
Weekend. Adalah waktu yang di tunggu-tunggu oleh semua orang, termasuk para remaja yang sudah sangat letih melakukan kegiatan menggampusnya. Mereka memilih aktifitas yang sering di lakukan oleh remaja pada umumnya, sekedar menongkrong atau apalah... yang terpenting pikiran mereka menjadi fresh kembali.
"Weekend, tuh... paling enak malas-malasan di rumah. Kalian malah ngajakin gue keluar," celoteh Faya dengan kepala yang masih menempel di sudut meja.
"Ya elah Fay, kapan sih? Elo nggak ngeluh sewaktu gue ajak keluar?" tanya Bella dengan mata sinis-nya, raut wajahnya benar-benar datar.
"Ck.... Fella aja nggak lo ajak. Mentang-mentang dia udah bersuami," protesnya.
"Fella datangnya belakangan, si Arska masih banyak kegiatan pagi ini. Bantuan om Angga benerin motor." jelas Bella.
Faya hanya menghembuskan nafasnya sambil mengetuk-ngetuk meja taman yang nampak masih bersih dan belum ada makanan di sana.
"Cari tempat lain yuk." ajak Faya saat melihat sekelilingnya masih belum ada siapa-siapa.
"Buru-buru amat, sih... Lo Fay, kasihan Fella sama Arak kan, kalau mereka dateng kita udah nggak ada di sini!"
Faya mengangkat kepalanya, tampangnya terlihat memelas sambil bibirnya mengerucut maju. "Tapi mata sama hati gue jadi sakit, Bel."
"Apa hubungannya? Kita masih nungguin di sini sama mata dan hati lo yang sakit?" tanya Bella mengernyitkan keningnya.
"Lo liat aja di pojokan dekat abang-abang yang jualan siomay. Gue nggak tahan ngeliatnya," kata Faya semakin kusut.
Bella mengikuti instruksi yang di berikan oleh Faya, melirik ke arah yang di tuju oleh sahabatnya itu. "Itu bukannya Ozy sama Zea," ucap Bella pelan.
"Makanya ayo kita pergi." Faya menarik pelan pergelangan tangan Bella, rasa lemas-nya semakin terasa. Tak bisa di pungkiri jika Aldy benar-benar membuatnya jatuh ke dasar lautan, begitu banyak kenangan indah yang telah di habiskan semasa mereka masih pacaran.
Faya menarik Bella dengan kepala yang masih tertunduk. Sedangkan Bella masih melihat ke arah Aldy dan Zea yang terlihat begitu asyik dengan kegiatannya. "Kenapa lo diam aja sih! Apa perlu gue samperin mereka. Biar nggak keterlaluan lagi sama lo!" seru Bella dengan kekesalan yang menggondok di dalam hatinya.
"Nggak perlu buang-buang tenaga Bel, lagian gue udah bisa menerima. Meskipun rasa sakitnya nggak akan pernah bisa hilang dengan hitungan waktu."
Bella menghentikan langkahnya, membuat Faya kesulitan untuk menarik gadis yang ada di belakangnya itu. "Kenapa berhenti?" tanya Faya sambil menoleh.
Bella tersenyum kecu, melihat sahabatnya begitu nelangsa. "Perlu bantuan gue?" tanya Bella secara tiba-tiba.
"Maksud lo?" Gadis itu balik bertanya, dengan kening berlipat, ia benar-benar tak mengetahui apa maksud dari ucapan sahabatnya itu.
"Berhubung gue baru baik hati, sama elo! Gue mau ajakin lo shoping."
Faya tersenyum sekilas. "Gue nggak udah nggak doyan yang namanya kaya gitu Bel, gue udah banyak berubah semenjak pacaran sama kak Aldy."
Bella tercengang dengan ucapan Faya yang jelas-jelas menolak ajakan traktirannya. Gadis itu tak percaya jika Faya benar-benar telah berubah, dari gadis matre berubah manjadi gadis mandiri. Dan itu semua berkat Aldy, sungguh lelaki yang luar biasa bisa membuat perubahan pada diri gadis manja yang sekarang berada di hadapannya itu.
"Gue salut sama lo, nggak taunya tuh cowok udah banyak ngerubah watak buruk elo," ucap Bella sambil menarik pergelangan tangan Faya dan memeluknya. "Gue tau solusi buat ngilangin kesedihan elo!"
"Apa?" tanya Faya sambil mendongakkan kepalanya.
"Nyalon yuk. Lama banget gue nggak nyalon."
Faya ternganga mendengar hal tersebut, mimpi apa Bella sampai mau nyalon segala. "Lo nggak lagi ngigau kan Bel?" tanyanya masih tak percaya.
Bella mengernyitkan keningnya. "Hidup gue menyedihkan banget ya, besok acara ulang tahun gue. Tapi dia nggak ingat," katanya dengan memasang wajah sedihnya, gadis itu sengaja mengatakan hal tersebut agar menyetujui ajakannya kali ini. Sebenarnya Bella pun sangat malas jika harus ke salon, ia hanya ingin membuat sahabatnya itu agar tak larut dalam kesedihannya, makanya dia terpaksa bilang seperti itu.
