Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Terlalu PD


__ADS_3

Di dalam kelas.


"Anjay, lo bikin gue cemburu aja sih, Sal. Mana main cium-cium dia segala, gue kan juga pengen." ujar Rey saat sudah duduk di sebelah Salsa.


Membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya, hanya ekor matanya yang terlihat menatap ke arah Rey.


"Ngapain lo tutup mulut segala? Udah terjadi dan nggak usah bilang khilaf, gue tau kata-kata yang bakalan lo ucapin habis ini." kata Rey mengira-ira.


Memukul lengan Rey pelan, gadis itu mendengus, saat lelaki itu dengan sok taunya memutuskan ucapannya yang memang benar ia sering berkata sedemikian rupa.


"Kamu tuh sok tau banget sih. Padahal aku nggak mau bilang khilaf. Aku cuma mau bilang refleks, karena ngeliat ekspresi Leon kaya gitu, buat aku gemes." Salsa merunduk-kan kepalanya, wajahnya bersemu merah saat mengucapkan hal tersebut.


Menggeleng pelan seraya menepuk bahu Salsa. "Kenapa lo bisa jadian sama dia? Kasih tau gue cepat!" perintah Rey yang memang siap menyelidik.


Mendongakkan kepalanya dengan raut wajah masam, lagi dan lagi Salsa harus mengingat kejadian yang membuatnya malu setengah mati itu. "Hem.. kenapa kamu harus ingetin aku lagi sih, Rey. Kamu tuh bener-bener ngeselin!" cecer Salsa yang kini kembali melayangkan pukulan-pukulan kecil di seluruh tubuh Rey.


"Aduh enak banget.... Kaya di pijitin rasanya pukulan elo ini Sal. Kalau kaya gini, mending gue bikin elo emosi aja tiap hari." katanya yang langsung nyengir hingga gigi putihnya terlihat.


Saat Rey kembali meledeknya, Salsa melayangkan pukulan cukup keras, membuat si pemilik tubuh meringis kesakitan akibat ulahnya itu.


"Ya ampun Sal. Langsung aja nonjok, sungguh terlalu kau ini, Sal." lelaki itu meringis sambil mengusap-usap lengannya beberapa kali.


"Rasain, itu hukuman buat orang ngeselin kaya kamu!" seru Salsa. Tampang gadis itu benar-benar kesal kali ini.


"Ya, sorry. Gue kan pengen ngehibur elo, biar tampang lo nggak kusut lagi."


Salsa menyandra-kan tubuhnya kebelakang. Nampak sesekali gadis itu menghela napasnya beberapa kali dan memejamkan matanya sesaat. Sedangkan Rey, masih setia mengamati setiap gerak-gerik yang di perlihatkan oleh gadis di sampingnya itu secara detail.


"Lo nggak mau cerita sama gue?" tanya Rey yang kembali membuka topik pembicaraan.


Perlahan membuka matanya. "Cerita apaan?" tanya Salsa yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah Rey.


"Mengenai anaknya Bu Tantin. Kenapa lo bisa jadian sama dia?" selidiknya sekali lagi.


"Astaga, ternya topik pembicaraan kamu itu masih aja, mau bahas hal itu lagi." dengus Salsa.


"Gue penasaran Sal, emangnya lo tega, bikin sahabat lo ini mati penasaran. Entar kalau gue mati, gue bakalan hantuin elo setiap malam." ancam lelaki itu dengan ekspresi merenggut-nya, sedangkan gadis yang ada di sampingnya itu tak juga memberikan jawaban.


Menghela napas sesaat, dengan segala keterpaksaan Salsa akhirnya membuka suara. "Aku udah pernah kasih tau kamu, itu pun kalau kamu masih ingat sama tragedi yang aku alami waktu itu. Kamu ketawa tanpa dosa, bukannya iba ngeliat sahabat susah, justru kamu tertawa seenaknya sendiri.." tutur Salsa dengan mengumpat-kan wajahnya.


Lelaki itu mengernyitkan keningnya, dan mencoba mengingat, "Jadi, cowok yang tadi itu yang maksa lo buat jadian sama dia?" tanya Rey sedikit meninggi.


"Iya. Tapi nada bicara kamu nggak perlu setinggi ini!" ketus Salsa.


Rey menatap ke arah Salsa dengan tampang kusutnya, lelaki itu sedikit mengerucutkan bibirnya. "Sial! Dia ngacem lo, biar lo bisa jadi pacarnya. Tau gitu gue juga manfaatin kesempatan itu aja biar lo mau jadi cewek gue." kata Rey seraya menaik turunkan kedua alisnya.


