Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Sesakit Ini?


__ADS_3

Seorang lelaki dengan wajah pucat terlihat bersandar lemas di bangku taman belakang rumah Bella. Laki-laki yang tak lain adalah Brayu itu menatap kosong kearah langit yang bertabur bintang. Cerahnya langit malam itu seakan menyatakan bahwa angkasa turut bahagia atas bertambahnya usia Bella malam ini.


Gadis cantik yang memakai long dress mendekati arah Brayu dengan sebotol aqua di genggamannya. Bella menatap lekat ke arah lelaki itu dengan raut sedikit khawatir, pasalnya lelaki itu seperti sedang memikirkan sesuatu sampai tak fokus di acara terakhir tadi. Gadis itu memberanikan diri untuk duduk di sebelahnya dengan perlahan. Mengusir rasa canggung yang ia alami beberapa jam yang lalu karena ulah konyol Brayu di atas panggung.


"Nih." Bella menyodorkan botol minuman itu kepada Brayu dengan wajah datar tanpa ekspresi. Ia tek menunjukan ke khawatirannya.


Brayu menoleh. "Eh?" Lelaki itu baru menyadari kedatangan Bella. Dengan sedikit ragu Brayu menerima minuman tersebut. "Makasih, tapi untuk apa?"


"Muka lo pucat. Kurang minum kayaknya."


"Hah?" kening Brayu terlihat berkerut. "Eh, tadi lo ngomong apa?" sepetinya lelaki itu baru sadar dari lamunannya. Ia masih takut akan sikap Rahendra yang terus saja menatapnya sampai tak mengalihkan pandangannya.


Bella mengernyitkan dahinya. "Tuh kan, minum dulu." ucap Bella sedikit memerintah.


Sesuai perintah, Brayu langsung meminum air mineral tesebut. Meneguknya dengan cepat sampai tak ada air yang tersisa di dalam botol tersebut. "Thanks," katanya. Merasa kesadarannya telah kembali dari pikirannya yang sempat ter acak-acakan sudah sedikit stabil. Brayu menoleh, menatap Bella. Mereka bertatapan cukup lama tanpa mereka sadari.


"Lo, kenapa? Kayaknya baru banyak pikiran? Gue perhatiin dari tadi, lo sibuk bengong," ucap Bella saat hening mulai terasa cukup lama.


Brayu menggeleng pelan, lalu mengalihkan pandangannya seperti semula. "Kayaknya Om Rahendra nggak suka sama gue."


Bella menatap lurus ke depan. Menghela napasnya beberapa kali, masalah sepele seperti itu sampai membuat Brayu seperti kehilangan akal sehatnya. "Dasar laki-laki bodoh," gumam Bella pelan.


Brayu langsung menoleh dengan dahi mengeriput. "Siapa yang bodoh?"


"Elo!" jelasnya.


"Kenapa gue?" tanya lelaki itu dengan jari telunjuk menunjuk kearah dirinya sendiri.


"Iya! Kalau lo nggak sanggup. Kenapa lo lanjutin? Bukannya cuma akan nambah beban di hidup elo, kan!" serunya, dengan nada bicara mulai terdengar sewot.


Brayu menundukkan kepalanya, lelaki itu nampak gelisah dengan ucapan yang keluar dari mulut bibir Bella.


"Lagian! Daddy cuma ngeliatin elo kan? Dia nggak gigit elo, atau pun makan elo kan? Nyatanya badan lo masih utuh kaya gini." Gadis itu menaruh kedua tangannya di dada, sambil memposisikan tubuhnya ketika akan berdiri. Ia melihat beberapa orang yang masih tersisa di dalam rumahnya sambil melirik ke arah Brayu yang masih tertunduk lemas.


"Selamat. Lo! Kriteria bokap gue, karena lo jago masak," lanjutnya dengan wajah yang masih terlihat datar.