__ADS_1
"Bukannya gue lupa. Gue ingat banget ulang tahun elo, cuma gue nggak habis pikir aja, ada angin apa tiba-tiba elo mau ke salon," celoteh Faya tak karuan.
"Hahaha.... Udah ah, yang penting lo temenin gue aja kan udah beres," kata Bella yang kini menarik tangan Faya, gadis itu tau bagaimana menyenangkan sahabatnya ketika pikirannya sedang kacau.
Di Henny Salon.
Mereka berdua sudah duduk manis di sana, pelayan yang sangat ramah dengan ruangan yang luas serta rapi membuat mereka semakin nyaman di sana.
"Lo, tau dari mana, Bel? Ada salon sebagus ini di tempat yang jarang sekali di lewati orang kaya gini?" tanya Faya dengan kepala celingukan kesana-kemari.
"Nyokap, dia sering banget dateng kesini. Makanya gue penasaran banget, soalnya Mommy kalau udah di salon, dia bisa berjam-jam. Mungkin sampai nggak ingat waktu atau anaknya ini." jelas Bella panjang lebar.
Gadis itu hanya manggut-manggut, sampai pemiliknya pun dengan senang hati menghampiri Bella dan Faya.
"Kak Bella, lama nggak main kesini ya?" tanyanya.
Bella melemparkan senyumannya. "Iya ni kak, lama banget aku nggak nemenin Mommy kesini. Ow ya kak, berhubung aku pengen nyalon nih... Kak Rima bisa kasih solusi nggak? Buat rambut aku yang jarang sekali kena bau salon ini," kata Bella sambil memperlihatkan rambutnya yang memang sangat terlihat kusut.
Mereka berdua saling mengobrol, hingga Faya merasa jenuh dengan obrolan dari keduanya yang tak ada ujungnya. Gadis itu langsung menuju ke depan cermin dan duduk di sana, berbicara kepada salah seorang pelayan. Ya.... Faya ingin memotong rambutnya agar terlihat lebih fresh dan tak kusut lagi.
Faya memilih memotong rambutnya sebahu, dengan poni tipis menghiasi keningnya. Gadis itu kini terlihat lebih muda lima tahun, seperti anak SMA baru. Tak hanya itu gadis itu juga mewarna ujung rambutnya dengan warna pink, terlihat sangat feminim.
Faya tersenyum puas, saat mengetahui jika hasil dan keinginannya sangat sesuai. Bella yang juga sudah selesai dengan ritual menyalonnya pun sedikit terkejut, biasanya sahabatnya itu tak pernah sama sekali memotong rambutnya dan ini baru pertama kalinya Bella melihat hal tersebut.
"L-lo... Potong rambut Fay?" tanya Bella masih tak percaya.
"Buat buang sial, Bel. Sekalian buang masalalu sampai ke akar-akarnya biar nggak ke ingat terus," jawabnya dengan senyum masih mengembang di kedua sudut bibirnya.
Bella kembali bernafas lega, gadis itu memang ngajak Faya ketempat yang sangat tepat.
Mengangguk kecil. "Pulang yuk," ajak Bella dengan tangan mengulur.
Faya menyambutnya dengan senang hati, gadis itu sangat beruntung memiliki sahabat sebaik dan se-perhatian Bella.
Ketika membayar di depan kasir pun, Faya melongo dengan harga yang du patok oleh salon tersebut.
"Set dah... Bel, mahal amat." ucapan itu lolos dari mulut bibir Faya, membuat Bella setengah mati malu.
Sang kasir pun langsung melotot ke arah Faya. Membuat gadis itu harus menelan saliva-nya berkali-kali akibat ulahnya itu.
Dengan memaksakan senyumnya, Bella segera menarik tangan sahabatnya itu sesudah berpamitan.
"Lain kali lo jangan malu-maluin gue ya Fay," ucapnya ketika akan membuka pintu mobilnya.
"Ya sorry, Bel. Gue syok... Sama harganya, cuma ngerapiin rambut, sama cat aja sampai habis tiga juta, dan itu cuma rambut gue doang," keluh Faya merasa tak enak.
"Ck... santai aja, kaya ama siapa aja lo. Makanya tempatnya ngumpet. Dia malu karena kemahalan," balas gadis itu sebelum memutuskan masuk kedalam mobil.
Mereka kembali ketempat sebelumnya, karena sejak tadi ponsel Bella terus berdering. Lima belas menit akhirnya Bella dan Faya sampai di tempat tersebut, untung saja jalan tak terlalu ramai, memudahkan Bella untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Bel, gue ke toilet dulu ya. Gara-gara lo pakai mobilnya ngebut gue jadi gemetaran," ucap Faya yang langsung berlari keluar terlebih dahulu.
