
Salsa dan Leon sedang menikmati hidangan yang ada di depan mereka, suasana yang menurut mereka pas memang sangat cocok dengan hidangan yang mereka santap kali ini.
"Makanya pelan-pelan, jangan kaya orang kelaparan gitu," celoteh Leon yang langsung mengusap sudut bibir Salsa dengan ibu jarinya.
"Aku lapar banget, karena hampir aja mau di bikin mati sama orang yang kurang sehat." kata Salsa ngasal.
Leon mendelik, ia paham akan ucapan Salsa yang sengaja menyindirnya itu. "Gue kan udah minta maaf, masak lo bahas lagi, sih." keluh Leon.
"Jangan-jangan lo tipe pendendam?" lanjut Leon dengan ekor mata menyelidik.
Salsa menaruh cangkang kerang yang baru saja akan masuk kedalam mulutnya. Manik matanya terlihat menyipit, bahkan gadis itu memasang ekspresi masamnya dengan bibir yang sedikit terangkat.
"Siapa yang tipe pendendam?" tanyanya dengan nada nyolot.
Mengusap leher belakangnya dengan pelan, 'Kenapa Salsa lebih serem di banding gue, sih!' batin Leon yang menelan saliva-nya beberapa kali.
Tak ada kata yang keluar dari mulut bibir lelaki itu hanya tatapan yang menatap lurus kearah Salsa. Salsa kembali menghabiskan makannya dengan lahap.
"Galak banget," desis Leon pelan.
"Leon!"
"Apa sayang?" tanya Leon dengan suara yang sengaja di buat lembut.
"Aku kenyang, pulang yuk." ajaknya dengan tangan yang sudah mengelap mulutnya menggunakan tisu.
Mereka kompak beranjak dari kursinya, Leon tak lupa memberikan tips di atas meja. Saat sudah berada di depan pintu, mereka tak sengaja berpapasan dengan Bella dan Brayu. Seketika mulut cerewet Salsa bersuara.
"Kak Bella. Kak Brayu, wah sayang banget kenapa baru dateng, aku udah selesai makannya." kata Salsa mengerucutkan bibirnya, ia juga mengangkat tangan kanannya untuk menyapa pasangan suami istri itu.
Deg.
Jantung Leon seakan berhenti berdetak saat itu juga, ia hampir bisa melupakan gadis itu. Namun, saat berpapasan dengan Bella, hatinya sedikit bergetar bahkan rasanya sedikit menyedihkan. Bahkan, pacarnya pun justru terlihat dekat dengan kedua orang itu.
"Ya udah, makan bareng lagi aja sama kita." sahut Brayu.
Mengusap perutnya pelan, "Dan sayangnya aku udah kenyang kak." bibir Salsa kembali mengerucut.
__ADS_1
Tersenyum sekilas. "Ya udah kalau udah kenyang, nggak jadi gue traktir."
Ekspresi wajah Salsa terlihat masam ketika Brayu mengatakan hal tersebut.
"Ow iya Salsa, elo sama siapa kesini-nya, kok gue nggak lihat Dimas?" tanya Bella yang terlihat bosa-basi.
Salsa menarik lengan Leon pelan, dari raut wajahnya terlihat sumringah. "Kenalin kak ini..."
"Dia temen gue!" potong Leon cepat.
Deg.
Salsa melebarkan matanya, untuk pertama kalinya lelaki itu mengatakan kalau mereka hanyalah teman, rasanya Salsa tak terima dengan ucapan Leon saat ini. Perasaan lemas mulai menjalar ke seluruh tubuh Salsa, gadis itu langsung menarik tangannya, tak ada satu patah kata pun keluar dari mulut bibirnya.
Brayu mengembangkan senyumnya, bahkan lelaki itu menepuk pundak Leon beberapa kali. "Akhirnya lo bisa move on juga dari istri gue!" seru lelaki itu.
Deg.
Salsa langsung menoleh ke arah Leon, nampaknya ucapan Brayu membuat lelaki yang ada di sebelahnya itu tak bisa berkutik. Bahkan ekspresi wajahnya berubah dalam hitungan detik.
"Gue pulang duluan ya," ucapnya tanpa ekspresi.
"Sal, elo nggak pulang?" tepukan tangan mendarat di bahu Salsa, gadis itu sedikit terkejut saat tangan Bella sudah ada di bahunya itu.
"Ah.. I-iya k-kak, aku juga mau pulang. Aku pulang duluan ya kak." balasnya yang langsung beranjak dari hadapan Bella dan Brayu.
