
Bella dan Brayu sudah berada di jogja satu hari yang lalu, kedua pasangan pengantin baru itu menikmati suasana sore di Malioboro. Mereka nampak menikmati lantunan musik angklung yang di mainkan oleh para pemuda yang seumuran dengan
mereka di sana, sambil menikmati secangkir teh hangat dan gorengan yang telah mereka pesan.
"Dari dulu gue pengen banget kesini. Tapi, selalu aja nggak di bolehin sama Daddy." curhat Bella.
Brayu tersenyum mendengar penuturan dari istrinya itu. "Yang penting, elo kan sekarang udah kesampaian kesini-nya. Jadi, jangan cemberut lagi, ya." seraya mengelus pucuk kepala istrinya.
Bella menjulurkan lidahnya, setelah Brayu berhenti berkata. "Jangan besar kepala ya! Elo sekarang punya tanggungan lebih, buat jagain anak orang!" tegasnya.
"Hahaha.... nggak masalah, karena sejak dulu yang gue pengen-kan emang kaya gitu. Gue pengen jagain elo samapi tua." balas Brayu, seraya mencolek dagu istrinya.
Bella mendengus, melihat lelaki itu terus menggodanya. 'Astaga, dia tuh, hobi banget godain gue, jangan-jangan kalau di belakang gue, dia juga kaya gitu,' pikiran Bella kembali melayang.
"Hayo, ngelamunin apa?" tanya Brayu dengan tiba-tiba.
"Nggak ada! Habis ini, aku mau jalan-jalan lagi." elaknya.
"Ya udah ayo. Mumpung masih sore, elo mau kemana aja? Suami lo ini siap nemenin elo keliling jogja."
Bella langsung berdiri, perempuan itu nampaknya mulai lapar karena sejak tadi dia terus menerus mengusap-usap perutnya. "Nyari gudeg yuk Bray, lapar lagi nih." pinta Bella, saat sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Beberapa jam yang lalu, elo kan baru makan gudeg, Bella!" protes Brayu.
"Ck, dasar! Punya laki perhitungan banget!" ucap Bella yang memilih berlalu lalang.
"Astaga, sayang. Bukannya perhitungan, makan yang lain aja dulu, masalahnya muka gue udah mirip kaya gudeg." kata Brayu yang langsung mengejar istrinya.
'Ngeselin banget sih, tuh bocah!' batin Bella mendumel tak karuan.
Brayu menarik pergelangan tangan istrinya. "Iya, kita makan gudeg lagi. Jangan ngambek ya," ucap Brayu pelan. Lelaki itu memilih mengalah, biarlah mukanya seperti gudeg asal Bella tak marah lagi.
Perempuan itu tak menjawab ucapan Brayu, ia hanya menatap lurus ke arah lelaki itu dengan tampang masamnya.
"Jangan ngambek ya, sayang." rayunya, seraya memegangi kedua pundak Bella.
"Gue mau balik ke hotel aja! Kesel lama-lama. Kalau ngeliat tampang suami gue yang pelitnya selangit ini!" seru Bella, seraya membalikkan tubuhnya.
"Gue tuh nggak pelit, sayang. Elo mau makan apa aja pasti gue turutin."
"Bohong, buktinya gue mau makan gudeg aja nggak di turutin!"
"Dari kemarin tuh kita cuma makan gudeg terus, tadi pagi juga gudeg. Siangnya juga," keluh Brayu.
Bella hanya mendengus, perempuan itu memilih membuang wajahnya ke sembarang arah.
'Ya ampun, apa sesulit ini merayu istri sendiri, sedangkan dulu gue selalu ngerayu pacar begitu mudahnya,' gumam Brayu dalam hati.
Bella yang tak mendengar celotehan dari suaminya itu, kembali menoleh. Perempuan itu mengerutkan keningnya, saat melihat suaminya berdiam diri menatap ke arah bawah.
Plak! Plak! Plak!
Bella memukul kepala suaminya hingga tiga kali. "Mikirin apaan sih! Serius banget, sampai istri sendiri ngambek nggak di perhatian, malah di cuekin!"
Brayu mengusap kepalanya yang hampir benjol, karena ulah istrinya itu. "Sakit sayang, ini kepala gue hampir benjol, karena pukulan elo tadi," keluh Brayu seraya mengusap kembali kepalanya.