Melebarkan matanya seraya mengangkat tangan kanannya. "Kenapa kamu mendadak jadi ngeselin kaya dia, sih!" Salsa melayangkan tangan kanannya tepat di kepala Rey.


"Kenapa kamu nggak simpatik sama aku. Dan justru kamu malah mau manfaatin keadaan, dasar cowok ngeselin!" kesal Salsa dengan bibir komat-kamit.


Rey semakin tak bisa menahan tawanya, lelaki itu sibuk menggoda sahabatnya. Hingga, seorang guru masuk kedalam kelas dan membuat semua siswa terdiam dengan seketika.


...~Cinta Untuk Fella~...


Sepulang sekolah, Salsa yang ingin segera pulang ke rumah tiba-tiba di kejutkan oleh kehadiran Leon yang langsung menarik pergelangan tangannya.


"Aw!" pekik Salsa dengan posisi tubuh menoleh. Mungkin Leon terlalu kuat menarik tangannya.


"Ups! Sorry, gue nggak sengaja. Habisnya elo jalannya cepat banget, kalau nggak langsung gue tarik, kemungkinan lo bakalan kabur lagi." lelaki itu nampak santai ketika mengucapkan hal tersebut.


Tak ada jawaban yang di berikan oleh Salsa kali ini, gadis itu hanya mendengus dengan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Leon hanya menyeringai dengan wajah yang kini mungkin sudah berada di dekat Salsa. "Gue dari tadi kebayang terus, karena ulah lo tadi pagi. Apa itu, ungkapan isi hati lo sebenarnya." bisik Leon dengan nada sedikit di buat-buat, bahkan bibirnya pun hampir menyentuh telinga Salsa.


Refleks karena hembusan napas yang terasa hangat di telinganya, membuat Salsa mendorong tubuh lelaki itu agar sedikit menjauh dari dirinya.


"Leon!" sentak-nya. Wajah Salsa sudah merah padam karena lelaki itu mengingatkan tentang kejadian tadi pagi yang membuatnya salah tingkah.


Meraih pergelangan tangan Salsa, dan mengajaknya melangkahkan kaki. "Gue pengen nganter lo balik kali ini." ujarnya.

__ADS_1


Lelaki itu mengayun-ayunkan tangannya seperti anak kecil. Suasana hatinya sedikit mencair karena bayangan Salsa yang menciumnya tadi pagi, membuatnya semakin bersemangat.


"Leon, kamu pikir kamu siapa, sih!" seru Salsa mencoba menahan tubuhnya agar tak mengikuti langkah kaki Leon.


"Lo lupa kalau gue ini pacar elo!" jelas Leon seraya menoleh.


"Selalu aja ngomong gitu terus." dengusnya.


"Buruan ikut gue! Gue pengen nganterin pacar gue yang cantik ini pulang."


"Aku bawa motor sendiri Leon." kekeh Salsa dengan tubuh yang masih berusaha menahan.


Leon menyunggar rambutnya kebelakang, pesona lelaki itu mulai keluar kembali, bahkan siapa pun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta dengan pacar Salsa itu.


"Biar gue nyuruh orang buat bawa motor lo, pokoknya lo harus ikut gue!" Leon menarik sudut bibirnya, lelaki itu kembali menarik paksa tangan Salsa. Gadis itu tak bisa bertahan lagi, bahkan dia langsung memeluk tubuh kekar lelaki yang ada di depannya itu.


"Bener-bener nggak sabaran." sindir Leon saat melihat tangan mungil itu memeluk tubuhnya.


"Ck! Kalau kamu nggak narik tangan aku, aku nggak bakalan lari ke pelukan kamu!" jelasnya, Salsa mengayunkan tangan mungilnya ke dada bidang lelaki tersebut.


Di posisi ini membuat Leon semakin mengembangkan senyumnya. Tanpa ingin menunggu lagi, Leon segera memapah gadis itu tanpa ragu.


"Leon, lepasin aku!" perintah Salsa di iringi teriakan.


"Nggak akan, sampai lo mau gue antar pulang." paksanya.


Dengan penuh keterpaksaan, Salsa hanya menurut tanpa ada niatan membantah ucapan Leon, lagi dan lagi lelaki itu berhasil membuatnya jinak.


Di atas motor, Leon langsung menuntun kedua tangan Salsa agar memeluk perutnya. Gadis itu hanya menurut tanpa berkomentar, biarlah lelaki itu bertindak sesuka hatinya, asal tak keterlaluan ia masih bisa menerimanya.


