau di lanjutin," ulangnya.
Aldy menggelengkan kepalannya, merasa belum percaya dengan apa yang ia dengar barusan. "Aku nggak mau," lelaki itu menundukkan kepalanya.
"Jangan jadi orang egois dong kak!" Faya mulai tak bisa menahan air matanya yang jatuh menetes beberapa kali, mencoba bersabar mungkin itu yang saat ini ingin dia lakukan.
"Aku egois di bagian mana Fay? Kasih penjelasan ke aku!" Aldy mengguncang kedua lengan Faya cukup kuat.
"Kejar Zea kak, jangan jadiin alasan lain buat kakak selalu bilang hal penting dan tiba-tiba pergi gitu aja."
"Maksud kamu?"
"Aku udah liat dua kali kakak ketemuan sama Zea, kakak peluk dia, bahkan kakak cium kening dia waktu itu! Kalau aku denger dari orang lain. Mungkin aku bisa nggak percaya, tapi aku liat sendiri pakai mata kepala aku!"
"Yang, aku bisa jelasin itu semua, ini nggak kaya apa yang kamu pikirin," ucapnya dengan sorot mata memohon.
Faya menggeleng, menggigit bibir bawahnya agar ia bisa menahan segala kekesalan yang ia alami saat ini. Gadis itu berusaha berdiri namun cengkraman Aldy begitu kuat.
"Aku mohon kak, jangan sakiti aku, aku emang cewek manja, ngeselin dan ngebosenin. Kakak pantes kejar Zea yang lebih dari segalanya."
Rasanya Aldy tak memiliki tenaga saat ini, setalah mendengar ucapan Faya, lelaki itu hanya menundukkan kepalannya. Sedangkan Faya menyeka air matanya dan berlari menuju kamarnya, ia ingin melampiaskan segala kekesalan dan rasa kecewanya di dalam kamar, menangis sepuasnya sudah menjadi rutinitas saat ia sedang patah hati.
Rani, yang mendengar tentang masalah dari keduanya pun langsung menghampiri Aldy. Menguatkan lelaki itu agar tak terpuruk oleh masalah yang menimpanya. "Ini bukan akhir dari segalanya, kamu maklumi aja sikap Faya. Dia dari kecil emang terlahir keras kepala."
"Ini semua salah Aldy tan. Coba Aldy nggak dengerin ucapan dia waktu itu, ini semua pasti nggak akan terjadi."
"Nggak usah di sesali, kalau emang semuanya udah terjadi. Jadiin pelajaran, biar suatu saat nanti kamu nggak ngulangi kesalahan yang sama."
__ADS_1
Lelaki itu terlihat frustasi, dalam hitungan hari dan jam semuanya sudah berakhir begitu cepat. Sedangkan mereka sudah menjalin hubungan selama satu tahun lebih. Terlalu singkat waktu yang di berikan Tuhan untuknya dan Faya.