"Habisnya! Lo tuh ngeselin banget, istri baru kesel, malah melamun."
"Maafin ya sayang, gue nggak ada maksud." katanya, yang langsung menarik tubuh Bella dari keramaian, lelaki itu enggan berdebat di depan umum.
Dengan pasrah, perempuan itu mengekor di belakang suaminya. Brayu menarik Bella dan menyembunyikannya di bawah ketiaknya.
"Astaga, Brayu! Elo sengaja ya!" protes Bella saat mengetahui keisengan suaminya itu.
"Biar nurut, dan nggak marah-marah terus."
Bella memalingkan wajahnya, namun ia tetap menurut saja ketika kepalanya diapit oleh ketiak suaminya itu. Lelaki itu tersenyum penuh makna, sampai mereka menghentikan langkahnya di Nol Kilometer.
"Berhenti dulu ya, gue capek." ucap Brayu.
"Payah, lo itu laki. Ya kali, jalan berapa langkah aja udah ngeluh capek," sindir Bella yang masih setia di bawah ketiak suaminya itu.
'Ini ketiak kok wangi banget sih, bikin melting,' pikir Bella sambil sesekali memejamkan matanya seraya tersenyum.
__ADS_1
Brayu yang melihat kelakuan istrinya itu, semakin mengembangkan senyumnya, 'Astaga, kenapa gue nggak ngelakuin ini dari dulu. Bella anteng banget di bawah ketiak gue.' pikir lelaki itu sejenak, hingga sebuah ide jail muncul di dalam otak kecilnya itu. "Gue nggak payah kok. Gue itu cuma seneng aja ngeliat istri gue yang cantik ini, ngumpet bermenit-menit di bawah ketiak gue." sindir lelaki itu.
Bella yang nampak tersindir langsung melebarkan matanya, "G-gue cuma capek aja kok." elaknya.
Lelaki itu menarik sudut bibirnya, "Kenapa? Kamu ini gemesin banget sih, sayang," ucapnya seraya mengapit kepala Bella dan menarik hidung perempuan itu beberapa kali.
"Aw... Brayu! Elo mau bunuh istri lo secara perlahan!" teriak Bella berusaha untuk keluar dari ketiak lelaki tersebut.
Puas mengerjai istrinya, lelaki itu memilih melepaskannya. Napas Bella tersengal, perempuan itu melirik ke arah suaminya dengan tatapan kesalnya, sedangkan yang di lirik hanya menaik turunkan kedua alisnya sambil terus mengembangkan senyumnya.
Kesal melihat tindakan suaminya, Bella memilih menginjak kaki lelaki itu dengan cukup keras. Membuat si pemilik kaki mengaduh. "Aduh! Sayang. Elo itu sengaja ya," titahnya dengan tubuh sedikit membungkuk. Lelaki itu langsung memegangi kakinya yang terasa kelu.
"Elo yang mulai duluan, jadi tanggung akibatnya!" seru Bella dengan kedua tangan terlibat, perempuan itu masih menahan tawanya.
"Nggak usah di tahan, kalau pengen ketawa, ketawa aja!" jelas Brayu dengan ekor mata yang masih melihat ke arah Bella.
Bella mengerucutkan bibirnya, menirukan bibir Brayu yang sejak tadi mendumel tak karuan. Lelaki itu menjadi gemas sendiri melihat tingkah istrinya yang terus saja menirukan ucapannya. Brayu segera memiting kepala Bella, "Elo tadi bilang apa?" tanya Brayu saat sudah mensejajarkan tubuhnya di samping Bella.
"Brayu! Ini terlalu menyakitkan, singkirin lengan lo dari kepala gue." perintah Bella dengan membentak.
"Nggak bakalan gue lepasin, elo yang mulai duluan."
Bella menggigit bibir bawahnya, perempuan itu mulai kehabisan tega. "Oke, elo menang. Gue ngaku kalah," ucapnya pasrah.
Brayu mulai melonggarkan pitingan-nya. "Istri gue ini, emang paling penurut," ujarnya dengan tangan mengelus pucuk kepala Bella dengan lembut.
"Napas, gue serasa mau copot, tau!"
"Baru mau kan? Belom copot." goda lelaki itu lagi.
"Karena elo! Udah bikin istri lo teraniaya, jadi gue wajib minta makan gudeg!"
