Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Teori Lima Detik 2


__ADS_3

Hari ini kemungkin adalah hari keberuntungan bagi Brayu, ia tak sengaja bertemu dengan Bella di toko buku langganannya. Untung saja ia menyanggupi ke ingin Arska untuk menemani sahabatnya itu mencari bahan materi untuk tugas kuliah mereka, kebetulan ia satu kelompok dengan Arska dan itu tak menyulitkan mereka dalam pekerjaan berkelompok nya, setelah masuk ke dalam toko mereka segera memisahkan diri, Arska yang di temani oleh Fella sudah siap dengan tumpukan buku yang sejak tadi di bawanya, mereka langsung duduk di ruang baca yang sudah di sediakan di dalam toko tersebut.


Begitu mengetahui sosok Bella Brayu segera menguntit di belakangnya. "Mungkin kita memang di takdir-kan untuk berjodoh," pikirnya.


"Hay... bel," sapa Brayu dengan tubuh yang menyandar di rak.


Bella tak langsung membalas sapaan Brayu, ia masih saja membisu, tak juga merespon. Tangannya sibuk memilih-milih buku yang akan di belinya.


"Sendirian aja?" tanya Brayu sekali lagi.


"Ck...elo liat sendiri kan kalau gue emang cuma sendirian ke sini nya, garing banget pertanyaan elo," mata Bella sekilas melirik ke arah Brayu nada bicaranya terdengar tak mengenakkan.


"Elo cari buku yang kaya gimana? Biar gue bantu cari," tawar Brayu.


"Gue nyari buku tentang materi ulangan akhir tahun lalu, siapa tau masih ada. Nggak mungkin kan kalau gue terus-terusan ngandelin Fella buat ngerjain ulangan gue," balas Bella dengan mata yang terus melihat ke atas.


"Buku tentang materi ulangan tahun kemarin, kayaknya gue masih punya."


"Terus?"


"Ya siapa tau elo minat, daripada elo beli mending pakai punya gue."


"Terus sekarang elo bawa nggak?" tanya Bella seraya menatap ke arah Bella.


"Sekarang bray, waktunya elo praktekin teori lima detik dari Dilan," batin Brayu yang kini menatap balik manik mata Bella yang berwarna coklat itu.


Satu detik, dua detik, tiga detik, lima detik dan seterusnya...


Kali ini pendapat Dilan salah, justru Brayu yang seakan terhipnotis oleh kedua bola mata milik Bella yang nampak indah di hadapannya saat ini, teori itu sungguh tak pas jika di praktekan untuk Bella.


Bosan dengan sikap Brayu yang tak juga menanggapi pertanyaannya, Bella mengusap wajah Brayu dengan kasar.


Brayu yang refleks dengan tindakan Bella segera meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya cukup erat.


"Elo kenapa sih?" tanya Bella dengan ekspresi kesalnya.


"Ah... elo tuh cantik bel," kata-kata itu lolos dari mulut bibirnya. "Manik mata elo indah banget," lanjutnya.


Merasa hanya di permainkan oleh Brayu, Bella segera menginjak kaki cowok tersebut, cukup keras hingga Brayu meringis kesakitan dan melepas tangan sebelah kanan milik Bella.


"Sakit bel," protes Brayu yang kini memegangi kakinya yang terbungkus oleh sepatu warna putihnya.

__ADS_1


"Siapa suruh, gue nanya serius elo malah ngerjain gue," ucap Bella dengan sewotnya.


"Sorry bel, gue nggak ada niatan buat bohongin elo."


Bella membuang mukanya ke sudut lain, melangkahkan kakinya agar segera menjauh dari cowok yang sekarang ada di sampingnya itu. Brayu tak bosan mengikuti kemana arah kaki Bella melangkah, seakan tak ada niatan untuk menyerah begitu saja.


"Elo kenapa ngikutin gue terus, nggak ada kerjaan ya."


"Gue cuma mau bantuin elo nyari bukunya."


"Gue bisa sendiri."


"Tolong jangan tolak gue bel, niat gue baik."


"Ya udah... kalau elo maksa mau bantuin gue. Gue minta elo berdiri aja di sini jangan ikutin gue terus!" seru Bella seraya menunjuk ke arah Brayu.


"Tapi bel," protes Brayu.


"Tuh... elo di panggil sama Arska," tunjuk Bella dengan jari telunjuknya.


Bella terpaksa berbohong agar Brayu tak mengikutinya lagi, ia merasa risih jika ada cowok yang terus menguntitnya dan seperti tak ada kerjaan lain.


"Mana bel? Gue nggak liat Arska?" tanya Brayu dengan pandangan masih menoleh.


Sadar tak ada jawaban dari Bella, Brayu segera menoleh, yang benar saja saat dirinya menoleh Bella sudah tidak berada di tempatnya lagi.


"Kenapa gue percaya begitu aja, Arska nggak mungkin di sini! Dia pasti masih di ruang baca mesra-mesraan sama Fella," gerutunya dengan tangan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Teori lima detik itu, kayaknya cuma gue yang terhanyut, Bella biasa aja," ucap Brayu pada dirinya sendiri.