Brayu mengangkat kepalanya, dengan senyum mengembang di sisi sudutnya. "Lo tadi bilang apa Bel?" tanyanya mencoba memastikan, kepala lelaki itu mendongak sambil memandang kesamping.


"Ck... lo budek apa cuma pura-pura nggak denger aja sih? Bete gue!" seru gadis itu yang mulai melangkahkan kakinya.


Lelaki itu langsung menarik pergelangan tangan Bella, membuat gadis itu mundur beberapa langkah. "Hehe... gue denger kok, sorry kalau bikin emosi lo naik."


"Ck.... tau gitu, gue nggak mau ngasih tau lo tadi!"


"Y-ya jangan dong Bel, tega banget lo sama gue," ucapnya dengan raut wajah mulai memelas. "Terus... kalau Om Rahendra suka sama gue, ada kemungkin juga kalau elo....." Brayu menarik kembali ucapnya. Ketika lirikan mata Bella menatapnya dengan sangat sinis kearahnya.


"Sama aja bohong, kalau cuma Om Rahendra dan Tante Ranita yang suka sama gue. Sedangkan elo nggak suka sama gue," ucapnya kembali, ketika sudah menganti lanjutan dari ucapnya yang sempat tertunda tadi.


Bella menarik tangannya yang sejak tadi di genggam oleh Brayu. Gadis itu menarik sudut bibirnya. "Siapa bilang gue nggak suka sama lo! Gue suka kok sama elo."


Tanpa nanti-nanti lelaki itu langsung berdiri dan berhadapan dengan pujaan hatinya. "Jadi lo! Akhirnya..."

__ADS_1


Bella menaikkan kedua pundaknya, dengan bibir yang di tarik kebawah sesaat. "Akhirnya tetap gue nolak elo!"


"Sama aja bohong dong Bel," kata Brayu mulai tak bersemangat kembali.


"Gue. Suka sama lo! Sebagai teman, nggak lebih," kata Bella seraya membuang muka.


Lelaki itu menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas kursi, sambil menatap bintang-bintang yang nampak indah di langit sana. "Ahah. Gue cama dianggap temen. Ngenes banget," teriknya masih dengan posisi yang sama.


Bella terkekeh. Entah menertawakan apa. Gadis itu hanya asal tertawa saja. Yang penting suasananya tak sedingin tadi. Bella menggoyang-goyangkan kakinya sembari mengulas-kan senyum yang entah di tunjukan untuk siapa.


Hening kembali hadir.


"Gue bisa berubah pikiran, kok kalau lo mau," ucap Bella memecah keheningan.


"Maksud lo?"


"Kalau nggak tau maksudnya, ya udah." Gadis itu kembali berdiri dengan senyum yang masih mengembang di sudut bibirnya. "AQ lo kan lebih tinggi di banding gue, kalau lo nggak maksud. Artinya lo itu terlalu membodohi, diri lo sendiri."


"Bel, gue serius."


"Gue juga serius kok. Lagian, elo juga. Gue kan dulu udah pernah bilang ke elo, tapi elo nggak mau dengerin. Ow ya, buat pernyataan cinta lo, sewaktu di atas panggung tadi itu..."


"Kenapa?" Brayu tak sabar ingin mendengarkan kelanjutan dari ucapan Bella yang tak langsung di lanjutkan itu.


"Kuno banget, gue nggak suka!"


Brayu kembali memperlihatkan ekspresi wajah lemas-nya. Lelaki itu kembali menundukkan wajahnya. "Jahat banget sih... lo Bel, gue udah berharap kau elo terkesan sama pernyataan cinta gue. Nggak taunya, lo cuma mau ngejak gue."


Brayu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, benar-benar tindakan yang memalukan. Lelaki itu langsung berlari menghampiri arah Bella dengan wajah yang sudah merah padam.


...•°•Cinta Untuk Fella°•°...