Brayu terkekeh mendengarnya, hal yang pasti di katakan oleh Bella saat ia sudah capek dan tak memiliki tenaga, ya itu makan, makanan favoritnya.
"Iya sayang, kita makan gudeg lagi. Tapi jangan cemberut kaya gitu ya. Gue nggak mau di bilang suami durhaka," ucapnya.
"Emang lo suami durhaka, masih aja mau di bilang baik. Dasar nggak tau malu!" Bella bergumam sambil meninggalkan Brayu.
Di warung makan mbok jum.
Bella mengetuk-ngetukan jari telunjuknya diatas meja, perempuan itu sudah tidak sabar ingin segera memakan makanan favoritnya itu. Menjelang malam, warung itu semakin ramai pengunjung dan mau tidak mau mereka harus sabar menunggu. Selang lima belas menit, pesanan yang mereka pesan akhirnya datang juga.
"Ngapunten nggeh mbak-mas, niki pesenane nembe dugi, antrian nipun nembe katah! (Maaf ya mbak-mas, ini pesanannya baru datang, antrian baru banyak!)" ucap bapak-bapak yang mengantar pesanan tersebut.
Bella dan Brayu hanya manggut-manggut, mereka bingung harus menjawab apa, sebab tadi pagi dan siang yang melayani mereka masih muda dan bisa berbahasa indonesia dengan baik.
"Monggo didahar, mumpung teseh anget-anget. (Biruan dimakan, mumpung masih hangat." lanjutnya.
"Makasih ya pak," balas mereka.
"Enggeh, sami-sami. (Iya, sama-sama)" balas bapak tersebut sebelum akhirnya meninggalkan tempatnya.
"Bapaknya ngomong apaan sih Bray? Gue nggak ngerti?"
"Lah, lo kenapa nanya ke gue! Gue aja nggak ngerti."
Bella memajukan bibirnya, "Kita nggak salah masuk warung kan?" tanya Bella memastikan.
Brayu menggeleng cepat, "Kayaknya enggak deh, soalnya plakat-nya masih sama, 'gudeg mbok jum' mungkin aja yang tadi siang itu anaknya," ucap Brayu mengira-ira.
Bella tak mau lebih lama menunggu lagi, perempuan itu langsung memakan gudeg berserta lauk yang lainnya. "Astaga, Bray. Ini lebih enak dari yang tadi pagi atau siang tadi," ucapnya.
"Hah, masak iya?"
Bella mengangguk, "Buruan, cobain deh," katanya sambil memasukan sesendok penuh gudeg kedalam mulut suaminya.
Mata Brayu melotot. "Ini beneran enak sayang," katanya saat menerima suapan dari Bella.
"Hum... jadi ketagihan kan, makan gudegnya." tunjuk Bella menggunakan sendok.
"Kalau kaya gini, gue ikhlas. Balik ke jakarta muka gue mirip kaya gudeg juga nggak nyesel. Apalagi, istri gue yang cantik ini nyuapin gue makan." Brayu nyengir kuda, lelaki itu menelan kata-katanya sendiri.
Bella mencebirkan bibirnya, sambil kembali menyendok gudeg yang ada di piringnya. Mereka menghabiskan makanan yang ada di meja tanpa tersisa. Setelah selesai makan mereka pun langsung ke kasir untuk membayar.
__ADS_1
"Berapa buk? Total semuanya?" tanya Brayu.
"Seratus lima puluh Mas," balas Ibu penjaga kasir itu.
Brayu mengeluarkan pecahan 300 ribu dari dalam dompetnya, dan memberikannya kepada Ibu tersebut.
"Lah, ini kebanyakan Mas?"
"Nggak pa-pa buk, istri saya makanya lahap banget. Besok kalau saya sama istri saya balik lagi ke sini, tolong masaknya kaya yang tadi ya buk," pinta Brayu.
Ibu penjaga kasir itu mengembangkan senyumnya sambil mengucapkan terimakasih. Hingga, bapak-bapak yang tadi mengantarkan pesanan pun datang menghampiri, dan membuat pasangan suami istri itu menjadi salah fokus.
"Ngatos-ngatos nggeh mbak-mas. (Hati-hati ya mbak-mas)." ucapnya.
Kedua pasangan itu terus menguar senyum, mereka bingung akan membalas apa?
"Jawab dong, Bray. Gue nggak tau," bisik Bella yang kini menggaruk kepalanya.