Setelah mengeluh Brayu akhirnya memutuskan untuk mencari Bella, setiap sudut selalu menjadi incarannya, ia sangat yakin jika Bella masih di toko buku.


Dengan sabar Brayu mencari keberadaan gadis itu, tak butuh waktu lama untuk dirinya menemukan Bella, padahal toko tersebut cukup luas dan pengunjungnya juga sangat ramai. Gadis itu berjongkok seperti sedang mengumpat. Tempat yang di pilihnya juga tak terlalu ramai, bahkan bisa di bilang sangat sepi.


Senyum Brayu mengembang, ia melangkahkan kakinya pelan agar suara decitan sepatunya tak terdengar dan mengejutkan Bella, kini tepukan kecil ia layangkan di pundak Bella, Bella tetap pada posisinya, tangannya sedikit mengepal karena merasakan ada sentuhan di bahunya.


"Jangan ganggu gue! gue baru sembunyi," kata Bella dengan suara berbisik.


"Kenapa harus sembunyi," balas Brayu dengan suara yang di buat berbeda, ia juga ikut berbisik.


"Ada cowok rese yang ngikutin gue terus, kayaknya dia masih di sini," ucap Bella dengan suara masih di perkecil.

__ADS_1


Brayu menelan saliva nya, cowok rese yang di maksud Bella barusan pasti dirinya.


"Dia tuh.... nggak punya malu, udah gue tolak nggak cuma satu/dua kali, tetep aja tuh cowok nggak nyerah," ucap Bella dengan posisi yang sama, ia belum juga menoleh.


"Kenapa elo nggak terima dia aja?" tanya Brayu dengan suara berbisik pula, ia masih berpura-pura menjadi orang lain agar ia dapat mengetahui apa yang di rasakan Bella saat sedang dekat dengan dirinya.


"Ck... gue nggak suka sama dia, kalau gue terima dia yang ada gue bakalan nyakitin hatinya. Gue nggak mau jadi orang jahat. Gue nggak mau pacaran dulu," ujar Bella dengan kepala sedikit menunduk.


"Tapi... gue ngerasa dia tulus sayang sama gue, tempo hari dia buatin nasi goreng buat gue, rasanya enak sih. Gue belom pernah makan nasi goreng yang seenak itu sebelumnya," lanjutnya.


"Berarti ada kemungkinan kalau elo peduli sama dia, nyatanya elo nggak ada niatan buat nyakitin dia, bahakan elo sampai rela makan nasi goreng buatan dia."


"Gue nggak tau, yang pastinya... gue belom siap buat pacaran, gue masih nyaman sendiri dan gue nggak bisa ngebuka hati gue buat sembarangan cowok," balas Bella, ia menelan saliva nya.


"Eh... ngomong, ngomong elo siapa sih? Kenapa gue jadi curhat sama orang asing," Bella mulai tersadar, sejak tadi ia berbicara nyerocos tanpa melihat lawan bicaranya.


Brayu tak menjawab pertanyaan Bella, ia masih terdiam dengan posisi yang sama, mencoba memutar otaknya agar dapat mencerna ucapan Bella barusan.


"Ck.... kenapa elo diem sih, gue tuh ngomong sama elo..." Bella tak melanjutkan ucapannya, mulutnya terbuka cukup lebar, saat dirinya menoleh dan mengetahui siapa yang sejak tadi menjadi lawan bicaranya.


Bella terkejut dengan mata yang membulat sempurna, tubuhnya bergeser kebelakang agar dirinya mendapat ruangan untuk bernafas, tapi sayang Bella tak terlalu memperhatikan rak yang berada di belakangnya hingga rak tersebut terguncang cukup keras dan mengakibatkan beberapa tumpukan buku tebal terjatuh.


Mata Bella terbuka dengan sangat lebar, saat melihat ke langit-langit toko dengan beberapa buku tebal yang akan jatuh menimpanya.


Untung saja Brayu juga melihat hal tersebut sehingga ia peka akan kondisi yang di alami Bella saat ini. Brayu segera menggunakan punggungnya untuk melindungi wajah dan tubuh Bella dari jatuhnya buku-buku tebal yang kapan saja akan menggores kulit Bella.


"Elo nggak pa-pa kan?" tanya Brayu, saat dirinya sudah berada di atas tubuh Bella, wajahnya cukup khawatir.


Perlahan Bella membuka matanya, wajah mereka begitu dekat sehingga nafas di antara keduanya terasa panas.


"Gue... nggak pa-pa, tapi kening elo, kening elo berdarah bray," ucap Bella seraya mengarahkan jari-jarinya ke arah kening Brayu yang terluka, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel pada lukanya.


"Ini nggak seberapa, gue lebih khawatir lagi kalau elo yang terluka."


Bella membuang nafasnya secara kasar seraya memalingkan wajahnya, ia mencoba memposisikan dirinya agar sedikit lebih nyaman.


"Elo bisa minggir nggak dari atas gue, gue nggak bisa nafas," pinta Bella dengan mendorong dada bidang milik Brayu.


Brayu pun menuruti permintaan Bella, ia menggeser tubuhnya dan memberi ruang agar Bella dapat bernafas dengan leluasa. Brayu mengeluarkan tangannya saat dirinya sudah berdiri, mencoba membantu Bella agar bisa berdiri juga.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2