Faya yang meninggalkan pesta ulang tahun Bella secara tiba-tiba dan tanpa pamit pun merasa sangat cemas. Sepuluh panggilan masuk terlihat di layar ponselnya, dan itu semua dari Kevin. Ia takut jika sesuatu terjadi kepada Emeli, gadis itu mencoba menghubungi ponsel Kevin beberapa kali, namun lelaki itu tak mengangkatnya sama sekali.


"Aduh.... ini anak kenapa nggak angkat telpon gue sih," keluhnya dengan mata yang masih menatap ke layar ponsel.


Saat sedang sibuk mengetikan sesuatu, tanpa sadar Faya melewati beberapa preman yang sedang asyik nongkrong di dekat gang tersebut. Melihat pakaian yang di kenakan oleh Faya terlihat sedikit terbuka, membuat pikiran mereka menjadi ingin menggodanya.


"Dari mana aja neng, sendirian aja," celoteh lelaki itu dengan posisi sudah mendekat ke arah Faya.


Suara lelaki itu membuat Faya terkejut, membuat gadis itu mematung sesaat.


"Mau kita antar neng," tawar salah seorang dari mereka.


"Maaf bang, saya numpang lewat aja," balas Faya masih dengan sikap sopan. Gadis itu ingin berlalu lalang begitu saja menghindari godaan dari lelaki itu, namun ketiga preman tersebut menghalangi jalannya.


"Maaf Bang! Saya mau lewat," ucap Bella sekali lagi.


"Nongkrong di sini aja dulu, bareng kita neng," lelaki itu mulai agresif dan berinisiatif memegang tangan Faya.


Faya langsung menepisnya dengan kasar, tak sampai di situ. Gadis itu langsung menendang kaki lelaki yang tadi sempat memegangnya itu. Membuat kedua laki-laki itu langsung membantu temannya.

__ADS_1


"Cewek sialan!" sentak lelaki yang telah di tendang oleh Faya tadi.


Merasa panik, Faya pun memutar langkah kakinya untuk berbalik, membuat ketiga preman itu berusaha mengejar. Faya pun menghela napasnya berkali-kali, saat melihat jalan di depannya telah buntu. Kakinya terasa sangat lelah berlari.


"Sial!" umpatnya dengan tangan memukul-mukul kakinya pelan.


Gadis itu langsung berbalik ke arah lelaki yang telah terengah-engah mengejarnya tadi.


"Lo! Mau lari kemana? Coba sejak tadi lo nurut, nggak akan ada acara kucing-kucingan kaya gini!" seru lelaki bertubuh ceking itu.


Faya melepaskan kedua sepatunya, lalu melemparnya kearah mereka, gadis itu melawan sampai ia tak melihat jika tangannya telah tergores oleh benda tajam yang entah dari mana asalnya.


"Lo nyerah aja. Percuma, nggak ada orang yang bakalan datang kesini buat nolongin elo!"


"Gue nggak bakalan nyerah di depan laki-laki brengsek kaya kalian!" serunya yang langsung menggiring ke tiga lelaki itu ke pinggir jalan. Faya masih bisa menahan rasa sakit pada tangannya, bahkan sebisa mungkin gadis itu melawan agar tak jatuh ke tangan lelaki tak tahu malu seperti mereka.


Entah ilmu dari mana yang ia dapatkan. Faya menendang salah satu alat vital lelaki itu cukup keras, membuat lelaki itu blingsatan dan terguling di jalan aspal dengan suara mengaduh.


Rasa letih-nya pun mulai terasa, membuat Faya tak sanggup melawan lebih lama lagi. Beruntung ia memiliki sedikit kemampuan beladiri dari sahabatnya, meskipun ia malas saat latihan, setidaknya ia bisa menguasai sedikit jurus untuk melindungi dirinya.


Faya memegangi keningnya yang sepertinya memar akibat pukulan dari lelaki bertubuh sedang itu. Faya memundurkan kakinya beberapa langkah, dengan napas yang masih tersengal. Ia masih bisa bertahan, namun sebuah pukulan mengarah ke tubuhnya. Untung saja ada tangan yang cukup kuat menghalangi pukulan tersebut, Faya melihat ke arah sang penolongnya. Betapa terkejutnya gadis itu saat mengetahui jika lelaki tersebut adalah mantan kekasihnya, Aldy.


