Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Another Threat !!


__ADS_3

Sejak kembali dari kantin wajah Arska semakin murung, ia sangat gelisah setelah mendengar ucapan Mona yang terus melintas di dalam kepalanya.


"Dari tadi, gue perhatiin muka lo bukannya mendingan, malah makin kusut kaya gitu ka?" ucap Brayu yang memulai pembicaraan.


Arska menyandarkan badannya ke tembok seraya memejamkan matanya, ia nampak berfikir sejenak, pikiran yang semakin kacau membuatnya semakin frustasi. "Gue nggak bisa, kalau harus ngejauhin apa lagi ninggalin Aya. Gue udah bener-bener sayang sama dia" ucapnya dengan mata yang masih terpejam.


"Maksud lo apa ka?, lo nggak bener-bener mau ninggalin Fella kan" ucap Aldy dan Brayu hampir bersamaan.


"Gue baru dapet kabar buruk, yang mengancam hubungan gue sama Aya".


"Maksud lo, lo dapet pesan teror lagi?" ucap Brayu yang langsung mendekati tempat duduk Arska.


Arska membuka matanya, ia menggelengkan kepalanya pelan, wajahnya yang kusut serta kulitnya yang pucat pasif terlihat sangat jelas di mata kedua sahabatnya itu.


Aldy yang melihat tampang kusut Arska segera mencebirkan bibirnya. "Dasar ya, kalau udah ganteng dari sananya, tetep aja ganteng meskipun tampangnya kusut" celoteh Aldy.


Brayu melirik ke arah Aldy, ia kesal dengan sikap Aldy yang tak mengerti akan kondisi yang di alami sahabatnya saat ini. "Kita lagi serius dy, jangan becanda muluk" tegurnya.


Segera Aldy merapatkan bibirnya, tatapan Brayu benar-benar membuatnya takut.


Dilan yang baru memasuki kelas, segera bergabung dengan ketiga sahabatnya. Muka lesu tak bersemangat tampak jelas menghiasi wajahnya. Ia benar-benar tak ada muka jika harus bertemu dengan Regina, apa lagi mereka satu kelas, kesempatan untuk bertemu itu sudah pasti ada. Untung saja saat ini Regina dan kedua sahabatnya belum berada di kelas, meskipun Regina tadi bilang mau kekelas, tapi nyatanya ia tak berada di kelas saat ini. Dilan sedikit bernafas lega mengetahui hal tersebut.


"Anjay....muka lo kenapa lan, yang satunya kusut pucat, sedangkan lo lemes kaya nggak ada semangat hidup" ucap Aldy.


"Gimana nggak lemes, gue udah nuduh Regina yang culik Fella, gara-gara gue denger obrolan mereka yang mencurigakan. Gue langsung ambil kesimpulan kalau Regina penculiknya" ucapnya tak bersemangat sambil menaruh kepalanya ke atas meja. "Muka gue mau di taruh mana kalau ketemu Regina, malu banget gue!!" cecernya.


"Bukan Regina yang nyulik Aya, tapi Mona !!" cetus Arska yang langsung mengusap wajahnya dengan kasar.


Serempak mereka bertiga terkejut setelah mendengar ucapan Arska. "Lo nggak ngarang cerita kan ka?" ucap Dilan syok.


"Tadi Regina juga bilang sama gue. Orang yang patut di curigai itu Mona" cecernya masih dalam keadaan lemas.


"Gue nggak ngarang dan itu nyata, tadi di kantin dia ngancem gue, buat segera ninggalin Aya. Kalau gue masih pengen Aya dalam keadaan aman. Gue harus nurutin semua omongan yang kuar dari mulutnya".


"Parah.... banget tuh cewek. Apa perlu gue samperin buat ngasih pelajaran tuh... anak" ucap Aldy meninggikan nada bicaranya sambil berdiri.