__ADS_1
"Payah lo Fay," gumam Bella yang mengikuti gadis itu keluar dari dalam mobilnya.
Sampai di taman, Bella sudah melihat sepasang suami istri dan juga Aldy beserta Zea dengan tampang kusut mereka. "Sorry... Habisnya tadi kalian lama, jadi gue pergi sebentar sama Faya," elaknya.
"Dua jam itu lama banget tau Bel," keluh Fella dengan kepala bersandarkan pundak milik suaminya.
"Iya nih... kalian kemana aja? Terus Faya kemana?" tanya Aldy secara tiba-tiba.
"Dia ke toilet," jawabnya agak ketus.
Membuat Aldy sedikit tersentak dengan jawaban Bella yang tak mengenakkan.
"Ow... ya, Regina sama Dilan nggak bisa datang ya?" tanya Bella.
"Mereka ada urusan dadakan," kata Arska. "Lo nggak nanyain Brayu sekalian?" lanjutnya.
Bella hanya berdecak, sambil memalingkan wajahnya. Tak berselang lama, Faya pun muncul, membuat mereka semua terkejut dengan penampilan gadis itu sekarang.
"Lo potong rambut Fay?" tanya Fella.
senyum sinis terlihat sangat jelas di sudut bibirnya. "Iya Fel, pengen ganti suasana aja," balasnya yang langsung ikut duduk di samping Bella.
"Lo kaya anak SMA tau Fay. Lebih gemesin," ujar Zea.
"Thanks," senyum kaku di tunjukan di depan gadis itu. Cara duduk mereka membuat Faya sakit mata, sedangkan Aldy menatap kearah Faya dengan tatapan senang, bisa di bilang takjub juga dengan penampilan berbeda dari mantan kekasihnya itu.
Bella melihat jika formasi mereka semua sudah lengkap. "Oke... Berhubung semuanya udah kumpul, gue nggak mau bosa-basi lagi. Besok gue harap kalian datang di acara ulang tahun gue. Ini undangan spesial dari gue langsung karena yang lainnya cuma pakai selembar kertas doang," ucapnya tak mau terlalu mengulur waktu. Apa lagi Bella sangat tahu jika Faya sudah tak nyaman dengan posisinya saat ini. "Kalian bebas mau ajak siapa aja, gue nggak ngelarang."
"Kita pasti datang kok Bel, lo tenang aja," ucap Zea dengan tangan memeluk erat lengan Aldy.
Membuat Bella harus bersabar dan bernapas berkali-kali. "Oke.... Berhubung gue lagi baik hati, kalian bebas pesan makan yang kalian mau. Biar gue yang bayarin."
Tanpa menunggu kata pengulangan, jiwa gratisan mereka pun langsung keluar, membuka per-halaman daftar menu. Kecuali Faya yang memang malas sekali dengan pemandangan yang ada di depannya itu, hingga ponselnya pun berbunyi. Membuat Faya terpaksa harus mengangkatnya buru-buru.
📞"Hallo..." ucapnya dengan suara pelan.
📞"Lo bisa ke rumah sakit sebentar nggak? Gue butuh bantuan elo!" suara lelaki itu terlihat panik, siapa lagi kalau bukan Kevin.
📞"Ada apa? Suara lo kedengaran panik gitu?" tanya Faya dengan ekspresi wajah yang mulai kebingungan.
📞"Mama masuk rumah sakit. Dan dia nanyain elo mulu, gue minta tolong buat lo cepetan kesini," suara panik terdengar dari seberang telpon.
Tak kalah gugup, gadis itu segera mematikan ponselnya. Dengan tangan yang masih bergetar dan wajah sangat panik terlihat dari wajahnya, mungkin Mama Kevin bukan siap-siap lagi baginya saat ini. Namun ketika mereka masih berpacaran, Mamanya lah yang selalu membuat Faya merasa nyaman saat berkeluh kesah karena ulah anaknya. Jadi wajar saja jika Faya terlihat sangat panik. Sedangkan yang lainnya masih terfokus menatap kearah Faya dengan penasaran luar biasa.
"Kalian lanjutin acara makannya ya. Gue pamit dulu." suara Faya terdengar gugup.
"Lo mau kemana? Biar gue antar," ucap Bella mencoba mencegah.
"Tante Emeli masuk rumah sakit! Gue nggak bisa seneng-seneng di sini terus. Kevin butuh gue," katanya dengan tangan melepas paksa tangan Bella.
Mendengar kata Kevin Aldy merasa kesal, lelaki itu masih menahannya. Sejak tadi ia tak membuka suara bukanya karena takut, lelaki itu merasa canggung dengan adanya Zea yang terus menempel kemana pun dia pergi. Membuat ia membenarkan ucapan Faya akan hal yang membuat gadis itu meminta putus darinya.
__ADS_1
"Gue balik duluan, sorry ya Bel," kata Faya yang langsung berlari meniggalkan mereka semua.
Mereka semua hanya bisa menatap punggung Faya yang semakin menjauh.