"Makasih kak," ucapnya pelan dengan napas naik turun.


"Nggak masalah," balasnya. Lelaki itu langsung menghajar kedua lelaki yang masih tersisa.


Namun Faya tak bisa bernapas lega begitu saja. Ia harus menelan kenyataan pahit jika Zea juga berada di sana. Gadis itu sok-sokan ingin membantu namun ia terkena imbasnya sendiri.


"Kamu nggak papa?" tanya Aldy dengan wajah khawatirnya. Lelaki itu memegangi kedua bahu Faya.


"Aku nggak papa kok kak," balasnya masih dengan wajah menunduk. "Mending kak urus aja Zea, kayaknya dia lebih butuh kakak." Faya menatap Aldy dengan wajah tegasnya, gadis itu menyembunyikan tangannya yang terluka kebelakang, darah segar terus menetes akibat goresan tadi. Faya masih mampun tersenyum meskipun terpaksa.


Aldy mengikuti perkataan Faya, lelaki itu melirik kearah Zea dan langsung menghampirinya. Luka Zea tak terlalu serius hanya tergores aspal saja, namun gadis itu sudah mengaduh tak karuan membuat Faya malas mendengarnya.


"Faya, aku obatin lukanya Zea dulu." Wajah Aldy nampak panik.


"Oke kak, makasih buat bantuannya," ucap Faya yang langsung membalikan badannya. Apakah Aldy benar-benar telah melupakannya, atau hanya Faya yang masih menyimpan rasa itu. Gadis itu masih bergeming sambil menyusuri trotoar, dengan kepala menunduk, rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya tak sebanding dengan apa yang ia lihat barusan. Suara teriakan pengemudi motor membuatnya mengangkat kepalanya pelan.


"Fay, lo ngapain di sini? Gue cariin elo di rumah Bella tadi," ucap Kevin yang masih duduk di atas motornya.


"Bantuin gue, perban luka gue Vin," ucap Faya lirih. Gadis itu benar-benar telah kehabisan tenaganya.


"Elo kenapa?" tanya Kevin mulai menghampiri Faya, dengan ekspresi panik. "Ini kenapa Fay?" tanya sekali lagi.


"Sepatu lo kemana? Nggak sayang kaki lo! Kening lo juga, kenapa bisa kaya gini sih! Semrawut banget." Lelaki itu tak henti-hentinya bertanya, bahkan bisa di bilang dia lebih cerewet daripada Mamanya. Namun di balik cerewetnya Kevin, lelaki itu masih memiliki sisi lembut. Ia melepaskan jaket kulit dari tubuhnya, dan juga melepaskan sepatunya agar gadis itu bisa sedikit lebih nyaman.


Sedangkan Faya masih terdiam, dengan manik mata melihat pergerakan Kevin yang sibuk membantunya, lelaki itu rela memotong kaosnya demi membalut luka yang berada di pergelangan tangan Faya. Gadis itu masih mengatur napasnya, yang terdengar berantakan. "Thanks... lo udah mau bantuin gue!" seru Faya yang justru menitihkan air mata, perasaan menggondok sejak tadi ia tahan.


"Lo kenapa nangis?" Kevin mulai panik, apa ia terlalu kuat mengikat lukanya? Pikiran Kevin pergi kemana-mana. "Lo yang tenang ya Fay. Gue bakalan bawa lo ke rumah sakit," ucap lelaki itu dengan mengusap air mata yang jatuh menetes di kedua pipi mulus gadis itu. Kevin memeluk Faya sesaat, agar gadis itu merasa tenang.


Setelah tenang, Kevin menuntun Faya untuk naik ke atas motornya. Kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi sang Mama dan mengobati luka Faya yang cukup parah itu.

__ADS_1


__ADS_2