"Langsung pulang apa makan dulu?" tanya Leon mencoba memberikan tawaran.


"Terserah." balasnya dengan muka kusut.


Leon hanya menampilkan senyuman sinis, setelah memakai helm full face-nya. Leon segera melajukan motornya. Sedangkan si pembonceng masih anteng dan tak mengeluarkan suara sama sekali.


"Hah? Apa?" tanyanya sedikit berteriak.


"Kamu suka makan apa? Atau kalau pilih makan di restoran mana?" tanyanya kembali dengan suara sedikit mengeras.


"....." No respon.


"Sal, lo budeg ya?" tanya Leon sekali lagi.


Salsa masih terdiam dan tak menjawab ucapan lelaki itu. Mengetahui tak ada respon dari Salsa, Leon pun memutuskan untuk diam dan menunggu Salsa mengucapkan sesuatu. Salsa semakin erat memeluk Leon dari belakang.


Menyunggingkan senyumnya, lelaki itu mengira jika gadis yang diboncengkan-nya itu ingin melakukan adegan romantis seperti di dalam drama-drama romantis korea yang sering ia tonton. Seolah terlena dengan pendapatnya sendiri, Leon kembali memacu motor sportnya dengan kecepatan di atas rata-rata sambil menikmati pelukan hangat Salsa dari belakang.


Beberapa menit kemudian...


"Sal, lo mau makan apa?" tanya Leon sambil memelankan laju motornya.


Salsa masih tak menjawab, gadis itu hanya menganggukkan kepalanya yang bersandar di punggung Leon.


Leon yang merasakan anggukan Salsa dari belakang langsung menghentikan laju motornya di tepi trotoar dekat restoran seafood.


"Sal, elo turun dulu, gih. Badan lo berat banget." perintah Leon dengan kepala menoleh.


Gadis itu masih terdiam dangan tangan yang justru semakin mempererat pelukan-nya di perut Leon.


Leon segera melepaskan helm full face-nya. Senyum lelaki itu kembali mengembang, "Sayang, lo tuh seneng banget sih kalau di suruh peluk gue, hehehe..." ujar Leon dengan PD-nya.


Tak ada jawaban dari Salsa. Gadis itu semakin mempererat pelukan-nya seakan tak ingin melepaskannya, hingga membuat Leon sedikit kesulitan untuk bernapas.


Leon menggenggam tangan Salsa yang tepat berada di perutnya. Namun, saat Leon menyentuh tangan Salsa, lelaki itu begitu terkejut saat mengetahui tangan Salsa sangat dingin dan berkeringat sangat banyak.


Leon memutuskan untuk melepas pelukan Salsa dan menghadap kebelakang. Tapi, saat melihat kebelakang, mata Leon justru melihat penampakan Salsa yang sudah tak karuan.


"Hah? Salsa? Muka lo pucat banget? Elo kenapa? Elo sakit? Pantesan dari tadi elo diem aja, nggak cerewet kaya biasanya!" banyak pertanyaan yang keluar dari mulut bibir lelaki tersebut. Raut wajah Leon terlihat sangat panik sambil memegangi pipi Salsa.

__ADS_1


Salsa hanya menatap kosong ke arah Leon. Dengan wajah yang pucat dan tubuh yang sedikit bergetar, ia tak mempedulikan ucapan Leon.


Melihat Salsa yang tak juga berekspresi sama sekali, Leon semakin panik jika terjadi sesuatu pada kekasihnya itu.


Salsa tahu jika Leon saat ini sedang sangat panik dengan keadaannya. Tapi, Salsa membutuhkan waktu untuk mengepulkan kembali suaranya yang di rasa sempat tercekat di tenggorokan.


"Sayang, gue antar lo periksa ya? Gue khawatir banget sama keadaan elo?" ujar Leon yang terlihat masih panik.


"Gak usah!" jawab Salsa dengan secepat kilat dengan nada yang sedikit nyolot. Sambil menepis tangan Leon yang memegangi pipinya.


Leon terkejut, dan buru-buru turun dari motornya. "Loh? Kenapa? Elo pucat banget tau? Apa jangan-jangan lo telat makan?" tanya Leon dengan ekspresi yang sama.


"Diam!" sahut Salsa yang terlihat semakin emosi.


"Hah? Ya udah gue diem!" Leon pasrah, karena memang Leon tak tau apa yang terjadi dengan kekasihnya itu, maka ia menuruti perkataan Salsa untuk diam.


"Kamu tuh ya! Jadi cowok nggak pernah peka!" celetuk Salsa yang tiba-tiba mengomel.