"Nggak perlu dy, gue pasti bisa keluar dari masalah ini, tanpa ngelibatin kalian. Nanti pulang sekolah, gue mau samperin tempat Aya di sekap, dia janji mau ngelepasin Aya. Jam 16:40 gue harus tepat waktu".


"Oke kalau itu keputusan lo ka, tapi kita tetep akan bantuin lo keluar dari permasalahan ini. Nanti pulang sekolah kita temani lo buat jemput Fella" ucap Brayu.


"Thanks kalian emang sahabat gue. Di saat gue kesusahan lo bertiga selalu ada buat gue".


"Udah seharusnya kaya gitu ka, lo nggak perlu sungkan sama kita" ucap Adly yang kini menggeser kursinya.


Arska mengikuti pelajaran dengan lemas, ia ingin segera melewati hari ini dengan cepat, sesekali ia melirik ke jam tangannya.

__ADS_1


...•°©inta Untuk Fella°•...


Jam 16:40 Arska dan ketiga sahabatnya, sampai di Alamat yang mereka tuju. "Ini tempatnya ka?. Kayaknya jarang banget ada orang yang lewat sini" ucap Aldy.


Arska hanya mengangguk, matanya terus mencari keberadaan Fella. Jantungnya berdetak lebih cepat, ia sangat takut jika sesuatu yang lebih buruk terjadi pada kekasihnya itu.


"Tuh anak hobi atau gimana sih, tempat kaya gini juga buat nyekap orang, terbiasa culik orang kali tuh anak" celetuk Dilan.


"Pantesan aja tuh anak mukanya horor" cercer Brayu.


"Terus tuh anak nggak ikut kesini ka?" tanya Aldy.


Arska melihat ke arah tiga sahabatnya dengan tatapan malas, ia benar-benar malas jika harus menjawab semua pertanyaan yang keluar dari mulut mereka. Brayu yang menyadari hal tersebut segera bersuara. "Sorry ka, kita nggak tanya yang aneh-aneh lagi" ucapnya.


Dari arah Belakang nampak tiga pria membawa satu gadis dengan mata tertutup serta mulut yang tersumpal oleh kain, tangan dan kakinya juga terikat, sungguh kejam perbuatan penculik tersebut. Mata Arska membulat menyaksikan kekasihnya dalam keadaan tersebut, ia dapat merasakan bagaimana kesakitannya Fella saat ini. Tangan Arska sudah mengepal sejak tadi, ia tak bisa mengontrol emosinya lebih lama lagi, segera ia berlari menghampiri ketiga penculik itu dan langsung memukulnya tanpa ampun. "Kalian apain cewek gue !!" tegasnya sambil menarik kencang kerah pria tersebut. Sedangkan Dilan dan Aldy melepas ikatan yang masih menempel di tangan dan kaki Fella, Fella sangat lemas hingga ia tak mampu mengerakkan tangan serta kakinya. Arska masih mengulang hal yang sama, sampai satu pria yang berada di belakangnya mengambil sebuah balok untuk memukul kepala Arska. Tapi Brayu dengan sigap menendang kepala pria tersebut hingga aksinya gagal, pria itu tersungkur jauh ke tanah. Melihat hal tersebut Arska semakin marah, dan terus memukulnya sampai Dilan menghentikan aksinya. "Nggak penting ngurusin mereka saat ini ka, yang terpenting saat ini bawa Fella kerumah sakit. Fella pingsan ka" cecer Dilan dengan ekspresi wajah yang panik.


Arska membanting tubuh pria tersebut cukup keras, ia kembali berdiri untuk segera menghampiri kekasihnya. Tapi pria tersebut justru tertawa sangat kencang. "Cewek lo sendiri yang nggak mau makan, bukan salah kita, dia sibuk teriak-teriak makanya kita sumpal mulutnya" ucapnya mengejek.


Brayu tersenyum tipis sebelum akhirnya menendang kepala pria itu dengan keras, hingga akhirnya pria tersebut pingsan.