"Gue, juga mana ngerti Bel," gumam Brayu. Lelaki itu juga menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
Ibu penjaga kasir itu, menahan tawanya saat sepasang suami-istri yang ada di hadapannya itu saling menyikut. "Maksudnya, mbak sama mas, hati-hati di jalan ya," sahut ibu kasir tersebut.
Bella dan Brayu langsung menoleh kepada Ibu tersebut, "Ow, hati-hati. Makasih ya buk," balas Brayu, dan Bella hanya mengangguk seraya tersenyum.
Merasa sudah paham Brayu langsung mengucapkan hal yang di rasa sama. Namun jauh dari kata sama dengan ucapan bapak tadi. "Iya, makasih ya Pak, Bapak juga atos-atos, ya." balas Brayu.
Ibu penjaga kasir pun menguar tawanya, sedangkan Bapak pemilik warung masih menanggapi perkataan Brayu.
"Kulo niku tiyang alus kok Mas, mboten tiyang atos, (Saya itu orang halus kok Mas, bukan orang keras,)" ucap Bapak pemilik warung tersebut.
Pasangan suami-istri itu semakin kebingungan. "Kok, ibunya ketawa sih, Bray?" bisik Bella.
"Gue juga nggak tau. Perasaan gue cuma ikut-ikutan ngomong kaya Bapaknya, terus ini bapaknya ngomong apa? Gue harus jawab gimana?" balas Brayu dengan nada pelan, lelaki itu mulai gelagepan.
"Maaf ya Pak, saya bener-bener nggak tau. Bapak bilang apa?"
Bapak tersebut hanya tersenyum, "Nggeh sampun nek mboten ngertos Mas, Mas kaleh Mbak ngatos-ngatos nggeh, kulo ajeng teng wingking riyen. (Ya sudah kalau tidak tahu Mas, Mas sama Mbak hati-hati ya, saya mau ke belakang dulu.)" balas Bapa tersebut.
Bella dan Brayu hanya bisa mematung, sesekali mereka menelan saliva-nya. "Astaga, Bapak tadi bilang apaan sih Bray, gue nggak ngerti sama sekali."
"Sama Bel, sampai panas dingin gini badan gue," balasnya.
Ibu penjaga kasir itu pun membuka suaranya, setelah menghentikan tawanya. Dia merasa kasihan melihat sepasang suami istri yang memang kebingungan itu.
"Maaf ya Mbak-Mas. Tadi Masnya salah ngomong, 'Atos-atos' itu keras Mas, sama saja dengan kasar."
"Astagfirullah, maaf ya buk. Saya pikir tadi sama dengan yang di ucapkan sama Bapak tadi."
"Nggak pa-pa Mas, wajar kok, kalau Mas nggak tau. Karena Mas juga bukan asli orang Jogja, tapi kalau Masnya tadi bilang pakai bahasa indonesia Bapak malah paham, Mas."
"Bapaknya paham, tapi kenapa nggak pakai bahasa Indonesia aja, Buk?" tanya Brayu masih penasaran.
"Karena Bapak juga bingung kalau ngomong pakai bahasa Indonesia Mas, sering kebalik." jelasnya.
Bella masih setia mendengarkan, namun perempuan itu ingin segera kembali ke hotel untuk istirahat.
"Bray, balik yuk! Gue takut, kalau kelamaan di sini elo makin ngelantur ngomongnya," ucap Bella pelan.
Brayu melihat sekilas kearah istrinya. "Saya permisi dulu ya buk." pamitnya.
"Iya, Mas. Terimakasih atas kunjungannya, besok kembali lagi kesini," kata Ibu penjaga kasir tersebut.
Mereka hanya mengangguk, seraya meninggalkan warung tersebut. Sampai di luar warung Bella mencubit lengan suaminya itu.
"Aw, sakit Bel." pekiknya.
"Syukurin! Siapa suruh bikin malu, orang gue aja milih diem, elo malah nyahutin itu Bapaknya."
Brayu nyengir kuda. "Hehehe, maaf ya sayang, suami mu ini kan pengen belajar bahasa Jawa."
"Ho.o, belajar bahasa Jawa, biar 'Atos-atos', " sindir Bella.
Tawa Brayu semakin menguar, lelaki itu langsung merangkul pundak istrinya. Setelah mengisi perutnya dan hari memang sudah malam, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel.
__ADS_1