
Kali ini Brayu yang pergi mengunjungi kediaman Moregan, lelaki itu sudah sangat akrab dengan Ranita, jadi tak terlalu canggung bila pergi berkunjung ke rumah Bella. Sedangkan gadis itu masih saja bermalas-malasan di sofa ruang tengah, entah apa yang di lakukan Bella hingga ia betah sekali di sana. Kehadiran Brayu pun tak membuatnya pindah dari tempatnya sekarang.
"Ponsel lo kemana? Dari tadi gue telfon lo, nggak ada satu pun yang lo angkat."
Melirik sekilas dan kembali fokus kepada bukunya.
"Bella, gue nanya sama lo!" lelaki itu merebut buku yang sejak tadi mencuri pandangan Bella.
"Balikin! Gue lagi malas ribut sama lo!" serunya dengan wajah tertekuk.
"Gue bakalan balikin buku ini ke elo. Tapi dengan syarat, lo jawab dulu pertanyaan gue."
"Gue lagi malas pegang ponsel." jawabnya singkat.
Lelaki itu hanya manggut-manggut tanpa ada niatan untuk mengembalikan buku yang sekarang sudah berada di tangannya itu.
"Balikin buku gue!" perintah Bella.
Brayu tak langsung mengindahkan permintaan Bella, lelaki itu justru menggeser kaki Bella yang memenuhi sofa. Tanpa permisi terlebih dahulu kepada sang pemilik. Brayu langsung duduk manis di sana. "Jangan bikin gue khawatir lagi ya," ucapnya dengan mata yang menandakan jika lelaki itu memang khawatir terhadap Bella.
"Ngapain juga harus khawatirin gue sih, gue baik-baik aja," balasnya sambil merebut bukunya kembali.
"Gue khawatir kalau suatu hal terjadi lagi sama lo."
Bella meletakan bukunya tepat di pahanya. Ekor matanya menatap lurus ke arah Brayu. "Lo nggak usah khawatirin gue. Karena apa? Karena gue bisa jaga diri gue sendiri."
Brayu menghela nafasnya, lelaki itu memilih menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil melihat langit-langit di dalam ruangan tersebut. "Iya gue tau, tapi seenggaknya jangan bikin gue khawatir."
Gadis itu hanya menghela nafasnya, lagi dan lagi ucapan itu yang keluar dari mulut bibir Brayu. Bisakah lelaki itu tak terlalu menganggapnya seperti anak kecil?
"Arska sama Fella bentar lagi mau nikah," ucap Brayu dengan mengganti topik pembicaraannya.
Bella mengernyitkan keningnya. "Kok lo tau? Padahal ini masih di rahasiain loh."
"Aldy, tadi siang ngasih tau gue sama Dilan," ucapnya dengan lesu.
"Kenapa lo jadi lemes gitu? Harusnya lo seneng dong sahabat lo mau nikah," ujar dengan membenarkan posisi duduknya.
"Terus kita kapan?" tanya Brayu tiba-tiba ekor matanya melirik ke arah Bella.
"Ngimpi aja dulu!" Bella melempar buku yang sejak tadi dipegangnya dan tepat mengenai wajah Brayu. "Kebanyakan ngimpi jadi konslet kan tuh otak!"
"Siapa tau impian gue bisa jadi kenyataan."
"Ck... bisa nggak! Bahas hal lain aja, yang nggak bikin otak gue nyut-nytan."
"Gue harus bahas apa?"
__ADS_1
"Pikir aja sendiri!"
"Tapi pikiran gue kesitu muluk Bel. Gue minder sama Fella dan Arska." Nampak Brayu mulai merajuk.
"Lo ngomong sekali lagi! Gue timpuk pakai meja biar lo diem seterusnya!" bentak Bella.
Renita yang mendengar ucapan sang anak yang terlalu menyimpang pun segera menghampiri tempat mereka berada. "Husttt... nggak boleh ngomong kaya gitu. Mommy nggak ngajarin kamu jadi kasar."
"Ck... Mommy nguping?"
Ranita celingukan tanpa dosa, mengelak pun rasanya percuma, karena dirinya memang sudah tertangkap basah.
"Mommy nggak maksud nguping, cuma denger aja pas mau lewat."
"Anaknya bos mafia mana ada yang nggak kasar sih mom." cetus Bella.
"Tapi Deddy kamu lembut sama Mommy. Nggak ada dia kasar sama Mommy meskipun seujung kuku aja."
"Itu beda Mommy! Mommy kan istrinya Deddy. Jadi wajar aja kalau Deddy perlakuin Mommy dengan baik. Lah ini orang siapa?" Bella menunjuk ke arah Brayu dengan dagunya.
"Calon pacar kamu kan?"
"Mommy......" teriak Bella dengan segala kekesalan yang ada.
Brayu tak mempedulikan teriakan Bella, lelaki itu melebarkan senyumnya karena Ranita mengucapkan 'calon pacar' yang artinya Ranita mendukung hubungan mereka dan perjuangan Brayu.
"Nggak usah senyam-senyum! Nggak ada yang lucu!" bentak Bella saat mengetahui lelaki yang ada di sampingnya itu terus mengembangkan senyumnya.
"Gara-gara lo! Gue jadi kena omelan-nya Mommy. Awas aja lo ya kalau sering nyari muka di depan Mommy gue. Gue pites lo." ancam Bella.
"Lo, itu galak. Tapi gue udah terlanjur cinta sama lo!"