"Gue nggak mau ngeliat muka meraka lagi !!, lo hubungi polisi sekarang dy" perintahnya dengan nada yang cukup meninggi sambil terus memegangi wajah pucat Fella. Aldy melakukan hal yang di perintahkan oleh Arska, ia takut jika Arska semakin mengamuk.


"Kenapa kamu kurusan ay?. Aku nanyain hal yang nggak penting ya, cepetan bangun ya, jangan bikin aku tambah sedih" ucapnya lirih sambil menciumi kening Fella.


Hingga ponselnya berdering tanda telfon masuk, Arska mengangkat telfon tersebut, ia sudah mengetahui kalau itu pasti Mona. Suara deheman terdengar dari sebrang telfon, sebelum akhirnya membuka suaranya. "Em...gimana tawaran gue tadi siang?" tanyanya. "Lo tau kan gue nggak suka berbelit-belit" lanjutnya. " Terus satu hal lagi, yang perlu gue ingetin ke elo, jangan romantis-romantisan kaya gitu di depan mata gue!!, gue paling nggak suka ngeliatnya" ucapnya dengan nada meninggi.


"Hehehe....tau aja, kalau gue punya rencana lagi!. Btw lo udah nyerahin anak buah gue ke kantor polisi, tapi jangan harap lo bisa lolos gitu aja, anak buah bokap gue itu banyak, gue bisa kapan aja buat ngehancurin cewek lo!!. Kalau lo nggak mau turutin permintaan gue!!" ancamnya.


"Gue nggak perlu ancaman basi lo!" ucapnya segera mematikan ponselnya.


"Si sinting Mona yang telfon ka?" tanya Aldy.


"Hem.... dia ngasih peringatan ke gue lagi".


"Bahas Mona nya nanti aja, yang paling penting bawa Fella ke rumah sakit sekarang" perintah Brayu.


...•°©inta Untuk Fella•°...


Di rumah sakit Merry tak henti-hentinya menangisi putri semata wayangnya sedangkan Angga sibuk menenangkan istrinya. Arska masih saja menggenggam tangan Fella dengan sangat eratnya. Ia mencoba tegar agar tak membuat Merry semakin bersedih. Sampai akhirnya Fella membuka matanya dengan perlahan. Ia tersenyum tipis setelah melihat kedua orangtuanya berserta kekasihnya berada di sampingnya saat ini. "Bunda, Ayah..." ucapnya sambil berusaha untuk bangun. Arska membantu kekasihnya itu untuk duduk. "Makasih sayang" ucap Fella dengan suara serak.


"Kamu udah siuman sayang, Bunda sama Ayah, panik banget waktu tau kamu hilang. Untung aja Arska bisa nemuin kamu" ucap Merry sambil memeluk Fella dengan eratnya. Arska melepaskan genggaman tangannya, ia berdiri agar bisa memberi ruang untuk Merry leluasa memeluk anaknya.


Fella menatap ke arah Arska senyum tipis terlukis di wajah cantiknya yang pucat. "Makasih ya sayang, udah nyelametin aku, aku nggak tau harus gimana kalau nggak ada kamu" ucapnya yang langsung melepaskan peluknya dari Merry.


Arska tersenyum mendengar ucapan itu keluar dari mulut kekasihnya, walaupun sebenarnya hatinya sangat sakit, Fella harus mengalami kejadian ini karena dirinya. Dengan pelan Arska mengusap rambut Fella dengan lembut, sebelum akhirnya mengecup kening kekasihnya itu. "Itu udah tugas aku sayang". Arska sampai melupakan kalau di sana masih ada Merry dan Angga yang sedang menyaksikan adegan romantis yang ada di hadapan mereka saat ini, hingga suara deheman Angga menghilangkan fokus Arska seketika. Wajah Arska berubah menjadi merah padam, ia sangat malu melakukan adegan konyol itu di depan calon mertuanya.

__ADS_1


"Nggak ada lagi adegan kaya gini, siapa yang izinin kamu cium Aya" ucap Angga memperingatkan.