"Loh? Gue nggak peka gimana? Gue lihat elo pucat banget, keringat dingin. Gue mau bawa elo periksa malah elo tiba-tiba sewot ke gue. Terus, gue nggak pekanya dimana coba?" balas Leon dengan santai.


"Kamu tau nggak? Aku hampir mati gara-gara kamu! Kamu tau nggak? Nyawa sama raga aku terpisah jauh gara-gara kamu!" ujar Salsa semakin emosi.


Seolah tak paham dengan ucapan Salsa, Leon hanya mengernyitkan alis. Mulutnya sedikit terkatum karena tak mengerti.


"Kamu bawa motornya ngebut banget! Udah tau bawa penumpang cewek di belakang, malah keenakan bawa motornya! Asal kamu tau ya? Nyawa aku tuh masih ketinggalan di tempat pertama kali kamu ngegas motor! Butuh waktu lama buat nyawa aku ngejar raga aku sampai kesini! Aku kesel banget tau sama kamu, Leon!" omel Salsa dengan memukul lengan lelaki itu pelan.


Alih-alih menyesal, Leon malah menertawakan Salsa seperti tak peduli dengan apa yang di rasakan oleh kekasihnya itu. Salsa semakin kesal karena Leon justru malah menertawakannya.


"Hahahaha.... ya ampun Sal, padahal gue udah panik banget waktu lihat ekspresi lo kaya tadi. Hahaha, nggak taunya elo cuma ketakutan." ledek Leon dengan memegangi perutnya.


"Kenapa? Setelah tau, kamu nggak jadi panik gitu! Halah, tau gitu aku bilang aja kalau aku lagi diare! Biar mampus kamu, sekalian aja biar kamu panik setengah mati!" dengus Salsa yang langsung melipat kedua tangannya dan menaruhnya di depan dada.


Kini Leon merasa lega karena Salsa masih baik-baik saja.Tapi ia tak bisa berhenti menertawakan Salsa.


Saat mengetahui Salsa sudah sedikit tenang, Leon segera meninta maaf.


"Ya udah iya, gue minta maaf. Gue nggak bakalan ngelakuin kesalahan yang sama lagi, kecuali kalau gue khilaf." tuturnya.


"Tau nggak? Tadi di jalan gue sempet ke-pe-dean gara-gara elo."


"Kenapa?" tanya Salsa penasaran.


"Elo di jalan terus-terusan peluk gue sih! Gue kirain elo beneran terpesona dengan tindakan gue, makanya lo betah banget pelukin gue sampai nggak lepas-lepas." ucap Leon sedikit menggoda.


"Ih, najis!" Salsa mengelak seraya membuang mukanya.


"Lagian lo budeg sih, di tanya pengen makan apa malah nggak ngrespon. Ya udah gue putusin aja bawa motornya makin kencengan."


"Ya kali, naik motor segitu kenceng-nya di suruh langsung denger, sebelum sampai ke telinga aku yang ketutup helm ini, suara ku udah kebawa angin duluan." jelas Salsa yang nampak kesal.


"Ya udah, sebagai permintaan maaf gue. Elo mau apa?" tanya Leon menawarkan.


"Beli baju, beli sepatu, beli tas, nonton film, makan es krim, makan di restoran paling mahal. TAPI KAMU YANG BAYARIN!"


"Elo tega banget sih sama gue! Masa iya gue harus jual motor dulu." jawab Leon memelas.


"Idih, pelit banget. Padahal denger-denger kamu tuh punya usaha banyak. Tapi nggak mau modalin pacarnya sendiri."


"Astaga, usaha gue itu masih kecil-kecilan, masih butuh modal banyak. Lagian itu semua gue lakuin buat masa depan kita besok." jelas Leon.


Salsa melotot. Membuat Leon mengkerut.


"Ya udah Princess. Lain kali gue bakalan turutin kemauan elo, tapi please gue udah lapar banget. Makan dulu ya," sanggup Leon.


Dengan senyum jahat yang mengembang, Salsa menganggukkan kepalanya. Leon kini menghela napasnya, lelaki itu sedikit lega.


Leon kembali naik keatas motornya. Salsa kembali memeluk Leon dari belakang. "Aku bukan tipe cewek kaya gitu, kamu tenang aja. Aku cuma bercanda kok." bisik Salsa di iringi senyum.


Menoleh sekilas, "Lain waktu gue bakalan bahagian elo, tapi semua itu butuh proses." katanya yang langsung melajukan motornya secara perlahan.

__ADS_1


__ADS_2