Sampai di depan restoran, Salsa tak melihat adanya Leon di sana, bahkan ia juga tak melihat motor lelaki tersebut.
"Yah di tinggalin." keluhnya dengan kaki melayang-layang ke udara akibat kesal.
Mengeluarkan ponsel dan mencari nomor Rey. Gadis itu mengetikan sesuatu di ponselnya tersebut, rasa kesalnya mulai menyeruak di pikiran dan hatinya.
"Kenapa dia langsung ngelupain aku sih. Bahkan dia tega ninggalin aku di sini, dasar cowok nggak jelas." gumamnya pelan.
Dua puluh menit kemudian, Rey dengan motor metic-nya. "Sal." katanya dengan tangan melambai-lampai tepat di depan wajah gadis itu.
"Ah-Rey, kamu udah dateng." ucapnya lesu.
__ADS_1
"Elo kenapa? Bukanya lo tadi pergi sama itu orang. Kenapa lo sekarang di telantarin gitu aja sama dia?" tanya Rey tanpa tanggung-tanggung.
Serasa tak ingin menjawab ucapan Rey, Salsa langsung naik ke atas motor lelaki tersebut, ia menenggelamkan wajahnya di sana, pikiran serasa tak bis berjalan untuk waktu dekat ini.
"Jalan!" perintah Salsa dengan wajah yang masih menempel di punggung lelaki tersebut.
Rey menuruti perkataan Salsa, lelaki itu bingung dengan sikap sahabatnya yang tiba-tiba berubah dalam hitungan jam.
"Elo kenapa Sal?" tanya Rey kembali membuka suaranya.
"Apa nasib ku harus se-sial ini sih Rey." gadis itu menggigit bibir bawahnya, entah mengapa rahangnya sedikit mengeras.
Rey segera menepikan motor di bawah pohon rindang yang dirasa cocok untuk mengobrol.
"Sal, elo baik-baik aja kan? Elo nggak lagi ada masalah sama cowok itu kan?" tanya Rey yang mencoba memastikan.
Salsa belum juga membalas perkataan Rey, gadis itu menutup wajahnya mengunakan kedua tangannya.
"Cerita ke gue, gue bakalan dengerin masalah lo," ujar Rey yang langsung turun dari atas motornya. Ia menuntun Salsa agar ikut turun dari atas motor miliknya.
"Elo kenapa? Ada masalah, cerita ke gue." ucapnya sekali lagi.
"Nggak ada yang pengen aku omongin, otak aku nggak bisa buat mikir saat ini."
Rey hanya mengangguk pelan, sedangkan Salsa masih menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Perlahan gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Rey. Lelaki itu mengusap pelan pucuk kepala Salsa, ia tau jika sahabatnya itu memiliki masalah yang cukup serius.
Di sisi lain. Leon yang masih mempercepat laju kendaraannya, merasakan sesak di dadanya yang semakin menguat, hal yang selama ini ia pendam dan ingin ia lupakan seakan kembali hadir. Hatinya seakan tergores kembali saat mengingat cintanya bertepuk sebelah tangan, dan tanpa ia sadari jika ia melupakan sesuatu saat meninggalkan restoran tersebut.
Citt.....citt... citt...
Leon menginjak rem motornya dalam-dalam, ia mulai mengingat jika ia masih meninggalkan Salsa di restoran itu. "Ck! Sial! Kenapa gue lupain Salsa sih." Leon segera memutar balik motornya untuk kembali ke restoran.
Saat sampai di sana, Leon segera memasuki restoran dengan berlari. Kepala lelaki itu sibuk mencari keberadaan Salsa. "Apa dia udah balik?" tanyanya pada diri sendiri, bahkan ia menggigit ibu jarinya pelan.
Leon kembali melangkahkan kakinya keluar restoran, meraih ponsel dari dalam saku celana jins-nya. Mencoba menelpon Salsa beberapa kali, namun gadis itu tak juga merespon panggilannya.
"Siht!" umpatnya kesal.
__ADS_1
"Gue coba sekali lagi, kalau masih sama. Gue wajib kasih hukuman ke elo!" serunya dengan mata yang masih melihat ke layar ponselnya.
Leon kembali menekan tombol hijau, namun tak ada respon dari Salsa. Mengacak rambutnya dengan kasar, lelaki itu terlihat frustasi. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ekspresinya terlihat sangat kesal, Leon akhirnya memutuskan untuk kembali, biarlah esok ia baru menjelaskan kepada Salsa. Ia berharap Salsa akan mengerti.