"Maaf om..... Arska kelepasan".


"Lain kali nggak ada kata kelepasan lagi. Ingat kalian belom muhrim".


"Iya om... Arska ngerti" ucapnya dengan wajah yang menunduk karena malu.


Merry tertawa sesaat sebelum membuka suara. "Ya ampun Ayah... jangan kaya gitu sama Arska, Arska sampai ketakutan gitu". Senyum manis terlukis di wajah Merry. "Lagian Bunda udah sering kok ngeliat Arska cium kening Aya yah.." lanjutnya.


Arska langsung menutup wajahnya begitu juga dengan Fella, mereka berdua sudah tertangkap basah oleh Merry.


"Kenapa Bunda nggak larang mereka" cecer Angga.


"Hem.... Ayah ini kudet banget sih... kaya nggak pernah muda aja" ucap Merry yang langsung memeluk lengan sang suami.


"Ya... ya... terserah Bunda" ucap Angga memanyunkan bibirnya.


Fella yang melihat ekspresi wajah Ayahnya segera menertawakannya. "Hahaha... ayah jelek banget kalau manyun gitu" ucapnya sambil menunjuk ke arah Angga.


"Shut.... nggak boleh gitu sayang, nggak sopan" ucap Arska memperingatkan.


Fella mencebirkan bibirnya, Arska melihat ke arahnya sambil mengedipkan satu matanya dan tersenyum sinis, ia memberi isyarat kepada kekasihnya untuk tidak memanyunkan bibirnya, kalau tidak Arska akan berbuat nekat seperti yang biasa ia lakukan.


"Ya udah... kalian ngobrol dulu, Bunda sama Ayah mau keluar sebentar".


"Ingat... jangan macem-macem sama anak om!" tegas Angga.


Arska menelan saliva nya, calon mertuanya benar-benar galak.


"Iya om... Arska nggak macem-macem lagi" ucapnya lirik.


Merry dan Angga segera meninggalkan ruangan. Fella memandangi wajah kekasihnya yang nampak kebingungan, ia melambai-lambaikan tangan kirinya pas di depan wajah Arska. "Kamu... lagi mikirin apaan sih yang?" selidik Fella.


"Ah... em... enggak lagi mikirin apa-apa kok sayang" Arska berusaha agar tak terlihat panik di depan Arska.


"Em... kirain lagi mikirin apaan. Huft... badan aku sakit sayang, lemes banget rasanya" keluhnya.


"Kamu harus banyakin istirahatnya ya sayang, biar cepat pulih" ucap Arska sambil mengelus pucuk rambut Fella dengan pelan. Sebelum akhirnya pengacau mengirimkan pesan singkat untuk dirinya. "GUE UDAH PERINGATIN KE ELO, BUAT JAUHIN CEWEK LO SEKARANG!!. KALAU LO NGGAK MAU HAL YANG LEBIH KEJAM GUE LAKUIN KE CEWEK LO!!. DAN SATU HAL LAGI YANG PERLU GUE INGETIN KE ELO, GUE NGGAK PERNAH BOHONG SAMA UCAPAN GUE!!" tegasnya.


Mata Arska melebar setelah membaca pesan singkat tersebut. Ia benar-benar muak dengan semua ancaman Mona.


"Pesan...dari siapa sih yang?, serius banget bacanya" ucap Fella penasaran sambil melirik ke layar ponsel milik Arska. Tapi Arska segera mematikan layar ponselnya. "Em... itu dari Mama, dia nanyain keadaan kamu sayang" ucapnya berbohong seraya mengusap pelan pipi Fella yang mulus.


"Em.... dari Tante Violla".

__ADS_1


"Iya sayang" ucap Arska menyakinkan.


Arska yang masih tak ikhlas meninggalkan kekasihnya, dengan segera menggenggam tangan Fella cukup erat, sesekali ia mencium tangan Fella dengan lembut, sebelum akhirnya ia berpamitan untuk pulang.


__ADS_2