"Bisa diem nggak!" seru Bella dengan kepala yang sudah mulai mendidih. "Gue nggak mau mikirin hal itu."
"Tapi suatu saat lo bakalan mikirin hal itu Bella."
"Nggak buat saat ini!"
"Kan gue bilang suatu saat, bukan saat ini."
"Brayu! Jangan mulai lagi!" Kali ini Bella melempar bantal yang ada di sebelah kirinya. Ia benar-benar harus ekstra bersabar jika menghadapi tingkah Brayu yang konyol ini.
"Buka hati lo, dikit aja Bel." pinta Brayu dengan wajah melasnya.
"Udah gue buka itu pintu dengan lebar! Tinggal lo keluar!" tunjuk Bella, ketika matanya mendapati pintu ruangan terbuka dengan sangat lebar.
"Hati lo Bel."
__ADS_1
"Kuncinya udah patah!"
"Gue duplikatin Bel, biar bisa kebuka. Sekalian ganti gemboknya."
"Brayu......" teriakan Bella semakin menjadi hingga memenuhi ruangan.
"Iya, gimana? Tawaran gue nggak buruk-buruk amat kan."
Bella mengepalkan tangannya, gadis itu langsung melayangkannya ke arah Brayu. "Tawaran gundul lu itu. Perlu service otak dah kayaknya, lo!"
Brayu mengusap-usap kepalanya, lelaki itu mengerucutkan bibirnya. "Sakit Bel."
"Rasain! Siapa suruh, lo nyari perkara sama gue terus." Gadis itu kini bersedekap dada, dengan senyum sinis menghiasi sudut bibirnya.
"Awas lu ya, kalau udah jadi bini gue, tiap malam nggak bisa tidur lo!"
"Anjir... di bilangin gue nggak mau mikirin itu dulu, lo beneran ngajakin gue ribut ya!" Bella nampak melipat-lipat koran yang sekarang berada di tangannya.
"Berarti lo beneran berharap jadi istri gue dong?" tanya Brayu dengan mata berbinar.
Pikiran Bella ngeblak seketika, ucapannya tadi kenapa begitu natural, seakan mengindahkan setiap ucapan yang di harapkan oleh Brayu. "Siapa jaga yang pengen nikah sama lo!"
"Tadi lo bilang kaya gitu! Setiap ucapan yang keluar dari mulut bibir lo, udah gue aamiin-in jadi nggak bisa di tarik lagi."
"Rese lu Bray! Lo pengaruhin otak gue, biar gue mikir kaya apa yang lo harapin kan!"
"Hahaha.... emangnya gue limbat, sampai gue bisa pengaruhin elo." Tawa lelaki itu semakin menjadi, karena melihat wajah Bella yang kini mulai memerah. "Cie.... ngakunya nggak ada rasa tapi muka lo udah kaya orang alergi kaya gitu." Colek Brayu dengan centilnya.
"Anjir.... lo tuh, cewek apa cowok sih? Ganjen banget! Jangan-jangan lo berkepribadian ganda."
"Amit-amit jabang bayi, jahat banget sih sama calon sendiri."
"Brayu! Lo ngomong sekali lagi gue tonjok loh!"
"Tonjok aja gue ikhlas kalau elo yang nonjok." lelaki itu menaik turunkan kedua alisnya, menggoda gadis yang ada di sampingnya itu sangat menyenangkan baginya di banding dengan menjadi play boy seperti dulu.
"Amit-amit kalau gue beneran jadi istri lo!" nampak Bella mulai komat-kamit karena kelakuan konyol Brayu.
"Tapi, di setiap sujud gue, selalu nama lo yang gue sebut untuk pertama kali. Gue beneran serius sama lo."
Bella menggigit bibir bawahnya, bosan juga dari tadi dengerin cowok itu berceloteh tak jelas. "Tau! Pusing gue dengerin lo dari tadi yang di bahas itu mulu. Ngebet banget apa gimana sih!" seru Bella. Gadis itu memilih berdiri dan meninggalkan Brayu dengan berlari, entah apa yang memenuhi kepalannya sekarang.
Seluruh penghuni rumah pun tertawa, karena ulah kedua remaja tersebut. Semenjak Brayu sering ke rumah Bella, suasana rumah menjadi lebih berwarna.
Di depan pintu kamar, Bella sibuk mondar-mandir sambil terus berpikir apakah setelah dirinya pergi tadi, Brayu juga sudah pulang. Rasa penasaran pun muncul seiring berjalannya jam dinding yang terus berdetik di dinding kamarnya.
"Paling juga udah pulang," ucapnya pada dirinya sendiri, Bella akhirnya memutuskan untuk menuruni anak tangga dengan pelan, mengendap-ngendap seperti ingin mencuri suatu barang di rumahnya sendiri. Matanya mengarah keruang tengah di mana tadi Brayu duduk bersama dirinya. Gadis itu celingukan dan terus memantau situasi sekelilingnya. Belum sampai di sisi ruangan, Bella mendengar suara candaan yang dilakukan oleh Mommy dan tentu saja Brayu, kedua manusia itu sibuk membicarakan dirinya. Ranita tak henti-hentinya menahan tawa.
__ADS_1
"Dasar... tukang cari muka," gumamnya pelan. "Mommy juga! Kenapa jadi seakrab gitu sih... ngeselin."
Gadis itu terus menguping, hingga tak tahan lagi dan memilih kembali ke kamarnya.